~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Graphic Novel. Show all posts
Showing posts with label Graphic Novel. Show all posts

#492 Sang Putri dan Sang Pemintal


Judul Buku : Sang Putri dan Sang Pemintal
Penulis : Neil Gaiman
Halaman : 68
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Pernah membaca/mendengar kisah Putri Salju dan Putri Aurora? Atau mungkin menonton fimnya baik versi kartun Disney, maupun yang diangkat ke layar lebar? Ada baiknya menyiapkan hati dan diri sebelum membaca buku Sang Putri dan Sang Pemintal ini. Dijamin dongeng masa kecilmu tidak akan sama lagi.
Sebab ini versi cerita Neil Gaiman, dan kata Neil Gaiman, "Kalian tidak butuh pangeran untuk menyelamatkan kalian. Saya tidak begitu suka cerita-cerita yang wanita-wanitanya diselamatkan pria."
Sinopsis di sampul belakang buku ini saja sudah memancing rasa penasaran. Kisahnya dimulai dengan kehadiran 3 kurcaci yang hendak menghadiri pesta pernikahan seorang Ratu. Di perjalanan, mereka mendengar kabar ada wabah tidur di kerajaan yang paling dekat dengan kerajaan sang Ratu. Sepertinya wabah ini berhubungan dengan sihir. Seorang putri tertidur, dan rakyatnya ikut tertidur.

Sementara itu, sang Ratu sedang mempersiapkan pernikahannya dengan seorang pangeran. Ketika mendapat laporan tentang wabah itu dari ketiga kurcaci, rasa penasarannya bangkit. Dia mempersiapkan diri untuk perjalanan ke kerajaan di seberang gunung itu. Ketiga kurcaci yang menemaninya meyakinkan Sang Ratu tidak akan terkena dampak wabah itu. Toh Sang Ratu pernah tidur selama setahun, dan bisa bangun kembali.

Perjalanan pun dimulai. Ada banyak kejadian mistis yang ditemui. Suatu kali Sang Ratu hampir menyerah dengan kantuk, dan dia minta kepada seorang kurcaci untuk menusuk jarinya dengan duri mawar. Ketika tiba di istana yang dipenuhi dengan rumpun bunga mawar, yang dijumpainya di sana sangat berbeda dengan yang diharapkannya.
Ada piihan, selalu ada pilihan 
Buku ini adalah buku ber-ilustrasi kedua dari Neil Gaiman yang saya baca. Saya bukan fans beliau, saya memilih membaca buku ini juga karena melihat jumlah halamannya yang sedikit. Menurut beberapa teman, karya-karya Neil Gaiman sering diwarnai dengan twist yang mengejutkan. Dan begitupun di dalam buku ini. Alih-alih menjumpai seorang pangeran yang membangunkan si Putri Tidur, Sang Ratu lah yang mencium dan menghembuskan nafas ke mulut Putri Tidur (dan ohya FYI, ini bukan LGBT version dari Sleeping Beauty ya). Tetapi, ketika si Putri Tidur terbangun dia menjumpai tatapan mata Si Putri yang sama dengan sorot mata Ibu Tiri-nya. Di sini saya baru menyadari, Sang Ratu adalah Putri Salju.

Mungkin buku ini adalah retelling Sleeping Beauty dan Putri Aurora yang terbaik yang pernah saya baca. Tokoh-tokoh di dalam buku ini yang didominasi perempuan masing-masing punya kekuatan karakter. masing-masing melakukan pilihan yang akan menentukan jalan hidup mereka. Bahkan Perempuan Tua yang tinggal bersama Putri Tidur juga memiliki pilihan ketika benang pemintal ada di tangannya. Buku ini ingin mengatakan bahwa pilihan selalu ada untuk dipilih.  Pilihan untuk mengambil kehidupan atau pilihan untuk menjalani kehidupan. Pilihan untuk kembali atau pilihan untuk terus berjalan.



