~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Windry Ramadhina. Show all posts
Showing posts with label Windry Ramadhina. Show all posts

#611 Angel In The Rain



Ayu adalah seorang pencinta buku yang melakukan perjalanan ke London untuk menghindari pertunangan kakaknya, Luh dengan pria yang pernah dicintainya, Em. Di London, dia bertemu dengan seorang pemuda yang juga menyukai buku, bernama Gilang. Gilang berkunjung ke London untuk mengejar seorang wanita yang dicintainya. Ning, nama gadis itu, adalah sahabatnya. Sayang cinta Gilang tidak berbalas. Ning hanya menganggapnya sebagai sahabat dan Ning mencintai pria lainnya. 

Ayu dan Gilang beberapa kali bertemu secara kebetulan, dan setiap kali mereka bertemu selalu ada hujan yang menyertai. Saat kembali ke Indonesia, Ayu menawarkan buku Burmese Days cetakan pertama karya George Orwell yang sudah lama dicari oleh Gilang. Sayangnya, sampai tiba di bandara Soekarno-Hatta buku itu tidak juga berpindah tangan. Buku itulah yang kemudian akan mengawali pertemuan kembali antara Ayu dan Gilang.

Profesi Ayu sebenarnya adalah penulis novel. Novel kelimanya sudah dinantikan oleh editornya, namun tertunda karena kepergian Ayu ke London. Ayu kemudian menulis sebuah novel dengan judul Angel in The Rain. Gilang pernah mengatakan bahwa ada malaikat yang ikut turun bersama hujan dan membawa keajaiban. Ayu tidak percaya dengan perkataan itu, tapi kemudian menjadi inspirasinya dalam menulis novel yang laris manis. 

Sementara itu, Gilang berusaha melupakan cintanya yang kandas. Pertemuannya kembali dengan Ayu di Indonesia membawa sesuatu yang baru di hatinya. Ketika perasaannya pada Ayu mulai bertumbuh, Ning kembali ke Indonesia. Gilang merasa ada yang berbeda dengan sahabatnya, dan berusaha menghibur sahabatnya. Usaha yang membuat Ayu menjadi tidak percaya pada Gilang.

Novel ini unik, karena yang bercerita bukan Ayu atau Gilang sebagai tokoh utama. Yang bercerita adalah Goldilocks, sosok malaikat yang membawa payung merah untuk sepasang kekasih. Goldilocks menampakkan diri kepada Gilang di London, yang membuat Gilang sangat penasaran. 

Selain legenda di London dan beberapa tempat-tempat menarik tentang London, novel ini juga banyak bercerita tentang novel dan penulis klasik. Sebut saja Wuthering Heights, novel yang "dikejar" oleh Ayu, atau The Gatsby yang menjadi inspirasi Gilang dalam membuat blog. Keberadaan novel klasik dan beberapa novel lainnya membuat karakter Ayu sebagai pencinta buku (saya tidak ingin menyebutnya gila buku) lebih kuat. Bahkan Gilang yang disebut-sebut sebagai pemuda lucu oleh Goldilocks juga terimbas karakter pencinta buku. Saya malah tidak merasakan lucunya Gilang. Menariknya lagi, seperti  Ayu yang menulis novel berjudul sama dengan novel ini, Gilang juga akhirnya menulis novel dengan judul London : Angel

Selain kisah cinta segitiga, satu topik yang juga diangkat dalam novel ini adalah soal kepercayaan. Ayu memiliki masalah tidak bisa percaya pada lelaki, karena lelaki yang disukainya punya masa lalu dengan wanita lain. Karena pengalamannya dalam cinta segitiga antara dirinya, Luh dan Em, Ayu menolak mempercayai Gilang ketika Ning kembali hadir di tengah mereka. Butuh waktu lama bagi Ayu untuk menemukan rasa percaya itu.

