~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Penguin Group. Show all posts
Showing posts with label Penguin Group. Show all posts

#242 Just One Day


Judul Buku : Just One Day (Just One Day #1)
Penulis : Gayle Forman
Halaman : 300 (ebook)
Penerbit : Penguin Group

Sudah cukup lama sejak saya membaca serial If I Stay - Where She Went dari Gayle Forman, hingga akhirnya saya memutuskan untuk membaca buku ini. Seperti biasa, saya secara random memilih ebook dalam tablet untuk mengantarkan saya tertidur di malam hari. Dan seperi biasa, yang ada adalah saya bisa bertahan membaca hingga hari berganti dan melanjutkannya keesokan harinya saat bangun pagi, dan bukan lagi sekedar pengantar tidur.

#237 The Perfect Hope


Judul Buku : The Perfect Hope (Inn Boonsboro #3)
Penulis : Nora Roberts
Halaman : 271 (ebook)
Penerbit : Penguin 

Beckett Montgomery sudah menemukan kekasih hatinya Clare dan juga menjadi ayah untuk ketiga putra Clare. Saat ini mereka sedang menantikan kelahiran bayi kembar yang dikandung oleh Clare. Owen Montgomery juga sedang menantikan pernikahannya dengan Avery. Hotel Inn Boonsboro yang mereka kerjakan juga sudah lama beroperasi, dan dapat dikelola dengan baik oleh Hope, the innkeeper. Tinggal beberapa proyek lagi yang menyita perhatian Ryder Montgomery, tapi semua itu bisa diatasinya.


#225 The Last Boyfriend


Judul Buku : The Last Boyfriend
Penulis : Nora Roberts
Halaman : 259 (ebook)
Penerbit : Penguin Grup

Setelah mengikuti kisah cinta antara Clare dan Beckett di The Next Always, kali ini ada Avery McTavish dan Owen Montgomery. Avery dan Owen sudah akrab sejak kecil, karena orang tua mereka pun sangat akrab. Avery bahkan menjadikan Owen sebagai tunangannya pada saat mereka kecil dulu dengan cincin hadiah permen. Beranjak dewasa hubungan keduanya tetap terjalin dengan baik, hingga Avery dan ayahnya ditinggal oleh ibunya untuk bersama laki-laki lain. Sejak saat itu Avery selalu berusaha mengurus segala sesuatunya seorang diri dan tumbuh menjadi gadis yang super mandiri.  Avery menyewa salah satu bangunan di Boonsboro milik keluarga Montgomery dan mengubahnya menjadi restoran pizza yang laris. Ketika kedua sahabatnya, Clare dan Hope berkumpul bersama di Boonsboro, Avery sangat bahagia.

#219 The Next Always


Judul Buku : The Next Always (Inn Boonsboro #1)
Penulis : Nora Roberts
Halaman : 258 (ebook)
Penerbit : Penguin Group

Beckett Montgomery, bersama saudaranya (Ryder dan Owen) sedang mengerjakan proyek besar di Boonsboro. Montgomery Family Contractors akan membangun kembali sebuah bangunan tua peninggalan perang menjadi sebuah penginapan. Beckett yang adalah arsitek bertugas untuk membuat rancangannya. Pembangunan penginapan ini menjadi buah bibir masyarakat setempat. Tidak ketinggalan Clare Brewster, pemilik toko buku Turn The Page, sangat antusias dengan proyek tesebut. Beckett bahkan meminta Clare secara khusus untuk membantunya merancang brosur untuk promosi penginapan tersebut.

Sebenarnya, Clare adalah cinta pertama Beckett sejak remaja. Sayangnya Clare memilih Clint Brewster untuk menjadi suaminya, pergi meninggalkan Boonsboro dan menikah dengannya selepas SMA. Malang bagi Clare, suaminya yang adalah seorang prajurit, meninggal dalam tugas di Irak, meninggalkan Clare dengan tiga orang putra (Harry, Liam dan Murphy). Clare memilih untuk kembali ke kampung halamannya dan membesarkan ketiga orang anaknya sendiri.  Karena terlibat dalam proyek keluarga Montgomery, interaksi antara Beckett dan Clare kembali intens. Sayangnya Beckett ragu untuk melangkah lebih jauh. Clare yang mendapati dirinya jatuh cinta pada Beckett mengambil inisiatif. Meski demikian, Clare tidak yakin Beckett bisa menerima dirinya sepaket dengan ketiga anaknya. Di luar dugaan Clare, Beckett justru bisa mengambil hati anak-anaknya. Tetapi untuk suatu komitmen, Beckett sendiri masih ragu.

