~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Young Adult. Show all posts
Showing posts with label Young Adult. Show all posts

#664 Highly Unlikely

 

Raya adalah anak sulung dari dua bersaudara. Di rumah, Mama-nya selalu mengajarkan Raya dan adiknya, Rachel untuk memilah sampah dengan baik. Selain itu mereka juga membuat kompos sendiri dan lubang biopori di halaman rumahnya. Sebenarnya hal ini menangani limbah rumah tangga sudah mereka lakukan sejak Papanya masih hidup. Namun sejak kepergian Papanya, Mama semakin ketat mengawasi pengelolaan sampah di rumah. Hal ini membuat Raya sedikit merasa kewalahan. Apalagi Rachel seringkali ingkar dari tanggung jawabnya. Sebagai anak sulung, mau tak mau Raya mengambil alih tugas adiknya.

Sementara itu, karena pandemi masih berlangsung, maka perkuliahan harus dijalani Raya secara daring. Termasuk kali ini dalam mengerjakan tugas penelituan berkelompok. Raya digabungkan dengan Popon dan Kamal, dua sahabatnya. Namun orang keempat yang ada di kelompoknya membuat Raya tidak senang. Bergas adalah orang yang ingin dihindari oleh Raya. Dia punya pengalaman tidak menyenangkan dalam mengerjakan tugas dengan temannya yang juga food vlogger kondang itu. Di semester sebelumnya, Bergas selalu telat mengumpulkan tugas bagiannya, sehingga Raya harus mengambil alih dan mengerjakannya sendiri.

Kalau lagi bingung mau membaca apa, trus ketemu novel yang page turner itu rasanya sangat menyenangkan. Saya suka semua bagian dari novel ini. Pemilihan judulnya juga eye-catching menurut saya. Highly unlikely itu membuat orang akan bertanya-tanya, ada peristiwa apa sih yang akan dibahas dalam novel ini. Meski kondisi pandemi sudah berlalu, tapi pembaca tetap akan relate karena kita semua pernah menjadi bagian dari masa-masa tidak menyenangkan itu. Penelitian yang dikerjakan Raya dan teman-temannya terkait Ilmu Komunikasi bisa dicerna dengan baik oleh pembaca seperti saya yang awam dengan ilmu tersebut. Malah berasa mendapat ilmu baru. Ambisnya Raya tuh kerasa banget. Bersyukur dia punya sahabat seperti Popon dan Kamal yang bisa memahami dirinya yang rada bossy itu.Lalu ada perjalanan enemy-to-lover antara Raya dan Bergas yang bikin senyum-senyum, meringis, juga sedih. Trus yang juga bikin nambah ilmu itu adalah tentang penanganan kompos di rumah Raya. Sampai ada ilustrasi gambarnya juga.

Highly Unlikely
Aghnia Sofyan
256 halaman
Gramedia Pustaka Utama 
April 2024

#652 Mel, Melatiku

 


Amel adalah seorang atlet renang. Sejak kecil orang tuanya sudah mempersiapkan Amel agar bisa menjadi atlet, terutama Bundanya yang cukup ketat dalam mengatur jadwal latihan dan keseharian Amel. Amel sebenarnya menerima semua kondisinya itu, tapi ada kalanya dia merasa lelah dan bosan. Ketika Axel mendekati Amel, Amel mulai membuka diri. Bukan pertama kali sebenarnya Amel memiliki hubungan dekat dengan lelaki. Tantri, sahabat Amel tidak menyukai Axel. Karena menurut Tantri Axel bukan cowok baik-baik. Axel memang sering bolos, tapi Amel menganggap hal itu biasa saja.

Semakin hari Amel mulai menyadari hubungannya dengan Axel tidak mengarah ke hal yang baik. Amel memutuskan Axel. Ketika Amel mulai fokus dalam mempersiapkan diri menjelang PON, dia dikejutkan dengan beredarnya foto tak senonoh dirinya. Akibatnya sungguh fatal. Amel dikeluarkan dari sekolah dan juga tim PON. Amel menjadi depresi dengan segala pemberitaan tentang dirinya.

Tema kekerasan dalam berpacaran mungkin bukan hal baru di dunia novel remaja. Namun saya menyukai tokoh Amel di dalam novel ini. Dia jatuh, terpuruk, dan berusaha untuk bangkit. Selain itu konflik keluarga juga mewarnai kehidupan Amel. Memiliki bunda yang sangat menaruh harapan tinggi pada anak-anaknya menambah "kekacauan" dalam hidup Amel. Kehadiran Ega dan Serena dalam usaha Amel memulihkan jalan hidupnya digambarkan dengan baik. Meski ending-nya seperti dipercepat, namun saya suka dengan akhir yang ditawarkan penulis.

Mel, Melatiku
Ken Terate
384 halaman
Gramedia Pustaka Utama
February, 2024


#648 Remedies

 


Gerry masih belum bisa menerima kematian Ibunya. Apalagi kala itu dia dan ibunya juga ditinggal pergi oleh Ayahnya. Gerry berharap Ayahnya akan datang pada saat Ibunya dimakamkan, tapi ternyata yang diharapkannya tak kunjung terjadi. Gerry bahkan meninggalkan polo air, olahraga yang menjadi passionnya dan sempat ditekuninya dengan serius.

Di sekolah, Gerry memiliki sahabat bernama Farhan dan Niko. Keduanya paham, Gerry sensitif pada dua hal. Polo air dan keluarga. Namun berbeda dengan Retha, yang terus saja mengusik Gerry perihal polo air. Gerry bahkan kesal dengan teman sebangkunya yang baru pindah itu.

Novel ini terasa suram sekaligus membuat hati teriris. Membayangkan kondisi Gerry yang harus menghadapi keegoisan kedua orang tuanya sehingga membuat hidupnya nyaris hancur. Beruntung Gerry masih memiliki tante dan omnya yang mendampinginya menjalani hari-hari berat itu. Perasaan bersalah dan marah terhadap ibunya, serta benci pada ayahnya membuat Gerry hidup dalam masa lalu yang menyakitkan.

Saya suka dengan pengembangan karakter Gerry. Interaksi dengan teman-temannya, humor dan bercandaan dengan Farhan, Niko dan Retha juga menjadi penyeimbang bagi jalan cerita yang cukup dark ini. Open ending yang menjadi pilihan penulis pun cukup adil buat Gerry.


Remedies
Trissella
264 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Oktober, 2023



#645 The Girl Who Fell Beneath the Sea



Ketika Shim Cheong terpilih sebagai pengantin Dewa Laut, Mina berupaya menghalangi pengorbanan yang akan terjadi pada Cheong. Pasalnya, Cheong adalah wanita yang dicintai oleh kakaknya, Joon. Mina tahu Joon akan melakukan apapun untuknya, oleh karena itu kali ini Mina juga akan melakukan apapun untuk Joon. Mina memilih mengorbankan dirinya terjun ke laut menggantikan Cheong. 

Seorang wanita dipilih untuk menjadi pengantin Dewa Laut, yang bertujuan untuk meredam amarah Dewa Laut. Bertahun-tahun desa tempat tinggal Mina dilanda bencana. Masyarakat percaya, Dewa Laut sedang murka. Tidak terhitung lagi banyaknya wanita yang berkorban dan atau dikorbankan. Ketika Mina mengambil alih peran sebagai pengantin Dewa Laut, dia memiliki misi untuk membujuk Dewa Laut yang telah melupakan manusia yang memujanya. Mina menyadari dirinya tidak secantik para pengantin terdahulu, tetapi dia akan berjuang demi dirinya sendiri. 