#489 Bagai Bumi Berhenti Berputar


Judul Buku : Bagai Bumi Berhenti Berputar
Penulis : Clara Ng
Halaman : 124
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Apakah arti mati? Mengapa kakak tidak dapat berjalan? Mengapa Mama berpisah dengan Papa? Mengapa adik harus dirawat di rumah sakit? Kenapa aku harus pindah rumah ke tempat yang asing?


Anak-anak tidak lepas dari emosi negatif, seperti duka, shock, sedih, dan malu. Peristiwa yang menguras emosi bisa saja terjadi di dalam keluarga mana pun. Sebagai orangtua kita tak boleh mengabaikannya, menganggap peristiwa yang sangat emosional ini sebagai hal yang harus ditutupi, tak perlu diungkapkan atau dibesar-besarkan. Orangtua wajib memberikan sandaran dan dukungan bagi mereka.

Ada 5 cerita pendek bergambar yang mengajarkan tentang empati pada anak. Sasaran buku ini adalah anak berumur minimal 7 tahun, dan tentunya perlu bimbingan orang tua saat membaca buku ini.

Pohon Harapan
Kisahnya tentang seorang anak laki-laki yang mempunyai adik perempuan yang menderita kanker. Dia melihat kesedihan orang tuanya, dan bertanya-tanya apa kanker itu. Orang tuanya menjelaskan bahwa kanker itu semacam virus yang menyerang tubuh adiknya. Adiknya akan kesakitan dan selalu bertemu dokter. Tetapi si anak diminta untuk berharap dan percaya adiknya akan sembuh.
Kepala Adik sekarang memang beda, tapi hati Adik tetap sama

Seribu Sahabat Selamanya 
Setahun lalu Yuli dan keluarganya harus pindah ke luar negeri, dan itu membuat Yuli sedih. Dia menangis karena akan meninggalkan banyak hal. Dia tidak mau pindah. Tetapi Ayah menjelaskan kalau dia tidak akan kehilangan teman-temannya.
Ayah bilang dia mempunyai seribu teman dari berbagai tempat di seluruh dunia.

Kerlip Bintang di Langit
Tadi pagi Pipi kehilangan bundanya. Bunda meninggal dunia. Kemana bunda pergi? Apa Pipi boleh ikut? Semua orang menangis, dan Pipi bingung mau bertanya pada siapa. Untunglah Ayah datang dan memberi penjelasan pada Pipi. Dan bintang di atas sana menandakan Bunda baik-baik saja.
Yang bisa kita lakukan adalah mengenang semua kebaikan hati Bunda, mengenang kegembiraan yang diciptakan Bunda di keluarga kita.

Jangan Lupa Aku Mencintaimu
Tengah malam Donna terbangun, dia melihat Daniel adiknya bersembunyi. Daniel ketakutan mendengar ayah dan ibu bertengkar. Besoknya, Donna mendapatkan penjelasan bahwa Ayah dan Ibu tidak bersama lagi. Perpisahan orang tua mereka bukan karena kesalahan Donna dan Daniel.
Kami tetap orang tuamu, mencintai dan menjagamu

Yang Paling Istimewa
Kakak Nico, Mila, berbeda dengan anak-anak yang lain. Mila hanya memiliki satu kaki. Itu membuat Nico sedih. Teman-teman Nico sering melihat Mila dengan tatapan aneh. Nico jadi malu. Ibu menjelaskan bahwa teman-teman Nico sebenarnya ingin tahu ada apa dengan Mila. Meski fisiknya berbeda, dalam hal lain Mila tetap sama dengan teman-teman Nico.
Di luar berbeda, tapi di dalam tetap sama

Saya terharu membaca buku ini. Seringkali kita susah menjelaskan pada anak mengenai kesedihan, kehilangan, penderitaan dan hal-hal seperti itu, denga cara yang bisa dipahami oleh anak. Buku ini istimewa karena bisa membantu orang tua menjelaskan hal itu pada anak, dan tentunya bagaimana seorang anak harus bersikap ketika mengalaminya.





