~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Tere Liye. Show all posts
Showing posts with label Tere Liye. Show all posts

#155 Kau, Aku dan Sepucuk Angpao Merah


Judul : Kau, Aku dan Sepucuk Angpao Merah
Penulis : Tere Liye
Halaman : 512
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Sudah beberapa buku Tere Liye yang saya baca, baru kali ini saya menjumpai isinya tidak mengmabil latar belakang peristiwa penting di Indonesia. Tetapi Tere Liye tetap mengangkat budaya Indonesia sebagai benang merah dalam ceritanya. Dan kali ini Tere Liye membawa pembacanya ke pulau Kalimantan, tepatnya di kota Pontianak. Dari buku ini, saya baru tahu kalau nama kota Pontianak berasal dari nama hantu di kota itu. Konon hantunya mirip kuntilanak yang suka memangsa bayi-bayi yang baru lahir. Terlepas dari nama hantu itu, kehidupan di tepi sungai Kapuas membuat saya tertarik membaca buku ini.

Adalah Borno, pemuda asli daerah situ, yang menjadi tokoh utama dalam kisah ini. Borno hidup bersama ibunya, sejak ditinggal mati oleh ayahnya yang meninggal karena disengat ubur-ubur. Sebelum ayahnya meninggal, ternyata ayahnya menyetujui untuk mendonorkan jantungnya. Hingga besar, Borno tidak yakin apakah ayahnya meninggal karena sengatan ubur-ubur atau karena pisau bedah dokter yang mengambil jantungnya. Untuk menghidupi dirinya dan ibunya, Borno mencoba bekerja selepas SMA. Ada begitu banyak pekerjaan yang dilakoninya. Mulai dari buruh pabrik, penjaga pintu penyebrangan, sampai menjadi pengemudi sepit (perahu yang dilengkapi motor tempel digunakan sebagai alat transportasi tradisional) .

Ternyata karir sebagai pengemudi sepit yang mempertemukannya dengan gadis keturunan Cina bernama Mei. Mei adalah penumpang sepit yang meninggalkan angpao merah di sepit milik Borno. Terpesona dengan kecantikan Mei, Borno selalu mengambil setiap kesempatan untuk bisa bertemu dengan Mei. Termasuk mengantri sepit pada urutan no 13, tepat saat Mei ingin menyebrang. Belum lagi Borno menyatakan cinta-nya, Mei ternyata sudah harus kembali ke Surabaya. Ternyata Mei hanyalah guru magang di salah satu yayasan di Pontianak.

Pak Tua, sahabat sekaligus tetua yang dihormati Borno, menghibur hatinya sekaligus memberikan kesempatan bagi Borno untuk berkunjung ke Surabaya. Pak Tua yang jatuh sakit harus melakukan terapi alternatif ke Surabaya dan meminta Borno mengantarnya. Dengan hanya berbekal nama keluarga Sulaiman, Borno berniat mencari Mei. Tak disangka Borno justru bertemu dengan Mei di klinik tempat terapi. Hati Borno sangat senang, apalagi dia punya kesempatan berjalan-jalan keliling Surabaya dengan Mei. Bahkan ketika harus kembali ke Pontianak, Borno merasa lega.

Di Pontianak, perjalanan karir Borno kembali bergulir. Kali ini Borno bekerja di bengkel milik Daeng, ayah Andi sahabatnya. Bukan karena kebetulan, tetapi karena Borno paham tentang mesin akibat buku-buku mesin yang dibacanya.  Daeng pun mengajak Borno memperluas usahanya dengan jalan kongsi membuka bengkel baru di kota Pontianak. Sepit kebanggan Borno dijual untuk menutupi kongsi. Sayangnya, mereka ternyata kena tipu. Bengkel idaman itu ternyata adalah milik orang yang disewa oleh penjual yang membawa uang Daeng dan Borno. Tetapi Borno tidak patah semangat. Dengan kebaikan hati pemilik bengkel, Borno dan Andi memulai usahanya.

Di saat usaha bengkel Borno mulai berhasil, Mei datang lagi ke Pontianak untuk mengajar. Kali ini Borno tidak menyia-nyiakan kesempatan. Sepertinya Mei juga memiliki perasaan yang sama. Meskipun belum ada kata cinta terucap, Borno yakin perasaannya bersambut, apalagi Mei sering datang membawakan makanan ke bengkelnya. Sayangnya, ketika Borno sangat yakin, Mei malah memutuskan agar Borno tidak lagi berjumpa dengannya.

