~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Morra Quatro. Show all posts
Showing posts with label Morra Quatro. Show all posts

#653 Serenada




Disclaimer : Berhubung novel ini adalah sekuel dari Notasi, jadi sangat disarankan membaca novel Notasi terlebih dahulu. Karena dalam novel ini sebagian (atau mungkin seluruh) pertanyaan tentang Nino akan terjawab.

Pada novel Notasi (bagi yang pernah membacanya), pembaca sudah tahu kalau Nino dan Nalia terpisah akibat kerusuhan 1998 di Yogyakarta. Nino memukuli salah satu tentara, dan dia "diamankan" oleh keluarganya. Nino berjanji kepada Nalia akan kembali. Surat-surat tanpa alamat yang dikirimkan oleh Nino kepada Nalia malah membuat Nalia semakin nelangsa. Tapi, sampai akhir kisah di Notasi, mereka tidak kembali bersama. Apakah di novel Serenada ceritanya berubah? Tentu tidak!

Pasca dijemput paksa oleh orang-orang suruhan ayahnya, Nino diamankan oleh keluarganya dan dikirim ke Amerika Serikat. Sebelumnya Nino sempat dicekoki narkoba, diisukan bermain perempuan, dan tentu saja tukang demo. Kondisi yang membuatnya akhirnya tidak bisa melawan terhadap orangtuanya. Setelah beberapa bulan di California, Nino pindah ke New York dan bertemu dengan seorang mahasiswa NYU asal Indonesia di sana. Tsar, nama mahasiswa itu yang kemudian menampung Nino di apartemennya. Nino belum bisa melupakan kawan-kawannya dan perjuangan mereka di Yogyakarta, terutama Nalia. Dia bahkan mengirimkan kartu pos kepada Nalia untuk menyatakan kerinduannya. Dia menuliskan alamat Tsar di kartu pos itu, dengan harapan Nalia akan membalasnya. Lama dia menantikan balasan yang tidak kunjung datang.

Sepanjang masa penantiannya, Nino tetap berusaha mencari tahu dan menghudupkan kembali kenangannya. Dia mencari cara bertahan hidup agar bisa kembali pulang ke Indonesia. Termasuk bermain tinju agar mendapatkan uang. Nino tidak lupa mencari tahu seperti apa perjuangan dan kondisi di Indonesia. Dia bahkan bertemu dengan salah satu Profesor cendekiawan asal Indonesia yang masih memiliki lingkaran pertemanan dengan pelaku politik di Indonesia. Ada beberapa kisah yang dia dengar, yang membuatnya kembali bertanya, apakah dia memang hanya mengetahui separuh kebenaran saja.

Kisah pasca reformasi 1998 yang dituturkan lewat perjalanan hidup Nino di US ini menjadi satu poin penting dari novel Serenada. Bagaimana seorang mahasiswa seperti Nino mendapatkan fakta bahwa perjuangannya dan rekan-rekan mahasiswa telah ditunggangi oleh pelaku politik yang ingin menggulingkan Suharto. Nino bahkan hampir putus asa, karena mengetahui dirinya hanyalah salah satu alat saja. Dan perasaan itu mencapai puncaknya saat dia mendapati bahwa dirinya tetap berada dalam pengawasan meski dia sudah berada di negara yang menjunjung kebebasan individual. Tidak heran jika surat Nino yang sampai ke Nalia tanpa alamat, sedangkan kartu pos yang dikirimkan Nino ke Nalia pun tak berbalas.

Saya berusaha memaklumi cetakan pertama dengan typo yang bertebaran, seperti halnya saat membaca Notasi cetakan pertama dulu. Tapi entah mengapa bagi saya, Serenada ini tidak seistimewa Notasi.


Serenada 
Morra Quatro
238 halaman
Gagas Media
Mei, 2024


#391 What If


Judul Buku : What If
Penulis : Morra Quatro
Halaman : 280
Penerbit : Gagas Media


Kamila. Si Anal. Pengagum Sigmund Freud. Asisten dosen ilmu sosial yang sangat detail, yang selalu menjawab tiap pertanyaan di kelas. Jupiter. Mahasiswa tingkat dua. Penyuka basket, pemain gitar, perayu ulung. Ia telah menghadirkan Kamila di dalam hatinya sejak kali pertama pertemuan mereka di bawah langit siang. 

#203 Notasi


Judul Buku : Notasi
Penulis : Morra Quatro
Halaman : 294
Penerbit : Gagas Media


suatu hari aku akan kembali

Nalia, mahasiswi Kedokteran Gigi UGM tidak menyangka jika kedatangannya sore itu ke Fakultas Teknik akan mempertemukannya dengan Nino, salah satu mahasiswa Teknik Elektro. Sore itu dia datang untuk mengajukan penawaran iklan kegiatan BEM Fakultas Kedokteran Gigi untuk disiarkan lewat radio mahasiswa buatan anak-anak Elektro, Jawara FM. Sayangnya harga yang terlalu mahal membuat Nalia mengurungkan niatnya. Masih ada stasiun radio mahasiswa lainnya, di D3 Teknik Elektro. Sayangnya ijin siaran radio di D3 itu sudah dicabut oleh dekan. Nalia bukannya tidak menyadari di balik semua ini ada persaingan antar fakultas untuk memperebutkan kursi Presiden BEM universitas. Farel, mahasiswa Teknik Elektro adalah saingan berat Tengku, sahabatnya di Kedokteran Gigi.