#477 Bundel Berbagi Cerita, Berbagi Cinta


Judul Buku : Bundel Berbagi Cerita, Berbagi Cinta
Penulis : Clara Ng
Halaman : 171
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Tujuh cerita lucu dan menggemaskan dengan gambar-gambar penuh warna dan ceria membawa si kecil terbang menuju dunia imajinasi dan fantasi. Ada kisah Pascal si Singa yang mencoba gaya rambut baru, Benji si Singa Laut yang sakit gigi, hingga cerita keluarga Kuda Nil yang ingin pergi ke pantai. Mari berbagi dan bacakan cerita-cerita lucu ini kepada anak-anak. 

#354 Sepeda Merah #2

Judul Buku : Sepeda Merah #2 : Bunga-Bunga Hollyhock
Penulis : Kim Dong Hwa
Halaman : 176
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Jika di buku Sepeda Merah #1 lebih banyak dikisahkan tentang si tukang pos, maka kali ini di buku #2 banyak berkisah tentang penduduk desa Yahwari. 

#353 Sepeda Merah #1


Judul Buku : Sepeda Merah #1 : Yahwari 
Penulis : Kim Dong Hwa
Halaman : 144
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Setelah membaca serial Warna karya Kim Dong Hwa, saya jadi tertarik untuk membaca Sepeda Merah. GPU sendiri sudah menerjemahkan dua seri-nya. Untuk buku #1 ini, cukup lama saya cari-cari sampai akhirnya seorang teman menemukannya di sebuah online shop di Medan. Karena memang berniat mengoleksi, maka saya langsung membelinya. 

#260 Trilogi Warna


Judul Buku : #1 Warna Tanah, #2 Warna Air, #3 Warna Langit (Trilogi Warna)
Penulis : Kim Dong Hwa
Halaman : 320, 320, 322
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Ketika tema posbar ditentukan awal tahun ini, dan saya melihat pada bulan November ada pilihan tema novel graphis, saya sudah membayangkan akan membaca karya dari Kim Dong Hwa. Tadinya saya ingin membaca serial Sepeda Merah. Tapi sampai sekarang saya belum dapat buku pertama dari serial itu. Kemudian Lulu dan Dhila dari BBI Joglosemar menemukan serial Warna dengan harga murah, saya langsung menyambar tawaran mereka. Masing-masing buku hanya seharga IDR 15K. Murah kan?

#229 Alvin Ho : Alergi Pada Anak Perempuan, Sekolah, Dan Hal-Hal SeramLainnya


Judul Buku : Alvin Ho : Alergi Pada Anak Perempuan, Sekolah, Dan Hal-Hal Seram Lainnya (Alvin Ho #1)
Penulis : Lenore Look
Halaman : 186
Penerbit : Atria
Usia Kelayakan Baca : 10 tahun


Ini adalah jurnal milik Alvin Ho. Alvin adalah seorang anak yang takut pada banyak hal (terowongan, elevator, guntur, kegelapan, dan masih banyak lagi). Tetapi yang paling ditakuti oleh Alvin adalah sekolah. Sebelum bersekolah, Alvin adalah seorang superhero. Dia adalah si Manusia Petasan (Firecracker Man). Tetapi sejak bersekolah, waktunya untuk menjadi superhero menjadi berkurang.

