~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Historical. Show all posts
Showing posts with label Historical. Show all posts

#662 Nonik Jamu



Kinanti anak kedua dari tiga bersaudara. Berbeda dengan kakaknya, Indri dan adiknya, Gala, dia senang membantu kedua orangtuanya berjualan di toko kelontong milik keluarga mereka. Indri, kakaknya lebih senang membantu di dapur, sementara Gala hanya bermalas-malasan. Waktu berlalu, Indri sudah kuliah di Jakarta ketika peristiwa malang menghampiri keluarga mereka. Gala meninggal karena gagal ginjal. Seluruh keluarga terpukul, termasuk Kinanti yang selama ini mengira adiknya seorang pemalas.

Untuk mengalihkan dukanya, Kinanti belajar meramu jamu dari Bude Nisha, kakak ibunya. Semakin Kinanti belajar, dia jadi tahu dia ingin berjualan jamu untuk meringankan beban kedua orangtuanya. Ternyata Kinanti berbakat. Jamu racikannya laris. Sayangnya dia harus berhenti ketika tiba waktunya untuk kuliah di Solo. Selama berkuliah, mimpinya berjualan jamu terkubur, sampai dia bertemu dengan Pandu. Pandu adalah anak seorang pengusaha rempah di Solo. Gudang Rempah milik orangtuanya sangat terkenal. Kinanti berharap jika dia menikah dengan Pandu, dia bisa kembali meracik jamu dengan memanfaatkan rempah dari keluarga kekasihnya itu.

Sayangnya mimpi Kinanti kembali kandas. Perlakuan keluarga Pandu tidak seperti yang diimpikannya. Dia dipandang rendah karena berasal dari keluarga kecil di Wonosobo yang tidak memiliki banyak harta seperti keluarga Pandu. Pandu sendiri tidak bisa membantah keluarganya, karena dia hanya bekerja sebagai upahan di Gudang Rempah. Menelan segala kepahitan hidup, Kinanti mulai membuka toko kelontong di rumah mereka untuk menghidupi keluarga kecilnya.

Puluhan tahun berlalu, Pandu dan Kinanti memiliki seorang anak bernama Arumi. Bakat bisnis dari kedua orang tuanya mengalir dalam diri Arumi. Melihat ibunya yang mulai sakit-sakitan, Arumi bertekad untuk mewujudkan mimpi ibunya, meracik dan berjualan jamu.

Saya sangat senang membaca fiksi yang ada unsur historisnya serta mengangkat budaya Indonesia. Kali ini tentang jamu, mimpi dan perjuangan dua wanita demi mewujudkan mimpi itu. Ada dua wanita dengan lini masanya masing-masing, yaitu Kinanti dan Arumi. Kinanti yang memulai dan Arumi yang menuntaskan. Saya dibuat kagum dengan kegigihan Kinanti, kemampuannya memendam rasa sakit di dalam hati meski itu menggerogoti tubuhnya. Sementara Arumi, dia rela mengorbankan dirinya untuk mimpi orang yang disayanginya. Dan ending dari kisah ini juga dibuat realistis.


Nonik Jamu
Rina Suryakusuma
272 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Juni, 2024





#658 Katri

 


Katri lahir di desa Trunuh, Klaten. Dia bungsu dari enam bersaudara. Lima kakaknya semuanya laki-laki, sehingga wajarlah Katri menjadi kesayangan keluarga. Suwasno, kakaknya yang paling tua aktif dalam organisasi kepemudaaan Pemoeda Rakjat. Dia punya mimpi besar, petani di kampungnya harus sejahtera. Karena itu dia membuka kelas baca tulis untuk tetangganya. Katri ikut membantu kakaknya. Suatu waktu Katri ditawari oleh Wasno untuk ikut Paduan Suara Lembah Merapi. Paduan suara ini dipimpin oleh seorang pemuda kaya bernama Agus, yang kelak menjadi suami Katri.