Seperti Ayu yang mengoleksi buku cetakan pertama karya penulis favoritnya, saya juga berusaha mendapatkan cetakan pertama karya Windry Ramadhina. Karena novel ini adalah sekuel dari London : Angel, saya tentunya segera memesan ketika novel ini diterbitkan pertama kali lengkap dengan bonus postcard-nya. Saya penasaran dengan kelanjutan kisah Gilang dan Goldilock di novel London : Angel. Sayangnya, kesibukan membuat saya menunda-nunda membaca novel ini, sampai akhirnya hampir empat tahun tersimpan di rak buku. Bukunya sampai menguning dan penuh bercak cokelat. Sepertinya Angel In The Rain ini adalah buku terakhir Windry dengan penerbit Gagas Media. Masih ada dua buku karya Windry di rak saya yang menunggu waktu tepat untuk dibaca :)

Angel In The Rain
Windry Ramadhina
468 halaman
Gagas Media
Oktober, 2016



#422 Last Forever



Judul Buku : Last Forever
Penulis : Windry Ramadhina
Halaman : 384
Penerbit : Gagas Media

Samuel Hardi dan Lana Hart adalah sepasang manusia yang memiliki hubungan tanpa komitmen. Bagi mereka komitmen, pernikahan atau-apalah-namanya hanya membebani mereka saja. Mereka bertemu, bercinta, bercumbu, berpisah. Proses yang sama akan berulang lagi dan lagi setiap kali mereka bertemu. Hal itu berlangsung 7 tahun lamanya. 

#355 Walking After You


Judul Buku : Walking After You
Penulis : Windry Ramadhina
Halaman : 328
Penerbit : Gagas Media

Ketika Desember lalu saya mengetahui penulis favorit saya ini akan mengeluarkan satu lagi karya terbarunya, saya segera memasukkannya ke daftar wishlist, dan memesannya via online shop. Sesampainya buku ini di tangan saya, saya tidak segera membacanya. Saya menyimpannya untuk dibaca di awal tahun. Entah kenapa, tapi saat itu saya merasa hal itu harus saya lakukan. Dan saya tidak keliru. 

#323 Interlude


Judul Buku : Interlude
Penulis : Windry Ramadhina
Halaman : 380
Penerbit : Gagas Media



"Selalu ada jeda untuk bahagia"

Hanna tidak bisa melupakan kejadian yang menimpanya setahun yang lalu. Kejadian yang membuatnya jatuh terpuruk dalam ketakutan, rasa rendah diri, dan putus asa. Setahun yang lalu, seorang pria yang dia percayai telah merenggut kegadisannya dengan paksa, dan menyisakan luka yang sangat dalam. Kini, Hanna mencoba kembali ke kehidupannya seperti sebelum kejadian itu, tapi dia tahu semua tidak lagi sama. Dalam ketakutannya, Hanna ingin sekali menghilang seperti buih di laut.

#285 London : Angel


Judul Buku : London : Angel
Penulis : Windry Ramadhina
Halaman : 330
Penerbit : Gagas Media

Persinggahan terakhir dari serial STPC adalah London. Sengaja saya menyimpan karya penulis favorit saya ini sebagai penutup. Save the best for last. Kali ini perjalanan di London dipandu oleh Windry Ramadhina dalam nuansa sendu hujan gerimis.

#148 Montase


Judul Buku : Montase
Penulis : Windry Ramadhina
Halaman : 368
Penerbit : Gagas Media


Beberapa waktu yang lalu saat saya sedang membaca novel romance, saya sempat bertanya-tanya. Ada ga ya novel romance yang diceritakan dari sudut pandang tokoh laki-laki secara utuh dari awal sampai akhir novel? Jarang sekali saya menjumpai novel seperti itu. Biasanya cerita cinta ditulis dari sudut pandang perempuan yang lebih mementingkan perasaan daripada logika. Ketika saya membuka lembaran pertama novel Montase, dan menemukan apa yang saya cari tadi di novel Montase ini, saya jadi gembira. Dan ketika saya menutup lembaran terakhir novel ini, perasaan yang sama masih ada dalam hati saya.