#171 The True Story of the Three Little Pigs



Judul Buku : The True Story of The Three Little Pigs
Penulis : Jon Scieszka & Lane Smith (Illustrator)
Halaman : 32
Penerbit : Puffin


Ketagihan dengan tulisan Jon Scieszka, saya pun mencari beberapa ebook karya penulis yang juga adalah seorang guru ini. Dan akhirnya saya menemukan satu buku yang lucu. Maafkan saya kalau kali ini saya menulis spoiler (lha.. bukunya hanya 32 halaman :mrgreen: ). Kali ini adalah kisah tentang Serigala dan Tiga Babi Kecil, tapi diceritakan dari sudut pandang si Serigala (yang punya nama Alexander T. Wolf).  Selama ini kita tahu dongeng ini dari sudut pandang para Babi.  Ada baiknya kita melihat kisah ini dari sudut pandang yang berbeda, demi keadilan di negeri dongeng :D

Jadi ceritanya, Wolf sedang membuat kue untuk neneknya. Tapi dia kehabisan gula. Wolf kemudian pergi meminta gula ke tetangganya, sebut saja Babi 1. Dengan sopannya, Wolf mengetuk pintu, tetapi tidak ada yang menyahut. Tiba-tiba Wolf bersin.... dan rumah Babi 1 yang terbuat dari jerami langsung hancur. Di tengah gundukan jerami, Babi 1 tewas dengan posisi nungging. Kebetulan Wolf belum makan malam, dan dia bukanlah seorang yang menyia-nyiakan makanan yang tersedia. " Think of it as cheeseburger ", katanya.

Karena masih membutuhkan gula, Wolf berjalan lagi menuju rumah Babi 2 yang tidak jauh dari situ. Entah kenapa di rumah Babi 2 yang terbuat dari kayu, Wolf kembali bersin. Hmm.., bisa jadi karena udara dingin, atau mungkin dia alergi babi kali ya.... Sama seperti sebelumnya, Babi 2 mati nungging di tengah tumpukan kayu. Dan Wolf makan malam untuk kedua kalinya.

Masih membutuhkan gula, Wolf pergi ke rumah Babi 3 yang terbuat dari bata. Babi 3 ini agak kurang ajar menurut Wolf, karena selain tidak mau berbagi gula, si Babi 3 juga menghina nenek Wolf. Wolf jadi marah dan berusaha mendobrak rumah Babi 3. Well.. kisah selanjutnya seperti yang sudah anda semua ketahui. Sayangnya, pada saat itu ada wartawan yang berada di dekat TKP. Bayangkan, kisah Wolf pergi mencari gula tentunya nggak sehebat kisah Wolf memakan Babi, tetangganya bukan?

Demikianlah kisah Wolf yang berusaha memperbaiki pandangan dunia terhadap dirinya yang sudah "terlanjur buruk". Sekali lagi, Jon Scieszka mengajak pembacanya untuk melihat dunia dongeng dari sudut pandang yang berbeda. Toh dongeng itu ada untuk menghibur kan? Tapi buku ini menyimpan pertanyaan, apakah Wolf benar-benar jahat? Silahkan menilai sendiri :D



#170 The Stinky Cheese Man: And Other Fairly Stupid Tales


Judul Buku : The Stinky Cheese Man : And Other Fairly Stupid Tales
Penulis : Jon Scieszka & Lane Smith (Illustrator)
Halaman : 51
Penerbit : Viking Juvenile
Kelayakan Baca : 8 tahun ke atas

Peringatan : Buku ini bisa membuat anda tertawa terbahak-bahak. Sebaiknya masuk ke dalam kamar, tutup pintu dan nikmati buku ini seorang diri. Segala resiko silahkan tanggung sendiri. :D

Peringatan di atas tidak mengada-ada. Soalnya saat saya membaca buku ini di laptop di sela-sela mengerjakan tugas kuliah, saya benar-benar ketawa sampai sakit perut. Suami saya heran, tugas kuliah macam apa yang bisa membuat saya tertawa. Okey, saya ceritakan sedikit tentang buku ini.