Awalnya pernikahan antara Katri dan Agus ditentang keluarga Katri. Pasalnya Agus sudah memiliki istri. Namun karena Katri telah berbadan dua, akhirnya mereka dinikahkan secara Islam mengikuti agama Agus. Kedua orang tua Katri menganut kepercayaan Kejawen, sedangkan kakak-kakaknya Katolik. Setelah menikah, Katri tidak lagi melanjutkan sekolahnya yang kala itu masih SMA. Sayangnya, sekitar lima bulan setelah menikah, di bulan Oktober 1965 kondisi di Klaten memanas. kantor partai tempat suaminya bernaung dibakar. Satu per satu kakaknya menghilang, disusul suaminya yang ikut menyingkir dijemput keluarganya. Tinggallah Karti bersama kakak keduanya Hartono yang tidak tergabung organisasi apapun bersama kedua orang tuanya. Malangnya, rumah Katri juga didatangi tentara. Katri yang sedang hamil 7 bulan, ditembak kepalanya. Beruntung dia tidak mati, peluru membus pipinya dan meremukkan rahangnya. Namun lidahnya masih utuh sehingga dia masih bisa berbicara meski dalam kesakitan.


Maka dimulailah perjalanan panjang Katri. Keluar dari RS Panti Rapih selepas perawatan lukanya dan kelahiran anaknya, Katri dijemput oleh tentara. Dia mengalami penyiksaan interogasi yang panjang, berpindah dari satu penjara ke penjara lainnya. Entah mengapa Katri dinilai sebagai orang penting. Sempat di tahun 1968 dia dibebaskan, namun kemudian terciduk kembali setelah diam-diam dia menemui kakaknya, Wasno. Selain penjara, Katri juga pernah menjadi penghuni Rumah Sakit Jiwa. Katri pun sempat hamil karena dijadikan pelampiasan nafsu penjaga penjara di Jakarta. Selepas penahanannya yang panjang, hidup Katri sebagai eks tapol pun tidak bisa dibilang mudah. Namun Katri menjalaninya dengan setia, tanpa dendam, dan hanya berharap akan masa depan.


Di tengah pemberitaan pencatatan ulang sejarah yang akan dilakukan oleh pemerintah, novel Katri ini mengajak pembaca untuk tidak melupakan apa yang terjadi di masa lalu. Katri adalah saksi hidup seorang eks tapol yang mengalami hal di luar batas kemanusiaan. Novel semi-biografi ini bisa dikatakan menjadi memoar untuk mengenang para korban pembantaian "orang-orang kiri" tahun 1965 di Klaten. Ada banyak orang yang mengalami penyiksaan dan pembunuhan karena dianggap terlibat dengan PKI. Katri adalah salah satu diantaranya. Meski pada dasarnya dia sendiri tidak tahu apa yang dilakukan oleh suami dan kakak-kakaknya, tapi dia menanggung semuanya karena suami dan kakak-kakaknya melarikan diri. Sungguh membaca kisah Katri akan menitikkan air mata.


Novel ini butuh waktu 11 tahun untuk dituliskan, namun kisah Katri akan hidup selamanya.


Katri
Adeste Adipriyanti
264 halaman
Kepustakaan Populer Gramedia
Mei, 2025




#655 Rahasia Salinem



Tyo mendapatkan kabar dari ayahnya, kalau Mbah Nem sedang sekarat. Dia pun bergegas kembali ke Solo demi menemani akhir hayat Mbah Nem. Setelah pemakaman Mbah Nem, Tyo mendapatkan kejutan. Dia baru mengetahui kalau Mbah Nem itu bukan nenek kandungnya. Meski demikian seluruh anggota keluarga menganggap Mbah Nem sangat berjasa dan tidak bisa dihilangkan dari sejarah keluarga. Harus ada sesuatu yang bisa mengingatkan anak cucu mereka akan keberadaan Mbah Nem.

