~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Suzanne Collins. Show all posts
Showing posts with label Suzanne Collins. Show all posts

#96 Mockingjay


Judul Buku : Mockingjay
Penulis : Suzanne Collins
Halaman : 432
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


API SUDAH TERBAKAR
JIKA KAMI TERBAKAR
KAU TERBAKAR BERSAMA KAMI

Berkali-kali aku melihat tayangan propo itu di televisi. Sekarang aku berada di Distrik 13. Distrik yang tadinya dikira sudah dilenyapkan oleh Capitol, ternyata masih ada. Selama bertahun-tahun lamanya mereka membangun kota kembali, tapi kali ini di bawah tanah. Segala gerakan pemberontakan terhadap kepemimpinan Capitol dimulai di sini. Terkadang aku bertanya-tanya selama ini keduabelas distrik (well... mungkin hanya 11, karena Distrik 2 punya hubungan erat dengan Capitol) mengalami penderitaan berkepanjangan di bawah Capitol, tapi Distrik 13 membangun dirinya sendiri.

Katniss sekali lagi selamat dari Quarter Quell. Walaupun kali ini bisa dibilang karena campur tangan para pimpinan pemberontak, bukan karena keberuntungannya. Dia diselamatkan dari arena Quarter Quell. Sebagai balasannya, dia dijadikan ikon pemberontakan. Tugasnya kali ini hanya menjadi "bintang propo". Dengan kostum Mockingjay dia membintangi beberapa propo yang berfungsi membangkitkan semangat para pejuang pemberontakan serta memperingatkan Capitol bahwa para pemberontak masih ada. Peeta tidak selamat, seperti yang sudah kuperkirakan. Dia "ditinggalkan" oleh para pemberontak dan ditangkap oleh Capitol. Aku yakin dia dijadikan umpan untuk menangkap Katniss.

Masih segar di ingatanku malam ketika kami harus melarikan diri dari Distrik 12. Tepat setelah Katniss menghancurkan kubah arena Quarter Quell, beberapa pesawat Capitol menjatuhkan bom ke distrik kami. Aku menyentuh telinga kiriku yang kehilangan kemampuan pendengarannya gara-gara ledakan bom yang jatuh tidak jauh dari tempatku berbaring malam itu. Gale dengan kemampuannya yang luar biasa memimpin lebih dari delapan ratus pengungsi dari distrik 12 menuju distrik 13. Ibu Katniss dan Prim juga sangat berperan dalam pelarian ini. Mereka merawat banyak korban hingga mampu selamat tiba di distrik 13.

Aku belum pernah melihat Katniss lagi, walaupun kami berada di distrik yang sama. Di sini pemuda berusia di atas 14 tahun dilatih menjadi prajurit, Tentu saja aku termasuk di dalamnya. Apalagi aku memang sudah lama ingin terlibat langsung dalam pemberontakan ini. Setidaknya aku bisa berperan nyata. Kami belum tahu kapan tepatnya kami akan maju menyerbu Capitol. Tapi sampai saat itu tiba, kami akan terus berlatih. Satu hal yang kami tahu. Capitol akan kami kuasai kembali.

Tato di tanganku menunjukkan aku harus segera masuk ke dalam kompertemen-ku. Latihan selesai.Pukul 18.00 adalah waktu untuk merenung. Distrik 13 betul-betul menerapkan disiplin dalam segala hal termasuk waktu. Dalam perjalanan menuju kompartemenku aku melewati rumah sakit. Banyak yang berkumpul di sana. Aku teringat samar-samar ada rencana untuk menyelamatkan Peeta dan tahanan lainnya. Hal ini dilakukan agar Katniss bisa konsentrasi melakukan tugasnya. Kenapa sih semuanya harus demi Katniss? Apa istimewanya gadis itu? Kenapa harus dia yang menjadi Mockingjay?

Saat itu juga mataku terpaku pada sosok berambut pirang yang terbaring di tempat tidur. Tubuhnya kurus sekali, tapi aku yakin itu Peeta. Sesaat kemudian Katniss masuk menyerbu ke ruangan itu dan merentangkan lengannya hendak memeluk Peeta. Peeta pun berbuat demikian. Tapi apa yang terjadi berikutnya tidak pernah disangka oleh siapapu. Peeta mencekik leher Katniss seakan-akan Katniss adalah musuhnya yang harus dibunuhnya. Orang-orang melerai mereka, menarik Peeta dan Katniss ke arah yang berbeda. Tapi terlambat. Katniss jatuh tak sadarkan diri.