Alih-alih sebagai Fairy Tales, sembilan kisah dalam buku ini adalah fairly (stupid) tales. Semacam parodi dari dongeng-dongeng yang sudah terkenal di dunia. Sudah jadi parodi saja sudah lucu, ditambah lagi susunan di bukunya yang tidak biasa. Kadang narator tiba-tiba masuk ke dalam kisahnya. Ditambah ilustrasi gambar yang sedikit aneh, lengkaplah uniknya buku ini. Kesembilan kisah itu adalah : Chicken Licken, The Princess and The Bowling Ball, The Really Ugly Duckling, The Other Frog Prince, Little Red Running Shorts, Jack's Bean Problem, Cinderumpelstilskin, The Tortoise and The Hair, dan The Stinky Cheese Man.

Saya kasih bocoran satu cerita ya... (pasti tahu deh dongeng aslinya kayak apa)

Once upon a time there was a mother duck and a father duck who had seven baby ducklings. Six of them were regular-looking ducklings. The seventh was a really ugly duckling. Everyone used to say, "What a nice looking bunch of ducklings - all except that one. Boy, he's really ugly".
The really ugly duckling heard these people, but he didn't care. He knew that one day he would probably grow up to be a swan and be bigger and look better than anything in the pond.
Well, as it turned out, he was just a really ugly duckling. And he grew up to be just a really ugly duck.

The End.
 Sudahlah. Cukup satu cerita. Soalnya cerita lainnya rata-rata sependek cerita di atas kok :D Saya benar-benar menyukai buku ini (sampai berpikir harus mencari versi printed-nya). Saya tidak berusaha mencari tahu apa pesan moral dari parodi dongeng ini. Ngapain juga, toh buku ini tidak mau mengajak kita berpikir kok. Eh, tapi bisa jadi buku ini mengajak kita untuk tidak terlena dengan dongeng kan?



#102 The Day I Swept My Dad For Two Goldfish


Judul Buku : The Day I Swept My Dad For Two Goldfish
Penulis : Neil Gaiman 
Halaman : 64 (ebook)
Penerbit : Harper Collins

Siapa yang pernah berpikir ingin bertukar salah satu anggota keluarga kita yang tidak begitu kita sukai dengan orang lain? Well, saya pernah. Waktu kecil dulu, kalau saya sedang bertengkar dengan kakak atau adik saya seringkali ingin menukar mereka dengan kakak atau adik yang "sayang" pada saya :D Itu pemikiran saya waktu masih kecil dulu.

Ternyata Neil Gaiman mengalami hal yang sama. Suatu waktu anaknya ingin menukar dirinya dengan ikan mas, hanya karena saat itu anaknya marah karena disuruh tidur oleh Gaiman. Maka dibuatlah cerita pendek yang kemudian disempurnakan oleh Dave McKean dengan ilustrasinya yang indah.

Seorang anak laki-laki sedang bermain dengan adik perempuannya, sementara ayahnya asyik membaca koran. Karena mulai jenuh, dia menganggap ayahnya membosankan karena tidak bisa bermain dengannya ketika sudah memegang koran. Datanglah Nathan, temannya membawa sebuah akuarium dengan dua ikan mas. Anak laki-laki ini tertarik, dan sesaat kemudian dia menukar ayahnya dengan kedua ikan mas tadi.

Ketika ibunya pulang dan mencari ayahnya, si adik perempuan melaporkan perbuatan kakaknya pada sang ibu. Ibunya kesal, dan segera menyuruh mereka untuk menukar kembali kedua ikan mas tadi dengan sang ayah. Ternyata Nathan sudah menukar ayah mereka dengan gitar listrik milik Vashti :D Maka dimulailah perjalanan mereka mencari ayah yang sudah ditukarkan dengan beberapa barang lainnya.

Cerita yang singkat tapi menyegarkan. Idenya betul-betul kreatif, gambarnya menarik,  dan saat saya membacanya saya tidak berhenti tertawa. Kenangan masa kecil saya terbayang kembali. Neil Gaiman benar-benar jenius dengan membuat buku ini. Walaupun buku ini ditujukan untuk anak-anak, tapi saya menganggap pesan moralnya bisa diterima oleh semua kalangan usia.