Semasa hidupnya Mbah Nem pernah berjualan pecel. Bulik Ning berusaha mencari tahu cara membuat pecel yang rasanya sama persis dengan buatan Mbah Nem, namun usahanya tidak kunjung berhasil. Didera rasa penasaran akan riwayat hidup Mbah Nem, Tyo menemani Bulik Ning mencari rahasia pecel Mbah Nem. Ternyata rahasia pecel itu juga sekaligus mengungkap sejarah hidup Mbah Nem.

Salinem lahir di Sukoharjo, sekitar tahun 1923. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Salinem kecil dibesarkan oleh ayahnya, Salimun. Pekerjaan ayahnya sebagai kusir delman Gusti Wedana membuat Salinem kecil diasuh oleh banyak orang, salah satunya oleh Daliyem, bibinya. Selain Daliyem, Salinem juga diasuh oleh Mbok Yah, abdi dalem Gusti Wedana. Ketika Gusti Asisten Wedana dan istrinya, Gusti Soemirah bertugas di Sukoharjo, Salinem menjadi kawan bermain Gusti Soeratmi, adik dari Gusti Soemirah. Sejak saat itu Gusti Soeratmi adalah sahabat Salinem, bahkan ketika Gusti Soeratmi meninggalkan Sukoharjo, Salinem ikut dengannya

Tahun demi tahun berjalan, Salinem menyadari kedudukannya yang berbeda dengan Gusti Soeratmi. Ketika Gusti Soekatmo menikah dengan Gusti Kartinah, Salinem ikut dengan Gusti Kartinah. Kehidupan di masa penjajahan Belanda yang beralih ke penjajahan Jepang hidup setiap orang menjadi susah, demikian pula dengan keluarga bangsawan. Salinem menjalani semuanya dengan pasrah. Kehilangan demi kehilangan dihadapinya dengan berani.

"Gusti, ajari hamba tetap setia"

Kisah Salinem diceritakan bergantian dengan perjalanan Tyo mencari rahasia pecel Mbah Nem. Saya tadinya berpikir di dalam buku ini akan menceritakan tentang sejarah hadirnya pecel di nusantara atau tentang usaha pecel di Solo. Bayangan saya kayak sejarah rokok kretek di novel Gadis Kretek. Ternyata saya salah. Novel ini menceritakan tentang kesetiaan seorang abdi dalem bernama Salinem kepada tuannya, yang juga sahabatnya. Kesetiaan yang menjadikannya tempat berpulang bagi anak cucu keluarga Raden Soekatmo.  Adat budaya Jawa yang kental, dibaur dengan sejarah perjuangan kemerdekaan hingga masa Gestapu. Pembaca diajak kembali ke masa Surakarta saat itu, yang kalau ditilik di buku-buku sejarah kala saya bersekolah hanya sedikit yang bisa dipelajari. Saya paling menyukai kisah persahabatan antara Salinem, Gusti Soeratmi, dan Gusti Kartinah. Meski ada batasan sosial di antara mereka, namun kasih sayang yang terjalin itu sangat kuat. Kesetiaan Salinem kepada keluarga Gusti Kartinah pun menjadi satu poin kuat dari Rahasia Salinem ini. Pesan moral dari novel ini benar-benar tersampaikan dengan baik.

 

Rahasia Salinem
Wisnu Suryaningadji & Brilliant Yotenaga
424 halaman
Bentang Pustaka
Mei, 2024





#653 Serenada




Disclaimer : Berhubung novel ini adalah sekuel dari Notasi, jadi sangat disarankan membaca novel Notasi terlebih dahulu. Karena dalam novel ini sebagian (atau mungkin seluruh) pertanyaan tentang Nino akan terjawab.

Pada novel Notasi (bagi yang pernah membacanya), pembaca sudah tahu kalau Nino dan Nalia terpisah akibat kerusuhan 1998 di Yogyakarta. Nino memukuli salah satu tentara, dan dia "diamankan" oleh keluarganya. Nino berjanji kepada Nalia akan kembali. Surat-surat tanpa alamat yang dikirimkan oleh Nino kepada Nalia malah membuat Nalia semakin nelangsa. Tapi, sampai akhir kisah di Notasi, mereka tidak kembali bersama. Apakah di novel Serenada ceritanya berubah? Tentu tidak!

