~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Pittacus Lore. Show all posts
Showing posts with label Pittacus Lore. Show all posts

#251 The Fall of Five


Judul Buku : The Fall of Five
Penulis : Pittacus Lore
Halaman : 268 (ebook)
Penerbit : HarperCollins


Saya memang tidak mau menunggu sampai terjemahannya keluar. Saat menemukan ebook lanjutan serial Lorien Legacies ini, saya langsung membacanya. Rasa penasaran akan nasib para Garde dan konon katanya akan ada Garde baru membuat saya segera menghabiskan buku ini.

#250 The Rise of Nine


Judul Buku : The Rise Of Nine
Penulis : Pittacus Lore
Halaman : 404
Penerbit : Mizan Fantasy


Sudah setahun lebih sejak saya membaca buku The Power of Six, akhirnya kesampaian juga membaca lanjutan para kesatria Lorien di buku ke-3 The Rise of Nine. Saking lamanya saya harus membaca ulang review yang saya buat sebelumnya untuk menyegarkan ingatan saya tentang para tokoh dan apa yang terjadi di akhir buku The Power of Six. Itulah salah satu keuntungan membuat review, seperti harta karun yang bisa digali kapan saja. 

#45 The Power Of Six


Judul Buku : The Power Of  Six
Penulis : Pittacus Lore
Halaman : 511
Penerbit : Mizan Fantasi


Awalnya saya mengira buku ini akan bercerita tentang Enam, salah satu Garde dari Planet Lorien. Tetapi ternyata Enam sudah mendapat bagian khusus di The Lost File : Six's Legacy. Apalagi kisah di buku sekuel I Am Number Four ini dibuka oleh Marina, Garde nomor Tujuh. Artinya, dalam buku ini mulai bermunculan Garde lainnya.

Marina, nama bumi untuk Tujuh, adalah seorang wanita seperti Enam. Cepannya bernama Adelina. Sejak turun dari pesawat Loriec, mereka berkelana jauh dan sepertinya mengalami nasib paling tidak menyenangkan. Terlunta-lunta di jalanan, menjadi pengemis, hingga akhirnya mereka terdampar di sebuah biara di Spanyol. Adelina, mungkin karena putus asa akan nasib yang mereka alami, kemudian menjadi biarawati dan melupakan tugasnya untuk melatih Tujuh.

Tujuh yang hampir mencapai usia 18 tahun, syarat untuk tetap berada di biara, mulai tidak betah dengan kehidupan biara. Dia tahu tempatnya bukan di situ. Ketika dia melihat berita-berita di internet tentang John Smith di Ohio, Amerika Serikat, dia berusaha mencari takdirnya. Perlahan seiring dengan munculnya Pusakanya (kemampuan untuk menyembuhkan makhluk hidup dan bernafas di dalam air), Tujuh mencoba meyakinkan Adelina akan takdir mereka.

Sementara itu, Empat, Enam, Sam, dan Bernie Kosar memulai perjalanan mereka mencari Garde lainnya. Perjalanan itu dipersulit dengan kenyataan John (Empat) dan Sam dianggap sebagai teroris yang sudah menghancurkan bangunan sekolah. Mereka menjadi salah satu dari daftar buronan FBI. Berkali-kali mereka harus meloloskan diri baik oleh kejaran polisi maupun Mogadorian. Kenyataan bahwa mantera pelindung telah terpatahkan membuat keadaan mereka semakin sulit. Yang menarik adalah romantisme di buku fantasi action ini tidak terlupakan. Sam yang menyukai Enam, juga menyadari bahwa Empat mulai jatuh cinta pada Enam. Walaupun Empat terus menyangkal dengan mengatakan dia sudah jatuh cinta pada Sarah, dan sebagai Loric mereka hanya jatuh cinta sekali seumur hidupnya. Enam sendiri menunjukkan perhatian yang sama pada Sam dan Empat.

Dalam peti Loric peninggalan Henri untuk Empat, ada sebuah surat yang ditulis oleh Henri sebelum kematiannya. Surat itu mengatakan bahwa ayah Sam adalah manusia pertama yang menolong mereka, dan ayah Sam mempunyai alat pemancar untuk menemukan Garde lainnya. Mereka memutuskan untuk kembali ke Ohio, demi menemukan alat itu. Kepercayaan diri Sam semakin bangkit, bahwa keyakinannya ayahnya masih hidup adalah benar.

Empat, Enam, Sam dan Bernie Kosar kembali ke Ohio. Saya sempat kesal membaca bagian ini, dimana Empat dengan begitu egoisnya berusaha menemui Sarah, dan mencelakakan teman-temannya. Empat menemui ganjarannya ketika Sarah ternyata mengkhianati dia, dengan menyerahkan mereka ke polisi. Untungya ada Enam yang (lagi-lagi) kembali menyelamatkan mereka.