#129 Something About You


Judul Buku : Something About You
Penulis : Julie James
Halaman : 251 (ebook)
Penerbit : Penguin/Berkley

Setelah membaca Just The Sexiest Man Alive karya Julie James, saya memutuskan untuk membaca salah satu serial-nya yaitu FBI/US Attorney. Saya membaca ebooknya walaupun novel ini sudah diterjemahkan oleh Elex Media dengan judul Tentang Kamu. Di bawah ini adalah cover versi terjemahan Indonesianya. Saya sih lebih suka cover aslinya.

Cameron Lynde memutuskan untuk menginap di hotel ternama karena rumahnya sedang direnovasi. Ternyata ada kejadian persis di sebelah kamarnya pada malam dia menginap. Diawali dengan suara uhuk-uhuk yang sangat mengganggu sampai suara tempat tidur terbentur ke dinding pembatas kamar. Cameron tidak bisa tidur jadinya, padahal salah satu tujuan dia menginap di hotel itu adalah untuk beristirahat. Sampai dini hari suara yang mengganggu itu masih juga terdengar, sampai Cameron memutuskan untuk menelpon sekuriti. Sebelum sekuriti mendatangi kamar yang bermasalah itu, Cameron sempat melihat lewat peephole  seorang pria keluar dari kamar tersebut. Sayangnya Cameron tidak melihat wajah dari pria itu. Ketika sekuriti datang, Cameron kembali mengintip lewat peephole. Nah yang aneh menurut saya, bagaimana mungkin Cameron bisa melihat semua yang dilakukan sekuriti di depan pintu kamar 1038 (kamar yang bermasalah) lewat peephole? (kamarnya Cameron di 1037, persis di sebelah kamar 1038). Ternyata ada pembunuhan yang terjadi di kamar sebelah. Seorang wanita tewas dibunuh dengan cara dibekap dengan bantal. Parahnya lagi si wanita tadi ternyata sebelumnya ber-uhuk-uhuk dengan seorang senator. Akhirnya senator ini dicurigai sebagai pembunuhnya. Kasus ini pun ditangani oleh FBI di bawah komando Agen khusus Jack Pallas.

Sialnya, Agen Pallas mempunyai masa lalu yang buruk dengan Cameron. Tiga tahun yang lalu Cameron menolak kasus seorang gembong mafia yang ditangani oleh Jack. Karena emosi, Jack menghina Cameron di saluran tv nasional. Akibatnya Jack dimutasi ke Nebraska. Jack berpikir mutasi-nya ke Nebraska gara-gara desakan Cameron. Sejak saat itu Jack benci pada Cameron. Tapi ya.. batasan benci sama cinta kadang terlalu tipis. Apalagi ketika Jack harus melindungi saksi utama kasus si senator ini, yang mengharuskan dia bertemu kembali dengan Cameron.

Menariknya novel ini adalah walaupun genre-nya romance, tapi ada unsur suspense-nya (meskipun ga banyak karena pembunuhnya sudah diketahui sejak awal). Jack dan Cameron berusaha mengungkap siapa pembunuh wanita yang ditemukan tewas tersebut, dan tanpa diduga kasus yang mereka hadapi ini berhubungan dengan kasus mafia yang dulu menjadi sumber permasalahan antara Jack dan Cameron. Di samping itu ada konspirasi di pemerintahan yang berada di belakang kasus tersebut.

Romantisme antara Jack dan Cameron juga menarik untuk disimak. Ternyata sebelum kasus mereka tiga tahun lalu, Jack sudah menaruh hati pada Cameron. Cameron sendiri tidak bisa menolak pesona dari Jack. Lucunya, meskipun masih dalam kondisi marahan dan tidak percaya satu sama lain, ketertarikan fisik antara mereka berdua tidak bisa dihindari. Adegan kipasnya ada sih...namanya juga romance :)



#117 The Fault In Our Star


Judul Buku : The Fault In Our Star
Penulis : John Green
Halaman : 198 (ebook)
Penerbit : Penguin Group USA

Saya belum pernah membaca karya John Green sebelumnya, walaupun di sampul buku ini ada tertulis bukunya yang berjudul Looking for Alaska adalah best selling di New York. Tetapi karena melihat rating buku biru berawan-awan ini di GR sangat tinggi, jadinya saya niatkan mencari e-booknya dan ketemu. Sempat tersimpan lama di dalam tablet, akhirnya sampulnya yang eyecatching nan sederhana ini menarik perhatianku untuk membacanya.

What should I say? Ini kisah yang membuat saya meneteskan air mata, gregetan dan tertawa. Lima bintang dan menjadi favorit saya.