Pasca dijemput paksa oleh orang-orang suruhan ayahnya, Nino diamankan oleh keluarganya dan dikirim ke Amerika Serikat. Sebelumnya Nino sempat dicekoki narkoba, diisukan bermain perempuan, dan tentu saja tukang demo. Kondisi yang membuatnya akhirnya tidak bisa melawan terhadap orangtuanya. Setelah beberapa bulan di California, Nino pindah ke New York dan bertemu dengan seorang mahasiswa NYU asal Indonesia di sana. Tsar, nama mahasiswa itu yang kemudian menampung Nino di apartemennya. Nino belum bisa melupakan kawan-kawannya dan perjuangan mereka di Yogyakarta, terutama Nalia. Dia bahkan mengirimkan kartu pos kepada Nalia untuk menyatakan kerinduannya. Dia menuliskan alamat Tsar di kartu pos itu, dengan harapan Nalia akan membalasnya. Lama dia menantikan balasan yang tidak kunjung datang.

Sepanjang masa penantiannya, Nino tetap berusaha mencari tahu dan menghudupkan kembali kenangannya. Dia mencari cara bertahan hidup agar bisa kembali pulang ke Indonesia. Termasuk bermain tinju agar mendapatkan uang. Nino tidak lupa mencari tahu seperti apa perjuangan dan kondisi di Indonesia. Dia bahkan bertemu dengan salah satu Profesor cendekiawan asal Indonesia yang masih memiliki lingkaran pertemanan dengan pelaku politik di Indonesia. Ada beberapa kisah yang dia dengar, yang membuatnya kembali bertanya, apakah dia memang hanya mengetahui separuh kebenaran saja.

Kisah pasca reformasi 1998 yang dituturkan lewat perjalanan hidup Nino di US ini menjadi satu poin penting dari novel Serenada. Bagaimana seorang mahasiswa seperti Nino mendapatkan fakta bahwa perjuangannya dan rekan-rekan mahasiswa telah ditunggangi oleh pelaku politik yang ingin menggulingkan Suharto. Nino bahkan hampir putus asa, karena mengetahui dirinya hanyalah salah satu alat saja. Dan perasaan itu mencapai puncaknya saat dia mendapati bahwa dirinya tetap berada dalam pengawasan meski dia sudah berada di negara yang menjunjung kebebasan individual. Tidak heran jika surat Nino yang sampai ke Nalia tanpa alamat, sedangkan kartu pos yang dikirimkan Nino ke Nalia pun tak berbalas.

Saya berusaha memaklumi cetakan pertama dengan typo yang bertebaran, seperti halnya saat membaca Notasi cetakan pertama dulu. Tapi entah mengapa bagi saya, Serenada ini tidak seistimewa Notasi.


Serenada 
Morra Quatro
238 halaman
Gagas Media
Mei, 2024


#646 Lebih Putih Dariku



Seorang wanita bernama Canting menuliskan kisah sahabatnya, Isah. Isah terlahir dengan nama Piranti pada tahun 1850 di kampung para penjahit dalam lingkungan keraton Yogyakarta. Meski ibunya tidak mengatakannya secara langsung, Piranti mengetahui ayahnya adalah seorang bupati, namun keberadaannya dan ibunya tidak diakui oleh ayahnya. Sehari-harisebagai abdi dalem, ibunya membatik dan menjahit pakaian perempuan di dalam keraton. Piranti tumbuh bersama putri-putri keraton, tapi tentu saja tidak memiliki nasib yang sama dengan mereka. Seringkali Piranti harus mengalah kepada kawan sepermainannya, Karsinah dan Yatmi. Keduanya adalah putri keraton dan cucu Sultan. Misalnya, ketika Suko, monyet peliharaan Piranti harus diberikan kepada Karsinah. Karena kedudukan Karsinah lebih tinggi, maka dia memiliki hak lebih banyak dibandingkan Piranti, termasuk hak memiliki Suko.