Montase, diceritakan dari sudut pandang seorang Rayyi. Pemuda anak pengusaha film, Irianto Karnaya, yang selalu membuat film dan sinteron  laris di Indonesia. Seperti halnya Punjabi, Karnaya ingin membentuk dinasti di dunia sinema Indonesia. Untuk itu, anaknya disekolahkan di IKJ, Fakutas Film dan Televisi, Peminatan Produksi. Dengan harapan, Rayyi akan melanjutkan usaha milik ayahnya.

Sayangnya, minat Rayyi tidak pada film laris tapi murahan itu. Dia lebih menyukai film dokumenter. Walaupun kuliahnya di Peminatan Produksi, dia lebih sering masuk kuliah di Peminatan Dokumenter. Adalah ibunya yang mengenalkannya pada film The Man With A Movie Camera oleh Diziga VertovFilm yang kemudian membuatnya jatuh cinta pada film dokumenter. Ketika Samuel Hardi, sineas dokumenter ternama di Indonesia mengajar di Peminatan Dokumenter, Rayyi tidak melewatkan kesempatan itu. Bersama ketiga temannya, Sube, Bev dan Andre mereka menyelinap masuk ke kuliah tanpa kredit demi mendapat ilmu langka dari Samuel Hardi.

Di saat yang bersamaan, Haru Enumoto, juga mengambil mata kuliah tersebut. Haru adalah mahasiswi Tokto Zokei University Jepang yang sedang kuliah di Indonesia. Berbeda dengan Rayyi dan teman-temannya, Haru memang mengambil Peminatan Dokumenter. Rayyi penasaran dengan gadis boneka kokeshi itu. Selain fakta bahwa Haru mengalahkannya di festival film doumenter yang diadakan oleh Greenpeace, Haru juga menjadi penyebab insiden kecil di awal kuliah Samuel Hardi yang membuat Rayyi mendapatkan peringatan dari Samuel.

Tugas kuliah dari Samuel Hardi-lah yang mendekatkan Rayyi dan Haru. Mereka diminta membuat film dokumenter "observasi" berdurasi pendek. Berdasarkan ide dari Andre, Rayyi akan membuat film tentang Haru. Tanpa disangka, sosok Haru di balik kamera membuat Rayyi jatuh cinta. Boneka kokeshi yang imut itu berubah menjadi peri Lili yang manis. Senyumnya yang selebar perahu naga selalu membuat Rayyi berdebar-debar. 

Lantas, apakah kisah cinta itu saja dalam novel Montase ini? Tidak. Pertentangan batin Rayyi antara impiannya dan keinginan ayahnya yang sebenarnya menjadi permasalahan dalam Montase. Kalau di hadapan teman-temannya (dan Haru) Rayyi adalah sosok pejuang, di hadapan ayahnya Rayyi justru melempem. Patuh pada apa yang sudah digariskan oleh ayahnya. Ketika Samuel Hardi menawarkan Rayyi untuk magang di rumah produksinya, Rayyi justru menolak karena harus magang di tempat ayahnya. Apakah impian ayahnya lebih besar daripada impiannya sendiri?
“Selalu ada impian yang lebih besar dari impian lain, kan?”
 Windry Ramadhina adalah salah satu penulis muda Indonesia yang karyanya selalu menghadirkan nuansa baru. Kali ini Windry mengangkat dunia sinema dokumenter sebagai latar belakang dalam kisah Montase.  Walaupun tidak dikupas secara tuntas (misalnya, alasan kenapa filmnya Haru menang festival mengalahkan film milik Rayyi), tetapi nuansa baru ini sangat menyegarkan untuk saya. Windry juga menyelipkan beberapa kosakata Jepang di dalam novel ini yang membuat saya beberapa kali mencari artinya di internet. Saya juga dibuat jatuh cinta pada covernya yang unik, tanpa warna dan seperti sketsa pensil. Sosok Rayyi dan Haru menjadi satu dalam cover yang manis itu. Rayyi terwakilkan oleh gambar pita seluloid, sementara Haru lewat sketsa pensil.

