~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Leila S. Chudori. Show all posts
Showing posts with label Leila S. Chudori. Show all posts

#518 Laut Bercerita


Judul Buku : Laut bercerita
Penulis : Leila S. Chudori
Halaman : 389
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Sebelum saya lebih jauh mengulas isi bukunya, satu bintang telah saya sematkan terlebih dahulu khusus untuk gambar sampul yang memukau. 

Biru Laut, seorang mahasiswa Sastra Inggris UGM, bertemu dengan Kasih Kinanti yang kemudian mengajaknya bergabung dengan Winatra dan Wirasena, sekelompok pemuda yang mulai "terusik" dengan rezim Orde Baru. Mereka berkumpul dan berdiskusi, menyusun rencana untuk membela masyarakat golongan bawah. Laut berkenalan dengan Daniel, Alex, dan beberapa mahasiswa lainnya yang sama-sama menginginkan Indonesia berubah. Beberapa kali mereka melakukan aksi, hingga akhirnya "tercium" oleh aparat. Laut dan kawan-kawannya dianggap sebagai orang-orang yang menginginkan presiden digantikan. Laut ditangkap, diinterogasi, disiksa, dan masih banyak perlakuan keji lainnya yang diterimanya dengan tujuan menghancurkan mental dan jiwa mereka.

Saya masih duduk di bangku SD pada tahun 1990-1993. Seperti yang diceritakan dalam buku ini, otoritas pemimpin negara di masa Orde Baru mungkin tidak terlalu terasa di luar Pulau Jawa. Namun saya masih ingat sekitar tahun 1997-1998, kerusuhan mulai merambah ke pulau Sulawesi. Banyak perjuangan-perjuangan yang dicetuskan oleh mahasiswa yang kemudian berbuah lengsernya presiden saat itu. Saya sendiri tidak begitu mengikuti sepak terjang mahasiswa, karena saya masih SMA. Namun setelah membaca buku ini, ada pencerahan baru yang saya peroleh.

Buku ini terbagi dalam dua bagian. Kisah dari sudut pandang Biru Laut, dan kisah dari sudut pandang Asmara, adiknya. Laut menceritakan bagaimana mahasiswa yang ikut bergerak menginginkan perubahan mendapatkan perlakuan di luar batas kemanusiaan. Sementara Asmara menceritakan kesedihan dan hilangnya harapan ketika ada anggota keluarga yang dinyatakan hilang tanpa kabar.

Karena di awal buku kisah Laut dibuka dengan kematiannya, maka porsi Laut dikisahkan dalam alur mundur. Hanya saja, saya sempat bertanya apa nilai penting seorang Laut dalam proses ini. Berbeda dengan Kinan dan Bram yang bisa dibilang "otak" dari pergerakan mahasiswa saat itu, Laut hanyalah salah satu dari pelaksana. Laut sendiri diceritakan sempat mengalami kegalauan, keresahan bagaimana jika dia mati. Bukan kematiannya yang dianggap berat, tapi apakah pengorbanannya setimpal dengan hasil yang akan diperoleh? Kemudian saya mendapatkan jawabnya melalui Kinan,
Yang penting kita ingat.... setiap langkahmu, langkah kita, apakah terlihat atau tidak, apakah terasa atau tidak, adalah sebuah kontribusi. Sebuah baris dalam puisimu. Sebuah kalimat pertama dari cerita pendekmu
Laut bercerita bukan hanya soal perjuangan, tapi juga pengkhianatan, kasih sayang, kehilangan, perubahan, pengorbanan. Laut bercerita memberikan harapan bahwa sekecil apapun usaha kita untuk sebuah perubahan, tetap terhitung sebagai kontribusi. Saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh kamu yang mengaku aktivis kampus :)


#294 Pulang


Judul Buku : Pulang
Penulis : Leila S. Chudori
Halaman : 464
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia


Rumah adalah tempat di mana aku merasa bisa pulang (Dimas Suryo)

Sudah lama saya mendapatkan buku pemenang KLA 2013 ini, tapi saya selalu menunda membacanya. Bayangan akan "beratnya" buku ini karena berlatar belakang sejarah termasuk salah satu alasannya. Akhirnya buku ini beredar ke beberapa teman yang ingin membacanya, sebelum kembali kepada saya di awal tahun ini. Ketika saya membacanya dalam semalam, ternyata dugaan saya salah.

#132 9 Dari Nadira


Judul Buku : 9 Dari Nadira
Penulis : Leila S. Chudori
Halaman : 270
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Program baca dan posting bareng BBI bulan ini adalah buku-buku yang masuk dalam nominasi Khatulistiwa Literary Award (KLA)Tadinya saya mau membaca Gadis Kretek karya Ratih Kumala yang masuk dalam shortlist nominasi KLA 2012, hanya saja saya tidak menemukan buku ini di Jogja. Sempat kepikiran tidak ikut event bulan ini, tapi kemudian saya mendapatkan pinjaman buku 9 Dari Nadira dari mbak Sinta. Akhirnya saya memutuskan untuk membaca buku ini sebagai partisipasi saya dalam event rutin BBI.


