~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Nulis Buku. Show all posts
Showing posts with label Nulis Buku. Show all posts

[Giveaway] #429 Gadis Penenun Mimpi & Pria yang Melipat Kertas Terbang


Judul Buku : Gadis Penenun Mimpi & Pria yang Melipat Kertas Terbang
Penulis : Gina Gabrielle
Halaman : 228
Penerbit : CV. Nulisbuku Jendela Dunia

Mari menyelam ke dalam pekatnya tinta, masuk menyelinap jauh ke bawah kesadaran manusia. Biarkan jiwamu yang melihat dan mendengar. Aku jamin, segalanya akan segera menjadi berbeda begitu kau melewati gerbang ini. Satu, dua, tiga, empat. Bahannya sudah lengkap. Mimpimu sudah bisa ditenun. Empat, tiga, dua, satu. Mari bermimpi bersamaku. 

#126 Menunggu Pulang


Judul Buku : Menunggu Pulang
Penulis : Suryawan Wahyu Prasetyo
Halaman : 133
Penerbit : Nulis Buku

Saat menerima buku ini dari Dion, saya langsung tertarik dengan covernya. Menarik karena gambarnya terbalik :) Setelah dicermati, gambarnya masih sesuai dengan tema yang diusung dalam kumpulan cerpen ini. Pulang.

 Hidup sejatinya adalah menunggu pulang. Sementara pulang adalah sebuah perjalanan menuju temat yang dirindukan, rumah. Namun pulang tak akan terjadi tanpa pergi yang mendahului. Akan ada saatnya untuk kita pulang. Akan ada banyak kisah untuk diceritakan, sampai waktunya pulang tiba.
 Penggalan kalimat di sampul belakang menjadi pengantar sebelum membaca 18 cerpen yang ditulis oleh Yuya. Hampir semuanya bercerita tentang kepulangan, entah itu kembali kepada keluarga, rumah, negara, bahkan kepada Penciptanya.

Cerita pembuka, Atas Nama Kusta Aku Cemburu adalah kisah pertama yang membuat saya penasaran. Seorang pemuda penderita kusta cemburu ketika gadis yang disukainya, sesama penderita kusta - Reda, mengatakan ingin mengirim surat pada seseorang. Bagaimana mungkin sebuah surat memicu kecemburuan? Bisa saja, karena surat itu ditulis dengan semangatnya oleh Reda. Semangat yang bukan berasal darinya. Akankah rasa yang dimilikinya berpulang padanya? Masalah perasaan kembali diangkat dalam kisah Berdua di Suatu Senja, Asmaradana, Sedingin Es, dan Memenangkan Medali. Bahkan ketika perasaan itu tidak berpihak, ada saja hal yang kembali pulang, meskipun itu hanya sebuah kenangan.

Bambu Runcing dan Agustus yang menyinggung tentang perjuangan kemerdekaan diceritakan dengan apik oleh penulis. Bahkan yang berbau etnis seperti Imlek, Aku Pulang dan Fatima terasa ringan tanpa tendensi menyudutkan golongan tertentu. Saya mengapresiasi bagaimana penulis melihat fenomena yang terjadi di masyarakat kita dan menuliskannya dalam cerpen yang singkat tapi mengena.

Diantara 18 kisah ada dua yang saya favoritkan. Yang pertama adalah Curhat Saat Kau Lelap. Dikisahkan dengan gaya monolog tentang "aku" yang ingin menjadi "rumah" bagi seseorang dan bukan hanya sekedar tempat persinggahan. Tetapi "aku" hanya berani mengatakannya saat yang dinantikannya pulang terlelap.

Saat-saat seperti ini, adalah saat aku berharap menjadi tempatmu pulang, bukan singgah. Saat-saat seperti ini adalah saat aku berani bilang "Aku cinta kamu".
 Yang kedua adalah Kita Yang Tak Sama. Terinspirasi dari film cin(T)a, penulis mengangkat cinta yang harus berakhir antara Arina dan Theo. Bukan karena menyerah, tetapi karena mereka tidak ingin menipu Tuhan.