Kenapa dengan Peeta? Apakah dia menjadi gila? Jika dia tidak mampu mengenali Katniss, gadis yang dicintainya, siapa lagi yang bisa dikenalinya? Apakah dia tidak berbahaya untuk misi pemberontakan ini?

********************

Saya termasuk terlambat ikut dalam euphoria Hunger Games series ini. Saya sengaja menunggu ketiganya telah selesai diterjemahkan Ketika Gramedia mengularkan boxset untuk serial ini saya memutuskan untuk membelinya. Itupun tidak langsung saya baca. Akhirnya di masa liburan kampus, ketika kegiatan sedikit berkurang saya pun marathon membaca serial ini.

Overall, saya menyukai kisah pertandingan yang tidak biasa ini. Gadis miskin yang terpilih menjadi pejuang dalam permainan hidup atau mati. Untuk buku #1 saya memberikan bintang 4 untuk adegan-adegan di dalam arena Hunger Games. Tetapi saya terpaksa menurunkan porsi bintangnya untuk buku #2 dan #3. Di buku #2, Quarter Quell hanya diceritakan 1/3 bagian akhir buku. Di buku #3 lebih parah lagi. Katniss yang tadinya pejuang malah jadi "bintang propo". Bukannya mengecilkan peran Katniss sebagai Mockingjay, tapi dia sebagai pemicu semua ini harusnya tampil sebagai pejuang terdepan. Dia kan pemenang Hunger Games dua kali (itupun kalau Quarter Quell terhitung). Saya nyaris bosan dengan adegan syuting, kegalauan, dan semua ketakutan Katniss. Kalau saja tidak ada Peeta di buku #3, saya tidak yakin menyelesaikan buku ini.

Kalau ada yang mengikuti review yang saya buat dengan menggunakan sudut pandang seorang gadis anonim dari distrik 12, tentu menyadari bahwa tokoh yang saya idolakan di serial ini adalah Peeta. Meskipun perannya tidak banyak dalam merebut Capitol kembali. Bicara soal ending-nya, saya kecewa dengan penyelesaian yang terkesan sapu-rata-tapi-ga-bersih. Kenapa mesti ada tokoh yang tertinggal sih? Lalu pemilihan antara Peeta atau Gale begitu saja? Yah... setidaknya Katniss akhirnya tahu pria mana yang dia tidak mungkin bertahan hidup tanpanya.




#95 Tersulut (Catching Fire)


Judul Buku : Tersulut (Catching Fire) (The Hunger Games #2)
Penulis : Suzanne Collins
Halaman : 424
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Aku sedang menikmati makanan kaleng yang berisi ikan ini ketika beberapa anak-anak berlari di depanku membawa bungkusan manisan apel. Hari ini adalah hari pembagian makanan dari Capitol. Sebagai hadiah kemenangan Katniss dan Peeta pada Hunger Games-74, Distrik 12 mendaptkan asupan makanan yang cukup dari Capitol. Bukan itu saja, Katniss dan Peeta berhak menempati rumah hadiah mereka di Desa Pemenang. Beberapa kru televisi seringkali terlihat merekam kegiatan mereka sehari-hari. Tentu saja Capitol masih ingin menyaksikan kisah cinta antara Katniss dan Peeta.

Ah.. Peeta. Hatiku lega dia bisa selamat dari Hunger Games. Tapi tetap saja, mereka sudah dikenal sebagai pasangan yang serasi. Sebentar lagi mereka akan melakukan Tur Kemenangan mengelilingi semua distrik. Entah apa yang akan terjadi ketika mereka mengunjungi Distrik 8. Yang kudengar dari beberapa orang di sana mulai terjadi pemberontakan. Konon hal ini dipicu oleh Katniss sendiri. Jangan tanya dari siapa aku mendengar soal pemberontakan itu. Karena ini adalah rahasia yang harus disembunyikan dari Capitol. Aku menghabiskan isi makanan kaleng ketika aku melihat bayangan Katniss melewati pagar listrik. Hehe... ternyata dia tidak bisa meninggalkan kebiasaannya berburu. Ataukah dia sedang menunggu Gale di sana?

Gale. Pemuda itu kini menjadi pekerja tambang. Aku tahu Gale mencintai Katniss. Aku pernah menangkap kilatan sedih di matanya ketika kami menonton layar besar yang menampilkan gambar Katniss mencium Peeta di dalam gua persembunyian. Sayangnya, Gale harus mengubur cintanya. Seperti aku pada Peeta. Walaupun aku sendiri tidak yakin akan cinta Katniss pada Peeta.

