~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label New Adult. Show all posts
Showing posts with label New Adult. Show all posts

#297 Beautiful Disaster


Judul Buku : Beautiful Disaster (Beautiful #1)
Penulis : Jamie McGuire
Halaman : 480
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Abby Abernathy gadis baik-baik. Dia tak suka mabuk-mabukan dan tak pernah mengumpat. pakaiannya selalu rapi, dan dia yakin dia sudah melarikan diri cukup jauh dari masa lalunya yang suram. Tapi ketika tiba di Eastern University bersama sahabatnya, America, lembaran baru yang dimulainya langsung menghadapi tantangan.

#255 Point of Retreat


Judul Buku : Point of Retreat (Titik Mundur) (Slammed #2)
Penulis : Colleen Hoover
Halaman : 352
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Setelah membaca kisah antara Lake dan Will yang diceritakan dari sudut pandang Lake di Slammed, kali ini Will yang akan bercerita mengenai kelanjutan hidup mereka. Pasca meninggalnya ibu Lake, Julia, Lake menjadi wali penuh atas Kel adiknya. Hal yang sama dilakukan oleh Will sebelumnya yang menjadi wali atas Caulder. Kali ini Will dan Lake sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Hidup mereka tidak bisa dikatakan mudah, tapi keduanya bisa mengatasinya.

#254 Slammed


Judul Buku : Slammed (Cinta Terlarang) (Slammed #1)
Penulis : Colleen Hoover
Halaman : 336
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Layken (atau Lake) harus menerima banyak kenyataan sejak ayahnya meninggal dunia akibat serangan jantung. Salah satunya adalah mereka harus meninggalkan Texas menuju Michigan, untuk menempati rumah dengan harga yang lebih terjangkau untuk kehidupan dia, ibunya dan adiknya Kel. Maka, di sinilah Lake, di sebuah kota kecil di Michigan untuk memulai hidup barunya. Kehadiran Caulder anak sebaya Kel di seberang rumahnya, yang langsung akrab dengan Kel, sedikit memudahkan masa transisi ini. Apalagi, Will, kakak Caulder yang begitu mempesona di mata Lake membuat semuanya terlihat indah.


#235 Abel



Judul Buku : Abel (5th Street #4)
Penulis : Elizabeth Reyes
Halaman : 316 (ebook)
Penerbit : Smashwords Edition

Setelah Noah, Gio dan Hector, giliran kisah Abel Alaya (sahabat dari Noah dan Gio sekaligus kakak dari Hector) yang diangkat di buku #4 ini.  Pasangannya siapa lagi kalau bukan Nellie Gamboa, sahabat dari Roni (di buku #1). Yang menarik adalah hubungan mereka sudah sedikit disinggung dalam kisahnya Hector, dimana Abel ini kelihatan ga suka dengan Nellie. Yah...antara suka dan ga suka siapa yang bisa menjamin. Buktinya baru di prolog aja, keduanya udah langsung berhubungan fisik. Di atas cruise lagi.

#230 Faking It


Judul Buku : Faking It (Losing It #2)
Penulis : Cora Carmack
Halaman : 320 (ebook)
Penerbit : William Morrow 


Cade is back!!  Setelah patah hati karena Bliss, sahabat dan cinta pertamanya memilih untuk bersama dengan Garrick, Cade berusaha melanjutkan hidupnya. Tujuan pertamanya adalah untuk melupakan Bliss. Tetapi itu hal yang sulit jika Bliss dan Garrick selalu menemui dirinya. Apalagi ketika Garrick memberikan rekomendasi untuknya mengambil master degree dalam bidang akting. Ketika Garrick mengatakan bahwa dia akan melamar Bliss, tidak ada harapan lagi baginya untuk bisa mendapatkan Bliss.

#160 Hector


Judul Buku : Hector (5th Street #3)
Penulis : Elizabeth Reyes
Penerbit : Smashword Edition

Hector Ayala sekarang menjadi pemilik 5th Street gym bersama kakaknya, Abel dan dua rekannya, Noah dan Gio. Selain itu dia juga mendapat kesempatan untuk bertanding pada event Friday Night yang diadakan oleh 5th Street. Tapi menjadi petinju saja tidak cukup, karena Abel dan Mamanya menghendaki Hector melanjutkan sekolahnya. Untuk itu, dia memanfaatkan keahliannya bermain catur untuk mendapatkan beasiswa masuk ke universitas.

