~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Kepustakaan Populer Gramedia. Show all posts
Showing posts with label Kepustakaan Populer Gramedia. Show all posts

#665 How To Kill Your Husband

 

Gagan Haikal ditemukan tewas di sebuah lokasi proyek pembangunan. Mayatnya tergeletak terlentang karena jatuh dari ketinggian ruko yang sedang dibangun. Penyelidikan awal polisi yang dipimpin oleh Bonita Gamal menunjukkan bahwa Gagan Haikal dibunuh. Dengan beberapa barang bukti di TKP, Bonita mencurigai sang istri, Serena Natalegawa, menjadi tersangka pembunuhan suaminya. Dugaan Boni, Gagan selingkuh dengan adik sepupu Serena yang bernama Rania. Sementara itu, Tante Adel yang adalah ibunya Rania, yang juga partner kerja Gagan, berusaha melindungi putri bungsunya. Di sisi lain ada Yudhis, sahabat sekaligus rekan kerja Gagan, yang seakan menyimpan banyak rahasia yang mengganggu Boni. Boni mengumpulkan kesaksian dan barang bukti lainnya untuk mengungkap pelaku pembunuhannya.

Novel ini sudah menarik perhatian dari judulnya. Seperti buku panduan untuk membunuh suami. Tidak sepenuhnya salah, karena di dalamnya ada tulisan dari seorang perempuan bernama Persephone yang memaparkan langkah-langkah menyingkirkan seorang suami yang sudah mengkhianati istrinya. Dengan menggunakan teknik whodunit, penulis membawa pembaca ikut "menyelidiki" dan mengungkap semua bukti sehingga menemukan pelaku. Dikisahkan melalui dua POV (Boni dan Serena), kisah ini terbangun dengan utuh nyaris tanpa cela.

Terlepas dari pembunuhan yang terjadi, ada hal penting yang ingin diungkapkan oleh penulis. Kisah ini didasari dari kisah-kisah lainnya tentang perempuan yang dikhianati oleh pasangannya dan bagaimana mereka bertumbuh dalam menghadapinya. Bukan hanya Serena, Boni juga memiliki masa lalu kelam yang menghasilkan kepahitan di dalam hidupnya. Sebagai perempuan yang tersakiti, keduanya memilih jalannya masing-masing untuk berdamai, terutama dengan diri mereka sendiri.

Ini kali kedua saya membaca karya Aghnia Sofyan. Dan saya tetap menyukai cara penulis menyusun alur dengan cepat tapi rapi. Dengan bonus trivia permainan golf serta (tentunya) panduan menghadapi kehilangan suami, plot twist yang rapi juga menjadi nilai tambah dari novel ini.


How To Kill Your Husband
Aghnia Sofyan
264 halaman
Kepustakaan Populer Gramedia
April, 2025



#664 Highly Unlikely

 

Raya adalah anak sulung dari dua bersaudara. Di rumah, Mama-nya selalu mengajarkan Raya dan adiknya, Rachel untuk memilah sampah dengan baik. Selain itu mereka juga membuat kompos sendiri dan lubang biopori di halaman rumahnya. Sebenarnya hal ini menangani limbah rumah tangga sudah mereka lakukan sejak Papanya masih hidup. Namun sejak kepergian Papanya, Mama semakin ketat mengawasi pengelolaan sampah di rumah. Hal ini membuat Raya sedikit merasa kewalahan. Apalagi Rachel seringkali ingkar dari tanggung jawabnya. Sebagai anak sulung, mau tak mau Raya mengambil alih tugas adiknya.

Sementara itu, karena pandemi masih berlangsung, maka perkuliahan harus dijalani Raya secara daring. Termasuk kali ini dalam mengerjakan tugas penelituan berkelompok. Raya digabungkan dengan Popon dan Kamal, dua sahabatnya. Namun orang keempat yang ada di kelompoknya membuat Raya tidak senang. Bergas adalah orang yang ingin dihindari oleh Raya. Dia punya pengalaman tidak menyenangkan dalam mengerjakan tugas dengan temannya yang juga food vlogger kondang itu. Di semester sebelumnya, Bergas selalu telat mengumpulkan tugas bagiannya, sehingga Raya harus mengambil alih dan mengerjakannya sendiri.