Lalu apa pesan moralnya? Saya kira kita semua menyadari bahwa apapun yang telah diberikan Tuhan kepada kita adalah untuk kebaikan kita sendiri, terutama keluarga. Terkadang kita merasa keluarga kita tidak menyayangi kita atau hanya melakukan apa yang disukainya tanpa memperdulikan kita. (seperti ayah yang hanya membaca koran), tetapi keluarga adalah hal yang sangat bernilai dan tidak mungkin ditukarkan dengan apapun :)

#30 Sam Bennett's New Shoes


Judul Buku : Sam Bennett’s New Shoes
Penulis : Jennifer Thermes
Halaman : 32
Penerbit : Carolrhoda Books Inc.

Pada tahun 1600-an hingga 1700-an para petani di Amerika memiliki kepercayaan unik. Mereka percaya bahwa ada arwah-arwah yang sering datang mengunjungi rumah mereka. Untuk mencegah arwah itu masuk ke dalam rumah, mereka menyimpan sepatu bekas milik anak mereka di beberapa tempat yang bisa menjadi jalan masuk arwah itu, misalnya di cerobong asap atau dekat jendela. Mereka percaya bahwa ketika arwah melihat sepatu bekas tersebut, arwah ini akan pergi karena menganggap rumah yang mereka datangi sudah ditinggalkan oleh pemiliknya. Walaupun sepatu yang disembunyikan umumnya sepatu anak-anak, akan tetapi ditemukan juga beberapa sepatu orang dewasa.

Sam Bennet adalah anak pertama dari seorang petani. Suatu hari ayahnya membelikan sepatu baru untuknya. Sepatu lamanya kemudian disimpan oleh ayahnya di dekat cerobong asap. Untuk keberuntungan, kata ayahnya. Sepatu baru Sam agak kebesaran, tapi Sam tetap memakainya. Seiring pertumbuhannya, Sam menganggap sepatu baru itu membawa keberuntungan baginya.  Dengan sepatu barunya Sam bisa membantu ayahnya bertani, memberi makan babi, mengambilkan air dari sumur tanpa tertumpah untuk ibunya, dan mencukur bulu domba.

Setahun berlalu, sepatu Sam mulai sempit. Ayahnya yang melihat betapa Sam rajin membantu selama ini, memutuskan untuk membelikan sepatu baru lagi untuk Sam. Kali ini sepatunya berbentuk boot, seperti orang dewasa. Sepatu lama Sam diwariskannya ke adiknya Caleb yang sangat gembira mendapatkan sepatu baru. Seterusnya, sepatu itu berpindah tangan setiap tahun kepada adik-adiknya. Sampai akhirnya sepatu itu benar-benar rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Sepatu itu disimpan di loteng dan terlupakan.

Ketika Sam dewasa, menikah dan mempunyai seorang anak, Sam hendak membangun kamar kecil untuk anaknya di loteng. Sam menemukan sepatu tua itu, dan teringat tradisi ayahnya. Sam menyimpan sepatu tuanya di dekat jendela untuk menjaga rumahnya dan untuk keberuntungan. Sam berjanji, suatu saat nanti dia akan menyimpan sepatu bekas milik anaknya.

Tidak ada informasi mengapa hanya sepatu anak-anak yang disembunyikan. Hanya sedikit informasi mengenai kepercayaan ini, mungkin karena budaya ini bukan merupakan budaya asli penduduk, tapi dibawa oleh para pendatang dari Inggris. Ketika penulis buku ini, Jennifer Thermes, menemukan beberapa sepatu anak-anak bekas di rumah tua yang ditempatinya, dia  mulai membuat sebuah cerita tentang Sam Bennett. Menurut Jennifer, anak-anak adalah simbol dari harapan dan impian akan masa depan. Menyembunyikan sepatu anak-anak sama halnya menyimpan harapan dan impian akan masa depan.