Saya lantas bartanya, apa makna dari Montase? Karena sama sekali tidak dijelaskan dalam novel ini, terpaksa saya mencari (lagi) di internet. Dan ini yang saya temukan dari sumber ini.
mon·ta·se 1 komposisi gambar yg dihasilkan dr pencampuran unsur beberapa sumber; 2 karya sastra, musik, atau seni yg terjadi dr bermacam-macam unsur; 3 gambar berurutan yg dihasilkan dl film untuk melukiskan gagasan yg berkaitan; 4 pemilihan dan pengaturan pemandangan untuk pembuatan film


#82 Memori


Judul Buku : Memori
Penulis : Windry Ramadhina
Halaman : 312
Penerbit : Gagas Media


Pertama kali mengenal karya Windry lewat Orange dan Metropolis (thanks to Sulis @peri_hutan), saya langsung suka dengan gaya menulis Windry. Dua novel tersebut punya nuansa yang berbeda. Yang satu dengan fotografi, dan yang kedua dengan nuansa mafia. Kali ini Windry menyajikan nuansa arsitektur dalam novel terbarunya. Buat yang tidak mengerti tentang dunia arsitek tidak perlu kuatir, karena Windry menceritakan dengan sangat ahli. Wajar saja, mengingat Windry sendiri adalah seorang arsitek.

Mahoni, seorang arsitek lulusan UI yang meninggalkan Indonesia menuju Virginia untuk melupakan masa lalunya. Selama empat tahun dia membangun karirnya di Amerika, tempat yang menjadi kiblatnya dalam dunia arsitektur, karena Mahoni sangat mengidolakan Frank O. Gehry. Dia sering diminta merancang butik atau gallery, dan banyak yang menyukai karyanya. Tapi keinginan terpendam Mahoni adalah merancang sebuah romance home.

Suatu kecelakaan mobil yang menewaskan papa-nya dan Grace (ibu tirinya) membuat Mahoni harus pulang ke Indonesia.  Rencana awalnya Mahoni hanya akan tinggal sehari saja untuk mengunjungi makam papanya, tapi Mahoni dengan terpaksa harus tinggal dua bulan demi menjaga adik tirinya, Sigi. Tinggal di rumah papa, menghadapi masa lalu dan kenangan buruk yang ingin dia kubur, membuat Mahoni tidak berkutik. Apalagi ketika dia bertemu dengan pria di masa lalunya, Simon. Sayangnya Simon sudah memiliki Sofia, lengkap dengan studio MOSS milik mereka berdua. Sekali lagi, sakit hati Mahoni terangkat ke permukaan.

Simon adalah teman semasa kuliahnya. Berbeda dengan Mahoni yang mengidolakan Frank O. Gehry, Simon memuja Rem Koolhaas. Walaupun demikian, Simon adalah partner berdebat dan berdiskusi yang setara dengan Mahoni. Dibalik, sikap sinis dan tidak peduli yang menjadi ciri khas Simon, dia ternyata mencintai Mahoni. Demikian pula dengan Mahoni. Tetapi ketika Simon meminta Mahoni ikut ke Belanda bersamanya, Mahoni malah kabur dan pergi dari Simon.

Cinta itu egois, sayangku. Dia tak akan mau berbagi.
Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.
Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia—cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman.
Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.