Kalau lagi bingung mau membaca apa, trus ketemu novel yang page turner itu rasanya sangat menyenangkan. Saya suka semua bagian dari novel ini. Pemilihan judulnya juga eye-catching menurut saya. Highly unlikely itu membuat orang akan bertanya-tanya, ada peristiwa apa sih yang akan dibahas dalam novel ini. Meski kondisi pandemi sudah berlalu, tapi pembaca tetap akan relate karena kita semua pernah menjadi bagian dari masa-masa tidak menyenangkan itu. Penelitian yang dikerjakan Raya dan teman-temannya terkait Ilmu Komunikasi bisa dicerna dengan baik oleh pembaca seperti saya yang awam dengan ilmu tersebut. Malah berasa mendapat ilmu baru. Ambisnya Raya tuh kerasa banget. Bersyukur dia punya sahabat seperti Popon dan Kamal yang bisa memahami dirinya yang rada bossy itu.Lalu ada perjalanan enemy-to-lover antara Raya dan Bergas yang bikin senyum-senyum, meringis, juga sedih. Trus yang juga bikin nambah ilmu itu adalah tentang penanganan kompos di rumah Raya. Sampai ada ilustrasi gambarnya juga.

Highly Unlikely
Aghnia Sofyan
256 halaman
Gramedia Pustaka Utama 
April 2024

#658 Katri

 


Katri lahir di desa Trunuh, Klaten. Dia bungsu dari enam bersaudara. Lima kakaknya semuanya laki-laki, sehingga wajarlah Katri menjadi kesayangan keluarga. Suwasno, kakaknya yang paling tua aktif dalam organisasi kepemudaaan Pemoeda Rakjat. Dia punya mimpi besar, petani di kampungnya harus sejahtera. Karena itu dia membuka kelas baca tulis untuk tetangganya. Katri ikut membantu kakaknya. Suatu waktu Katri ditawari oleh Wasno untuk ikut Paduan Suara Lembah Merapi. Paduan suara ini dipimpin oleh seorang pemuda kaya bernama Agus, yang kelak menjadi suami Katri.


Awalnya pernikahan antara Katri dan Agus ditentang keluarga Katri. Pasalnya Agus sudah memiliki istri. Namun karena Katri telah berbadan dua, akhirnya mereka dinikahkan secara Islam mengikuti agama Agus. Kedua orang tua Katri menganut kepercayaan Kejawen, sedangkan kakak-kakaknya Katolik. Setelah menikah, Katri tidak lagi melanjutkan sekolahnya yang kala itu masih SMA. Sayangnya, sekitar lima bulan setelah menikah, di bulan Oktober 1965 kondisi di Klaten memanas. kantor partai tempat suaminya bernaung dibakar. Satu per satu kakaknya menghilang, disusul suaminya yang ikut menyingkir dijemput keluarganya. Tinggallah Karti bersama kakak keduanya Hartono yang tidak tergabung organisasi apapun bersama kedua orang tuanya. Malangnya, rumah Katri juga didatangi tentara. Katri yang sedang hamil 7 bulan, ditembak kepalanya. Beruntung dia tidak mati, peluru membus pipinya dan meremukkan rahangnya. Namun lidahnya masih utuh sehingga dia masih bisa berbicara meski dalam kesakitan.


Maka dimulailah perjalanan panjang Katri. Keluar dari RS Panti Rapih selepas perawatan lukanya dan kelahiran anaknya, Katri dijemput oleh tentara. Dia mengalami penyiksaan interogasi yang panjang, berpindah dari satu penjara ke penjara lainnya. Entah mengapa Katri dinilai sebagai orang penting. Sempat di tahun 1968 dia dibebaskan, namun kemudian terciduk kembali setelah diam-diam dia menemui kakaknya, Wasno. Selain penjara, Katri juga pernah menjadi penghuni Rumah Sakit Jiwa. Katri pun sempat hamil karena dijadikan pelampiasan nafsu penjaga penjara di Jakarta. Selepas penahanannya yang panjang, hidup Katri sebagai eks tapol pun tidak bisa dibilang mudah. Namun Katri menjalaninya dengan setia, tanpa dendam, dan hanya berharap akan masa depan.