Dibandingkan dua buku sebelumnya, saya sangat suka buku ini. Selain alurnya lebih cepat dengan adegan action lebih banyak, di buku ini mulai bermunculan Garde-Garde lainnya. Fakta tentang Lorien dan pesawat kedua yang datang juga ada di buku ini. Ternyata selain Empat, Enam, dan Tujuh, ada  juga Sembilan dan Sepuluh (Garde terakhir yang masih bayi ketika datang ke Bumi).  Tidak sabar untuk membaca buku ke tiga, The Rise Of Nine yang kabarnya akan terbit Agustus 2012 (masuk Indonesia kapan ya?)

Btw, saya penasaran dengan penulisnya, Pittacus Lore. Saya mencoba mengunjungi situsnya di sini, tapi tidak menjumpai keterangan apa-apa tentang siapa dia sebenarnya. Di sana dia mengatakan kalau dirinya salah satu tetua Loric yang turun ke bumi untuk menceritakan tentang Sembilan Garde pahlawan Lorien. Dari beberapa sumber mengatakan bahwa Pittacus Lore adalah James Frey. Ohya, di situsnya itu kita bisa mencoba aplikasi untuk mengetahui Pusaka Loric apa yang ada di dalam diri kita. Berani mencoba?



#44 The Lost File, Six’s Legacy


Judul Buku : The Lost File, Six’s Legacy
Penulis : Pittacus Lore
Halaman : 102
Penerbit : Mizan Fantasi

Bagian ini sebenarnya diterbitkan sebagai e-book oleh Pittacus Lore. Mizan Fantasi kemudian menjadikannya sebagai bonus di dalam buku ke-dua dari The Legacy Legend, The Power of Six. The Lost File : Six’s Legacy sendiri disebut-sebut sebagai Lorien Legacies #0.5. Kalau melihat nomornya berarti buku ini adalah prekuel dari buku I Am Number Four (Lorien Legacies #1). Untuk itulah, saya memutuskan membaca bagian ini terlebih dahulu sebelum membaca The Power of Six (Lorien Legacies #2)

The Lost File : Six’s Legacy sendiri menceritakan tentang Enam sebelum bertemu dengan Empat. Seperti halnya Nomor Empat, Enam ditemani oleh seorang Cepan bernama Katarina. Enam sendiri bernama Kelly, ketika mereka tiba di persembunyian mereka di Mexico. Namun berbeda dengan Empat yang lebih senang dipanggil John, Enam lebih menyukai nama aslinya.

Enam mendapatkan pelatihan lebih dini dari Katarina. Berbagai jurus bela diri dan pengaturan strategi dikuasai oleh Enam. Dibandingkan pelatihan-pelatihan lainnya, pelatihan fisik paling disukai oleh Enam. Suatu ketika, setelah berlatih bela diri, Katarina menemukan tulisan di sebuah blog di internet dengan nama Dua. Sebuah tulisan menarik perhatian Katarina dan Enam.

“Sembilan, sekarang delapan. Apa kalian ada di sana?”

Enam yakin itu adalah nomor Dua. Mereka memang sudah lama memantau internet dan berita dari luar negeri untuk mencari tahu keberadaan delapan Garde lainnya. Spontan Enam menjawab tulisan tersebut dengan menuliskan komentar di blog itu.


“Ya! Kami disini!”

Sedetik kemudian, garis yang menandakan Dua telah dibunuh oleh Mogadorian muncul di kaki Enam. Sejam kemudian mereka sudah dalam perjalanan menuju Amerika Serikat.  Dalam perjalanan Mogadorian berhasil menemukan mereka. Akan tetapi berkat mantera pelindung yang diberikan pada Garde, Enam berhasil selamat. Enam tidak dapat dibunuh jika Garde Nomor Satu sampai Lima belum mati. Katarina dan Enam berhasil lolos dan menyelamatkan diri mereka.

Di New York, sayangnya mereka tidak bisa lolos dari serbuan Mogadorian. Katarina dan Enam ditangkap dan disiksa. Dalam penyiksaan itu Katarina mati terbunuh, sementara Enam tetap ditahan. Berkat latihan fisik yang diberikan Katarina, Enam berhasil bertahan hidup. Ketika Pusaka pertamanya muncul (kemampuan menghilang tak kasat mata), Enam memanfaatkan Pusakanya itu untuk melarikan diri dari markas Mogadorian. Enam kemudian melanjutkan hidupnya dan berusaha menemukan Garde lainnya. Ketika dia melihat berita tentang John Smith yang selamat dari rumah yang habis terbakar, Enam yakin dia adalah salah satu dari empat Garde yang harus ditemuinya.