Seperti hal-nya banyak perempuan Jawa di masa itu, ketika anak gadis menginjak usia 13 tahun, maka sudah selayaknya dia dinikahkan. Awalnya, Piranti mendengarkan bahwa Karsinah akan dinikahkan dengan seorang bangsawan. Tidak lama kemudian, Piranti pun mendengar kabar dirinya juga akan dijodohkan dengan seorang pria tua, dan Piranti akan menjadi istri kedua. Piranti menolak rencana itu, meski Ibunya tetap saja melangsungkan niatnya bersama seorang wanita mak comblang. Dalam upaya penolakannya dia lebih sering keluar dari keraton, dan akhirnya bertemu dengan seorang pria Belanda bernama Gey. Singkat cerita, Piranti pun menjadi nyai bagi Gey dan namanya berubah menjadi Isah. Piranti berpisah dari ibunya, dan memulai hidupnya sebagai seorang nyai.

Novel ini memang mengisahkan jalan hidup Piranti atau Isah. Tentang upayanya memerdekakan dirinya, tetapi akhirnya tetap terbelenggu oleh adat yang berlaku di masyarakat. Sebagai seorang nyai, dia tidak mendapatkan kedudukan apa-apa, kecuali Gey menikahinya. Namun, meski telah melahirkan dua anak perempuan, Gey tetap meninggalkannya untuk menikahi seorang wanita di negeri Belanda. Isah sekali lagi menunjukkan kekuatannya, mempertahankan anak-anaknya selama mungkin di sisinya. Meski akhirnya dia harus berkorban demi kehormatan yang bisa diraih oleh dua orang anak perempuannya. Di sisi lain, di dalam novel ini juga ada banyak simbolisme Jawa yang diutarakan oleh Isah lewat corak batiknya, perilaku-perilakunya sehari-hari, dan juga mimpi-mimpinya.

Saya sempat mengabaikan novel ini, namun menemukan semangat untuk membacanya lagi di awal tahun 2024. Dan memang semakin ke belakang, novel ini semakin menarik diikuti. Bagian paling menyedihkan buat saya adalah ketika Isah harus berpisah dengan kedua putrinya yang masih kecil. Kedua anaknya yang berkulit lebih putih dari Isah, bisa mendapatkan kesempatan untuk meraih posisi lebih tinggi di masyarakat. Novel ini benar-benar memukau tentang pencarian posisi, hasrat dan identitas di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19.


Lebih Putih Dariku
Dido Michielsen
288 halaman
Marjin Kiri
Januari, 2022



#644 Perkumpulan Anak Luar Nikah


Martha adalah seorang Chinese-Indonesian yang mendapatkan kesempatan untuk kuliah di Singapura lewat beasiswa dari pemerintah Singapura. Di sana dia bertemu dengan seniornya, Ronny. Singkat cerita keduanya menikah, dan Martha menjadi ibu rumah tangga mengasuh kedua anak mereka. Tidak banyak yang tahu, Martha adalah admin dari @DuoLion163, sebuah akun di twitter yang sering membuat utas tentang para politikus. Bersama sepupunya, Yuni, Martha menyajikan fakta dari data-data yang dianalisisnya menjadi sebuah utas yang bisa menjatuhkan atau mendukung politikus. Sampai kemudian, sebuah berita mengejutkan datang kepadanya. Perilakunya memalsukan dokumen saat mendaftar beasiswa di masa lalu terbongkar. Martha harus berhadapan dengan konsekuensinya, yaitu dipenjara.