Petualangan Mina di dasar laut, melewati dunia arwah, dan bertemu dengan para dewa dan makhluk mitos adalah cerita yang menarik untuk diikuti. Salah satu dewa yang ditemuinya adalah Shin, yang justru memutus Benang Merah Takdir antara Mina dan Dewa Laut. Hal itu semata-mata dilakukan Shin agar Dewa Laut tetap terlindungi. Shin percaya bahwa bencana yang dialami oleh masyarakat desa di daratan adalah akibat ulah mereka sendiri. Mereka yang merusak lingkungan, sehingga dewa-dewa pelindung alam berpaling karena tidak ada lagi yang bisa dilindungi. Yang tidak diduga selanjutnya adalah ketika Benang Merah Takdir justru menghubungkan Mina dengan Shin.

Dari segi fantasy, cerita ini memang menarik. Meski romansa antara Shin dan Mina nyaris terasa garing. Mina sendiri seringkali tergerak untuk melakukan banyak hal padahal dia punya misi utama dengan Dewa Laut. Akhir kisah antara Mina, Dewa Laut dan Shin itu sendiri terkesan dipaksakan menurut saya. Konon, kisah ini didasari oleh Legenda Shim Cheong. Untuk yang tertarik, bisa membacanya di sini. Novel ini sendiri terpilih sebagai  Best Young Adult Fantasy & Science Fiction (2022)  oleh Goodreads Choice Awards. Gambar covernya juga bagus banget, pas jadi bacaan di masa Imlek.  


The Girl Who Fell Beneath The Sea
Axie Oh
290 halaman
Elex Media Komputindo
Maret 2023



 

#637 The Privileged Ones

 


Rara, mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pandawa, mempersiapkan kanal Youtube dengan konten bermanfaat yang harus bisa mengimbangi gempuran konten sampah yang beredar di masyarakat. Bersama kedua sahabatnya, merke bukan hanya sekadar mengerjakan tugas akhir mata kuliah Publisitas itu untuk mendapatkan nilai terbaik. Rara punya harapan besar dengan hadiah yang dijanjikan dari kompetisi bergengsi kolaborasi kampusnya dengan Change TV.

Terlahir dari keluarga miskin, Rara memutuskan untuk kuliah di Jakarta, meski kedua orang tuanya tidak merestuinya. Dukungan Indah, kakaknya yang juga tinggal di Jakarta, menjadi dorongan kuat bagi Rara. Indah membantu Rara untuk kebutuhannya di Jakarta, disamping beasiswa yang diperoleh Rara dan juga pekerjaan paruh waktu yang dilakukannya. Jika chanel Soul Diary yang digagasnya bisa menang, masalah keuangan bisa teratasi. Namun saingan terberat mereka adalah chanel milik DIva, teman sekelasnya, yang memiliki keluarga kelas sosialita. Diva jelas memiliki semua sumberdaya yang bisa mendukungnya. Jika dibaratkan lomba lari, Rara dan Diva tidak berangkat dari garis start yang sama.

Rara memilih mengangkat tema kesehatan mental di dalam chanel Youtubenya. Dia dibantu oleh seorang psikolog muda bernam Giri. Berbagai kasus mereka tayangkan untuk memberikan edukasi pentingnya memeprhatikan kesehatan mental seperti halnya kesehatan fisik. Tanpa Rara sadari, dirinya sendiri tengah bergelut dalam insecurity akan kemiskinannya. Sementara itu, Indah juga sedang bergumul dengan konflik rumah tangganya. Apakah impian mereka untuk bisa memiliki lebih banyak pilihan dalam hidup tidak bisa mereka raih?

Novel ini sangat bergizi. Ada tiga topik utama yang bisa saya pelajari dari novel ini. Yang pertama tentang sisi psikologis dan kesehatan mental. Bukan hanya satu contoh kasus yang dialami oleh tokoh utama, tapi ada beberapa kasus lainnya yang juga diangkat dalam novel ini. Yang kedua, tentang privilese, seperti judulnya. Seringkali kita memahami privilese itu sebatas ketersediaan materi dan sumber daya. Padahal setiap orang pasti terlahir dengan privilese-nya masing-masing. Kita sering terjebak memandang kelebihan orang lain dan hal-hal di luar kuasa kita, lalu mengecilkan privilese yang kita punya dan tidak berbuat apa-apa, padahal hal itu ada dalam kendali kita. Yang ketiga, bahwa tiap orang punya lintasan pertandingannya masing-masing. Saya mengutip paragraf terakhir dalam novel ini yang bisa kita jadikan pelajaran.

Siapa pun kita, hidup tak akan pernah mudah. Namun, semesta selalu membuka celah bagi mereka yang menolak menyerah.

Meski berada pada lini Young Adult, saya rasa novel ini bisa juga dibaca untuk orang dewasa. Bahkan oleh orangtua muda, karena ada ilmu parenting yang bisa diterapkan di dalamnya. Ini salah satu novel terbaik yang saya baca di tahun 2022.

The Privileged Ones
Mutiarini
248 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Maret, 2022



#635 Chasing The Blue Flames



Lulu tahu hubungannya dengan Damar sulit untuk diteruskan karena perbedaan di antara mereka. Damar juga menyadari itu. Damar pun merencanakan untuk memberikan kenangan terbaik bagi Lulu, supaya perpisahan di antara mereka tidak terlalu menyakitkan. Tapi Lulu tidak sependapat. Terpuruk karena perpisahan mereka membuat Lulu memutuskan untuk melakukan trip ke Kawah Ijen. Di sana, ada fenomena blue flames yang konon bagi siapa yang melihatnya maka permohonannya akan terkabul. Lulu berharap dia bisa menyaksikan langsung cahaya biru itu, agar dia bisa kembali ke masa lalu. Mungin jika dia tidak pernah bertemu dengan Damar, hatinya tidak akan sesakit saat ini. Permohonan Lulu terkabul. Dia kembali ke masa kuliahnya saat pertama kali bertemu dengan Damar.

Bukan hanya Damar saja. Lulu juga bertemu kembali dengan Sarah, sahabatnya yang sekarang sudah tak ada kabarnya. Juga Dewa, kakak tingkat yang pernah ditaksirnya. Lulu menjalankan misinya untuk menghindari Damar, tapi ternyata itu sulit untuk dilakukan. Meski dijalani sekali lagi, jika takdir sudah berkehendak, maka hasil akhirnya tidak akan berubah.

Mengusung konsep time travel, novel ini menceritakan tentang takdir dan bagaimana menyikapinya. Waktu yang sudah dilalui bukan hanya berisi kenangan indah saja, tetapi juga banyak hal-hal yang tidak menyenangkan yang mengikutinya. Lulu mencoba menjalani tiga bulan di masa lalu membenahi hal yang dianggapnya perlu dibenahi. Ada satu hal yang berkesan dari novel ini yang saya tangkap. Kenangan itu akan menghampiri pas lagi benar-benar butuh. Tidak masalah mengenang masa lalu ketika muncul rasa kangen. Setidaknya kangen itu akan memberikan kehangatan.

Terima kasih GPU atas buntelan bukunya.

Chasing The Blue Flames
Saufina
304 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Agustus, 2022



#628 Words in Deep Blue

 



Mengawali tahun 2022, BBI Joglosemar membuat tantangan membaca dengan tema babat timbunan. Maklumlah, sebagian besar penghuni BBI Joglosemar memang anggota Ordo Timbunan. Timbunan buku yang dimaksud bukan hanya secara fisik (printed) tapi juga versi digital (ebook). Saya memutuskan membaca buku ini yang pernah saya beli versi digitalnya di Google Playbook di tahun 2020 lalu. Dan ternyata buku ini membuat saya mencari lebih banyak buku untuk ditimbun dibaca.

Rachel kehilangan adiknya, Cal, yang tenggelam saat berenang di laut. Laut yang pernah sangat dicintai oleh Rachel ternyata merengut kebahagiaannya. Rachel yang dulunya siswa dengan prestasi sains cemerlang, kini tidka sanggup menyelesaikan kelas 12. Bukan hanya Rachel, ibunya juga mengalami depresi. Rachel memutuskan untuk pindah kota, kembali ke Gracetown meski dia menyadari akan menemui kesulitan yang lain di sana. 