Kalimat di atas adalah tulisan yang terdapat di sampul belakang novel ini. Saya kira tulisan ini adalah apa yang ditanamkan Mae (mama Mahoni) kepada Mahoni. Ketidakpercayaan Mae terhadap suatu hubungan membuat Mahoni meyakini hal yang sama. Ketika Simon kembali menawarkan cintanya dengan memilih Mahoni, Mahoni kembali lari. Dia tidak ingin menjadi Grace. Dia tidak ingin Sofia mengalami hal yang sama seperti Mae.  Mae tenggelam dalam sakit hati ketika Guruh (papa Mahoni) memilih Grace dibandingkan dirinya. Guruh yang merasa tidak lagi ada kecocokan antara dirinya dan Mae, menemukan apa yang dia cari di dalam diri Grace. Ketertarikan mereka berdua terhadap kayu, membuat mereka menyatu. Sementara Mae tenggelam dalam dunia fiksinya yang getir dan pahit. Mae mengajak Mahoni meninggalkan rumah papanya, membuat Mahoni membenci papanya dan Grace dan apapun yang berhubungan dengan mereka, termasuk Sigi.

"Damar adalah kayu kesukaan Papa; bukan jati, nyatoh, atau sungkai; bukan pula Mahoni."

Sigi (atau damar dalam bahasa Sumatera) adalah adik tirinya yang masih duduk di bangku SMA. Dengan caranya sendiri, Sigi menemukan kedewasaannya, bertindak sebagai saudara laki-laki yang ingin menjaga Mahoni, dan tanpa mereka (Sigi dan Mahoni) sadari mereka terhubung oleh suatu emosi yang dalam. Emosi yang membuat Mahoni tidak bisa meninggalkan Sigi begitu saja, walaupun itu demi impiannya bekerja sama dengan Frank O. Gehry.
"Sebaliknya, kau bisa mewujudkan impian seseorang dengan kompromi. Itu sesuatu yang kita lakukan setiap saat tanpa sadar, Di rumah. Dengan keluarga kita"
 Membaca novel ini membuat saya merasa "penuh". Novel ini bukan hanya tentang keluarga, pulang ke rumah, menghadapi masa lalu. Tapi yang terdalam adalah tentang kompromi. Merelakan sebagian impian demi orang lain, demi keluarga. Mahoni yang keras kepala, spesifik, dan ambisius berkali-kali harus berkompromi demi impian orang lain. Kompromi dengan keluarganya, kompromi dengan impiannya, bahkan kompromi dengan cintanya. Saya sendiri melihat ada Mahoni dalam diri saya, melakukan kompromi tanpa sadar terhadap beberapa hal dalam kehidupan saya untuk mewujudkan impian orang lain yang saya cintai.

Tidak terlepas dari isi ceritanya, novel ini dilengkapi dengan cover yang romantis, berwarna jingga dengan sebuah lukisan rumah bergaya klasik. Belum lagi pilihan kertas sampulnya yang bertekstur, menambah nilai plus untuk novel ini. Pokoknya highly recommended untuk dikoleksi (dan dibaca tentunya).

Lima bintang untuk Windry Ramadhina. Terima kasih, Win untuk memori-mu... :)



#27 Metropolis


Judul Buku : Metropolis
Penulis : Windry Ramadhina
Halaman : 331
Penerbit : Grasindo


Cerita dalam buku ini diawali dengan suasana pemakaman Leo Saada, salah satu mafia penting di Jakarta. Kematiannya yang tidak wajar, yaitu terbakar di dalam mobilnya sendiri, meninggalkan tanda Tanya bagi banyak orang, terutama puteranya Ferry Saada.  Kematian Leo menyusul kematian beberapa gembong mafia yang tergabung di dalam Sindikat 12. Sindikat 12 sendiri adalah lelompok mafia pemasok narkoba yang menjadi momok bagi polisi karena selalu bisa lolos dan tidak tersentuh hukum.

