~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Ika Natassa. Show all posts
Showing posts with label Ika Natassa. Show all posts

#386 Critical Eleven


Judul Buku : Critical Eleven

Penulis : Ika Natassa

Halaman : 344

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Critical Eleven adalah satu istilah di dunia penerbangan, dimana ada 11 menit waktu kritis dalam penerbangan, yaitu 3 menit setelah take off dan 8 menit sebelum landing. Statistik menyebutkan di saat-saat itulah tingkat kecelakaan pesawat terbang yang paling tinggi. Seorang Ika Natassa kemudian menganalogikan 11 menit waktu itu dengan masa  pertemuan dengan seseorang. Tiga menit pertama adalah saat kritis untuk menciptakan kesan pertama, sementara 8 menit terakhir kita mulai memutuskan apakah pertemuan ini bisa dilanjutkan atau tidak. 

Sebelas menit adalah waktu yang krusial bagi Anya, tokoh wanita utama dalam novel ini. Di dalam sebuah penerbangan ke Sidney, Anya berkenalan dengan Aldebaran Risjad (Ale), seorang petroleum eingener. Pertemuan singkat, yang berlanjut ke masa pacaran yang relatif singkat juga namun bisa meyakinkan baik Anya maupun Ale untuk membina rumah tangga. Pernikahan LDR tidak menjadi masalah yang berarti buat mereka. Namun bencana datang di tahun ketiga pernikahan mereka ketika Ale dan Anya harus kehilangan bayi yang telah berumur 9 bulan di kandungan Anya.

Sebagai seorang ibu muda, saya bisa memahami betapa besar rasa kehilangan yang dirasakan Anya. Seorang teman saya juga pernah mengalami hal yang serupa. Saya ikut menangis bersama Anya saat dia hanya bisa memeluk bantal dan pakaian yang sudah dipersiapkannya untuk anaknya. Saya ikut bersedih ketika Ale hanya mampu berkhayal membawa anaknya ke kebun kopi milik keluarga mereka. Tapi saya bingung kenapa keduanya yang masih saling mencintai, memilih untuk mengatasi rasa kehilangan itu sendiri-sendiri. Mungkin karena mereka LDR. Mungkin karena perkenalan mereka bisa dikategorikan singkat. Mungkin karena terlalu sedih sehingga keduanya (lebih tepatnya sih Anya menurut saya) merasa orang lain tidak memahami dirinya. Padahal Anya sudah pernah mendengar pemikiran Ale tentang seorang pria yang mencintai wanita.
"Kalau memang benar-benar sayang dan cinta sama perempuan, jangan bilang rela mati buat dia. Justru harusnya kuat hidup untuk dia. Rela mati sih gampang, dan bego. Seharusnya kalau lo memang benar-benar sayang, lo rela mengorbankan apa aja demi istri lo, tapi lo juga harus berjuang supaya lo tetap hidup dan tetap ada buat dia. Itu baru bener"
Memang bukan ide baru mengangkat masalah kehilangan ini ke dalam sebuah cerita. Tetapi Ika Natassa mampu meramunya dalam kisah yang berbeda. Letak keistimewaan kisah ini karena sarat dengan fakta-fakta. Mulai dari istilah penerbangan tadi, beberapa pengetahuan biologi, judul film dan lagu, masalah ekonomi, kehidupan sosialita di Jakarta, hingga ke dunia per-kopi-an. Rasa berbeda lainnya bisa dijumpai dari profesi Ale, tokoh pria utama, sebagai seorang tukang minyak. Beberapa scene menggambarkan kehidupan Ale di tempat kerja, hingga pergumulannya yang mengharuskan dia jauh dari keluarga.

Meski dalam novel ini konfliknya terjadi pasca pernikahan antara Ale dan Anya, pembaca sering diajak untuk flashback ke masa lalu. Sebenarnya tidak membingungkan, hanya karena pola “mutar-mutar”-nya hampir terjadi di tiap bab, membuat saya sempat me-skip­ beberapa bagian. Penggunaan bahasa Inggris yang sudah menjadi ciri khas novel karya Ika, masih banyak ada. Tapi taburan merk-merknya sudah mulai berkurang. Mungkin karena itu tidak ada label metropop di sampul novel ini.