Oh my... kisahnya sudah menyerupai sinetron, pikir saya. Tanpa alasan yang jelas Mei datang dan pergi dari hidup Borno. Belum lagi kehadiran Sarah, dokter gigi yang ternyata adalah anak dari pria yang menerima jantung ayahnya Bono, hanya sebagai pemanis yang tidak jelas perannya. Untuk buku setebal 500 halaman dengan ending yang melempem membuat saya hanya memberi bintang dua untuk buku ini. Itupun karena saya menyukai kehidupan di tepi sungai Kapuas yang melibatkan Andi, Bang Togar, Cik Tulani, Pak Tua, Koh Acong dan pengemudi sepit lainnya. Tapi buat anda yang menyukai kalimat-kalimat mutiara khas Tere Liye, buku ini layaklah untuk dikoleksi. Permainan kata Tere Liye belum kehilangan pesonanya di buku ini.


#99 Sunset Bersama Rosie


Judul Buku : Sunset Bersama Rosie
Penulis : Tere Liye
Halaman : 429
Penerbit : Mahaka Publishing


Biarlah kata kesempatan bagiku menjadi milik guratan nasib. Aku merasa cukup dengan semua perjalanan cintaku.
 Teguh menganggap dirinya tidak pernah mempunyai kesempatan untuk cintanya. Sejak Rosie, gadis yang dicintainya lebih memilih Nathan dibandingkan dirinya. Nathan yang baru dikenalnya dua bulan merebut kesempatan yang dibangun oleh Teguh selama dua puluh tahun. Satu-satunya kesempatan bagi Teguh dalam kehidupan Rosie adalah menjadi Om untuk Anggrek, Uncle untuk Sekar, Paman untuk Jasmine dan Lili, anak-anak Rosie dan Nathan.

Sore itu, di pantai Jimbaran Bali, melalui teleconference Teguh "menghadiri" perayaan ulang tahun pernikahan Rosie dan Nathan yang ke-13. Sebagai penikmat sunset, mereka memilih untuk menyaksikan sunset di pantai itu bersama puluhan turis lainnya. Tidak ada yang menyangkan sunset itu adalah sunset terakhir yang dinikmati oleh Nathan. Bom Jimbaran Bali merebut semua kebahagiaan tingkat tinggi yang dibangun oleh keluarganya. Teguh yang hanya bisa menyaksikan semuanya, segera berangkat ke Bali saat itu juga, dan melupakan hari pertunangannya dengan Sekar, pacarnya, yang akan dilaksanakan keesokan harinya.

Kepergian Nathan memberikan luka mendalam bagi Rosie, sehingga Rosie mengalami depresi akut. Bukan itu saja, anak mereka Sekar harus kehilangan kemampuan menggunakan tangan kanannya bermain biola, dan Lili tidak mau berbicara sejak saat itu. Teguh-lah yang menjadi penopang anggota keluarga yang tersisa itu. Rosie harus dirawat di sebuah shelter,  dan Teguh mengambil alih pengasuhan anak-anak dan pengelolaan resor keluarga di Gili Trawangan milik Rosie. Keputusan yang diambilnya itu membuat dia harus melepaskan Sekar, calon tunangannya.

Romantisme yang diangkat  dalam novel ini bukan sekedar kisah kasih tak sampai antara Teguh dan Rosie, ataupun cinta segiempat antara Nathan, Rosie, Teguh dan Sekar. Jauh lebih dalam, Tere-Liye memperlihatkan kasih sayang seorang paman kepada keponakan-keponakannya. Bagian dimana Teguh berusaha membangkitkan semangat hidup Anggrek, Sekar, Jasmine dan Lili adalah nyawa utama dalam novel ini.

Tere-Liye selalu bisa mengaduk-aduk emosi pembaca sejak prolog hingga epilog di setiap novelnya. Begitupun dalam novel ini. Berbagai kisah fenomenal yang mengguncang perasaan yang terjadi di Indonetsia diolah sedemikian rupa oleh Tere-Liye sehingga kita ikut merasakannya lewat rangkaian kata-kata. Sebut saja peristiwa tsunami di Aceh pada bukunya Hafalan Sholat Delisa, dan peristiwa bom Jimbaran Bali di buku ini. Kalimat-kalimatnya berasa seperti quote. 

Sayangnya, ending-nya berasa dipaksakan menurut saya. Setelah berkali-kali membuat keputusan, kesempatan bagi Teguh tetap saja menjadi suratan takdir yang tidak diketahuinya. Silahkan membacanya untuk mengetahui siapa yang menjadi takdir bagi Teguh :)



PS. Postingan untuk Name In A Book Challenge 2012