Siapa bilang pulang selalu menyengangkan? Ada berapa di antara kita yang masih mengatakan, Aku Takut Pulang, ketika kita diharuskan pulang oleh-Nya? Kisah penutup yang membuat pembaca (termasuk saya) jadi merenungi kembali arti kata pulang.

Saya salut kepada penulis yang konsisten dengan satu tema dalam berbagai variasi kisah yang diangkatnya dalam kumpulan cerpen ini. Karena menurut saya hal itu tidak mudah. Dan jika anda masih ingin membaca lebih lanjut cerpen-cerpen yang ditulis oleh Yuya, silahkan mengunjungi blog-nya, yang juga menjadi akar terbitnya buku ini.



#85 The Coffee Shop Chronicles


Judul Buku : The Coffee Shop Chronicles
Penulis : Aditia Yudis dkk.
Halaman : 197
Penerbit : byPASS / nulisbuku

Bulan lalu, seorang kenalan memasang cover buku ini di halaman facebook-nya. Saya penasaran karena ada kata "coffee". Kebetulan kenalan saya itu, mbak Maya Melivyanti, adalah salah seorang penulis dalam buku kumpulan flash fiction ini. Dari dialah saya membeli buku ini. Buku ini terdiri atas 33 flash fiction, yang ditulis oleh 22 orang dengan 1 benang merah. Demikianlah yang tertulis sebagai tagline di halaman cover.

Tadinya saya mau membaca secara acak, tapi menurut kata pengantarnya (saya selalu membaca kata pengantar terlebih dahulu setiap kali membaca buku) flashfic di buku ini saling berkaitan satu sama lain, dan dimulai dari kisah pertama berjudul Surat Cinta untuk Tuan Arsitek. Jadinya saya harus membaca secara berurutan. Dan benar saja, kisah-kisah ini saling berkaitan dengan satu benang merah, coffee shop.

Tersebutlah sebuah coffee shop di Jalan Malioboro, Yogyakarta, bernama Priya's Coffee Shop. Pemilik kedai kopi ini adalah seorang wanita keturunan India bernama Noshi yang pergi meninggalkan mantan suaminya untuk mengejar passion-nya memiliki sebuah kedai kopi. Di dalam kedai kopi ini dalam waktu seharian terjadi 33 kisah yang melibatkan dirinya, pengunjung, dan barista kedai tersebut.

Kisah dibuka oleh sepasang suami istri yang mengunjungi kedai itu. Sang suami yang adalah arsitek sibuk dengan laptop dan aplikasi AutoCad, sedangkan istrinya yang adalah seorang penulis novel sibuk membaca sebuah novel. Keduanya larut dalam diam, tak ada suara. Tapi dalam diamnya mereka, ada komunikasi yang terjalin lewat sentuhan tangan mereka di bawah meja. Di dekat mereka ada seorang perempuan yang duduk mengamati pasangan unik ini. Selain itu ada juga pasangan traveller lengkap dengan ransel besar dan barang bawaan yang dicoba ditata ulang ke dalam ransel tersebut.

Semakin siang pengunjungnya semakin ramai. Ada dua orang wanita bersahabat yang berkenalan di dunia maya, ada dua saudara (kakak-adik) yang sudah lama tidak bertemu, ada seorang penulis bule, bahkan ada juga seorang wanita PSK yang baru saja pulang dari melakukan pekerjaannya. Sementara pemiliknya, Noshi mengamati pelanggannya, dia sendiri dikejutkan dengan kedatangan mantan suaminya yang menyusul ke tempat itu.

Membaca flashfic  membawa kesan tersendiri bagi saya. Saya menyukai kejutan-kejutan yang dihadirkan dalam sebuah cerita sangat pendek. Buku ini sendiri membawa ide segar dalam dunia fiksi, dimana beberapa flashfic terangkai menjadi satu cerita utuh, dan uniknya diceritakan oleh banyak orang. Saya membayangkan penulis kedua dan seterusnya berusaha merangkaikan kisah yang ingin ditulisnya berdasarkan yang sudah ditulis oleh penulis pertama. Penuh tantangan pastinya.