Di tengah pemberitaan pencatatan ulang sejarah yang akan dilakukan oleh pemerintah, novel Katri ini mengajak pembaca untuk tidak melupakan apa yang terjadi di masa lalu. Katri adalah saksi hidup seorang eks tapol yang mengalami hal di luar batas kemanusiaan. Novel semi-biografi ini bisa dikatakan menjadi memoar untuk mengenang para korban pembantaian "orang-orang kiri" tahun 1965 di Klaten. Ada banyak orang yang mengalami penyiksaan dan pembunuhan karena dianggap terlibat dengan PKI. Katri adalah salah satu diantaranya. Meski pada dasarnya dia sendiri tidak tahu apa yang dilakukan oleh suami dan kakak-kakaknya, tapi dia menanggung semuanya karena suami dan kakak-kakaknya melarikan diri. Sungguh membaca kisah Katri akan menitikkan air mata.


Novel ini butuh waktu 11 tahun untuk dituliskan, namun kisah Katri akan hidup selamanya.


Katri
Adeste Adipriyanti
264 halaman
Kepustakaan Populer Gramedia
Mei, 2025




#633 Damar Kambang


Chebbhing masih berusia 14 tahun saat acara pernikahannya digelar. Sebelum dirias, Chebbhing diminta menyalakan damar kambang, sebuah pelita yang sumbunya mengambang di atas minyak. Pelita ini memiliki makna yang dalam untuk mengawali rumah tangga. Sayangnya, damar kambang Chebbhing berkali-kali mati. Mungkin itu sebuah pertanda ketidaklancaran acara pernikahannya. Ayahnya menolak pengantin laki-laki yang datang hanya membawa hantaran bantal dan tikar.

Kacong, si pengantin pria merasa terhina. Bukannya dirinya dan keluarganya tak sanggup membawa sebuah rumah sebagai hantaran, hanya saja adat istiadat kampung mereka berbeda. Calon mertuanya bahkan tak mau berunding. Sakrah, paman Kacong, segera bertindak. Dia mencari orang pintar untuk membalaskan dendam itu. Di rumahnya, Chebbhing merasa dirinya bagaikan barang yang ditelantarkan. Pernikahannya batal sebelum dia menginjak tempat resepsi, orang tuanya diam dan pergi mengurusi hal lain. Sayup-sayup Chebbhing mendengar suara memanggil namanya. Dia lantas melarikan diri dari rumah dan pergi menemui Kacong. Kacong menerimanya, membuatnya tinggal di rumah orangtuanya, dan menikmati apa yang seharusnya mereka lakukan jika saja pernikahan itu tidak dibatalkan.

Tapi ayah Chebbhing datang menjemput anaknya dengan paksa. Dia diseret pulang. Berkali-kali Chebbhing melarikan diri, sampai akhirnya dia dipasung dan dirantai. Ayahnya tidak tinggal diam, dia mencari dukun yang mampu menyembuhkan anaknya. Sampai ketika, Ke Bulla, seorang kiai terpandang memberikan pengobatan. Chebbhing akan dinikahkan secara siri sebagai istri ketiga sang Kiai jujungan keluarganya. Tapi pernikahan ini harus dirahasiakan dari khalayak umum. Jangan sampai istri pertama dan kedua Kiai mendengarnya.

Mengulas tradisi pernikahan di Madura, membuat saya tertarik untuk membaca novel ini. Chebbhing , salah satu tokoh dalam novel ini dinikahkan dalam usia belia. Sebagai anak gadis, Chebbhing layak mendapatkan mahar yang mahal. Minimal sebuah rumah untuk tempat Chebbhing dan suaminya tinggal nantinya. Saya setuju dengan sebagian filosofi rumah sebagai hantaran, seperti penjelasan Ibunya Chebbhing . Rumah sebagai simbol kesetiaan, keamanan, bentuk didikan agar lelaki belajar hidup mandiri dan bertanggung jawab sebelum menikah. Ini memang logis dan masuk di akal. Tetapi mengibaratkan seorang anak perempuan sebagai burung yang harus disediakan sangkarnya, agar dia memperoleh batasan-batasan kebebasan, sekligus menjadi hak milik seorang tuan, saya kurang sependapat. Tetapi di kampung Chebbhing , jika hanya bermodalkan bantal dan tikar, akan menjadi cibiran tetangga. Tidak mungkin anak gadis dijual murah kepada calon keluarga suaminya.