Pada saat dia berkunjung ke universitas tersebut, dia mendapati seorang gadis berambut merah yang sedang diganggu oleh sekelompok pemuda. Yang mengejutkan adalah dia melihat Walter, temannya di masa SMA, sedang membela gadis itu. Sayangnya tubuh besar Walter tidak berguna, dia justru jatuh tersungkur dipukuli oleh pemuda tadi. Dia mengingat waktu SMA dulu, teman dekatnya sering mem-bully Walter hingga Walter mumutuskan berhenti sekolah. Hector tidak punya kesempatan menolong Walter saat itu, dan dia terus menyesali karena tidak menolong Walter. Sekarang adalah kesempatannya untuk menolong Walter. Dengan mudah, Hector menyingkirkan sekelompok pemuda itu.

Gadis berambut merah itu bernama Charlotte Brennan a.k.a Charlee. Dari pengakuan Walter, dia sengaja ingin menolong Charlee karena dia menyukai gadis itu. Ternyata Charlee dan Walter adalah anggota tim catur di universitas itu, dan mereka masuk ke dalam US team untuk maju ke event Junior National Olympiad. Lewat suatu seleksi, Hector pun menjadi anggota team dan hal itu membuka jalan baginya untuk masuk ke universitas menggunakan beasiswa catur. Semakin sering Hector berinteraksi dengan Charlee, dia menyadari bahwa dia menyukai gadis itu. Tetapi Hector tidak mungkin merebut Charlee dari Walter.

Di sisi lain, Charlee langsung jatuh cinta pada pemuda tampan yang menolongnya. Charlee mulai berfantasy tentang Hector, membayangkan dirinya menjadi kekasih Hector. Tetapi berkali-kali dia menjumpai Hector bersama wanita lain. Suatu waktu Charlee mendapatkan kesempatan berduaan dengan Hector, dan ketertarikan fisik di antara mereka memicu ciuman panas yang sudah lama diimpikan Charlee. Seketika Charlee menyimpan harapan Hector mempunyai perasaaan yang sama dengannya. Tetapi harapan itu pupus, ketika keesokan harinya Hector memintanya untuk melupakan kejadian malam itu.

Kisah Hector lebih baik daripada kisah Gio, tetapi tidak sebagus kisah Noah. Noah yang sudah menjadi ayah dan Gio yang bertunangan adalah sekilas info mengenai dua tokoh utama serial 5th Street. Abel justru mendapat porsi yang lebih, selain karena dia saudaranya Hector, mungkin juga karena berikutnya Abel yang menjadi tokoh utama dalam serial 5th Street #4. Kegiatan di gym juga tidak sebanyak sebelumnya, kecuali pada saat ada pertandingan tinju dan pesta perayaan sesudahnya. Cinta segitiga antara Hector, Charlee dan Walter adalah konflik utama yang mengambil hampir dua per tiga bagian dari buku ini. Awalnya memang agak membosankan, tetapi mendekati akhir kisahnya menjadi "panas" dan ada beberapa flashback yang justru membuat kisahnya menarik. Masa lalu Charlee salah satunya. Saya mengapresiasi usaha penulis yang berusaha menggambarkan tentang seorang gadis remaja yang tertutup, pemalu, dan broken home. Seperti remaja di Amerika lainnya, Charlee juga memiliki kebutuhan seksual, dan karena dia tidak mempunyai teman kencan, dia pun sering melakukan D.I.Y. (Do It Yourself -- you know what I mean). Ketika Charlee menceritakan masa lalunya pada Hector, justru Hector yang memberikan penjelasan logis kepada Charlee bahwa apa yang dilakukannya itu bukanlah sesuatu yang freak. Kehidupan tanpa seorang ayah yang dijalani oleh personil 5th Street ini membuat mereka menjadi dewasa melebihi usianya, dan Hector salah satu di antaranya. Meskipun dia adalah personil termuda, tetapi pemikiran dan cara bersikap Hactor sudah sama dengan personil lainnya.