Agusta Bram, adalah anggota polisi Sat Reserse Narkotika yang mengusut kasus Sindikat 12. Kasus ini semakin membesar ketika satu persatu pemimpin Sindikat 12 tewas terbunuh. Dibantu Erik, polwan asistennya, mereka mencoba membongkar misteri pembunuhan tersebut, walaupun sebenarnya kasus ini bukan lagi di bawah wewenang mereka.

Kematian para pemimpin Sindikat 12 ini ternyata ada hubungannya dengan kejadian masa lampau, dimana sebelum Sindikat 12 ada, perdagangan narkoba di Jakarta dikuasai oleh satu orang, Frans Al. Kali ini putranya, Johan Al, yang dikira telah mati terbunuh bersama orangtuanya menuntut balas demi kematian ayahnya. Tapi tentu saja kasus ini bukan hal yang mudah, karena melibatkan oknum mantan polisi wanita yang belakangan ketahuan bahwa dia adalah putri dari Leo Saada.

Demi ayahku yang sudah mati….

Tagline dari judul novel yang terpampang di sampul buku ini, memang menjadi benang merah dari kisah dalam novel ini. Masing-masing tokoh membawa dendam masa lalu, membalaskan kematian ayah mereka. Mengenai judulnya “Metropolis”, cukup mewakili tentang Jakarta yang metropolitan dengan segala persoalan di dalamnya. Walaupun di dalam buku ada juga pub yang bernama sama yang menjadi salah satu tempat penting dalam cerita ini.

Tema kriminal dan misteri yang tidak biasa diangkat oleh penulis fiksi di Indonesia tersaji cukup baik dalam novel ini. Riset mendalam tentang mafia narkoba di Jakarta yang dilakukan oleh Windry menambah bumbu dalam cerita ini.  Apalagi didalamnya disertakan beberapa gambar denah TKP yang membuat pembaca ikut memahami setiap kasus yang dihadapi oleh tokoh. Walaupun di pertengahan buku sudah ketahuan siapa pembunuh sebenarnya, tetapi kejutan masih tersaji hingga halaman terakhir. Alur ceritanya memang lambat, sehingga pembaca yang bukan penikmat misteri pasti akan berhenti membacanya di tengah-tengah buku.

Saya sendiri pertama kali tertarik oleh covernya yang seperti surat kabar dengan bercak darah. Tadinya saya mengira ini adalah novel terjemahan sampai saya melihat nama penulisnya yang juga penulis novel Orange. Berbeda dengan kisaha Orange yang bittersweet, dalam buku ini kisah roman tidak banyak. Hanya sedikit saja, itupun semua menjadi kasih tak sampai :). Ohya novel ini ada situsnya juga... lumayan buat ngintip gambaran karakter tokohnya.



#24 Orange


Judul Buku : Orange
Penulis : Windry Ramadhina
Halaman : 286
Penerbit : Gagas Media


Diyan Adnan. Seorang pengusaha sukses, anak dari pasangan konglomerat Tyo Adnan dan Indra Adnan. Pria tampan dengan penampilan fisik menarik, kaya, prestasi bisnis segudang, dan tentu saja masih single. You shop in mall, Diyan Adnan shops a mall. While eating lasagna. Sebagai anak pengusaha, Diyan yang memiliki jiwa bisnis merasa wajib untuk tetap menjalankan bisnis keluarganya. Diyan mencintai seorang model, yang pergi meninggalkannya di saat Diyan meminta gadis itu menikahinya. Diyan tidak mampu melupakan gadis itu, bahkan ketika dia ditunangkan oleh orangtuanya dengan seorang gadis anak dari rekan bisnis ayahnya.

Fayrani Muid. Lulusan perguruan tinggi jurusan fotografi. Objek apapun yang diabadikan olehnya dengan kamera pro Nikon kesayangannya selalu terlihat menarik. Kemampuannya dalam menangkap momen, membuatnya menjadi tangan kanan seoang pemilik studio foto ternama se-Asia, Erod Martin. Walaupun kedua orangtuanya sukses dalam dunia bisnis, Faye tidak tertarik sama sekali dengan bisnis. Ketika dia memilih menekuni dunia fotografi, kedua orantuanya tidak mampu menahannya. Untuk meneruskan bisnis keluarga, Faye ditunangkan dengan seorang pemuda sukses bernama Diyan Adnan.