Tiga tahun yang lalu Rachel pernah tinggal di Gracetown, sebelum dia dan adiknya mengikuti Ibunya pindah ke kota lain. Sesaat sebelum pindah, Rachel menuliskan surat pernyataan cinta-nya untuk Henry, sahabatnya, dan diselipkan di sebuah buku kesukaan Henry. Sepertinya Henry tidak membaca surat itu, karena kabar yang diketahui oleh Rachel adalah Henry berpacaran dengan Amy. Lambat laun, korespondensi antara Rachel dan Henry terputus sejak Rachel memutuskan tidak lagi membalas surat-surat dari Henry. 

Henry tinggal di sebuah toko buku bekas milik kedua orang tuanya yang bernama Howling Books. Sepanjang hidupnya dipenuhi oleh buku-buku. Dia bahkan memiliki tempat tersendiri di sebuah sudut toko buku itu untuk menghabiskan waktu bersama Amy. Ketika Amy memutuskan hubungan mereka, Henry berusaha mempertahankannya. Dia bertanya-tanya apa yang menjadi penyebab keretakan hubungan mereka. Di saat bersamaan, dia mendapat kabar dari Ibunya bahwa toko buku itu akan dijual. Rachel yang sedang mencari pekerjaan di Gracetown, kemudian dipekerjakan oleh Ibunya untuk mendata buku-buku yang ada di sana. 

Pertemuan kembali antara Rachel dan Henry membuka kisah di antara mereka. Rachel yang masih terkungkung dalam depresi pasca kehilangan adiknya, sekali lagi berhadapan dengan Henry yang patah hati ditinggalkan Amy. Masing-masing mereka membuat batasan yang mendefenisikan diri mereka saat ini. Rachel menganggap kata-kata tidak berarti, sementara Henry melihat dirinya dalam eksistensi hubungannya bersama Amy. Hanya lewat buku-buku di Perpustakaan Surat, yang akhirnya bisa menjembatani keduanya dan melihat realita. 

Saya suka dengan konsep Perpustakaan Surat, dimana buku-buku di dalamnya menjadi media orang-orang saling berhubungan. Ada yang menuliskan catatan-catatan di pinggiran buku, atau sekadar menandai bagian kalimat yang berarti bagi mereka. Ada juga yang menyelipkan surat di antara halaman buku, seperti yang dilakukan oleh Rachel dan Henry, juga George (adik Henry) dengan seorang pria pengagumnya.
 
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, ada banyak buku yang disebutkan di dalam buku ini disertai sedikit gambaran mengenai buku tersebut. Buku di dalam buku, tepatnya. Saya yang penasaran dengan puisi The Love Song of J. Alfred Prufrock oleh T.S. Elliot langsung mencari puisi itu, karena sepenggal kalimat yang disukai oleh Rachel.

Do I dare..
Disturb the universe?
In a minute there is time
For decisions and revisions which a minute will reverse.

Words In Deep Blue
Cath Crowley
358 halaman
Noura Books
Mei, 2018





#616 Dry


California Selatan mengalami kekeringan. Pemerintah setempat mengumumkan status Keran-Mati (Tap-Out)karena kemarau yang sudah berlangsung lama. Krisis air mulai terjadi, dimana air untuk diminum menjadi langka. Alyssa Morrow dan adiknya Garret bahkan hanya kebagian es batu di pusat perbelanjaan. Mereka membawa pulang berkantung-kantung es batu untuk dijadikan air minum. Saat cadangan air mereka mulai menipis, kedua orang tua mereka berinisiatif pergi ke pantai, karena mereka mendengar ada tanki yang dapat memproses air laut untuk menjadi air yang dapat diminum.

Waktu berlalu, dan kedua orang tua Alyssa tidak juga kembali. Alyssa memutuskan untuk pergi mencari orang tuanya. Kelton McCracken, tetangga mereka, ikut membantu. Sebenarnya keluarga McCracken tidak mengalami krisis seperti warga lainnya. Ayah Kelton telah mempersiapkan diri dalam menghadapi krisis jauh sebelumnya. Mereka memiliki semua hal yang diperlukan untuk bertahan hidup. Namun McKracken tidak mau berbagi dengan yang lain. Dalam perjalanannya menuju pantai, Alyssa menyaksikan sisa-sisa kekacauan. Sesuatu telah terjadi, dan mereka tidak bisa menemukan orang tua mereka. 

Saat itulah mereka bertemu dengan Jacqui, seorang gadis yang unik dan pemberani, yang menyelamatkan mereka dengan imbalan mendapatkan antibiotik untuk luka di lengannya dari Kelton. Kelton membawa mereka kembali ke rumah McKracken, dan membuat Alyssa, Garret dan Jacqui terkagum-kagum dengan isi rumah Kelton. Namun, Alyssa membuat satu langka keliru dengan membagikan air minum botolan yang diambilnya dari persediaan keluarga McKracken kepada warga di sekitar. Tidak perlu menunggu waktu lama, rumah keluarga McKracken diserbu oleh warga.

Perjalanan Alyssa, Garret, Kelton dan Jacqui mencari air merupakan inti dari kisah dalam novel ini. Dari keempat tokoh itu, saya paling menyukai Garret. Dia bukan tokoh utama, tapi keberadaannya seringkali menyelamatkan situasi. Saya tidak suka dengan Alyssa, yang menurut saya terlalu naif, meskipun dia, di antara tokoh lainnya, memang yang berpikir jernih dan bertindak secara rasional. 

Membaca beberapa halaman pertama membuat saya berpikir tidak akan mudah menyelesaikan novel ini. Kekeringan yang dinarasikan di dalam novel ini begitu terasa, sampai membuat saya berkali-kali menghentikan membacanya. Saya punya pengalaman kekurangan air di masa lalu, sampai membuat saya dan teman-teman harus mencari sumber air untuk mendapatkan air bersih. Meski tentu saja yang saya alami tidak separah apa yang dialami oleh Alyssa di dalam novel ini, tapi kondisi itu membuat saya sangat menghargai pentingnya air bersih. Saat kran air di rumah tidak mengalirkan air, saya menjadi frustasi. Menempatkan diri dalam kondisi di buku ini, sampai ada orang-orang yang rela melakukan apa pun demi air, sungguh membuat depresi.

Novel ini hanya salah satu dari sekian banyak buku yang membahas tentang perubahan iklim. Bahkan pembaca juga bisa menemukan climate fiction lain yang mengangkat topik berbeda. Pemanasan global dan perubahan iklim menjadi issue penting yang seharusnya bisa dipahami dengan baik oleh semua orang. Bahwa perubahan itu memiliki dampak yang menghancurkan. Menampilkannya dalam bentuk fiksi bisa menjangkau lebih banyak orang. Untuk young adult, novel ini bisa menjadi pilihan. 

Dry (Kering)
Neal Shusterman & Jarod Shusterman
456 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Mei, 2020

#597 Dia

 

Denia patah hati ketika Janu mengabarkan bahwa dirinya akan bertunangan. Berbagai cara dilakukan oleh Denia supaya dia tidak menghadiri pesta pertunangan Janu dan Sasa. Tapi nasibnya sedang sial. Dia terpaksa menemani tantenya berangkat ke Jakarta. Lebih sial lagi, di kereta tempat duduknya diambil oleh seorang pria yang menyebalkan.