Pertama kali membaca judulnya, pikiran saya mungkin sama dengan kebanyakan orang (bahkan Martha sendiri punya pikiran seperti itu). Anak Luar Nikah berarti anak yang lahir sebelum kedua orangtuanya menikah. Ternyata bukan itu. Ada suatu periode di Indonesia dimana warga keturunan Tionghoa kesulitan mendapatkan SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia). Contoh paling terkenal itu adalah sang atlit Susi Susanti, yang meski dia sudah membela Indonesia di kancah dunia, ternyata masih dipersulit untuk menjadi WNI. Di dalam novel ini, kasus serupa dialami oleh orang tua Martha. Akibatnya, anak dari WNA ini mendapatkan frasa "Anak Luar Nikah" yang dicantumkan di akta kelahiran mereka. Diperparah dengan peristiwa Mei 1998, membuat Martha muda mengambil jalan pintas memalsukan akta kelahirannya, dengan mencoret frasa tersebut. Namun ketika Martha menelaah lebih jauh, itu adalah bentuk protesnya.


Novel fiksi ini bukan hanya mengangkat permasalahan identitas seperti yang dialami Martha. Berbagai permasalahan menjadi warga Chinese-Indonesian dikupas dalam novel ini. Selain itu, krisis komunikasi yang dialami Martha dan Ronny juga salah satu konflik yang menarik. Hubungan suami istri yang memburuk akibat ada salah satu pihak yang menyimpan rahasia penting dan menunda untuk terbuka dengan pasangannya.


Di sisi lain, novel ini mengangkat isu jejak digital. Martha tersandung kasus karena jejak digital yang ditinggalkannya di akun blog-nya belasan tahun lalu, akun yang sebenarnya sudah tidak lagi diperbaharui isi kontennya oleh Martha. Pertanyaan ala-ala kuis dengan judul "25 Questions About Me" membuat satu sisi gelap kehidupannya di masa lalu yang seharusnya terkubur malah terekspos kembali di media sosial. Tidak jarang kita selaku pengguna internet dengan isengnya menjawab kuis-kuis dan tanpa sadar mengungkap data diri dan kebiasaan kita. Well... saya tidak mau membahas jauh tentang itu, tapi menyarankan agar lebih waspada dengan pengungkapan data pribadi di dunia maya. Who knows....ada yang berusaha mencari kesalahan kita lewat konten media sosial kan?


Saya senang mendapat kesempatan membaca novel ini, menambah wawasan tentang Anak Luar Nikah. Lebih senang lagi, karena akhirnya bisa membaca habis satu buku dalam sehari. Highly recommended!


Perkumpulan Anak Luar Nikah

Grace Tioso

396 halaman

Noura Books

Juni 2023




#633 Damar Kambang


Chebbhing masih berusia 14 tahun saat acara pernikahannya digelar. Sebelum dirias, Chebbhing diminta menyalakan damar kambang, sebuah pelita yang sumbunya mengambang di atas minyak. Pelita ini memiliki makna yang dalam untuk mengawali rumah tangga. Sayangnya, damar kambang Chebbhing berkali-kali mati. Mungkin itu sebuah pertanda ketidaklancaran acara pernikahannya. Ayahnya menolak pengantin laki-laki yang datang hanya membawa hantaran bantal dan tikar.

Kacong, si pengantin pria merasa terhina. Bukannya dirinya dan keluarganya tak sanggup membawa sebuah rumah sebagai hantaran, hanya saja adat istiadat kampung mereka berbeda. Calon mertuanya bahkan tak mau berunding. Sakrah, paman Kacong, segera bertindak. Dia mencari orang pintar untuk membalaskan dendam itu. Di rumahnya, Chebbhing merasa dirinya bagaikan barang yang ditelantarkan. Pernikahannya batal sebelum dia menginjak tempat resepsi, orang tuanya diam dan pergi mengurusi hal lain. Sayup-sayup Chebbhing mendengar suara memanggil namanya. Dia lantas melarikan diri dari rumah dan pergi menemui Kacong. Kacong menerimanya, membuatnya tinggal di rumah orangtuanya, dan menikmati apa yang seharusnya mereka lakukan jika saja pernikahan itu tidak dibatalkan.