PS. Postingan untuk Name In A Book Challenge 2012

#28 The House on Dirty-Third Street


Title:  The House on Dirty-Third Street
Writer:  Jo S. Kittinger
Page(s) : 32
Publisher:  Peachtree Publishers

A little girl and her mother are moving to the new house. The little girl seems disappointed with the house, since it looks dirty so she changes the name of the street (Thirty-Third to Dirty-Third). Mom tries to convince her that this house is perfect. But she said it horrible.

So, they start to move trash out from that house. They do it all alone. There are no neighbors ready to help. Until they get tired, and began to doubt about their decision to bought that house. Sitting in the floor, they looked back about their dream house. They miss their old neighbors and friends from church.

At Sunday, the little girl goes to the nearest church.  In Sunday school, she asks to be prayed about their new house, about their loneliness. Right after they back home, some people from that church come to visit and help them to clean the house. And somehow, it’s not a Dirty-Third Street anymore.
Try looking at it through the eyes of faith.
 That’s the moral story of this book.  Sometimes a reality is not in the line with our dream.  You need to hang on to your dream so you can enjoy the adventure about the new life. You should pray to the God for His help. And sometimes the help is beyond our imagination. Like in this story, when the little girl asked just for the faith, God send them new friends to going through.

 I got the copied of this e-book from NetGalley to be reviewed.  About the illustration, I think I didn’t like it.
It was a real photograph and modified by computer software. I love the old style of graphic book that made by hand.

Update :

I've got a email from Tom Gonzales, the illustrator of this book. He tell me that the picture is not a computer modifed, but real hand made. Below is his statement :

Hi, I'm the illustrator for The House on Dirty Third, and believe me, these are hand drawn. each of these illustrations, for the most part, took about 40 hours each to complete. The idea was to give them a gritty feel to them. I have a very keen eye for detail, I was a big fan of japanese illustrator back in the 70's and 80's.
Some of the models were made up with certain people in mind. I'm a portrait painter and can capture expressions very well. But I did wanted to send you my response to your posting on this. I've worked extremely hard to make these as "real" life as possible to reflect on the often-time futility of situations that seem bleak and frame them as a moment of despair without realizing that around the corner, there's something positive.
Anyhow, I was cruising the net and ran into your posting. Thanks for any feedback and I do appreciate the fact that you looked through the book. it was a very exciting project for me as I too lived once in a run down neighborhood when I lived in Cuba back in the 70's.

#17 Go The F**k to Sleep


Judul Buku : Go The F**k to Sleep
Penulis : Adam Mansbach (illustrasi oleh Ricardo Cortés)
Halaman : 18
Penerbit : Akashic Book

Suatu waktu, kamu diminta untuk menidurkan seorang anak kecil. Tapi si anak susah banget disuruh tidur. Entah si anak mau main, matanya belum mengantuk, minta dibacain cerita, atau berbagai hal yang membuat dia masih segar. Pernah mengalami kejadian itu?

Adam Mansbach menuliskannya dalam buku puisi bergambar dengan judul Go the F**k to Sleep (sebenarnya judulnya ditulis dengan lengkap seperti di gambar di atas). Buku ini menceritakan tentang kekesalan seorang ayah yang anaknya ga mau tidur padahal hari sudah malam. Dan ketika si ayah yang menyerah, akhirnya anaknya pergi tidur. Si ayah yang tadinya mau nonton film dengan si ibu senang anaknya tidur. Dia menyiapkan popcorn dan mendapati si ibu sudah tertidur di sofa.

Adam menulis buku ini ketika putrinya Vivian, yang waktu itu berumur 2 tahun, membutuhkan waktu yang lama untuk pergi tidur. Saat dia memunculkannya di account facebook miliknya, cerita ini langsung mendapat respon dari teman-temannya termasuk Ricardo Cortés yang menjadi illustrator untuk buku ini.