------------

Aku merasakan dejavu  ketika harus berkumpul di lapangan ini lagi. Kali ini akan diadakan penentuan peserta Quarter Quell ke-3 atau Hunger Games ke-75. Setiap 25 tahun untuk merayakan Hunger Games, diadakanlah Quarter Quell dengan aturan yang "istimewa". Pada Quarter Quell sebelumnya, jumlah peserta dibuat menjadi dua kali lipat(dua anak lelaki dan 2 anak perempuan) dari setiap distrik. Tahun ini Presiden Snow membuat pengunguman bahwa peserta Quarter Quell adalah pemenang Hunger Games yang masih hidup. Di Distrik kami ada 3 pemenang yang masih hidup. Katniss sudah tentu akan masuk sebagai peserta lagi, karena hanya dialah pemenang perempuan yang hidup. Kali ini ketegangan terjadi untuk memilih antara Peeta dan Haymitch.

Ketika nama Haymitch disebutkan, spontan Peeta maju mengajukan diri sebagai pengganti. Oh.. tentu saja. Kisah cinta itu harus terus berlanjut, bukan? Tidak ada yang keberatan atas pergantian itu. Aku membayangkan kali ini lawan mereka semakin berat. Bayangkan saja orang yang akan menjadi lawan mereka adalah pemenang yang sudah berpengalaman di Hunger Games sebelumnya.

Aku tahu aku sudah menyiapkan diriku untuk tidak terluka lagi melihat Peeta menggenggam tangan Katniss untuk maju di Quarter Quell. Tetapi tetap saja ada yang mengiris hatiku mengingat tidak mungkin kali ini Peeta (atau bahkan Katniss) bisa selamat bersama-sama. Tidak ada yang beruntung sampai dua kali. Setidaknya bukan di negeri Panem. Aku meninggalkan lapangan itu. Ada hal lain yang harus kukerjakan, hal yang lebih besar. Hal yang sudah disulut oleh Katniss dan Peeta sejak mereka meninggalkan arena Hunger Games. Hal yang akan membuat perubahan di negeri Panem ini.


#94 The Hunger Games


Judul Buku : The Hunger Games
Penulis : Suzanne Collins
Halaman : 408
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

"Primrose Everdeen"

Terdengar helaan nafas di beberapa tempat. Aku menoleh ke arah seorang gadis berusia 12 tahun yang wajahnya tiba-tiba memucat. Gadis itu kemudian menarik nafas panjang, mungkin itu dilakukannya untuk menenangkan dirinya. Perlahan dia maju mendekati panggung. Tetapi belum sampai di bibir panggung, tiba-tiba ada teriakan nyaring. Suara perempuan.

"Prim... Prim...", kulihat dia berlari mendekati panggung. "Aku mengajukan diri. Aku mengajukan diri sebagai peserta!"

Keadaan menjadi kacau. Sudah lama tidak ada yang pernah menjadi sukarelawan untuk acara ini. Gila apa? Siapa yang mau mengorbankan diri menjadi peserta dengan kemungkinan selamat yang sekecil lubang jarum? Terakhir distrik ini memenangkan Hunger Games sudah lama sekali. Pemenang waktu itu saja sekarang sepertinya sudah menyerupai orang gila, mabuk-mabukan, tidak sadarkan diri. Lihat saja gaya si tua Haymitch di panggung itu. Dia tidak peduli siapapun "pejuang" Distrik 12 kali ini.

Katniss Everdeen. Ya.. itulah nama gadis gila yang mau menjadi sukarelawan menggantikan adiknya. Dengar-dengar dia sendiri memasukkan namanya dalam daftar calon peserta lebih banyak demi mendapatkan tessera yang ditukarnya dengan bahan makanan. Sejak ayahnya tewas karena kecelakaan di tambang, Katniss menjadi kepala keluarga melindungi ibu dan adiknya. Hmmm.. kalau Katniss yang maju sebagai peserta ada kemungkinan dia bisa bertahan. Gadis itu jago berburu. Setidaknya itu yang kudengar dari para penjual di Hob, ketika dia bersama Gale (temannya) menukar hasil buruan mereka.

Aku terlarut dalam pikiranku sendiri, dan disadarkan oleh pengumuman di atas panggung.

"Peeta Mellark"

Apaa?? Tidak mungkin!! Jangan dia! Jangan Peeta-ku!

