~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Brahmanto Anindito. Show all posts
Showing posts with label Brahmanto Anindito. Show all posts

#385 Tiga Sandera Terakhir


Judul Buku : Tiga Sandera Terakhir
Penulis : Brahmanto Anindito
Halaman : 316
Penerbit : Noura Books

Sejak membaca Satin Merah, Brahmanto Anindito langsung masuk dalam daftar penulis favorit saya. Jarang ada penulis Indonesia yang setia dengan genre thriller. Begitu mengetahui ada novel terbaru karya beliau ini, saya langsung membelinya. Apalagi cover dan judulnya sudah menarik. 

#212 Rahasia Sunyi


Judul Buku : Rahasia Sunyi
Penulis : Brahmanto Anindito
Halaman : 372
Penerbit : Gagas Media


Nama Brahmanto Anindito cukup untuk membuat saya memilih buku ini sebagai salah satu isi dari buntelan #UnforgotTEN. Saya masih ingat karya duet-nya dengan Rie Yanti (yang ternyata sudah menjadi istrinya) berjudul Satin Merah yang bernuansa thriller. Dan pilihan saya tidak salah. Brahmanto masih setia dengan jalur yang tidak begitu populer diantara penulis novel di Indonesia.

Rahasia Sunyi bercerita tentang Lautan Angkasawan (waduh..."berat" ya namanya :D ) yang diberi tugas oleh seorang pria berkebangsaan Australia, Lachlan Fowler,  untuk menyelidiki kematian anaknya, Kirey. Kirey sendiri bukan orang baru bagi Lautan. Kirey adalah mantan kekasihnya yang sudah meninggal dunia 2 tahun yang lalu dalam kecelakaan mobil di Kerinci, Sumatera Barat. Kirey, seorang pencinta alam, yang menyukai daerah asal ibunya, Kerinci. Dalam suatu perjalanan di daerah tersebut mobil yang ditumpanginya terbalik. Kirey meninggal kehabisan darah setelah mencoba mengamputasi sendiri kakinya yang tertimpa runtuhan mobil. Yang menjadi pertanyaan bagi Mr. Fowler adalah apa tujuan Kirey ke Kerinci? Apa yang dia cari di sana? Pertanyaan itu tidak bisa dijawab oleh kepolisian yang mengurusi kasus kecelakaan tersebut.

Berbekal laptop, pemutar MP3 dan scrapbook hasil karya Kirey yang berat, Lautan mencoba mencari jawaban yang diinginkan oleh Mr. Fowler. Selain rasa penasaran atas kematian Kirey, tawaran honor yang dijanjikan oleh Mr. Fowler membuat Lautan bersemangat. Uang itu nantinya akan dia gunakan untuk membeli obat bagi pacarnya, Tiara,  yang menderita hemofilia. Tiara setidaknya membutuhkan beberapa kali suntikan setiap bulannya yang harganya tidak murah. Ketika Lautan berangkat ke Sumatra, Tiara ditugasi untuk memeriksa laptop milik Kirey. Mungkin ada petunjuk lain dalam laptop ber-password itu.

Di Sumatra, Lautan menginap di rumah pamannya Kirey, Om Inal. Segala keperluannya sudah diurus oleh Mr. Fowler. Ternyata tugas ini tidak mudah dijalankan. Ada saja hambatannya. Sikap tidak bersahabat ditunjukkan oleh mantan supir yang mengalami kecelakaan bersama Kirey. Belum lagi ada paranormal di Kerinci yang tidak suka atas kehadiran Lautan. Ternyata memang ada sesuatu yang "disembunyikan" oleh Kirey di Kerinci. Sejak kecil, Kirey tertarik untuk mengumpulkan logam mulia berupa emas. Sewaktu kelas 3 SD, dia selalu meminta hadiah emas dari orang tuanya. Ibunya yang bekerja di perusahaan BUMN Antam tentu saja bisa memberikan hadiah seperti itu. Tumbuh dewasa, Kirey semakin mendalami seluk beluk tentang investasi emas sampai trading emas. Ketika Kirey meninggal dalam kecelakaan, ayahnya berusaha mencari tahu dimana semua emas milik Kirey yang bernilai milliaran rupiah itu. 

Sebenarnya novel ini tidak murni thriller, karena ada unsur mistis dan supranatural yang dilibatkan di dalamnya. Tidak bisa kita pungkiri bahwa sebagian besar budaya di Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan kepercayaan supranatural. Percaya tidak percaya, selalu ada kisah seperti itu di setiap daerah. Demikian juga di Kerinci. Tapi bagi saya pribadi, hal ini tidak menjadi masalah. Saya malah menjadi semakin tertarik karena Brahmanto menuliskannya dengan apik. Kelebihan lainnya adalah Brahmanto memadukannya dengan berbagai macam teknologi media sosial yang kebanyakan belum pernah saya kenal. Misalnya Quora (situs tanya jawab seperti Yahoo Answer), Google Sparks (bagian dari Google+ yang kayaknya udah ga ada lagi sekarang), dan Trader 9.3.1 (aplikasi internet untuk trading).