Ohya, membaca nama Risjad di belakang nama Ale, mengingatkan saya pada Harris Risjad di Antologi Rasa. Iya. Mereka saudaraan. Jadi dalam novel ini ada beberapa scene untuk mengobati rindu para fans Harris Risjad (saya sih nggak… :P). Saya jadi penasaran, apakah ketiga adik perempuan Ale dan Harris juga akan mendapatkan porsi novel masing-masing? *wink*

4 stars


#357 Twivortiare 2


Judul Buku : Twivortiare 2
Penulis : Ika Natassa
Halaman : 488
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Sejak membaca Twivortiare, saya jadi iseng ngikutin twitternya @alexandrarheaw. Saya penasaran dengan kelanjutan hidup Alex dan Beno. Somehow saya merasa connected dengan pasangan muda yang sangat mengidam-idamkan anak ini. 

#187 Autumn Once More


Judul Buku : Autumn Once More
Penulis : Ilana Tan, Ika Natassa, AliaZalea, dkk
Halaman : 232
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Bagaimana rasanya jika penulis dan editor metropop (salah satu genre fiksi terpopuler dari GPU) berkumpul dan menulis bersama dalam satu buku? Jawaban saya hanya satu, "wajib punya buku itu". Dan begitu bukunya tiba di tangan, saya langsung menyimpan buku lain yang sementara saya baca, dan memulai menikmati buku ini. Sampulnya yang "tidak biasa"  saja sudah membuat saya kagum dan sedikit repot ketika harus menyampulnya lagi dengan plastik seperti kebiasaan saya. Warna merah berpadu kuning serta ilustrasi pohon cinta pada sampulnya jelas eye catching.

Dalam buku ini ada 13 cerpen oleh 13 penulis berbeda. Saya akn mencoba menuliskan inti cerita dari masing-masing cerpen tersebut.

1. Be Careful What You Wish For (by AliaZalea).  Banyak orang bilang cinta terkdang membuat pikiran tidak rasional. Ketika "aku" berjanji akan segera menyatakan cinta pada cowok yang disukainya ketika bertemu sekali lagi, tanpa disangka alam berkonspirasi membuat mereka bertemu.
"HOLY CRAP, HE'S BACK!!! Are you kidding me?!"

2. Thirty Something (by Anastasia Aemilia). Rachel tidak menyangka dia akan dijodohkan oleh eyangnya dengan seorang pemuda bernama Artha. Sementara dirinya sedang merasakan "perasaan aneh" pada sahabatnya, Erik yang sebentar lagi akan bekerja di luar negeri. Dan Rachel lebih tidak menyangka lagi ketika Erik tiba-tiba mencium bibirnya dan mengajaknya ikut ke Jepang. Apa yang harus dilakukakannya?
"Being thirty-something and single is not that easy in my family..."

3. Stuck With You (by Christina Juzwar). Hari pertama kerja langsung ketemu dengan atasan cowok yang sok ngatur ternyata lebih menyebalkan daripada harus stuck di dalam lift dengan atasan cowok yang sinis itu.
"ternyata terjebak di lift nggak buruk-buruk amat kok."

4. Jack Daniel's vs Orange Juice (by Harriska Adiati). Kalau orang tua dihadapakan pada dua pilihan calon menantu, mana yang dipilih,  calon menantu yang minumannya Jack Daniels atau orang juice? Kalau orangtuanya Pak Haji dan Bu Hajjah udah jelas kali ya... Tapi bisa-bisanya Dennys khilaf dan berkata,
"Assalamuailaikum, Pak Haji. Mau ke mana subuh-subuh begini? Nggak takut masuk angin, Pak? Ha-ha-ha"

5. Tak Ada yang Mencintaimu Seperti Aku (by Hetih Rusli). Kalimat itu terue menerus berulang di otakku, menggemakan teriakan yang tersumbat di tenggorokanku. Aku mencintaimu penuh ruah, terutama di malam hari.
"Kau selalu bilang aku orang yang terlalu melankolis terlalu banyak berpikir, tapi aku tak berpikir panjang kali ini"

6. Critical Eleven (by Ika Natassa). I have no idea where I'm heading in life. Itulah sebabnya Tanya menyukai bandara dan tiga huruf tujuan yang tercetak di boarding pass. Keren untuk dipamerkan di media sosial tetapi cukup miris mengingat tidak ada tujuan pulang.
"Critical 11 is when the aircraft is most vulnerable to any danger. It's kinda the same with meeting people."


7. Autumn Once More (by Ilana Tan). Bagi penggemar novel Autumn in Paris, harus baca yang satu ini. Misteriusnya Tatsuya akan terbuka di sini.
"Tatsuya tidak mungkin mengatakannya sekarang, Kesadaran baru itu juga masih baru baginya."