Sayangnya, menurut saya sajian dalam buku ini terasa tanggung bagi saya. Terkadang satu kisah hanya mengambil kisah sebelumnya dan menempatkannya sebagai latar belakang sekilas. Misalnya saja kisah Secangkir Ingatan, Kukirim Rindu ke Tanah Seberang, The Coffee Shop, dan beberapa kisah lainnya hanya memasukkan "laporan pandangan mata" kondisi dalam ruangan kedai kopi  itu sebagai penyambung dengan kisah sebelumnya. Laporan yang saya maksud misalnya seperti paragraf berikut.

Aku mengedarkan pandanganku seraya menunggu pesananku diracik, tempat ini memang selalu ramai. Aku melihat seorang lelaki dengan kekasihnya. Mereka berbicara dalam diam. Tangan mereka bertautan di bawah meja.... lalu di sudut lain aku melihat sepasang kekasih yang terlibat pembicaraan serius. (Hal 30).

Pengulangan yang terjadi berkali-kali dalam buku ini membuat saya nyaris bosan membacanya. Kemudian ada quote yang tercetak tebal di satu halaman penuh yang diambil dari kisah sebelumnya (Kisah si Mbah Tua, hal 159-163) tapi ada kata yang terhilang dan membuat makna yang berbeda. Entah ini kesalahan cetak atau memang disengaja.

Lalu pada kisah penutup (The New Owner) saya menangkap kesan terlalu dipaksakan. Kenapa harus ada pemilik baru? Kenapa nama kedainya harus terganti? Kenapa penggantinya malah hanya seorang nenek yang ahli membuat kopi tubruk jahe, sementara yang disajikan di kedai itu adalah jenis-jenis kopi secanggih cappucino, coffee latte, dan frappe? Saya tidak puas dengan penutupnya. Kalau kisah-kisah ini terpisah ga masalah, tapi kan dari awal ini sudah berupa rangkaian kisah?

Terlepas dari itu, buku ini cukup ringan. Sedikit melegakan isi kepala saya yang sempat kusut membaca fiksi gothic :) Dan ketika saya menutup buku ini saya jadi penasaran mau ke Malioboro, mau cari tahu adakah kedai kopi di sana yang kira-kira menjadi inspirasi buku ini? Tiga bintang untuk The Coffee Shop.



#47 Twivortiare


Judul Buku : Twivortiare
Penulis : Ika Natassa
Halaman : 283
Penerbit : Self Publishing by Nulisbuku


Alexandra is back. Melalui account twitter @alexandrarheaw, Alex menceritakan pernikahan keduanya dengan dr. Beno Wicaksono. Seperti yang sudah diceritakan di novel prekuelnya, Divortiare, Alex dan Beno pernah menikah. Tapi, karena kesibukan masing-masing (Beno sebagai dokter jantung dan Alex sebagai karyawati sebuah bank) membuat komunikasi di antara mereka tidak berjalan dengan baik. Ketika Alex meminta cerai, Beno dengan tanpa usaha mengiyakan permintaan Alex (hal yang kemdian meyakinkan Alex bahwa Beno tidak benar-benar mencintainya). Singkat cerita, di akhir kisah Divortiare, Alex dan Beno sama-sama merasakan masih ada cinta di antara mereka. Apakah mereka kembali menjadi pasangan?

Pertanyaan itu terjawab di Twivortiare. Alex dan Beno menikah untuk kedua kalinya, setelah 8 bulan berpacaran. Kali ini, Alex membuat Beno berjanji supaya tidak melepaskannya apapun permintaan Alex nantinya. Alex juga meminta perhatian penuh dari Beno, dan tidak menjadikannya sebagai hal kedua setelah pekerjaannya.