Buku setebal 102 halaman ini kemudian menjadi pengantar bagaimana akhirnya Enam berhasil menemui Empat dan menolongnya meloloskan diri dari Mogadorian. Bersama-sama mereka berusaha menemukan keempat Garde lainnya. Melalui buku ini kita bisa tahu mengapa Enam begitu tangguh jika dibandingkan dengan Empat. Bisa jadi oleh latihan fisik yang diberikan Katarina atau karena dendam atas kematian Katarina di depan matanya.


#43 I Am Number Four


Judul Buku : I Am Number Four
Penulis : Pittacus Lore
Halaman : 493
Penerbit : Mizan Fantasi

Sepuluh tahun yang lalu, Planet Lorien diserang oleh bangsa Mogadorian. Semuanya musnah, kecuali sembilan orang Garde dan sembilan Cepan (penjaga) mereka yang didatangkan ke Bumi. Sembilan pasang Loric yang secara fisik seperti manusia itu berpencar ke seluruh bumi, dibekali satu peti Loric. Sebuah mantera melindungi mereka dari Mogadorian, dimana kesembilan Garde tersebut hanya bisa dimusnahkan secara berurutan.

Ketika tiga orang Garde akhirnya mati, Garde ke-Empat merasa was-was karena berikutnya adalah gilirannya dibunuh. Dia dan Henri, Cepannya, harus terus berpindah dan bersembunyi. Kota Paradise, Ohio menjadi tujuan mereka selanjutnya. Untuk penyamaran mereka, Nomor Empat memilih nama John Smith, dan menjadikan Henri Smith sebagai ayahnya. John berkenalan dengan Sarah, salah satu gadis ex- cheerleader di sekolah barunya itu. John jatuh cinta pada Sarah, dan cintanya juga bersambut. John juga mempunyai seorang sahabat bernama Sam, yang sangat tertarik akan hal-hal yang berbau supernatural.

Masing-masing Garde memiliki Pusaka yang menjadikan mereka istimewa dibandingkan warga Lorien lainnya. Tidak ada yang tahu kapan Pusaka ini muncul. Kekuatan dari Pusaka inilah yang akan menjadi senjata mereka untuk melawan bangsa Mogadorian dan menghidupkan kembali planet Lorien. Ketika Pusaka itu muncul, barulah Garde boleh membuka peti Loric miliknya.

Pusaka John muncul tiba-tiba ketika dia sedang belajar astronomi di dalam kelas. Telapak tangannya bersinar seperti sebuah lampu sorot. Henri kemudian mejalankan tugasnya sebagai pelatih sehingga John bisa menguasai Pusaka-nya tersebut. Kemunculan Pusaka ini akhirnya diikuti oleh Pusaka-Pusaka berikutnya. Selain Lumen (sinar yang muncul dari telapak tangannya itu), John juga tahan dan mampu mengendalikan api, serta dapat berbicara dengan hewan.

Suatu peristiwa akhirnya mengungkap identitas Nomor Empat. Tanpa disadarinya, seseorang merekam persitiwa dimana dia menyelamatkan Sarah dari rumah yang terbakar. Di video tersebut, tampak John melompat dari lantai dua rumah yang terbakar dan tidak mengalami luka apapun. Video tersebut beredar di internet, yang mengakibatkan Mogadorian berhasil menemukan jejak mereka. Apakah Nomor Empat berhasil selamat dari Mogadorian?

Buku ini sepenuhnya menceritakan tentang Nomor Empat. Jujur saja, saya melihat sosok Nomor Empat sebagai super hero yang labil dan galau. Berkali-kali Nomor Empat melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya dan Cepannya, walaupun sudah diperingatkan sebelumnya oleh Henri. Saya lebih suka pada sosok Henri yang benar-benar melakukan perannya sebagai pelindung dan penjaga. Dia bahkan mengorbankan dirinya demi keselamatan Garde Nomor Empat yang dijaganya.

Dalam buku ini juga muncul Garde lainnya yaitu Nomor Enam. Berbeda dengan Nomor Empat, Nomor Enam adalah seorang gadis yang tangguh, mampu mengendalikan dirinya, dan tahu konsekuensinya sebagai seorang Garde. Pengetahuannya tentang Lorien dan asal-usulnya pun jauh lebih baik daripada Nomor Empat. Kalau salah satu endorsement di sampul buku ini yaitu dari Michael Bay mengatakan Nomor Empat adalah pahlawan bagi generasi ini, saya justru melihat Nomor Enam sebagai pahlawannya.

Terlepas dari itu, adegan demi adegan action di buku ini sangat hidup. Saya berkali-kali merasakan ketegangan ketika membaca bagian actionnya. Kelebihan lainnya adalah saya tidak menemukan typo dalam buku ini. Setelah membaca habis buku ini, saya tidak sabar untuk melanjutkan ke buku sekuelnya, The Power of Six. Untung bagi saya, Okky bersedia meminjamkan kedua bukunya ini sekaligus :)