8. Her Footprints on His Heart (by Lea Agustina Citra). Kehadiran Rendy di sisi Ariana adalah hal terindah yang pernah terjadi dalam hidupnya. Sejak Anne mencampakkan Rendy sewaktu SMA dulu, Ariana selalu menjadi tempat pelipur lara bagi Rendy. Bagaimana jika Anne hadir lagi, di saat mereka sedang merencanakan pernikahan?

 "Heaven really knows what's best for us"

9. Love is a Verb (by Meilia Kusumadewi). Punya pacar yang ga perhatian? Yang ga pernah meninggalkan komentar di status facebook, atau sekedar "like" salah satu jepretan Instagram-mu? Sementara di status atau instagram milik perempuan lain selalu ada jejaknya? Huh..!!

"Tuhan, kenapa dia begitu sama aku? Aku hanya ingin diperhatikan"

10. Perkara Bulu Mata (by Nina Addison). Siapa sangka hanya dengan memandang bulu mata seseorang kamu bisa suka pada orang itu? Lalu bagaimana jika orang itu adalah sahabatmu sendiri? Tega ga sih mengorbankan persahabatan demi rasa cinta?

"Kalau memang harus kutelan bulat-bulat perasaan ini, well so be it".

11. The Unexpected Surprise (by Nina Andiana). Pulang ke rumah Mama bukan hal yang menyenangkan bagi Mita. Sejak kepergian Papa, Mama berasa makin ga kompak aja dengan Mita. Mama yang perempuan rumahan tidak akan pernah mengerti kehidupan Mita sebagai wanita karier.

"Embrace the unexpected surprise that life throws you every now and then".

12. Senja Yang Sempurna (by Rosi L. Simamora). Aku akan memberikan sebuah senja yang kupesan khusus untuk perempuan yang telah bertahun-tahun lamanya mencintaiku. Tetapi siapa sangka saat ini dia justru menyukai selimut hujan yang tebal?
"Meninggalkanmu bukan sesuatu yang mudah, kamu tahu?"

13. Cinta 2 x 24 Jam (by Shandy Tan). Pak Lingga itu lebih cakep daripada Lee Min Ho. Penampilannya membuat cewek-cewek menganga dan melotot. Dan aku punya kesempatan bertemu dengannya hari ini. Tapi bagaimana cara menarik perhatiannya?
"Perpisahan sementara akan kuanggap sebagai bumbu rindu sampai kami bertemu lagi besok pagi".
****

Bagaimana? Belum puas? Hohoho... saya saja yang sudah baca bukunya belum puas kok.. Rasanya pengen minta tambah lagi. Ada bocoran dari Ika Natassa, kalau cerpennya dalam buku ini adalah pengantar untuk novel yang akan diterbitkannya di tahun 2015 (wuih.. lama banget ya). Yang menarik adalah beberapa penulis dalam buku ini profesinya adalah editor di GPU, seperti mbak Hetih Rusli. Tetapi karyanya layak lho disandingkan dengan penulis yang sudah melahirkan beberapa novel.

Kalau disuruh memilih cerpen mana yang paling bagus di antara ke-13 cerpen di atas, jujur saja susah memilihnya. Tetapi cerpen Her Footprint on His Heart sama The Unexpected Surprise bikin saya nangis pas baca. Trus cerpen yang berjudul Love is a Verb bikin saya senyum-senyum tertohok. Trus yang Thirty Something dan Critical Eleven pesan moral-nya dapat banget.

Jadi... buat yang mengaku penggemar romance apalagi metropop, sekali lagi buku ini wajib kudu dikoleksi dan dibaca. Apalagi semua royalti buku ini disumbangkan ke Dana Kemanusiaan Kompas. Kapan lagi membantu sesama dengan cara yang menyenangkan seperti ini?

4 stars

#88 Antologi Rasa


Judul Buku : Antologi Rasa
Penulis : Ika Natassa
Halaman : 328
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Saat saya membaca buku ini bisa dibilang "terlambat". Euphoria buku ini sudah lama lewat. Saya sempat mengikuti tahun lali di timeline twitter betapa orang-orang memuja novel ini, dan juga @harrisrisjad . Di goodreads saja rata-rata pada ngasih bintang empat untuk novel Ika Natassa yang satu ini. Itu saja sudah cukup membuat saya penasaran ingin membacanya, dan baru kesampaian di pertengahan 2012 ini.