Namun bukan berarti novel ini tidak ada kekurangannya. Ada satu hal yang membuat saya bingung ketika membaca novel ini. Di bagian akhir cerita, ketika Tiara berhasil mengungkap misteri dari scrapbook milik Kirey, dia segera menuliskan SMS untuk Lautan. Tapi SMS-nya belum sempat terkirim ketika Tiara harus mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenalnya (halaman 337). Beberapa waktu kemudian ketika Tiara hendak menceritakan mengenai hal itu kepada Lautan, Lautan menyela dengan mengatakan bahwa dia sudah tahu soal misteri scrapbook  itu dari email yang dikirimkan oleh Tiara (halaman 357). Apa ada yang terlewat oleh saya? Mungkin teman-teman yang sudah membaca buku ini bisa menjawabnya.

Saya memberikan bintang 4 untuk novel ini.  Kalau kamu ingin mencoba membaca pengalaman kultural dalam balutan thriller, tidak ada salahnya membaca buku ini.

4 stars

Postingan ini ditulis untuk #UnforgotTEN Project No.4

banner

#3 Satin Merah


Judul Buku : Satin Merah
Penulis : Brahmanto Anindito & Rie Yanti
Halaman : 314
Penerbit : Gagas Media


Nadya, gadis SMA kelas 12, berniat mendalami Sastra Sunda sebagai bahan untuk membuat makalah sebagai salah satu syarat Lomba Siswa Teladan se-Bandung Raya. Untuk itu dia menghubungi beberapa sastrawan Sunda guna berguru kepada mereka.  Tekad Nandya untuk memenangkan lomba ini semata-mata agar semua orang mengakuinya. “Aku cuma ingin jadi signifikan”, ambisi Nandya (yang juga menjadi tagline dari novel ini).

Sastrawan pertama yang dijumpai adalah Yahya Soemantri.  Sastrawan yang mempunyai wawasan luas, kaya pengalaman, dan kemampuan berdeskripsi yang kuat. Sayangnya, Yahya seorang suka mengkritik tanpa mau dikritik, nyaris tidak berperasaan.

Sastrawan kedua adalah Didi Sumpena Pamungkas.  Daya analisanya yang kuat membuat sastrawan ini menggeluti dunia kriminalitas.

Sastrawan ketiga, Nining Tresna Munandar, penulis komersial yang selalu mengutamakan cinta sebagai nafas setiap tulisannya.

Sastrawan keempat Hilmi Harun. Pemburu lomba menulis, kreatif dan kritikus yang aktif.

Keempat sastrawan itu merupakan “alat” bagi Nandya untuk mewujudkan ambisinya.  Nandya berusaha menyerap semua emosi positif dari keempat sastrawan itu. Tetapi tentu saja, ada sisi lain dari mereka yang memancarkan emosi negatif. Emosi negatif yang semakin menyuntik ambisi Nandya. Emosi negatif yang mendorong Nandya melakukan sesuatu lebih dari sekedar berguru. Kematian.

Saya tertarik dengan novel ini setelah membaca resensi dari Mbak Nike. Selanjutnya, saya sampai ke situs salah satu penulisnya, Rie Yanti, yang menceritakan bibit lahirnya novel ini. Mungkin karena genre-nya thriller, saya memutuskan harus membeli buku ini. Sempat tertunda beberapa waktu untuk membaca buku ini setelah membelinya 3 Feb kemarin. Hasil akhir, 4 bintang buat buku ini.

2 bintang pertama, masing-masing untuk penulisnya. Salut sekali, buku ini lahir dari “pertemuan online”. Dan masing-masing mengambil peran dalam lahirnya buku ini. Rie untuk literatur sunda, dan Brahmanto untuk suntikan thriller dan detektifnya. Bintang ke 3, novel ini bukan sekedar novel. Seorang (yang mengaku) penulis wajib membaca buku ini. Setelah Heartblock -nya Okke Sepatumerah, baru buku ini yang saya temukan mau berbagi tentang bagaimana menjadi seorang penulis. Bahkan tips self-publishing diulas dalam novel ini. Bintang 4, walaupun novel, banyak informasi tentang teknologi blog yang bisa didapat dari buku ini. Untuk ceritanya sendiri, tidak membosankan bagi saya. Dengan beberapa kalimat berbahasa Sunda yang bisa dipahami, membuat saya sedikit mengalami rasa rindu pada Bogor