Review dari novel ini kemudian saya putuskan untuk diikutsertakan dalam 2012 End of Year Book Contest yang diadakan oleh Okky. Buku 9 dari Nadira ini memenuhi semua syarat untuk diikutkan dalam kontes tersebut.
Ada “huruf A” pada judul buku
Ada “angka” pada judul buku
Ada “sendu” dalam judul/sampul buku
Ada “warna kuning” pada sampul buku
 Syarat pertama, ada huruf A pada judul buku terpenuhi pada kata Dari dan Nadira. Syarat kedua, ada angka pada judul buku terpenuhi pada angka 9. Syarat ketiga, saya menganggap gambar cover buku ini cukup sendu tapi mengandung unsur etnis juga. Sementara syarat keempat, ada warna kuning terlihat pada tulisan judul buku ini.

9 dari Nadira terbit pada tahun2009. Mungkin tidak ada kaitan antara angka 9 pada judul buku dan tahun penerbitan dari buku ini. Ternyata buku ini adalah kumpulan cerpen yang berisi 9 cerita tentang kehidupan seorang tokoh bernama Nadira dari berbagai sisi. Menarik bagi saya karena walaupun berupa kumpulan cerpen, masing-masing cerpen itu saling berikatan membentuk kesatuan. Pembaca akan menemukan pertanyaan yang muncul saat membaca satu cerpen, tapi (mungkin) akan mendapatkan jawaban pada cerpen lainnya. Cerpen ini juga dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik yang mengawali setiap novel.

Pada cerita pertama, Mencari Seikat Seruni, Nadira digambarkan sebagai anak perempuan, si bungsu dari tiga bersaudara, pasangan Bram dan Kemala. Sejak kecilnya hingga dewasa, Nadira digambarkan memiliki kepribadian yang berbeda dengan kedua saudaranya Nina dan Arya. Ketika Kemala ditemukan terbujur kaku dengan mulut berbusa (akibat bunuh diri dengan obat-obatan), reaksi Nadira berbeda dengan saudaranya. Arya sibuk membacakan Surat Yasin, Nina meluapkan kesedihannya dengan menangis melolong, sementara Nadira sibuk mencari bunga Seruni untuk ibunya. Kenapa harus seruni? Bukan melati atau mawar? Jawabannya ada di cerita keempat, Tasbih. Menurut seorang psikopat yang diwawancarai oleh Nadira (profesi Nadira adalah seorang wartawan), seruni adalah bunga yang cocok untuk seseorang yang lelahdengan dunia, seorang yang ingin pensiun dari hidupnya.

Profesi Nadira yang adalah seorang wartawan majalah Tera, menjadi kebanggan ayahnya. Bukan saja karena Nadira mewarisi profesi ayahnya (seorang wartawan senior), di dalam cerita ketiga Melukis Langit, Nadira jugalah yang mengurus ayahnya sejak kepergian ibunya. Sosok Nadira di kantor lebih jelas diceritakan oleh rekan kerjanya, Kris lewat cerita Sebilah Pisau. Bagaimana Nadira yang suka tidur di kolong meja kerjanya, Nadira yang suka membaca, dan Nadira yang berani meninju wajah psikopat yang diwawancarainya gara-gara menghina ibunya.

Hubungan pribadi Nadira sendiri adalah kisah yang menarik untuk disimak. Nina dan Nadira adalah dua perempuan bersaudara yang seperti musuh dalam selimut. Mereka saling menyayangi dan mendendam dengan cara yang unik. Nina selalu berada di dalam bayang-bayang Nadira, meskipun Nina lebih tua dari Nadira. Kisah cinta Nadira yang rumit juga membuat saya terpana dan sedikit bingung. Nadira tidak menyadari jika atasannya, Utara Bayu, mencintai dirinya. Sementara itu Nadira malah menikah dengan Niko, pria yang membuatnya merasakan Ciuman Terpanjang. Tapi seperti yang diprediksikan oleh rekan kerjanya, usia pernikahan Nadira tidak panjang. Dalam cerita keenam berjudul Kirana, Nadira bercerai dari Niko. Alasannya klasik, Niko masih setia dengan masa lalunya yang bergelimangan wanita. Tetapi di saat yang sama Nadira masuk ke dalam sebuah penjelajahan dunia seksualitas yang baru.  Hingga akhirnya Nadira meninggalkan Jakarta dan pergi ke Kanada, tempat kuliahnya, dan bertemu dengan cinta masa lalunya At Pedder Bay.

Kisah-kisah Nadira seperti teka-teki yang pada akhirnya (tetap) meninggalkan tanda tanya. Banyak diwarnai oleh konflik politik, bentrok budaya, sastra klasik, dunia wartawan hingga kehidupan di Amsterdam-New York-Victoria membuat kumpulan cerpen ini menjadi kaya. Ketika melihat profil penulis di akhir buku, saya memahami mengapa semua warna di atas terasa hidup. Tidak lain karena penulis sendiri sangat lekat dengan beberapa hal tersebut. Tidak heran ketika buku ini masuk ke dalam nominasi Khatulistiwa Literary Award 2010 untuk kategori fiksi.