Denia sudah lama dekat dengan Janu. Meski tidak ada hubungan darah, hubungan mereka seperti saudara. Tapi perasaan Denia berkembang menjadi cinta yang tak pernah diungkapkannya. Sayangnya, momen kekecewaannya tertangkap oleh kamera fotografer di acara pertunangan itu. Kebetulan fotografer itu adalah sepupu Saka, pria menyebalkan yang ditemui Denia di kereta. Melihat foto itu, Saka langsung tahu apa yang dirasakan oleh Denia. Dan dia berusaha untuk membuat Denia mengungkapkan perasaannya pada Janu.

Denia kesal dengan Saka yang selalu mau ikut campur urusannya. Sementara itu, orangtuanya memintanya untuk tinggal lebih lama di Jakarta. Itu artinya dia harus lebih lama melihat kemesraan Janu dan Sasa. Tapi di sisi lain, Janu juga tidak menunjukkan perubahan sikap pada Denia. Dia masih bercanda dan saling menggoda. Janu bahkan sering mengucapkan "Love you"  pada Denia sehingga membuat hati Denia teriris. 

Sementara itu Denia tanpa sengaja malah dekat dengan keluarga Saka. Terutama dengan adiknya Saka yang menggemaskan, si Hantu Ubi Galih. Galih juga yang menjodohkan Denia dan Saka. Tapi antara Saka dan Denia seperti anjing dan kucing yang tidak pernah akur. Walaupun demikian, saya lebih suka interaksi antara Denia dan Saka dibandingkan Denia dan Janu. Menurut saya, Janu justru yang mempermainkan hati Denia. Hati saya ikut sedih ketika Denia "disidang" oleh Janu, Sasa dan Mila (adiknya Sasa yang juga suka pada Saka) ketika foto itu sampai di tangan Sasa. Memangnya salah jika dia memiliki perasaan cinta pada Janu?

Senang rasanya menutup rangkaian daftar bacaan di tahun ini dengan novel yang menarik. Saya suka karakter Denia yang tangguh, meskipun dia menyimpan sakit hati yang dalam. Dan ketika Denia dengan kuat dan tabah memutuskan untuk melupakan Janu, semuanya dijalaninya sendiri dengan tegar. 

Novel ini merupakan versi cetak ulang dengan alternate ending. Dulunya novel ini diterbitkan oleh Gagas Media, dan kemudian diterbitkan kembali dengan ending yang berbeda oleh GPU dalam lini young adult. Entah bagaimana akhir cerita edisi sebelumnya, tapi saya suka dengan ending  terbitan GPU ini. Recommended.

Dia
Nonier
280 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Desember, 2019



#556 Ke Mana Kau Pergi, Bernadette?


Bee menagih janji kedua orang tuanya, jika dia mendapatkan nilai sempurna di sekolah maka dia bisa meminta apa saja. Kali ini Bee meminta berlibur ke Antartika. Bernadette, ibunya, yang memiliki ketakutan bertemu dengan orang banyak apalagi meninggalkan rumah mulai mempersiapkan segala sesuatunya. Dia menggunakan jasa asisten virtual dari India yang selama ini sudah membantunya mengurus segala sesuatu. Ayahnya, Elgie, seorang penemu yang bekerja di Microsoft juga mengatur segala sesuatu di kantornya agar bisa mengambil cuti panjang.

Fokus dalam novel ini memang pada Bernadette. Dahulu, sebelum Bee lahir, Bernadette adalah seorang arsitektur yang cerdas dan piawai di LA. Dia bahkan mendapatkan penghargaan besar atas salah satu hasil karyanya. Namun perseteruan dengan salah seorang tetangganya membuatnya akhirnya mengundurkan diri dari dunia kerjanya, memilih untuk mengikuti suaminya pindah ke Seattle. Terutama setelah Bee lahir dengan kelainan jantung, Bernadette mencurahkan hidupnya hanya untuk Bee. Beruntunglah Bee tumbuh menjadi gadis yang pintar dan cerdas.

Namun "keanehan" Bernadette karena dianggap tidak mau bergabung dalam komunitas membuatnya mendapat sorotan dari Ibu-Ibu siswa di Galer Street. Salah seorang Ibu yang juga tetangga Bernadette , Audrey Griffin, menjadi orang yang paling tidak menyukai Bernadette. Dia menyebarkan kabar bahwa Bernadette melindas kakinya dan puncaknya ketika Audrey meminta Bernadette membabat semak-semak di rumahnya yang berujung pada longsor yang menimpa rumah Audrey.

Hingga akhirnya, Elgie pun mulai merasakan keanehan Bernadette. Satu demi satu fakta tentang Bernadette ditemukan oleh Elgie hingga akhirnya suaminya memutuskan untuk memasukkan Bernadette ke sebuah rumah sakit jiwa. Namun saat intervensi dilakukan, Bernadette menghilang dari rumah.

Dari semua tokoh yang muncul, saya bisa relate dengan Bernadette. Soalnya sedikit banyak saya seperti Bernadette yang enggan berinteraksi dengan setiap orang yang saya jumpai. Saya bisa merasakan kegelisahan Bernadette, saat dia harus meninggalkan karirnya meski terkadang pikiran-pikiran untuk memperbaiki dan merancang sesuatu kembali muncul dalam pikiran Bernadette. Ketika Bernadette menghilang, entah kenapa saya setuju dengan tindakannya. Dia memang perlu untuk mengambil jarak dari semua orang yang dikenalnya, bahkan keluarganya sendiri, untuk mengenal dirinya kembali.

Penyajian novel ini menarik. Terdiri atas potongan-potongan surat dan email ditambah narasi dari Bee. Ternyata isi buku ini adalah catatan Bee. Penulis membuat pembaca harus kreatif mengimajinasikan arah jalan ceritanya. Yang saya sayangkan dari novel ini adalah karakter antagonis Audrey yang awalnya terlihat sangat kejam, namun akhirnya membuat kejutan menjelang akhir cerita. Saya kok pengennya dia tetap kejam ya? Hehe... Juga terjemahannya yang membuat bagian awal buku ini sedikit membosankan. Tetapi begitu sampai di bagian Bernadette menghilang, langsung saya selesaikan dalam semalam.

Saya membaca buku ini demi menyelesaikan Tantangan Baca Goodreads Indonesia di bulan Februari dengan tema buku yang menjadi film tahun 2019. Saya sungguh penasaran dengan filmnya. Coba deh lihat trailernya ini.


Ke Mana Kau Pergi, Bernadette?
Maria Semple
408 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Oktober 2015



#554 American Panda



Hidup Mei sudah direncanakan dengan baik oleh kedua orang tuanya. Pada usia 17 tahun, dia sudah lulus SMA dan mengambil pra-kedokteran di MIT. Mei akan menempuh pendidikan sebaik-baiknya, menjadi dokter dan menikah dengan seorang pemuda asal Taiwan dan memiliki anak. Intinya, Mei adalah harapan besar keluarganya.

Tentu saja, Mei tidak bisa menolak. Setelah kakaknya, Xing mengecewakan keluarga dan diusir oleh ayahnya, Mei adalah tumpuan harapan. Masalahnya Mei fobia dengan kuman, tidak menyukai pelajaran Biologi, memilih menari sebagai pelariannya, dan jatuh cinta pada seorang pemuda Jepang. Semua itu dirahasiakannya dari ayah dan ibunya.

Membaca kisah Mei yang hidup di bawah tekanan orang tuanya mengingatkan saya pada buku non fiksi Battle Hymn of the Tiger Mother karya Amy Chua. Seperti Amy Chua, keluarga Mei juga berasal dari China daratan dan bermigrasi ke Amerika untuk hidup yang lebih baik. MIT (Massachusset Institute of Technology) menjadi kiblat pendidikan, dan nilai B+ tidak masuk dalam hitungan. Mei harus menjadi yang terbaik. Keinginan pribadi Mei tidak penting, bahkan diabaikan. Mei harus menuruti budaya China yang mengalir dalam darahnya, meski dia besar di lingkungan Amerika. Mei hidup dalam pergumulan setiap harinya, 

Mei mungkin mewakili sebagian anak-anak yang hidup dalam impian orang tuanya. Syukurlah saya tidak seperti itu (meski sepertinya orang tua saya dulunya menanamkan dalam benak saya ilmu eksakta itu lebih bagus daripada ilmu sosial, dan keluarga besar saya menganggap dokter adalah profesi paling baik). Saat Mei mencoba mendengar kata hatinya dan menemui Xing, Mei melihat bahwa dia punya pilihan lainnya. 