Tapi ayah Chebbhing datang menjemput anaknya dengan paksa. Dia diseret pulang. Berkali-kali Chebbhing melarikan diri, sampai akhirnya dia dipasung dan dirantai. Ayahnya tidak tinggal diam, dia mencari dukun yang mampu menyembuhkan anaknya. Sampai ketika, Ke Bulla, seorang kiai terpandang memberikan pengobatan. Chebbhing akan dinikahkan secara siri sebagai istri ketiga sang Kiai jujungan keluarganya. Tapi pernikahan ini harus dirahasiakan dari khalayak umum. Jangan sampai istri pertama dan kedua Kiai mendengarnya.

Mengulas tradisi pernikahan di Madura, membuat saya tertarik untuk membaca novel ini. Chebbhing , salah satu tokoh dalam novel ini dinikahkan dalam usia belia. Sebagai anak gadis, Chebbhing layak mendapatkan mahar yang mahal. Minimal sebuah rumah untuk tempat Chebbhing dan suaminya tinggal nantinya. Saya setuju dengan sebagian filosofi rumah sebagai hantaran, seperti penjelasan Ibunya Chebbhing . Rumah sebagai simbol kesetiaan, keamanan, bentuk didikan agar lelaki belajar hidup mandiri dan bertanggung jawab sebelum menikah. Ini memang logis dan masuk di akal. Tetapi mengibaratkan seorang anak perempuan sebagai burung yang harus disediakan sangkarnya, agar dia memperoleh batasan-batasan kebebasan, sekligus menjadi hak milik seorang tuan, saya kurang sependapat. Tetapi di kampung Chebbhing , jika hanya bermodalkan bantal dan tikar, akan menjadi cibiran tetangga. Tidak mungkin anak gadis dijual murah kepada calon keluarga suaminya.

Cinta ditolak dukun bertindak. Dunia mistis masih kental dalam novel ini. Kayaknya semua masalah harus diselesaikan dengan bantuan dukun. Sebenarnya bukan hanya kisah Chebbhing dalam novel ini. Masih ada setidaknya dua perempuan lain dengan masalah pernikahan mereka masing-masing, tapi masih terhubung dengan Chebbhing . Yang satu adalah Ibunya Kacong, dan satu lagi adalah istri kedua Kiai. Masalahnya, kisah ketiga perempuan ini masing-masing menggunakan POV orang pertama, tapi tidak ada pembeda antara kisah mereka. Baik itu sekadar huruf atau gaya bahasanya. Jadinya kadang saya bingung, perempuan yang mana bercerita kali ini. Lalu ada lagi muncul "satu orang" bernarasi- ditandai dengan huruf dicetak miring -yang seakan-akan dialah yang menceritakan keseluruhan kisah dalam Damar Kambang ini.

Saya kurang puas dengan akhir kisah dalam novel ini. Rasanya masih banyak persoalan yang belum dibereskan, dan masih banyak pertanyaan belum terjawab. Meski pada akhirnya damar kamang milik Chebbhing menyala dengan sempurna di rumahnya.

Damar Kambang
Masyari Muna
208 halaman
Kepustakaan Populer Gramedia
Desember, 2020


 

#632 Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam



Tidak biasanya Magi Diela pulang malam. Pekerjaannya sebagai penyuluh pertanian honorer memang mewajibkannya mengunjungi kelompok tani, bahkan yang jauh dari rumahnya. Tapi hari itu berbeda. Magi ditangkap oleh Leba Ali. Dia mengalami yappa mawine, sebuah kondisi yang disebut juga sebagai kawin tangkap di Sumba. Magi Diela diculik, ditangkap, untuk dikawini. 

Kawin tangkap adalah satu budaya di Sumba dimana anak perempuan dapat ditangkap oleh pihak laki-laki yang akan meminangnya untuk mempersingkat urusan adat agar tidak memakan waktu yang lama menuju perkawinan. Namun, umumnya kedua pihak keluarga telah memiliki kesepakatan untuk menempuh cara ini. Ada pula yang menyebutkan bahwa hal itu dapat dilakukan jika pihak laki-laki gagal mencapai kesepakatan. Dilihat dari sudut pandang Hak Asasi Manusia, budaya ini tentu saja merugikan pihak perempuan. 