Cinta ditolak dukun bertindak. Dunia mistis masih kental dalam novel ini. Kayaknya semua masalah harus diselesaikan dengan bantuan dukun. Sebenarnya bukan hanya kisah Chebbhing dalam novel ini. Masih ada setidaknya dua perempuan lain dengan masalah pernikahan mereka masing-masing, tapi masih terhubung dengan Chebbhing . Yang satu adalah Ibunya Kacong, dan satu lagi adalah istri kedua Kiai. Masalahnya, kisah ketiga perempuan ini masing-masing menggunakan POV orang pertama, tapi tidak ada pembeda antara kisah mereka. Baik itu sekadar huruf atau gaya bahasanya. Jadinya kadang saya bingung, perempuan yang mana bercerita kali ini. Lalu ada lagi muncul "satu orang" bernarasi- ditandai dengan huruf dicetak miring -yang seakan-akan dialah yang menceritakan keseluruhan kisah dalam Damar Kambang ini.

Saya kurang puas dengan akhir kisah dalam novel ini. Rasanya masih banyak persoalan yang belum dibereskan, dan masih banyak pertanyaan belum terjawab. Meski pada akhirnya damar kamang milik Chebbhing menyala dengan sempurna di rumahnya.

Damar Kambang
Masyari Muna
208 halaman
Kepustakaan Populer Gramedia
Desember, 2020


 

#607 Kekasihku


Tanggal 28 April merupakan Hari Puisi Nasional. Tanggal yang sama dengan wafatnya seorang penyair kenamaan Indonesia, Chairil Anwar. Beliau disebut-sebut sebagai perintis puisi kesustraan Indonesia, khususnya di Angkatan 45. Puisi-puisinya dianggap memmberikan semangat perlawanan dan kemerdekaan.

Saat ini ada begitu banyak penyair dengan gaya dan warna berbeda. Salah satunya adalah Joko Pinurbo. Penyair kelahiran Sukabumi namun bermukin di Yogyakarta ini telah memperoleh banyak penghargaan dan melahirkan beberapa buku puisi. Kekasihku adalah buku kumpulan puisinya yang ke-5, diterbitkan di tahun 2004. 

Jokpin (sebutan singkat untuk Joko Pinurbo) dikenal dengan puisi bertema celana. Tidak heran, karena itulah judul buku puisi pertama yang diterbitkannya di tahun 1999. Dalam buku ini ada beberapa puisi yang juga bertema celana, seperti "Celana Tidur" dan "Satu Celana Berdua". Nuansa yang kental lainnya adalah tentang hubungan antara Ibu dan Anak. Seperti yang termuat dalam puiai "Ranjang Ibu", "Telepon Tengah Malam", "Dua Orang Peronda", dan "Ibuku".

Ibu suka membacakan buku untuk mengantar tidurku. 
Aku terbuai mendengarkan ibu dan buku, mendengarkan ibuku,
sambil membayangkan dan bertanya ini itu.
Pada saatnya beta harus meninggalkan bunda sebab tak bisa selamanya menyusu pada ibu. 
Aku harus mencari susu baru.
S ambil menahan airmata, ibu memeluk dan menciumku: 
Pergilah. Terbanglah. Aku pun terbang bersayapkan buku
ke antah-berantah yang bagiku sendiri masih entah.
(Ibuku, 2003)

Selain puisi "Ibuku" di atas, saya juga suka dengan satu puisi berjudul "Dengan Kata Lain". Puisi ini berkisah tentang seorang pemuda yang pulang kampung dan bertemu dengan guru Sejarah-nya yang kini menjadi tukang ojek. Saat ingin membayar jasa ojeknya, guru itu pergi begitu saja. 

Tak ada angin tak ada hujan, Ayah tiba-tiba 
bangkit berdiri dan berseru padaku: "Dengan kata lain,
kamu tak akan pernah bisa membayar gurumu."
(Dengan Kata Lain, 2004)

Pertama kali saya berkenalan dengan pusi Joko Pinurbo adalah lewat Buku Latihan Tidur. Sejak itu, saya berupaya membaca puisi-puisi beliau yang lain. Saya jatuh cinta dengan kata-kata yang terangkai indah dan bermakan dalam. Kadang bisa dipahami hanya dengan membaca sekilas, namun ada juga yang perlu dibaca berulang agar bisa diserap. Untungnya ada Gramedia Digital yang menyimpan beberapa buku kumpulan puisi beliau.