Zaki Adnan. Anak hilang yang tidak mau terlibat dalam dunia bisnis, dan memilih bidang advertising sebagai lahan hidupnya. Lulusan sekolah desain ternama di Belanda ini memulai usaha advertising dengan teman-temannya tanpa mau terlibat urusan bisnis. Ketika dia bertemu dengan seorang gadis yang begitu menarik perhatiannya, Zaki mulai terobsesi. Sayangnya gadis itu adalah tunangan kakaknya, Diyan Adnan.

Rera. Model cantik yang memiliki ambisi untuk memiliki agensi model internasional. Dia meninggalkan Jakarta dan tunangannya ke Paris, demi mimpinya. Sayangnya, Rera tidak menyadari bahwa cinta yang dia tinggalkan di Jakarta masih mengikatnya begitu kuat, sampai ketika dia harus kembali ke Jakarta dalam suatu perjalanan bisnis. Di tengah kegalauannya, Rera tahu bahwa cintanya dengan Diyan adalah hal terakhir yang bisa dipegangnya, walaupun dia tahu cinta itu tidak akan membawa akhir apapun kecuali perpisahan.

Bagian tersulit saat mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain.

Kalimat diatas masing-masing dirasakan oleh empat tokoh dalam buku ini, Diyan, Fayrani, Zaki dan Rera. Kisah cinta segiempat yang terjadi di antara mereka membuat jalan hidup mereka berasa bittersweet seperti buah jeruk.  Membaca buku ini membuat saya juga merasakan bittersweet itu. Dalam kehidupan, antara ambisi pribadi dan manisnya cinta terkadang tidak bisa sejalan. Ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan salah satunya, terlebih lagi keduanya.

Terlepas dari manis pahitnya cinta dalam metropop ini, penggunaan banyak kalimat berbahasa inggris dalam percakapan antara tokoh-tokoh dalam buku ini mudah untuk dicerna dan dapat dipahami. Bisa dimaklumi ketika penulis mencoba memasukkan banyak unsur kebarat-baratan di dalam buku ini, termasuk di dalamnya sex before married. Saya menangkap kesan bahwa penulis ingin meniru kisah-kisah roman seperti Harlequin untuk membangun sisi romantisme dalam buku ini.

Selain itu, saya menemukan sedikit kejanggalan yang menggangu dalam membaca buku ini. Misalnya pada halaman 91, ketika dikisahkan Faye yang menghindari wartawan menolak melepaskan topi dan kacamata hitamnya ketika ditegur oleh Zaki. Tapi di halaman berikutnya (92), tertulis bahwa Zaki melihat mata Faye yang bersinar antusias. Padahal tidak tertulis bahwa Faye melepaskan kacamatanya.

Kemudian ada satu ilustrasi di halaman 56 yang menutupi sebagian tulisan. Semoga hal ini tidak ada lagi di cetakan kedua.

Ohya, saya menyukai salah satu tokoh lain dalam buku ini. Reina Adnan. Sekretaris sekaligus sepupu Diyan, yang merupakan tangan kanan Diyan. Dia “bertugas” untuk membereskan segala sesuatu yang berkaitan dengan Diyan, mulai dari bisnis sampai hubungan pribadi Diyan. Konsistensi Rei memanggil Faye dengan nama aslinya, Fayrani, menyiratkan bahwa Rei menganggap Faye hanyalah salah satu dari sekian hal yang harus diurusnya dalam kehidupan Diyan.

After all, empat bintang untuk Orange. Btw, terima kasih buat @peri_hutan yang mau meminjamkan buku ini :)