Tetapi persaingan itu tidak berlangsung lama. Saat itu tahun 1998, masa dimana mahasiswa sedang melakukan pergerakan menentang rezim Orde Baru. Adanya serangan dari aparat tidak dikenal ke dalam kampus yang menembakkan peluru karet mempersatukan para pengurus BEM di UGM. Hal yang sama juga membuat Nalia dan Nino semakin dekat. Tidak ada kata cinta yang terucap, tapi Nalia tahu perasaannya kepada Nino adalah perasaan sama yang dimiliki Nino kepadanya.

Demonstrasi semakin membesar, disusul kerusuhan yang mengakibatkan ada mahasiswa tewas, dan tidak sedikit yang menghilang. Jalan-jalan dari bunderan UGM hingga ke Malioboro dipenuhi oleh mahasiswa. Sumpah mahasiswa terdengar dimana-mana, memberikan semangat bagi mahasiswa untuk melawan ketidak adilan.

Namun, peristiwa itu juga yang membuat Nino harus pergi dari Jogja meninggalkan Nalia, dengan satu janji yang terus berulang diucapkan Nino, bahwa dia akan kembali menjumpai Nalia. Tahun berganti, suasana di Jogja mulai pulih. Jawara FM mendapatkan izin resminya dari Departemen Perhubungan.  98,45 Swaragama FM, radio pertama yang diusung oleh mahasisawa. Kehidupan kembali berjalan normal, tapi tidak dengan hati Nalia. Dia terus menunggu di pelataran kampus Grafika.

--------

Kalau kamu berharap ada romansa yang mengharu-biru di buku ini, saya bisa bilang kamu tidak akan mendapatkannya. Saat membacanya saya sendiri tidak fokus dengan kisah antara Nino dan Nalia. Lewat buku ini saya justru seperti merasa ditarik kembali ke masa-masa tahun 1998 (padahal saya sendiri datang ke Jogja untuk pertama kalinya tahun 2000). Tahun 1998, saya masih di asrama mahasiswa di Malino, 60 km jauhnya dari kota Makassar. Yang saya ingat pada saat itu adalah selama beberapa bulan saya tidak boleh keluar dari asrama karena perawakan wajah saya yang kata guru saya mirip orang Cina. "Nanti kamu ikut diganyang di Makassar", kata beliau saat itu. Dari layar TV saya tahu ada demonstrasi besar-besaran yang diusung oleh mahasiswa untuk menurunkan rezim Orde Baru. Dua tahun kemudian, dari cerita teman kost saya yang sudah lebih dulu di Jogja, saya tahu betapa susahnya kehidupan mahasiswa di Jogja saat itu, dan bagaimana ketika akhirnya nuansa perjuangan kembali hadir di Jogja waktu itu.

Selain serasa menaiki mesin waktu, ilustrasi di dalam buku ini membuat saya juga seperti dibawa menelusuri sudut-sudut kampus yang saya kenali. Apalagi saya yang kuliah di Biologi, sedikit banyak tahu tentang Fakultas Teknik dan Fakultas Kedokteran Gigi yang tidak lain tetangganya Fakultas Biologi. Tidak ketinggalan Swaragama FM, stasiun radio yang selalu membuat kangen Jogja, dan membuat saya juga berucap "suatu hari aku akan kembali" ketika meninggalkan Jogja di tahun 2005 (dan ya... saya sudah kembali).

[update] Ada satu hal dalam buku ini yang mengganggu dalam benak saya, yaitu kalimat di halaman 29. Di situ Nalia bercerita tentang pembagian jumlah anggaran yang diberikan oleh rektorat kepada fakultas.
Setelah itu, setiap fakultas akan membagikan jumlah anggaran yang disetujui itu ke setiap jurusan.... Kedokteran membaginya untuk tiga jurusan: Kedokteran Umum, Kedokteran Gigi dan Kedokteran Hewan.
 Seingat saya, ketiga fakultas kedokteran di UGM tidak pernah berada di bawah satu Fakultas. Soalnya saya pernah membaca sejarah berdirinya Fakultas Biologi yang berasal dari Fakultas Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Pertanian. Asumsi saya, Fakultas Kedokteran Umum dan Fakultas Kedokteran Hewan tidak pernah menjadi jurusan di bawah fakultas yang sama sejak awal. Dan rasa penasaran saya terjawab ketika saya akhirnya menemukan foto ini di sebuah blog.

ugm old 1 (1)

Lihat foto di atas, ketika kampus UGM masih di daerah Keraton. Ada 5 fakultas awal di UGM, yaitu Kedokteran, Kedokteran Hewan, Pertanian, Farmaci, dan Kedokteran Gigi. So... tidak mungkin jika tahun 1997-1998 (setting tahun dalam novel ini), tiga fakultas kedokteran itu menjadi jurusan.

Terlepas dari banyaknya typo dalam buku cetakan pertama ini, Notasi dengan sampul dan bookmark yang keren sudah membuat saya lebih cinta lagi pada UGM dan Jogja. Tidak berlebihan kalau saya mengatakan anak UGM harus baca buku ini. Dan mungkin sesudahnya kamu juga akan berkata dalam hati, "suatu hari aku akan kembali"

4 stars