Kalau kamu, siapa penyair favoritmu?

Kekasihku
Joko Pinurbo
62 halaman
Kepustakaan Populer Gramedia
Juli, 2004

#543 Tiba Sebelum Berangkat


Judul Buku : Tiba Sebelum Berangkat
Penulis : Faisal Oddang
Halaman : 212
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia


Kata "bissu" pada sinopsis novel ini membuat saya tergerak untuk segera memiliki karya Faisal Oddang. Sempat tersimpan cukup lama, karena saya mencari waktu yang tepat untuk membacanya. Saya pernah membaca sebuah review tentang buku ini yang mengatakan bahwa sekali membaca halaman pertama, tidak bisa melepaskan novel ini sampai halaman terakhir. Dan memang itu yang terjadi.

Novel ini berkisah tentang Mapata dan perjalanannya menjadi bissu. Bissu merupakan gender kelima yang ada dalam kepercayaan Bugis. Bissu bukan laki-laki atau perempuan. Bissu dihadirkan sebagai penengah, pengisi kekosongan, dan penyambung lidah antara manusia dan Dewata. Mapata menjadi bissu setelah tinggal beberapa waktu menjadi toboto di arajeng (rumah) Puang Matua Rusmi, seorang pemimpin bissu  di kampungnya di Wajo. Selama tinggal bersama Puang Matua Rusmi, Mapata belajar banyak hal. Meski ada kabar miring yang beredar bahwa menjadi toboto berarti melayani semua kebutuhan, bahkan bisa "dipakai" oleh Puang Matua Rusmi, Mapata tidak gentar. Dia tetap setia melayani Puang Matua Rusmi. Entah bagaimana, Mapata meyakini bahwa dirinya nanti akan menjadi bissu juga. Mungkin inilah alasan mengapa judul novel ini Tiba Sebelum Berangkat. Frase ini merupakan pepatah dalam bahasa Bugis yang artinya kurang lebih mengetahui tujuan akhir sebelum memulai sesuatu. 

Yang menarik adalah karena Mapata menceritakan kembali tentang dirinya itu dalam keadaan habis disiksa. Lidahnya terpotong, luka-luka di sekujur tubuhnya. Bagi Mapata yang terpenting adalah akal dan ingatannya. Karena tak seorang pun bisa mencuri ingatan.  Mapata menuliskan kisahnya itupun atas paksaan Ali Baba, seorang dari kumpulan pembela agama yang diakui Indonesia. Mereka bertugas merazia para penganut kepercayaan yang tidak mau mengkuti agama resmi negara. Dalam kisahnya, Mapata menuturkan tentang kondisi politik yang terjadi di Sulawesi Selatan pasca Indonesia merdeka. Waktu itu bissu dipaksa untuk bertobat, dan mengucapkan kalimat syahadat. Perang antara kelompok gurilla, TII, KNIL dan sekutu lainnya berkecamuk membuat kumpulan bissu terpecah.

Suatu naskah fiksi yang berlatar historikal yang membuat pembaca bertanya-tanya benarkah ini yang sesungguhnya terjadi adalah naskah yang bagus. Meski penulis mengeaskan bahwa novel ini murni fiksi, saya yakin riset yang mendalam dilakukan oleh beliau dalam merangkai peristiwa demi peristiwa. Tidak heran jika novel ini masuk dalam 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2018 bersanding dengan sejumlah karya sastra lainnya. Namun mungkin saya perlu memberikan peringatan sebelum membaca novel ini, lapangkan pikiran, buka hati. Isi novel yang vulgar dan brutal mungkin tidak cocok dibaca sambil memakan sesuatu. Percayalah.

Ohya, saya sempat bertanya-tanya mengapa pada gambar sampulnya ada gambar kucing? Ternyata dalam novel ini dijelaskan kalau kucing dianggap hewan yang mulia di suku Bugis. Satu kekaguman saya pada penulis adalah konsistensinya mengangkat budaya Sulawesi Selatan dalam bentuk fiksi. Cara yang mudah menjangkau anak muda agar tidak melupakan sejarahnya, khususnya anak muda di Sulawesi Selatan. 