Novel ini merupakan debut dari Gloria Chao, seorang penulis yang juga adalah dokter gigi lulusan dari MIT. Sebagian isi novel ini merupakan pengalaman hidup penulis. Novel ini menjadi nominasi dalam penghargaan Best Fiction for Young Adult dari Young Adult Library Service Association (YALSA). Dan, hey... mungkin bisa menjadi salah satu pilihan bacaan merayakan tahun baru Imlek. 

American Panda
Gloria Chao
360 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Januari 2019

#541 Savanna & Samudra


Judul Buku : Savanna & Samudra
Penulis : Ken Terate
Halaman : 352
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Setelah papanya meninggal, Savanna baru merasakan kerasnya kehidupan. Terutama ketika dia harus dengan terpaksa mengambil alih peran papanya untuk mengurus segala sesuatunya di rumah mereka. Tidak usah mengharapkan mamanya yang setiap hari entah pergi kemana dengan gaya mewah. Padahal keuangan mereka sangat terbatas. Tyo, adik satu-satunya, bahkan kini malas ke sekolah. SPP-nya menunggak tiga bulan. Debt collector sudah beberapa kali menyambangi rumah mereka. Savanna harus meninggalkan bangku kuliah agar bisa bekerja mendapatkan uang. Dan satu-satunya tempat yang menerima lulusan SMA sepertinya hanyalah kedai susu Inisusu.

Di kedai itu, dia bertemu dengan Alun. Cowok lulusan SMK yang juga bekerja sebagai pelayan, sama dengan Savanna. Bedanya Alun sepertinya menikmati pekerjaannya. Dan dia juga rupanya kesayangan Miss Lani, pemilik kedai yang pelit itu. Alun seringkali melontarkan guyonan-guyonan konyol. Dan Koh Abeng, chef di kedai itu bisa menimpali candaan tak bermutu Alun. 

Kehidupan baru yang dijalani Savanna terasa menurunkan derajat sosialnya beberapa tingkat di bawah sebelumnya. Savanna yang terbiasa hidup mewah kini harus kerja demi upah yang tidak seberapa. Mimpinya menjadi sarjana harus dikubur, meski diam-diam Savanna berharap dia akan bisa mengejarnya kembali. Bukan hanya itu saja, sosok Papanya yang sempurna di mata Savanna ternyata menyimpan masa lalu yang kelam. 

Ada banyak issue yang diangkat dalam novel ini. Pentingnya pendidikan, pernikahan dini, KDRT, kedewasaan sebelum waktunya, derajat sosial, dan masih banyak lagi. Semuanya diramu dengan pas pada novel yang mengambil latar belakang kota Jogja ini. Saya menyukai bagaimana penulis menggiring pembaca untuk melihat Atika, mamanya Savanna, sebagai sosok antagonis yang kemudian mengungkap alasan mengapa Atika berbuat seperti itu. Alasan yang sesungguhnya itulah yang banyak terjadi dalam realitas sosial di masyarakat. Saya juga menyukai perubahan cara pandang Savanna. Selama ini, cara pandang Savanna terhadap pendidikan terbentuk dari pola pandang papanya. Sebagai contoh, Bimo, papanya Savanna melarang Tyo masuk ke SMK karena menganggap SMK itu derajatnya lebih rendah daripada SMA. Ketika Savanna bertemu dengan Alun yang hanya lulusan SMK, Savanna juga memandang rendah Alun. Tetapi ketika satu per satu keterampilan Alun membantu Savanna menyelesaikan masalahnya, ada perubahan yang terjadi pada Savanna dalam menyikapi hidup.

Seorang teman mengatakan membaca novel ini rasanya lebih "merakyat". Dan saya setuju dengan itu. Novel ini menunjukkan bahwa kedewasaan itu tidak selamanya soal umur. Bahwa terkadang kita harus menjadi dewasa sebelum waktunya, dengan melompat dari satu masalah ke masalah lainnya.


#539 Saving Francesca


Judul Buku : Saving Francesca (Tolong Aku Dong!)
Penulis : Melina Marchetta
Halaman : 296
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Francesca Spinelli, 16 tahun, terpaksa harus bersekolah di St. Sebastian's, sekolah yang didominasi oleh siswa cowok. Tadinya sekolah itu memang sekolah khusus cowok, yang kemudian menerima siswa cewek kelas 11 untuk pertama kalinya. Francesca adalah salah satu dari tiga puluh cewek yang diterima disekolah itu. Sebenarnya Francesca ingin bersekolah di tempat lain, tetapi Mia, ibunya, menghendaki Francesca untuk berada di sekolah campuran. Dia nyaris tidak punya teman. Hanya ada 3 orang yang berasal dari St. Stella's yang juga bersekolah di St. Sebastian's. Mereka adalah Justine Kalinsky, cewek pemalu; Siobhan Sullivan, gadis liar; dan Tara Finke, sang feminis. Mungkin Francesca terpaksa bergaul dengan ketiganya.

Masalah Francesca bukan hanya itu saja. Suatu hari, ibunya tidak bangun dari tempat tidur seperti biasanya. Tidak seruan penyemangat. Tidak ada musik kesenangan ibunya. Menurut ayahnya, ibunya tidak sakit, dia hanya ingin beristirahat. Namun hal ini berlangsung berhari-hari bahkan sampai berbulan-bulan. Francesca tidak tahu apa yang terjadi pada ibunya. Luca, adiknya mengatakan ibunya menderita nervous breakdown. Kondisi rumah yang semakin kacau membuat Francesca merasa kehilangan arah. Apalagi ketika Nonna mulai mengambil alih. Luca harus tinggal dengan bibinya, sementara Francesca tinggal dengan nenek dari ayahnya. Kali ini bukan hanya ibunya yang membutuhkan pertolongan, tetapi Francesca juga.

Kasus-kasus depresi akhir-akhir ini sering muncul di media sosial. Belum banyak orang yang aware tentang hal ini. Kasus yang dialami oleh Mia Spinelli, misalnya. Dia tidak ingin bangun dari tempat tidurnya, tidak ingin makan, hanya berdiam diri dengan tatapan yang seringkali kosong. Mia bukan lagi sosok yang dikenal oleh anak-anaknya. Seringkali penderita depresi dianggap hanya bermalas-malasan, bahwa depresi ini hanyalah semacam periode yang nantinya akan berlalu dengan sendirinya. Padahal sebenarnya bukan hanya orang yang mengalami depresi saja yang menderita, tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Inilah yang dialami Francesca, remaja yang sebenarnya masih berada dalam proses pencarian jati diri. Yang membutuhkan semangat, arahan, dan dorongan dari orang tuanya. Kondisi ini membuat Francesca berpikir dia harus melakukan sesuatu.

Ketika saya melakukan riset untuk mengulas novel Looking For Alibrandi, saya menemukan sebuah situs yang memuat wawancara dengan Melina Marchetta, penulis kedua novel best seller ini. Saving Francesca terbit kurang lebih 10 tahun setelah Looking For Alibrandi. Meskipun Marchetta menegaskan bahwa tidak akan ada sekuel untul LFA, dia mengakui menggunakan karakter Josephine Alibrandi untuk Mia Francesca. Baik Mia maupun Josie adalah sosok yang memiliki gambaran jelas tentang masa depannya, terarah, dan teratur. Dan yang saya dapatkan adalah bahkan seseorang dengan karakter kuat seperti Mia bisa jatuh terpuruk dalam rasa kegagalan. Saya menaruh simpati lebih pada karakter Mia, saya pribadi merasa terhubung dengannya. Terutama ketika dia akhirnya mengungkapkan apa yang dirasakannya pada Francesca, saya sampai menangis berurai air mata. 