Walaupun diceritakan dari sudut pandang Alex (apalagi hanya lewat rangkaian tweets yang maksimal cuma 140 karakter tiap paragraf), saya bisa menikmati kelanjutan kisah Alex dan Beno. Dan dalam pernikahan kali ini, tetap saja Alex dan Beno “rajin” bertengkar. Mengapa saya bilang rajin? Soalnya pertengkaran mereka di dalam buku Twivortiare ini ga jauh-jauh dari masalah cemburu, kurang perhatian,dan miskomunikasi. Beno cemburu dengan Adrian, nasabah Alex; Alex cemburu pada  Rania, kolega Beno sesama dokter. Alex masih merasa Beno kurang perhatian, dan Beno menganggap Alex sulit dimengerti. Ketika Beno meminta Alex untuk “wajib lapor”, Alex merasa seperti terpenjara.

Mengutip apa yang dikatakan Alex lewat twitternya (saya lupa persisnya kalimatnya seperti apa) bahwa pernikahan kedua ini membuat mereka sangat berhati-hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan sebelumnya. Mereka berusaha untuk terus berkomunikasi, baik itu lewat telepon, BBM, maupun Skype ketika mereka harus berjauhan. Tindakan berhati-hati itu membuat Alex dan Beno selalu membuat kesepakatan yang mengharuskan yang satu menuruti yang lain supaya mereka tetap berdamai. Dan terus menerus berada dalam situasi win-lose solution itu tentu saja melelahkan. Tidak heran, ketika mereka menemukan jalan buntu berkomunikasi, Alex memilih untuk menghindar, sementara Beno merasa Alex bersifat kekanak-kanakan.

Satu hal lagi yang menjadi “masalah” dalam rumah tangga mereka adalah ketidak hadiran seorang anak. Selain jengah ditanya terus menerus oleh keluarga besar mereka, satu sama lain merasa dalam ketakutan akan mengecewakan pasangan mereka karena Alex tidak kunjung hamil.

Terlepas dari segala konfilk yang dialami oleh Alex dan Beno, saya sangat salut Ika Natassa mampu menghidupkan kembali karakter Alex lewat @alexandrarheaw. Dan bukan hanya Alex, kehadiran orang-orang di sekitar mereka juga tetap hidup walaupun semua hanya bisa dilihat lewat sudut pandang Alex. Satu-satunya karakter yang hadir adalah @winasoedarjo, sahabat Alex yang selalu menjadi tempat curhat Alex. Dialognya masih banyak berbahasa Inggris khas Ika, dan sedikit istilah perbankan. Typo masih ada, tapi wajarlah karena self publishing. Mungkin nanti kalau diterbitkan oleh Gramedia, typo-nya bisa berkurang.

Mengenai sampulnya, yang sudah pernah membaca Divortiare pasti familiar dengan kardus bertuliskan His dan Hers. Kali ini ditambah dengan si burung biru-nya twitter. Saat membaca halaman awal dari novel ini saya sempat berpikir, mereka kan sudah tinggal bersama, tapi kenapa kardusnya masih terpisah seperti di Divortiare. Ternyata setelah saya selesai membaca novel ini saya menarik kesimpulan sendiri soal kardus itu. Biarpun mereka sudah tinggal seaatap, tapi tetap saja masih ada dua kepentingan dan kepribadian yang belum sepenuhnya terbuka satu sama lain. Baik Alex dan Beno masih mengkotak-kotakkan diri mereka dalam pernikahan ini. Well, benar atau tidaknya kesimpulan saya, silahkan ditanyakan ke penulisnya di account twitternya @ikanatassa :)

Btw, karena penasaran dengan kelanjutan kisah Alex dan Beno, saya jadi mem-follow @alexandrarheaw.  Si dokter kadang nge-tweet juga pake akunnya Alex, untuk menjawab pertanyaan dari fansnya. Tapi ya gitu deh… jawabannya hanya satu dua kata saja.