Hazel Grace, seorang penderita kanker tyhroid yang meluas sampai ke paru-paru, membuat dia harus hidup sehari-hari dengan tabung oksigen. Tanpa tabung oksigen itu, dia tidak bisa mendapatkan suplai oksigen yang cukup untuk menjalankan fungsi tubuhnya. Meskipun demikian, dalam kisah ini sempat diceritakan beberapa kali Hazel mengalami kejadian dimana paru-parunya berisi air sehingga dia tidak bisa bernafas. Bagi Hazel semua hal yang dialaminya sebagai efek samping kematian.

Oleh ibunya, yang selalu setia mendampinginya, Hazel diminta mengikuti Support Group untuk penderita kanker. Di sana dia bertemu dengan Isaac, penderita kanker mata dan Augustus Waters, survivor kanker osteosarkoma. Augustus kehilangan satu kakinya karena kanker yang dialaminya, sementara Isaac (akan) kehilangan matanya.

Antara August dan Hazel kemudian terjalin suatu hubungan yang didasarkan dari kesamaan dan perbedaan mereka. Kesamaannya mereka berdua sama-sama berpikir out of box mengenai penderitaan kanker yang mereka alami. Perbedaannya, August cenderung berpikir postif sementara Hazel cenderung berpikir negatif. Berangkat dari situ, akhirnya mereka berdua sama-sama saling menyukai, walaupun awalnya Hazel sempat ragu karena mantan-nya August (penderita kanker otak yang sudah meninggal) mirip dengan dirinya.

Hazel menyukai satu buku berjudul An Imperial Affliction karangan Peter van Houten yang menceritakan tentang gadis penderita kanker. Buku ini sangat berpengaruh bagi Hazel sehingga dia membacanya berulang kali. Tapi dia tidak puas dengan endingnya yang "menggantung". Ada banyak hal yang tidak jelas bagi Hazel. Ketika August membaca buku itu, dia juga punya pendapat yang sama. Bersama-sama mereka berusaha menghubungi penulisnya, lewat asisten penulis itu, untuk mencari jawabannya. August bahkan merelakan "Wish"-nya untuk dipakai bersama-sama dengan Hazel pergi ke Amsterdam menemui Mr. van Houten tadi.Walaupun mereka berhasil menemui penulis itu, tapi mereka tidak mendapatkan jawaban apapun. Malahan sepulangnya dari sana, Hazel harus menerima kenyataan bahwa August "kembali" sekarat karena kanker-nya datang lagi.

Yang membuat saya menyukai buku ini adalah cara berpikir Hazel dan August yang berbeda, terlihat dari percakapan mereka yang witty. Kisah cinta keduanya pun tidak biasa, tapi romantis menurut saya. Ketika August mulai merasakan The Last Good Day-nya dia malah membuat prefuneral dengan mengundang Isaac dan Hazel membacakan eulogi untuknya. Dan tentu saja eulogi Hazel membuat saya menangis.

I can’t talk about our love story, so I will talk about math. I am not a mathematician, but I know this: There are infinite numbers between 0 and 1. There’s 0.1 and 0.12 and 0.112 and an infinite collection of others. Of course, there is a bigger infinite set of numbers between 0 and 2, or between 0 and a million. Some infinities are bigger than other infinities. A writer we used to like thaught us that. There are days, many of them, when I resent the size of my unbounded set. I want more numbers than I’m likely to get, and God, I want more numbers for Augustus Waters than he got. But, Gus, my love, I cannot tell you how thankful I am for our little infinity. I wouldn’t trade it for the world. You gave me a forever within the numbered days, and I’m grateful.
 Whoaa.. saya berharap banget ada penerbit di Indonesia yang mau menerjemahkan buku ini. Buku ini tidak hanya menjadi inspirasi bagi penderita kanker, tapi juga bagi semua orang dalam memahami arti kehidupan.


#104 Breakfast at Tiffany's


Judul Buku : Breakfast at Tiffany's
Penulis : Truman Capote
Halaman : 97 (ebook)
Penerbit : Penguin Classic

Tema baca bareng BBI bulan Agustus adalah membaca salah satu buku dari daftar "1001 books you must read before you die"Daftar ini dibuat oleh beberapa kritikus sastra di seluruh dunia dan dikompilasi oleh Peter Boxall, seorang professor di Sussex University. Bukunya sendiri sudah diterbitkan pada tahun 2006 dengan judul yang sama. Dari 1001 buku itu, saya memilih satu judul novella yang sudah sangat terkenal, Breakfast at Tiffany's karya Truman Capote.

Breakfast at Tiffany's menceritakan tentang kehidupan seorang wanita sosialita  (berumur 18-19 tahun) bernama Holly Golightly dari sudut pandang seorang pria (narator tanpa nama) yang dipanggil dengan sebutan "Fred" oleh Holly. Fred sendiri adalah nama saudara laki-laki Holly yang sangat disayanginya. Holly tinggal di apartemen yang sama dengan si narator di Manhattan's Upper East Side. Holly tidak punya pekerjaan, tetapi kehidupannya sangat sibuk dari satu pesta ke pesta lainnya. Siapa Holly sebenarnya adalah misteri bagi sesama penghuni apartemen itu. Holly membuat kartu namanya dengan tulisan "Holiday Golightly : Travelling". Entah maksudnya apa, yang pasti pekerjaannya bukan sebagai treveler.