Saving Francesca bukan hanya sebuah kisah suram tentang depresi semata. Ada persahabatan dan juga romansa. Francesca jatuh cinta pada seniornya, Will Trombal. Tapi Will punya pacar. Tapi Will mencium Francesca dua kali. Sebutan apa yang pantas diberikan pada cowok yang mencium cewek lain sementara dia punya pacar? Kemudian ada Thomas Mackee dan Jimmy Hailer yang kelihatannya hanya ingin mengganggu Francesca dan para gadis lainnya, namun kemudian mereka juga berperan penting dalam menyelesaikan masalah Francesca. Adegan favorit saya adalah saat Francesca mengusir hantu di lokasi retreat.

Seperti LFA, novel ini juga sudah pernah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2006. Novel ini juga memenangkan banyak penghargaan literasi dan diadaptasi menjadi film. Dan sekarang diterbitkan ulang oleh GPU, dengan cover yang lebih eye catching dan minim typo. Pada akhirnya saya ingin berterima kasih pada Melina Marchetta karena telah menulis novel ini. Saya merekomendasikan novel ini untuk dibaca, dikoleksi dan kemudian diwariskan pada anak-anakmu.



#538 Follow Me Back


Judul Buku : Follow Me Back
Penulis : A.V. Geiger
Halaman : 340
Penerbit : Spring 


Eric Thorn, penyanyi pop yang sedang naik daun, merasa ketakutan dengan penggemarnya yang obsesif. Hal ini mulai dirasakannya sejak berita tentang Dorian Cromwell, yang juga seorang penyanyi ditemukan tewas dibunuh oleh penggemarnya sendiri. Sementara dengan popularitas Eric yang sedang melejit, tim publisis dan manajernya menginginkan dia untuk lebih sering menyapa penggemarnya lewat akun twitter miliknya. Belum lagi dia dilanda kejenuhan akibat jadwal tour dan syuting yang sangat menguras tenaga.

Tessa Hart, gadis biasa yang selalu mengurung diri di dalam kamar akibat trauma masa lalu yang dialaminya. Sejak menjadi agorafobhia, dia tidak pernah meninggalkan kamarnya. Satu-satunya pelariannya adalah terjun ke dunia fandom seorang penyanyi bernama Eric Thorn. Dia bahkan membuat cerita tentang Eric dengan judul Terobsesi, dan memulai tagar #TerobsesiEricThorn di twitter. Siapa sangka cuitannya itu membuatnya menuai ribuan follower dan tagar yang dibuatnya menjadi trending topic

Eric tentu saja tidak suka dengan tagar #TerobsesiEricThorn yang semakin melejitkan namanya,. Dia harus menghentikannya. Dia mulai membuat akun baru di twitter untuk menyerang Tessa. Namun yang terjadi kemudian keduanya menjadi akrab. Tessa mungkin satu-satunya orang yang memahami perasaan ketakutannya, sementara Eric a.k.a Taylor menjadi teman curhat Tessa. Hanya saja Eric tidak mungkin harus berbohong selamanya jika dia mulai menaruh rasa pada sosok di balik akun @TessaHeartsEric.

Pertama-tama, saya mau memberikan bintang pada cover bukunya. Cakep maksimal deh. Salah satu alasan mengapa saya ingin membaca buku ini. Gambaran kesepian dan kesendirian Tessa terlihat jelas pada gambar sampul. Namun saat saya mulai membaca isi bukunya, saya beberapa kali berhenti dan "selingkuh" dengan buku-buku lain. Alurnya yang relatif lambat, kemajuan terapi Tessa yang lambat (yang lebih karena Tessa kurang berusaha), dan ketakutan Eric pada penggemarnya membuat saya tersendat-sendat membacanya. Tetapi semakin ke belakang, ketika muncul konflik selain hubungan Eric-Tessa, saya tidak bisa melepas buku ini sampai selesai.

Di sela-sela kisah Eric dan Tessa, ada semacam transkrip interogasi Kepolisian untuk Tessa dan Eric yang meyakinkan saya bahwa ada sesuatu yang besar menanti di bagian akhir cerita. Sesuatu yang membuat keduanya harus berurusan dengan polisi penyidik. Tapi kemudian transkrip ini pula yang membuat pembaca "digantung" karena kisah Eric dan Tessa akan berlanjut di buku kedua. Well...saya berharap Penerbit Spring akan segera menerjemahkan Tell Me No Lies, buku kedua dari duologi Follow Me Back. 


#537 Looking For Alibrandi


Judul Buku : Looking For Alibrandi (Mencari Jati Diri)
Penulis : Melina Marchetta
Halaman : 360
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Josephine Alibrandi, remaja berumur 17 tahun, warga negara Australia keturunan Italia. Dia bersekolah di sebuah sekolah katolik dengan bantuan beasiswa. Dia tinggal bersama ibunya, Christina Alibrandi, dan terkadang harus mengunjungi Nonna-nya (nenek) yang berpikiran kolot, bernama Katia Alibrandi. Josie tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Yang dia tahu, ayahnya meninggalkan ibunya saat hamil yang kala itu masih berumur 17 tahun. Mereka tidak pernah menikah. Karenanya ibunya selalu mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Nonno (kakeknya). Ibunya diusir dari rumah, dan baru "diterima" kembali setelah Nonno meninggal dunia.

Karena lahir tanpa ayah itulah Josie sering menerima ejekan sebagai anak haram. Bahkan di sekolah sekarang juga seperti itu. Menjadi wog (sebutan untuk warga keturunan Italia) dan anak haram cukup membuat Josie merasa tidak sederajat dengan teman-temannya. Tapi sebenarnya Josie cukup berprestasi. Dia ditunjuk sebagai wakil kapten sekolah. Satu-satunya saingan terberatnya adalah sang kapten, Ivy, yang selalu berusaha tampil sempurna. Ivy juga berteman akrab dengan John Barton, cowok yang disukai Josie.

Masalah lain muncul ketika dia bertemu dengan ayahnya untuk pertama kali. Michael Andretti muncul di depan pintu rumah Nonna, dan berikutnya akan tinggal di Sidney selama beberapa waktu. Mulanya Josie ingin bersikap tidak peduli pada lelaki itu. Namun saat Josie terlibat maslaah di sekolah, dia teringat akan ayahnya yang seorang pengacara. Sejak itu Michael selalu hadir dalam hidup Josie. Ketika Josie mulai berpacaran dengan seorang pemuda Australia bernama Jacob Coote, lagi-lagi dia merasa hidupnya hanya berisi masalah. Misalnya ketika Jacob meminta Josie untuk tidur dengannya, Josie menolak karena baginya itu perbuatan yang salah.

"Selamat datang di era semmbilan puluhan, Josephine. Sekarang kaum wanita tidak perlu harus perawan lagi."
"Bukan, justru aku yang perlu memberimu ucapan selamat datang di era sembilan puluhan! Kaum wanita di zaman ini tidak bisa dipaksa-paksa melakukan hal yang tidak mereka inginkan."


Seperti judulnya, benang merah dari novel ini memang merupakan perjalanan Josie dalam mencari jati dirinya. Hidup dalam keluarga Italia yang mengutamakan keutuhan sebuah rumah tangga dan harus bersinggungan dengan masalah rasial tidak pernah mudah untuk seorang remaja seperti Josie. Satu karakter Josie yang saya kagumi adalah keteguhannya dalam memegang prinsip apa yang diyakininya benar. Beruntung Josie punya sahabat-sahabat yang menyenangkan seperti Sera, Lee dan Anna. Dan juga John Barton, yang berasal dari keluarga Australia kaya, namun mau mendengarkan keluh kesahnya.