Tema cerita sederhana, kisah cinta segi-banyak yang rumit antara Keara, Harris, Ruly, Denise dan Panji. Keempat orang pertama adalah sahabat yang sama-sama bekerja di sebuah bank besar di Indonesia, dan ditempatkan di divisi yang berbeda. Keara, wanita penakluk banyak pria, ternyata memendam rasa cinta pada Ruly, cowok atletis yang alim. Sayangnya Ruly menyukai Denise, seorang istri yang ditelantarkan suaminya. Sementara Harris, playboy yang "mengoleksi" banyak wanita, justru menyukai Keara sejak pertemuan pertama mereka di lift. Trus Panji? Ah, dia hanya seorang cowok yang menjadi pelampiasan Keara karena tidak bisa mendapatkan Ruly. Tapi Panji ini ternyata teman lamanya Harris,yang punya kelakuan sebelas dua belas dengan Harris dalam hal wanita.
Doesn't it scare you sometimes how times flies and nothing changes?
 Itu kutipan yang saya ambil di halaman 31, dan menjadi kesimpulan saya setelah membaca habis buku ini dalam waktu semalam. Yah... buku setebal 328 halaman hanya menceritakan soal kasih tak sampai dengan bumbu-bumbu kehidupan metropolis dan di akhirnya tidak ada yang berubah. Ekspektasi saya yang tinggi pada buku ini jadi terjun bebas setelah saya membaca adegan "delapan bulan kemudian" di akhir buku ini.

Sejak awal, penokohan Keara dan Harris dibangun bahwa mereka berdua adalah tokoh yang penuh percaya diri. Soal fisik tidak diragukan lagi dengan kemampuan mereka menggaet pasangan yang bukan kelas sembarangan, Keduanya juga pemuja kebebasan dalam gaya hidup. Tapi kok ya ketika Keara dan Harris making love dalam keadaan mabuk berat, Keara langsung benci sama Harris? Kan yang ngajak duluan juga Kearra, tapi tetap menuduh Harris memanfaatkan suasana untuk berhubungan badan dengannya, Kearra kenal siapa Harris kan? Kalau Harris bisa melakukan hal yang sama pada wanita lain, kenapa sama Keara tidak? Karena mereka bersahabat? Come on....

Entah kenapa, saya selalu merasakan bahwa di setiap novel Ika Natassa, dia selalu hadir dalam diri tokoh utama. Ika Natassa hadir dalam wujud Keara di novel ini, Alexandra di Divortiare dan Twivortiare, dan Andrea di A Very Yuppy Wedding. Seorang banker, hidup mapan dan berkelas, sosialita, lulusan universitas di Amerika Serikat (NYU lebih tepatnya). Yang beda cuman kisah cintanya saja. Di Keara, Ika lebih menampakkan dirinya lewat hobby fotografi yang Canonian, fans berat John Mayer, pernah nonton live F1 di Singapura. Saya teringat sama postingannya Mia, dimana di akhir postingan itu dia membahas mengenai pengarang yang formulanya begitu-begitu saja seperti Sophie Kinsella, Sidney Sheldon, dan Danielle Steele. Pengarang yang belum bisa move on dari zona nyamannya. Sepertinya saya akan menambahkan satu lagi pengarang di daftar-nya Mia :D

Satu-satunya hal yang membuat saya memberikan bintang dua pada Antologi Rasa ini adalah gaya bercerita Ika yang "tidak biasa". Penggunaan PoV yang berganti-gantian dengan penataan yang apik. Saya jadi ingat dengan Twivortiare yang penulisannya bergaya ala twit itu. Kreatif.

Soal penggunaan bahasa Inggris yang bertebaran di setiap halaman, detail-detail tentang F1, konser John Mayer (semua judul lagu di konser itu disebutkan!), sudahlah... Itu termasuk zona nyamannya Ika. Tapi ya...anehnya saya tetap menantikan novel-novel Ika Natassa berikutnya. Haha... hers are my guilty pleasure



#47 Twivortiare


Judul Buku : Twivortiare
Penulis : Ika Natassa
Halaman : 283
Penerbit : Self Publishing by Nulisbuku


Alexandra is back. Melalui account twitter @alexandrarheaw, Alex menceritakan pernikahan keduanya dengan dr. Beno Wicaksono. Seperti yang sudah diceritakan di novel prekuelnya, Divortiare, Alex dan Beno pernah menikah. Tapi, karena kesibukan masing-masing (Beno sebagai dokter jantung dan Alex sebagai karyawati sebuah bank) membuat komunikasi di antara mereka tidak berjalan dengan baik. Ketika Alex meminta cerai, Beno dengan tanpa usaha mengiyakan permintaan Alex (hal yang kemdian meyakinkan Alex bahwa Beno tidak benar-benar mencintainya). Singkat cerita, di akhir kisah Divortiare, Alex dan Beno sama-sama merasakan masih ada cinta di antara mereka. Apakah mereka kembali menjadi pasangan?