#518 Laut Bercerita


Judul Buku : Laut bercerita
Penulis : Leila S. Chudori
Halaman : 389
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Sebelum saya lebih jauh mengulas isi bukunya, satu bintang telah saya sematkan terlebih dahulu khusus untuk gambar sampul yang memukau. 

Biru Laut, seorang mahasiswa Sastra Inggris UGM, bertemu dengan Kasih Kinanti yang kemudian mengajaknya bergabung dengan Winatra dan Wirasena, sekelompok pemuda yang mulai "terusik" dengan rezim Orde Baru. Mereka berkumpul dan berdiskusi, menyusun rencana untuk membela masyarakat golongan bawah. Laut berkenalan dengan Daniel, Alex, dan beberapa mahasiswa lainnya yang sama-sama menginginkan Indonesia berubah. Beberapa kali mereka melakukan aksi, hingga akhirnya "tercium" oleh aparat. Laut dan kawan-kawannya dianggap sebagai orang-orang yang menginginkan presiden digantikan. Laut ditangkap, diinterogasi, disiksa, dan masih banyak perlakuan keji lainnya yang diterimanya dengan tujuan menghancurkan mental dan jiwa mereka.

Saya masih duduk di bangku SD pada tahun 1990-1993. Seperti yang diceritakan dalam buku ini, otoritas pemimpin negara di masa Orde Baru mungkin tidak terlalu terasa di luar Pulau Jawa. Namun saya masih ingat sekitar tahun 1997-1998, kerusuhan mulai merambah ke pulau Sulawesi. Banyak perjuangan-perjuangan yang dicetuskan oleh mahasiswa yang kemudian berbuah lengsernya presiden saat itu. Saya sendiri tidak begitu mengikuti sepak terjang mahasiswa, karena saya masih SMA. Namun setelah membaca buku ini, ada pencerahan baru yang saya peroleh.

Buku ini terbagi dalam dua bagian. Kisah dari sudut pandang Biru Laut, dan kisah dari sudut pandang Asmara, adiknya. Laut menceritakan bagaimana mahasiswa yang ikut bergerak menginginkan perubahan mendapatkan perlakuan di luar batas kemanusiaan. Sementara Asmara menceritakan kesedihan dan hilangnya harapan ketika ada anggota keluarga yang dinyatakan hilang tanpa kabar.

Karena di awal buku kisah Laut dibuka dengan kematiannya, maka porsi Laut dikisahkan dalam alur mundur. Hanya saja, saya sempat bertanya apa nilai penting seorang Laut dalam proses ini. Berbeda dengan Kinan dan Bram yang bisa dibilang "otak" dari pergerakan mahasiswa saat itu, Laut hanyalah salah satu dari pelaksana. Laut sendiri diceritakan sempat mengalami kegalauan, keresahan bagaimana jika dia mati. Bukan kematiannya yang dianggap berat, tapi apakah pengorbanannya setimpal dengan hasil yang akan diperoleh? Kemudian saya mendapatkan jawabnya melalui Kinan,
Yang penting kita ingat.... setiap langkahmu, langkah kita, apakah terlihat atau tidak, apakah terasa atau tidak, adalah sebuah kontribusi. Sebuah baris dalam puisimu. Sebuah kalimat pertama dari cerita pendekmu
Laut bercerita bukan hanya soal perjuangan, tapi juga pengkhianatan, kasih sayang, kehilangan, perubahan, pengorbanan. Laut bercerita memberikan harapan bahwa sekecil apapun usaha kita untuk sebuah perubahan, tetap terhitung sebagai kontribusi. Saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh kamu yang mengaku aktivis kampus :)


#406 Puya ke Puya


Judul Buku : Puya Ke Puya

Penulis : Faisal Oddang

Halaman : 230

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Setiap satu ayunan kaki manusia, ia tengah berjalan pergi seklaigus menuju pulang. Orang-orang hidup hanya untuk mati, begitulah. Semakin kau berjalan menjauh, semakin maut berjalan mendekat. Dan Tuhan menciptakan surge bagi para pejalan. Entah karena apa…

#226 Insiden Anjing Di Tengah Malam Yang Bikin Penasaran


Judul Buku : Insiden Anjing Di Tengah Malam Yang Bikin Penasaran
Penulis : Mark Haddon
Halaman :  311
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Usia Kelayakan Baca : 13 tahun


Buku ini adalah novel misteri pembunuhan yang lain daripada yang lain. Setidaknya itu yang ada di dalam pemikiran Christoper Boone saat dia menulis buku ini. Suatu malam dia menemukan seekor anjing yang tergeletak di taman dengan garpu kebun yang menancap di badannya. Christoper tahu Wellington, nama anjing itu, adalah milik Ny. Shears tetangga sekaligus teman keluarga mereka. Christoper bertekad untuk menyelidiki dan mencari pembunuh Wellington.