Selain kehidupan Josie, kita diajak juga melihat satu sisi kehidupan remaja melalui John Barton. Pemuda cerdas, pandai, dan tumpuan harapan orang tuanya ini ternyata menyimpan depresi mendalam karena harus berusaha tampil selalu sempurna sesuai keinginan ayahnya. Baik Josie maupun John sama-sama menginginkan kebebasan. Itulah salah satu faktor yang bisa mendekatkan mereka.

Looking For Alibrandi pernah diterbitkan oleh GPU pada tahun 2004 dengan judul yang sama di bawah lini teenlit. Dan kali diterbitkan kembali sebagai novel remaja tanpa logo teenlit-nya. Saya suka sekali dengan sampulnya yang berwarna biru putih. Jauh lebih kece dibandingkan terbitan sebelumnya. Meski berlatar tahun 90-an, novel ini layak dibaca oleh remaja masa kini. Ada banyak pelajaran tentang keluarga, persahabatan, percintaan bahkan mengatasi tekanan hidup di dalamnya. Recommended!





#536 Long Way Down


Judul Buku : Long Way Down (Jalan Masih Panjang)
Penulis : Jason Reynolds
Halaman : 320
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Jangan menangis. Jangan mengadu. Balas dendam.

Itulah siklus yang dipahami dan ditanamkan dalam benak setiap pemuda dalam lingkungan tempat tinggal Will. Bukan hanya sekadar pemahaman, tapi Will menyaksikan hal itu yang dilakukan secara turun temurun. Ketika Shawn, kakaknya, tewas tertembak, maka Will yang baru berumur 15 tahun itu merasa harus menjalani siklus yang sama. Dia tidak menangis. Dia tidak mengadu saat diinterogasi polisi. Dan yang pasti dia harus membalas dendam atas kematian kakaknya.

Will tahu kakaknya menyimpan sebuah pistol dalam lacinya. Ketika Will sudah bertekad penuh ingin membalas dendam dengan membawa pistol milik kakaknya, dia turun dari rumahnya menggunakan lift. Dalam kotak tertutup itu satu persatu orang dari masa lalunya hadir dalam wujud arwah. Mereka masing-masing bercerita penembakan yang mereka alami. Cerita-cerita inilah yang memberikan gambaran bagi pembaca tentang kondisi lingkungan tempat tinggal Will. Dibutuhkan waktu 60 detik yang panjang bagi Will untuk membuatnya bertanya-tanya apakah jalan yang dipillihnya sudah tepat.

Unik. Satu kata untuk penyajian novelnya. Alih-alih novel dengan narasi dan percakapan seperti biasa, novel ini tersaji dalam bentuk puisi. Di tengah maraknya buku-buku puisi, novel dalam wujud puisi ini mengambil panggungnya sendiri. Puisi dengan kata-kata berima, lebih pendek, dan dapat "dilahap" dalam waktu singkat memang cocok bagi kaum milenial sekarang yang umumnya tidak ingin menghabiskan waktu lebih banyak untuk membaca. 

Maraknya kasus penembakan yang dialami pemuda Afrika-Amerika di luar sana mendorong penulis membuat kisah ini. Konflik dalam komunitas Afrika-Amerika mungkin tidak banyak disajikan dalam bentuk prosa. Karya ini mencoba menggambarkan bagaimana seorang pemuda usia belasan tahun menghadapi kematian akibat penembakan. 

Terjemahan apik. Tata letak mengesankan. Tidak heran jika novel ini masuk dalam berbagai nominasi penghargaan literatur. Salah satunya sebagai nominasi Newberry Medal tahun 2018. Meski tidak menjadi juara, saya yakin novel ini tidak akan mudah dilupakan.


#532 Turtles All The Way Down


Judul Buku : Turtles All The Way Down
Penulis : John Green
Halaman : 298  (Kindle Edition)
Penerbit : Dutton Books For Young Readers

"I is the hardest word to define.” 

Itulah yang dirasakan Aza Holmes. Dia tidak bisa dengan gamblang mendeskripsikan apa yang ada di pikirannya kepada orang lain. Yang dia tahu adalah bahwa dirinya bukanlah dirinya tetapi apa yang ada di dalamnya. Termasuk ribuan mikroba yang hidup di dalamnya. Human Microbiome. Setiap hari Aza berusaha menemukan cara untuk menghilangkan pikiran tentang ribuam mikroba itu, salah satunya dengan mengorek luka yang ada di tangannya.  

Suatu hari, Daisy - sahabat Aza- yang pemberani mendengarkan informasi tentang seorang miliuner yang menghilang, Russell Pickett. Ada reward sebesar seratus ribu dollar bagi yang bisa memberikan informasi tentang miliuner tersebut. Daisy, yang mengetahui bahwa Aza pernah berteman dengan Davis Picektt, anak si miluner, mengajak Aza untuk menyelidiki kasus tersebut. Dengan harapan tentunya mendapatkan reward-nya. Usaha mereka membuat Aza kembali dekat dengan Davis, teman dari masa lalunya.

Bertemunya Davis dengan Aza membawa babakan baru dalam hidup Aza. Seperti cinta lama yang bersemi kembali, Aza menjadi lebih dekat dengan Davis. Tetapi kedekatan mereka menjadi masalah bagi Aza yang memiliki anxiety disorder. Misalnya, saat berciuman dengan Davis, Aza merasa saat itu ribuan mikroba dari tubuh Davis menyerang dirinya.

Karakter Aza, secara tidak langsung tentunya mengingatkan pembaca pada Hazel di The Fault in Our Stars, gadis yang bermasalah dengan kesehatan. Namun kali ini Aza berkutat dengan kesehatan mentalnya. Dia merasa dirinya terjebak dalam pikiran spiral yang selalu berulang-ulang sampai dia harus menemukan sesuatu untuk mengalihkannya. Kehilangan ayah secara mendadak di masa lalu mungkin menjadi pemicunya, tetapi Aza sendiri tidak tahu dengan pasti. Namun kehilangan itu membuatnya bisa menempatkan diri dalam "sepatu" Davis yang kehilangan ibu dan kini ayahnya. 

Davis sendiri adalah sosok pemuda dengan hidup yang pahit. Ada bagian dari diri Davis yang tidak menginginkan ayahnya kembali, karena dia merasa ayahnya memang tidak benar-benar ada. Tetapi Noah adiknya sangat menginginkan ayahnya. Davis berada dalam dilema. Kehadiran Aza sempat menjadi satu jalan keluar bagi Davis. Tetapi ketika dia tahu Aza ingin mencari tentang ayahnya, Davis harus berbuat sesuatu.

TATWD merupakan novel yang mengangkat perpaduan kerumitan cinta remaja, misteri hilangnya seorang ayah dan problem kesehatan mental.  Membaca TATWD ini membawa suatu pemahaman baru bagi saya secara pribadi. Orang terdekat saya juga pernah mengalami anxiety disorder. Sungguh bagi orang luar akan sulit sekali memahami apa yang mereka rasakan. Ketika Aza menceritakan apa yang ada di pikirannya, saya jadi bisa selangkah lebih dekat lagi pada pemahaman itu. Mungkin karena itu saya merasa lebih klik dengan karakter Daisy. Sebagai sahabat, Daisy mencoba memahami Aza dengan segala kekurangannya. Tetapi ada suatu titik dimana Daisy merasa jenuh dengan Aza yang terasa self-oriented. Daisy kemudian menggambarkan Aza dalam pikirannya sebagai sebuah karakter dalam fan fiction  Star Wars yang ditulisnya. Tulisan Daisy cukup populer, dan ketika Aza mengetahui tentang hal itu, persahabatan mereka terancam.