Pertanyaan itu terjawab di Twivortiare. Alex dan Beno menikah untuk kedua kalinya, setelah 8 bulan berpacaran. Kali ini, Alex membuat Beno berjanji supaya tidak melepaskannya apapun permintaan Alex nantinya. Alex juga meminta perhatian penuh dari Beno, dan tidak menjadikannya sebagai hal kedua setelah pekerjaannya.

Walaupun diceritakan dari sudut pandang Alex (apalagi hanya lewat rangkaian tweets yang maksimal cuma 140 karakter tiap paragraf), saya bisa menikmati kelanjutan kisah Alex dan Beno. Dan dalam pernikahan kali ini, tetap saja Alex dan Beno “rajin” bertengkar. Mengapa saya bilang rajin? Soalnya pertengkaran mereka di dalam buku Twivortiare ini ga jauh-jauh dari masalah cemburu, kurang perhatian,dan miskomunikasi. Beno cemburu dengan Adrian, nasabah Alex; Alex cemburu pada  Rania, kolega Beno sesama dokter. Alex masih merasa Beno kurang perhatian, dan Beno menganggap Alex sulit dimengerti. Ketika Beno meminta Alex untuk “wajib lapor”, Alex merasa seperti terpenjara.

Mengutip apa yang dikatakan Alex lewat twitternya (saya lupa persisnya kalimatnya seperti apa) bahwa pernikahan kedua ini membuat mereka sangat berhati-hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan sebelumnya. Mereka berusaha untuk terus berkomunikasi, baik itu lewat telepon, BBM, maupun Skype ketika mereka harus berjauhan. Tindakan berhati-hati itu membuat Alex dan Beno selalu membuat kesepakatan yang mengharuskan yang satu menuruti yang lain supaya mereka tetap berdamai. Dan terus menerus berada dalam situasi win-lose solution itu tentu saja melelahkan. Tidak heran, ketika mereka menemukan jalan buntu berkomunikasi, Alex memilih untuk menghindar, sementara Beno merasa Alex bersifat kekanak-kanakan.

Satu hal lagi yang menjadi “masalah” dalam rumah tangga mereka adalah ketidak hadiran seorang anak. Selain jengah ditanya terus menerus oleh keluarga besar mereka, satu sama lain merasa dalam ketakutan akan mengecewakan pasangan mereka karena Alex tidak kunjung hamil.

Terlepas dari segala konfilk yang dialami oleh Alex dan Beno, saya sangat salut Ika Natassa mampu menghidupkan kembali karakter Alex lewat @alexandrarheaw. Dan bukan hanya Alex, kehadiran orang-orang di sekitar mereka juga tetap hidup walaupun semua hanya bisa dilihat lewat sudut pandang Alex. Satu-satunya karakter yang hadir adalah @winasoedarjo, sahabat Alex yang selalu menjadi tempat curhat Alex. Dialognya masih banyak berbahasa Inggris khas Ika, dan sedikit istilah perbankan. Typo masih ada, tapi wajarlah karena self publishing. Mungkin nanti kalau diterbitkan oleh Gramedia, typo-nya bisa berkurang.

Mengenai sampulnya, yang sudah pernah membaca Divortiare pasti familiar dengan kardus bertuliskan His dan Hers. Kali ini ditambah dengan si burung biru-nya twitter. Saat membaca halaman awal dari novel ini saya sempat berpikir, mereka kan sudah tinggal bersama, tapi kenapa kardusnya masih terpisah seperti di Divortiare. Ternyata setelah saya selesai membaca novel ini saya menarik kesimpulan sendiri soal kardus itu. Biarpun mereka sudah tinggal seaatap, tapi tetap saja masih ada dua kepentingan dan kepribadian yang belum sepenuhnya terbuka satu sama lain. Baik Alex dan Beno masih mengkotak-kotakkan diri mereka dalam pernikahan ini. Well, benar atau tidaknya kesimpulan saya, silahkan ditanyakan ke penulisnya di account twitternya @ikanatassa :)

Btw, karena penasaran dengan kelanjutan kisah Alex dan Beno, saya jadi mem-follow @alexandrarheaw.  Si dokter kadang nge-tweet juga pake akunnya Alex, untuk menjawab pertanyaan dari fansnya. Tapi ya gitu deh… jawabannya hanya satu dua kata saja.