Pandanganku berkaca-kaca ketika aku melihat Peeta Mellark maju mendekati panggung. Aku mengikuti setiap langkahnya. Mungkin ini saat-saat terakhir aku melihatnya. Dia tidak mungkin selamat dari permainan ini. Walaupun tubuhnya sedikit kekar akibat memanggul karung-karung terigu untuk usaha roti keluarganya, dia tidak mungkin menang. Dia tidak akan kembali. Ketika dia dan Katniss dibawa pergi, aku mengangkat tiga jari tanganku ke bibir, kuarahkan ciumanku untuk Peeta, walaupun aku yakin, dia tidak akan melihatku di antara ratusan orang-orang ini. Seandainya saja aku yang terpilih untuk pergi bersama Peeta-ku.

-------------

Siapa aku? Tidak penting. Aku hanyalah seorang gadis 18 tahun yang tinggal di Distrik 12. Setiap tahun negeri kami, Panem, mengadakan Hunger Games. Dua peserta (laki-laki dan perempuan) dipilih dari 12 distrik yang ada di negeri ini. Mereka (para peserta) akan dibawa ke suatu lokasi di Capitol dan dilepas di sana untuk bertahan hidup, saling membunuh, hingga keluar seorang pemenang. Pemenang itu akan menjamin kehidupan penuh makanan dan kenyamanan di distriknya setahun  lamanya ketika dia kembali. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, Distrik 12 ini bukanlah wilayah yang diunggulkan untuk menghasilkan pemenang. Bahkan bisa dibilang Distrik 12 adalah wilayah terbuang yang hidup dari sisa-sisa penambangan batu bara.

Aku sering melihat Peeta menghias kue di toko roti ayahnya. Tidak jarang aku mendengarnya bercanda dengan kakaknya, walaupun dia sebenarnya cenderung pendiam. Aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama, tapi tidak pernah berani mendekatinya. Bahkan di saat aku ditugaskan untuk membeli roti oleh ibuku. Ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa kudeskripsikan dengan kata-kata. Tentu saja Peeta tidak tahu tentang perasaanku.

Pandanganku kuarahkan ke layar besar, yang menayangkan Hunger Games yang berlangsung di Capitol. Satu per satu peserta berguguran. Bahkan di saat pertama kali mereka dilepas di Cornucopia. Peeta sendiri sempat bergabung bersama beberapa peserta dari Distrik 1 dan 2. Katniss memilih untuk berjuang sendiri. Beberapa kali layar itu menampilkan perjuangan Katniss mencari sumber air, berburu untuk makan, memanjat pohon untuk bertahan hidup. Ohya, saya belum bilang kalau Katniss dan Peeta menjadi idola penonton karena cinta terpendam yang diutarakan Peeta pada saat wawancara di stasiun TV. Hatiku sekali lagi miris mengingatnya. Dia bukan lagi Peeta-ku. Melihat sorot matanya untuk Katniss aku tahu dia mencintai Katniss.

Helaan nafas tegang di sekitarku ketika layar menampilkan gambar Peeta membawa tombak mendekati Katniss. Sayup-sayup kudengar Peeta menyuruh Katniss lari. Katniss sesaat ragu-ragu hingga kemudian terdengar derap langkah di belakang Peeta menandakan beberapa peserta lain mendekati mereka. Katniss segera berlari, meninggalkan Peeta yang tertegun dengan tombak terhunus. Ah..Katniss, bodohnya gadis itu jika dia tidak menyadari cinta Peeta. Peeta bahkan "rela" bersekutu dengan peserta lain demi melindungi dirinya.

Lagu kebangsaan mengiringi langkahku meninggalkan lapangan kota dan layar besar itu. Lirih aku mengucapkan sebaris doa semoga Peeta bisa memenangkan permainan ini. Sesaat aku ragu, jika Peeta menang berarti Katniss harus mati. Keadaan di Distrik ini tidak akan lagi sama setelah ini. Entah mengapa ada bagian di dalam hatiku yang berharap biar saja Katniss mati. Mungkin aku bisa memenangkan hati Peeta kembali. Itupun jika Peeta bertahan hidup dan menang. Entahlah... Yang pasti aku benci dan muak dengan permainan ini. Permainan yang ditujukan untuk mengingatkan kepada semua penduduk Panem bahwa pemberontakan tidak diperkenankan. Hunger Games adalah hukuman bagi kami. Hunger Games adalah alam rekayasa para penguasa, mereka mengaturnya sedemikian rupa, menunjukkan pada kami bahwa kendali ada di tangan mereka. Entah sampai kapan penduduk di negeri ini bisa bertahan. Aku sendiri mengharapkan adanya pemberontakan itu lagi.