Ebook ini saya peroleh di library.nu, dalam format pdf. Walaupun penuh gambar seperti buku ceritapengantar tidur untuk anak-anak, buku ini sama sekali tidak ditujukan buat anak-anak. Kalau Amazon menggolongkannya sebagai a children's book for adults. Soalnya di setiap bait puisinya selalu terselip kata yang terdiri dari empat huruf itu. Saat saya membaca buku ini, saya tersenyum membayangkan kejadian tersebut. Saya sendiri kalau diminta untuk menidurkan anak kecil (yang notabene belum mau tidur) sering kesal dan akhirnya menyerah.

Ebook-nya berbahasa Inggris ini sangat menghibur. Total ada 14 puisi di dalamnya, dengan kata-kata sederhana yang mudah dipahami. Lima bintang buat ebook ini.


#11 Talk About Hape


Judul Buku : Talk About Hape
Penulis : Benny & Mice
Halaman : 106
Penerbit : Nalar


Benny & Mice. Duo komikus ini adalah komikus Indonesia favorit saya. Saya nyaris tidak pernah melewatkan membaca komik mereka di koran Kompas setiap hari Minggu. Bahkan ketika saya kesulitan mendapatkan korannya, tidak jarang saya bergegas mengakses internet untuk membaca Kompas Minggu demi Kartun Benny & Mice.

Saya punya beberapa koleksi buku komik mereka sebelum mereka berpisah. Ada Jakarta Luar Dalem, Jakarta Atas Bawah, Lost in Bali 1 & 2, 100 Tokoh  yang Mewanai Jakarta, dan Talk About Hape. Di antara beberapa buku itu yang paling saya sukai adalah Talk About Hape.

Ini sebenarnya buku lama. Saya saja membelinya pada bulan April 2008. Setelah bertengger lama di sudut rak buku saya, semalam saya mencoba membacanya lagi. Dan... masih saja terasa sangat lucu seperti ketika pertama kali membacanya.

Hape atau handphone atau telepon seluler atau telepon genggam. Saat buku ini dikeluarkan mungkin masih tergolong barang mewah. Tapi saat ini, hampir setiap orang yang sudah bisa membaca mempunyai hape. Produknya pun beragam mulai dari hape biasa sampai hape pintar atau smartphone. Mulai dari yang hanya bisa GPRS sampai HSDPA.  Mulai dari nada dering monophonic (masih ada ga sih?) sampai yang pake fitur video. Dari yang hanya bisa SMSan dan nelpon, sampai yang bisa internetan dan ngirim email. Komplit.

Tapi dalam buku ini, Benny & Mice lebih menyoroti kelakuan orang-orang yang bersinggungan  hape tersebut. Entah pemiliknya ataupun para provider. Misalnya saja, mereka mengangkat topik orang yang bela-belain ga punya apa-apa demi membeli hape mahal dan pulsanya supaya tetap eksis. Atau sms-sms ucapan selamat hari raya yang di-forward dari satu orang ke orang lain (sampai balik lagi ke pengirim pertama). Pokoknya baca buku ini pasti sambil ketawa dan bilang (dalam hati) "gue banget deh...".

Sayangnya, Benny & Mice sudah "bercerai".  Walau demikian, karya mereka (masing-masing) masih bisa dinikmati. Benny bahkan akan mengeluarkan buku terbaru dengan tokoh Tiga Manula. Bukunya sudah bisa dipesan di sini, atau follow twitternya di @TigaManula. Kalau yang hapenya pake provider  Telkomsel, bisa menukarkan Telkomsel Poin-nya dengan buku ini. 200 poin dapat satu buku gratis. Ada 1000 buku untuk penukaran ini. Saya sendiri sudah memastikan diri sebagai salah satunya. Dan..ohya, ini bukan postingan berbayar ya.. hanya berbagi info saja :)