#132 9 Dari Nadira


Judul Buku : 9 Dari Nadira
Penulis : Leila S. Chudori
Halaman : 270
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Program baca dan posting bareng BBI bulan ini adalah buku-buku yang masuk dalam nominasi Khatulistiwa Literary Award (KLA)Tadinya saya mau membaca Gadis Kretek karya Ratih Kumala yang masuk dalam shortlist nominasi KLA 2012, hanya saja saya tidak menemukan buku ini di Jogja. Sempat kepikiran tidak ikut event bulan ini, tapi kemudian saya mendapatkan pinjaman buku 9 Dari Nadira dari mbak Sinta. Akhirnya saya memutuskan untuk membaca buku ini sebagai partisipasi saya dalam event rutin BBI.


Review dari novel ini kemudian saya putuskan untuk diikutsertakan dalam 2012 End of Year Book Contest yang diadakan oleh Okky. Buku 9 dari Nadira ini memenuhi semua syarat untuk diikutkan dalam kontes tersebut.
Ada “huruf A” pada judul buku
Ada “angka” pada judul buku
Ada “sendu” dalam judul/sampul buku
Ada “warna kuning” pada sampul buku
 Syarat pertama, ada huruf A pada judul buku terpenuhi pada kata Dari dan Nadira. Syarat kedua, ada angka pada judul buku terpenuhi pada angka 9. Syarat ketiga, saya menganggap gambar cover buku ini cukup sendu tapi mengandung unsur etnis juga. Sementara syarat keempat, ada warna kuning terlihat pada tulisan judul buku ini.

9 dari Nadira terbit pada tahun2009. Mungkin tidak ada kaitan antara angka 9 pada judul buku dan tahun penerbitan dari buku ini. Ternyata buku ini adalah kumpulan cerpen yang berisi 9 cerita tentang kehidupan seorang tokoh bernama Nadira dari berbagai sisi. Menarik bagi saya karena walaupun berupa kumpulan cerpen, masing-masing cerpen itu saling berikatan membentuk kesatuan. Pembaca akan menemukan pertanyaan yang muncul saat membaca satu cerpen, tapi (mungkin) akan mendapatkan jawaban pada cerpen lainnya. Cerpen ini juga dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik yang mengawali setiap novel.

Pada cerita pertama, Mencari Seikat Seruni, Nadira digambarkan sebagai anak perempuan, si bungsu dari tiga bersaudara, pasangan Bram dan Kemala. Sejak kecilnya hingga dewasa, Nadira digambarkan memiliki kepribadian yang berbeda dengan kedua saudaranya Nina dan Arya. Ketika Kemala ditemukan terbujur kaku dengan mulut berbusa (akibat bunuh diri dengan obat-obatan), reaksi Nadira berbeda dengan saudaranya. Arya sibuk membacakan Surat Yasin, Nina meluapkan kesedihannya dengan menangis melolong, sementara Nadira sibuk mencari bunga Seruni untuk ibunya. Kenapa harus seruni? Bukan melati atau mawar? Jawabannya ada di cerita keempat, Tasbih. Menurut seorang psikopat yang diwawancarai oleh Nadira (profesi Nadira adalah seorang wartawan), seruni adalah bunga yang cocok untuk seseorang yang lelahdengan dunia, seorang yang ingin pensiun dari hidupnya.

Profesi Nadira yang adalah seorang wartawan majalah Tera, menjadi kebanggan ayahnya. Bukan saja karena Nadira mewarisi profesi ayahnya (seorang wartawan senior), di dalam cerita ketiga Melukis Langit, Nadira jugalah yang mengurus ayahnya sejak kepergian ibunya. Sosok Nadira di kantor lebih jelas diceritakan oleh rekan kerjanya, Kris lewat cerita Sebilah Pisau. Bagaimana Nadira yang suka tidur di kolong meja kerjanya, Nadira yang suka membaca, dan Nadira yang berani meninju wajah psikopat yang diwawancarainya gara-gara menghina ibunya.