Turtles all the way down sendiri merupakan suatu mitos yang mengatakan bahwa dunia ini merupakan bidang datar yang ada di atas punggung seekor kura-kura. Dan kura-kura ini berada di atas kura-kura lainnya, begitu seterusnya tanpa habis-habisnya. Apa hubungannya dengan Aza dan Davis? Silakan cari tahu sendiri.

Btw, sepertinya TATWD ini adalah bacaan berbahasa Inggris saya yang pertama di tahun ini. Banyak nemu kata-kata yang membuat saya harus buka google translate...hehe.. But it's really fun. Dan yang pasti akhirnya bisa selesai membaca novel ini setelah lebih dari 4 bulan nangkring di rak currently reading :)


#525 Your Party Girl (Bad Girl Series #1)


Judul Buku : Your Party Girl  (Bad Girl Series #1)
Penulis : Lexie Xu
Halaman : 224
Penerbit Gramedia Pustaka Utama

Rachel, seorang anak kuliahan sekaligus juga selebgram. Hobby clubbingnya membawanya menjadi gadis yang populer. Dia kerap memasukkan video atau tips-tips clubbing ke instagramnya. Di kampus, Rachel bersama ketiga temannya juga termasuk populer. Banyak cowok-cowok yang antri ingin dekat dengan mereka. Rachel sendiri kerap gonta-ganti pacar, tapi bukan cowok seusianya yang menjadi pacarnya, melainkan esmud (eksektif muda) yang dijumpainya di klub.

Banyak yang mengira Rachel cewek ga benar dan ga perawan lagi gara-gara hobby clubbingnya itu. Tapi sebenarnya tidak demikian. Rachel menjadikan hobbynya itu sebagai pelarian karena tidak mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya. 

Orion, cowok alim di kampus Rachel, sebenarnya sudah lama menyukai Rachel. Suatu malam, Orion ikut bersama pamannya yang anggota kepolisian BNN untuk melakukan razia di tempat Rachel sedang berpesta dengan teman-temannya. Memang saat itu situasi kacau. Raffa, salah satu teman Rachel sedang berpesta sabu-sabu dan Wiwin, sahabat Rachel juga ikut menikmati barang terlarang itu. Orion-lah yang menyelamatkan Rachel malam itu sehingga dia tidak ikut ditangkap oleh polisi. Di malam yang sama itu juga, Orion mencium Rachel pertama kali.

Your Party Girl adalah buku #1 dari series Bad Girls, yang diterbitkan oleh GPU. Series yang menarik karena mengulas tentang keseharian cewek-cewek yang mendapatkan stigma negatif dari masyarakat. Seperti Rachel, ada banyak remaja putri atau dewasa muda yang juga berprofesi sebagai selebram. Diantara mereka pasti ada yang lifestyle-nya akan menjadi sasaran empuk haters. Novel ini mau memperlihatkan bahwa "bad girls" juga manusia, punya rasa dan berhak untuk mencintai dan dicintai.

Orion yang menyukai Rachel, ternyata dilarang berpacaran oleh kedua orang tuanya. Orang tua Orion ingin anaknya menekuni dunia bisnis, tapi Orion ingin mnejadi polisi. Dia akan menukar nilai sempurnanya untuk impian menjadi polisi. Supaya fokus, dia menyanggupi untuk tidak pacaran. Masalahnya dia jatuh cinta pad Rachel. Dia mati-matian meyakinkan Rachel bahwa perasaannya itu murni, dan Rachel orang pertama yang dia cintai. Tapi nggak dipacarin. Lah trus maunya gimana? Hubungan tanpa status? Friendzone? Beuh... nilai Orion turun drastis deh. 

Ini novel karya Lexie Xu yang pertama saya baca. Lexie Xu sering menulis buku teenlit dan young adult dengan tema thriller dan misteri. Di buku ini, Lexie juga menyisipkan suasana suspense-thriller lewat kasus narkoba yang dialami oleh Rachel. Dibantu Rafael, cowok kenalannya di  club yang ternyata seorang polisi yang menyamar (dan juga pamannya Orion) Rachel mengungkap kasus penyebaran sabu-sabu. Sayangnya Rachel tidak begitu menyadari bahaya yang mengancam dirinya. 

So far novel ini asyik untuk dibaca...alurnya cepat, dan page-turner banget. Yang senang baca kisah-kisah Young Adult dari GPU, wajib membaca serial ini. Ohya, antara satu buku dengan yang lain kayaknya ga saling relate para tokohnya, kecuali benang merahnya bad girl itu. Tapi ada Lyla Melati (tokoh sentral di buku #2) muncul sebagai cameo di buku ini. Bagaimana kisah Lyla, si playgirl? Ikuti terus ya ulasannya di blog ini. 


#524 A Hole in The Head


Judul Buku : A Hole in The Head
Penulis : Annisa Ihsani
Halaman : 232
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Ann kali ini harus berlibur bersama ayahnya. Perjalanan liburannya yang semula direncanakannya bersama neneknya berubah karena sang nenek harus menemani bibinya Ann yang sedang melahirkan. Indira, ibunya Ann, kemudian mengusulkan Ann untuk terbang ke Lembah Lauterbrunnen, Swiss menjumpai ayah, ibu tiri dan adik tirinya. 

Gertjan, ayah Ann mengelola sebuah penginapan bersama dengan istrinya Nina. Mönchblick Inn merupakan warisan Nina dari ayahnya. Di musim liburan seperti ini biasanya penginapan itu ramai. Namun sudah setahun lebih penginapan ini kurang pengunjung. Ada rumor yang beredar bahwa ada hantu yang gentayangan dan mengganggu pengunjung di hotel itu. Awalnya Gertjan dan Nina tidak mau menceritakan masalah itu pada Ann. Tapi akhirnya Ann tahu sendiri berkat mulut besar Jo, cucu dari Bertha tukang masak penginapan, dan sedikit cerita dari Paman Daniel, adik Mama Nina.

Konon katanya di kamar 303, ada bayangan hitam yang membuat orang menjadi takut. Kemudian ada suara-suara aneh. Ann sendiri sempat mendengar langkah kaki di depan kamarnya ketika malam tiba. Namun saat dia melihat ke koridor tak ada satupun orang. Belum lagi suara ketukan dan rumor tentang Matteo, yang gantung diri di pohon di penginapan itu.

Buku ini adalah novel ketiga dari Annisa Ihsani yang saya baca. Novel ini bernuansa misteri dan supranatural, mengingatkan saya akan bacaan detektif cilik yang mencoba mengungkap suatu kasus di masa liburan. Ann digambarkan sebagai gadis kecil yang cerdas, tertarik pada sulap, dan pemberani. Meskipun dia tidak ingin ikut campur pada urusan orang dewasa, tapi dia ingin sekali membantu ayahnya yang tampak kesulitan. Belum lagi Mama Nina yang harus mengurus bayi Emil, dan juga memikirkan nasib penginapan peninggalan ayahnya yang dicintainya. 

Gambaran satu bagian wilayah Swiss diceritakan dengan baik. Air terjun, perbukitan dan danau membuat pembaca ingin sekali hadir di lokasi itu. Yang saya suka juga adalah penjelasan ilmiah dari masalah yang dihadapi oleh Ann. Mungkin satu-satunya yang disayangkan adalah cover buku ini. Gambaran dua anak kecil itu rasanya tidak sesuai dengan usia Ann dan Joe. 

Kalau boleh memilih, Teka-Teki Terakhir masih menjadi favorit saya diantara ketiga buku Annisa yang sudah saya baca. Tapi saya tetap menunggu karya-karya Annisa Ihsani berikutnya. Soalnya Annisa sudah masuk dalam dafatr penulis yang karyanya dinantikan oleh saya.