Holly kemudian mulai menjalin persahabatan dengan narator ketika suatu malam Holly masuk ke dalam apartemennya lewat pintu darurat. Sedikit demi sedikit kehidupan Holly terbuka, mulai dari kekasih-kekasihnya, impiannya maupun masa lalunya.  Salah satu kisah masa lalu Holly terkuak ketika suaminya (Doc Golighty) datang mencarinya. Holly sebenarnya bernama Lulamae, dan menikah dengan Doc ketika berusia 14 tahun.Suatu waktu Lulamae meninggalkan rumah dan tidak pernah kembali lagi. Selama lima tahun suaminya mencari dia, dan ketika menemukannya Holly menolak untuk kembali kepada suaminya.

Ceritanya cepat dan datar. Saking datarnya, sampai akhir novella ini saya merasa tidak menemukan apa-apa selain kisah hidup Holly yang glamour dan penuh intrik. Saya penasaran, kenapa kisah ini dimasukkan dalam daftar buku yang harus dibaca sebelum mati? Apa istimewanya? Akhirnya saya mencoba mencari jawabannya di internet, dan menemukan situs ini. Di sana, dibahas bab per bab maksud dari novella ini. Saya akan mencoba menuliskan sedikit yang bisa saya dapatkan dari sana.

Novella ini menceritakan mengenai stabilitas versus kebebasan. Dua tokoh utama (Holly dan narator) mencerminkan keinginan yang bertolak belakang. Narator adalah orang yang hidupnya berusaha untuk stabil (punya apartemen yang nyaman, pekerjaan yang tetap) sementara Holly selalu mencari kebebasan (lari dari rumahnya, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mengikuti pesta-pesta, bergaul dengan banyak pria). Keduanya punya pandangan berbeda mengenai "rumah".

For Holly, the distinction between stability and freedom is articulated by two of the novella's major symbols: animals (including Holly's cat) and Tiffany's (in which Holly feels properly "at home"). Holly despises the caging of animals, and refuses to name her cat. As a "wild thing", she feels he doesn't "belong" to her. Her fantasy that one day she will have, "breakfast at Tiffany's," an absurdity since Tiffany's does not serve food, indicates her choice to avoid stability by casting it in the unattainable ideals of fantasy.
 Hal lain yang bisa dijumpai dalam novella ini adalah berbagai macam jenis hubungan yang dijalani Holly. Bersama Rusty Trawler, Holly digambarkan sebagai seorang yang perhatian terhadap pria yang lebih muda darinya. Bersama Jose, Holly mencukupi kebutuhan seksualitasnya. Bersama Mag (teman wanitanya), Holly adalah teman berbagi apartemen dan kehidupan sosial. Bersama Berman, Holly mencapai impiannya menjadi aktris. Bersama Doc Golightly, Holly mendapatkan perlindungan dan makanan. Bersama narator (btw, si narator ini dianggap gay oleh Capote), Holly mendapatkan persahabatan. Kehidupan Holly digambarkan oleh Truman Capote mewakili beberapa gambaran masyarakat Amerika pada waktu itu (tahun 1958, saat novella ini diterbitkan) dengan berbagai kebutuhan atas suatu hubungan.

Salah satu ciri literatur dari Barat pada waktu itu adalah tokohnya yang digambarkan memiliki karakter bebas, liar, dan sedikit misterius (bandingkan dengan tokoh-tokoh novel klasik lainnya). Holly Golightly mewakili semua karakter tersebut. Mungkin itu maksudnya di kartu nama Holly dituliskan "travelling", karena dia adalah gambaran dari kebebasan hidup.


So, walaupun saya sendiri tidak bisa menemukan "pentingnya" buku ini untuk dibaca sebelum mati, tapi kalau merunut ke studi literatur yang saya dapatkan, jelas bahwa novella ini berpengaruh di daerah Amerika sana. Novella ini kemudian lebih terkenal lagi ketika diadaptasi menjadi sebuah film komedi romantis dengan judul yang sama, yang menampilkan Audrey Hepburn dengan black longdress dan pipa panjang-nya. Film Breakfast at Tiffany's mendapatkan penghargaan Academy Award untuk kategori Musik Asli Terbaik dan Lagu Terbaik. Ohya, kata beberapa teman yang pernah membaca novella ini, lebih pas lagi kalau dibacanya sambil mendengarkan lagu Breakfast at Tiffany's dari Deep Blue Something.