Hubungan pribadi Nadira sendiri adalah kisah yang menarik untuk disimak. Nina dan Nadira adalah dua perempuan bersaudara yang seperti musuh dalam selimut. Mereka saling menyayangi dan mendendam dengan cara yang unik. Nina selalu berada di dalam bayang-bayang Nadira, meskipun Nina lebih tua dari Nadira. Kisah cinta Nadira yang rumit juga membuat saya terpana dan sedikit bingung. Nadira tidak menyadari jika atasannya, Utara Bayu, mencintai dirinya. Sementara itu Nadira malah menikah dengan Niko, pria yang membuatnya merasakan Ciuman Terpanjang. Tapi seperti yang diprediksikan oleh rekan kerjanya, usia pernikahan Nadira tidak panjang. Dalam cerita keenam berjudul Kirana, Nadira bercerai dari Niko. Alasannya klasik, Niko masih setia dengan masa lalunya yang bergelimangan wanita. Tetapi di saat yang sama Nadira masuk ke dalam sebuah penjelajahan dunia seksualitas yang baru.  Hingga akhirnya Nadira meninggalkan Jakarta dan pergi ke Kanada, tempat kuliahnya, dan bertemu dengan cinta masa lalunya At Pedder Bay.

Kisah-kisah Nadira seperti teka-teki yang pada akhirnya (tetap) meninggalkan tanda tanya. Banyak diwarnai oleh konflik politik, bentrok budaya, sastra klasik, dunia wartawan hingga kehidupan di Amsterdam-New York-Victoria membuat kumpulan cerpen ini menjadi kaya. Ketika melihat profil penulis di akhir buku, saya memahami mengapa semua warna di atas terasa hidup. Tidak lain karena penulis sendiri sangat lekat dengan beberapa hal tersebut. Tidak heran ketika buku ini masuk ke dalam nominasi Khatulistiwa Literary Award 2010 untuk kategori fiksi.



#21 Tiga Manula Jalan-jalan ke Singapura


Judul Buku : Tiga Manula Jalan-jalan ke Singapura
Penulis : Benny Rachmadi
Halaman : 90
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia


Apa jadinya kalau tiga orang kakek pergi jalan-jalan ke Singapura? Adalah Liem, seorang pengusaha gadget keturunan Cina mengajak dua orang sahabatnya Waluyo (Jawa) dan Sanip (Betawi) ke Singapura.  Namanya kakek-kakek, ada aja kelakuannya yang mengundang ketawa. Mulai dari pake minyak angin di pesawat, mandi-mandi di bawah patung Singa Muntah, sampai menikmati teh tarik di suatu tempat makan.

Dalam komik ini, bukan hanya kelakuan ketiga kakek tadi yang diceritakan, tapi juga bagaimana budaya dan lifestyle yang ada di Singapura. Misalnya fakta bahwa Blackberry tidak setenar i-Phone. Atau menyebrang jalan pakai aturan, dan tidak boleh merokok di tempat umum.

Saya dapat buku ini gratis, hasil dari penukaran poin telkomsel sejumlah 100 poin. Walaupun harus bayar ongkos kirim, dan sempat gagal konfirmasi pembayaran, akhirnya buku ini sampai dengan selamat di rumah. Begitu sampai, langsung jadi rebutan orang-orang di rumah untuk dibaca :)

Benny menceritakan ketiga tokoh tadi dalam komik yang lucu. Jika anda familiar dengan kartun Benny-Mice di koran Kompas mingguan, pastinya bisa menikmati komik ini. Karakter gambarnya sama persis, jenis font-nya juga sama. Hanya saja bagi saya "kurang nendang". Entahlah sepertinya ada rasa yang hilang. Mungkin karena sudah terbiasa dengan duo Benny-Mice ya... Padahal sampai sekarang saya tidak bisa membedakan mana gambar Benny dan gambar Mice. Konon mereka berdua bergantian mengisi karikatur di Koran Kompas setiap minggunya. :)