Magi Diela yang diculik oleh Leba Ali, pria paruh baya yang memang telah mengincarnya sejak Magi masih SD. Leba Ali memberikan sejumlah hewan sebagai belis kepada keluarga Magi. Ama Bobo, ayah Magi, mau tak mau menerima perkawinan ini karena tidak ingin dianggap melanggar adat. Apalagi Magi telah ditahan di rumah Leba Ali selama dua hari. Tentunya Magi sudah tidak perawan lagi. Laki-laki mana yang mau menikahi anak perempuan yang sudah tidak perawan. 

Magi memang telah dinodai oleh Leba Ali dalam keadaan tidak sadar setelah dirinya diculik. Magi merasa harga dirinya runtuh. Dia tidak ingin menikah dengan Leba Ali. Dia memilih lebih baik mati apalagi karena keluarganya sendiri, terutama Ama Bobo, ayah yang dihormatinya lebih mementingkan adat budaya daripada anak perempuannya. Magi menggigiti pergelangan tangannya untuk memutuskan pembuluh nadi. Sayangnya, upaya Magi mengakali maut dapat dihindari. Dirinya berhasil diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit. Dangu Tida, sahabat Magi melaporkan tindakan penculikan dan pemerkosaan yang dilakukan Leba Ali kepada kepolisian. Meski demikian, Leba Ali yang awalnya ditangkap oleh polisi, bisa melenggang bebas karena koneksinya yang kuat dengan bupati setempat. Parahnya lagi, perkawinan Magi dengan Leba Ali tetap akan dilangsungkan, karena tikar adat telah digelar. Satu-satunya cara menghindari pernkawinan itu adalah dengan melarikan diri. Ditolong oleh Dangu dan Tara, iparnya, Magi melarikan diri meninggalkan kampungnya. Dia ditolong oleh kelompok LSM Gema Perempuan yang menampungnya dalam pelarian sampai kondisi aman. Magi merasa dirinya terusir dari tanah kelahirannya, harga yang sangat mahal dibayarnya untuk kebebasan. 

Di halaman sampul novel ini ada tulisan "trigger warning". Meski saya sudah mencoba menyiapkan diri dengan apa yang akan saya baca, tetapi membaca kisah Magi Diela tetap saja terasa terlalu kejam. Saya sampai mimpi buruk setelah membaca separuh dari novel ini. Di halaman terakhir saya juga memberikan apresiasi kepada Magi. Dia perempuan yang berani. Memilih jalan gelap dan sunyi menentang adat demi kehormatannya sebagai manusia.  

Novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam adalah novel kedua yang saya baca dengan tema perkawinan adat. Sebelumnya ada Pengantin Pesanan di Singkawang yang mengulas tentang budaya perkawinan yang merugikan pihak perempuan. Novel ini memang fiksi, tapi praktik budaya kawin tangkap masih terjadi di Sumba, NTT. Sebuah artikel di Magdalene mengulas tentang fenomena adat ini. Ternyata ada pergeseran dari adat-istiadat sesungguhnya dalam kawin tangkap ini. Budaya patrarki yang menganggap wajar saja apabila laki-laki mengedepankan ego, dominasi dan kekerasan membuat pelaku merasa memiliki kebebasan untuk melakukan pemaksaan dan intimidasi, bahkan kekerasan seksual kepada perempuan yang ditangkapnya. Inilah yang dilakukan oleh Leba Ali, karakter dalam novel ini yang bersembunyi di balik budaya untuk melegalkan perbuatan bejatnya. Kabar terakhir yang saya baca, pejabat pemerintah daerah Pulau Sumba sudah menyepakati untuk menolak praktik kawin tangkap demi melindungi hak perempuan dan anak. Semoga tidak ada lagi Magi di dunia nyata yang terpaksa harus meberikan tangisnya kepada bulan hitam. 


Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
Dian Purnomo
320 halaman
Gramedia Pustaka Utama
November, 2020