#159 Gio


Judul Buku : Gio (5th Street #2)
Penulis : Elizabeth Reyes
Halaman : 261 
Penerbit : Smashword Edition

Ketika membaca serial 5th Street yang pertama (Noah), di antara ketiga sahabat Noah (Gio, Hector dan Rebel) saya paling suka dengan Gio yang berkarakter tegas dan setia kawan. Gio juga yang paling dekat dengan Noah dan selalu memberikan nasihat sebagai seorang sahabat kepada Noah. Tetapi ketika saya selesai membaca buku kedua ini, kadar suka saya pada Gio menurun. Kenapa?

Seperti judulnya, tokoh utama dalam buku kedua adalah Gio. Diawali dengan kisah Gio yang sempat down karena lawan tandingnya meninggal dunia setelah KO di tangan Gio (yang belum mengikuti 5th Street, serial ini bercerita tentang pemuda-pemuda dengan profesi sebagai petinju amatir). Sejak saat itu Gio memutuskan berhenti dari profesinya sebagai petinju. Tetapi Jack pemilik 5th Steet gym berharap Gio tetap menjadi trainer. Soalnya namanya sudah dimasukkan sebagai ahli waris gym itu oleh Jack. Sebenarnya ketiga temannya yang lain juga akan menjadiahli waris, tetapi karena urusannya ribet, nama Gio yang pertama dimasukkan.

Felix, seorang petinju profesional alumnus dari 5th Street meminta Gio secara khusus untuk menjadi sparring partner-nya dalam rangka persiapan untuk pertandingan berikutnya. Gio diajak ke kompleks tempat Felix latihan. Fasilitas di sana membuat Gio terkagum-kagum. Tetapi yang membuat Gio lebih takjub adalah dia menemukan seorang gadis yang ternyata adalah gadis yang dulu sempat disukainya di SMA berada di kompleks itu. Bianca yang dulunya biasa saja kini tampil mempesona dengan matanya yang besar. Gio merasakan ketertarikan fisik pada Bianca kembali muncul. Sayangnya Bianca adalah pacar Felix, sahabatnya.

Selanjutnya bisa ditebak, Gio jatuh cinta pada pacar sahabatnya. Bianca sendiri juga ragu, dia mencintai Felix, tetapi kenapa Gio yang selalu hadir dalam mimpinya. Meskipun dalam kisah ini Felix digambarkan sebagai womanizer, tetapi menurut pengakuan Felix, Bianca adalah gadis yang bisa membuatnya meninggalkan sifat womanizer-nya itu. Gio yang mengetahui tentang gadis-gadis koleksi Felix merasa kesal setiap kali dia mendengar Bianca mengucapkan "i love you" pada Felix. Puncaknya ketika Felix harus meninggalkan Bianca dan Gio di kabin karena acara sosial, keduanya justru melampiaskan rasa penasaran di antara mereka dengan ciuman-ciuman mesra. Ciuman itu bukannya menghapuskan rasa penasaran, malah memicu hasrat yang lain. Noah sebagai sahabatnya Gio sebenarnya menasihati Gio, bagaimana pun juga Bianca adalah milik temannya. Tetapi Gio menjawab bahwa dia tidak bisa melawan kekuatan cinta.

Saya hanya memberikan bintang dua pada buku kedua ini. Yang pertama, yah karena Gio terhitung selingkuh dengan Bianca. Kemudian penyelesaiannya yang terkesan memaksakan keduanya untuk bisa bersatu (ups... spoiler detected). Lebih lanjut pewarisan gym yang tadinya saya duga akan menimbulkan masalah di antara keempat sahabat itu malah tidak diselesaikan dengan baik. Saya berharap kisah the youngest one, Hector, akan lebih baik lagi.


#142 Losing It


Judul Buku : Losing It
Penulis : Cora Carmack
Halaman : 288 (ebook) 
Penerbit : William Morrow Paperbacks

Okey.  Cover dan judulnya sudah cukup bercerita tentang isi dari novel ini.  Karena review dari beberapa teman di GR yang mengatakan buku ini lucu dan entertaining, saya jadi tertarik untuk membacanya. Dan seperti biasa setelah punya ebook-nya dan tertimbun bersama-sama ebook lain, sempat terlupakan. Sampai semalam, secara random saya memilih satu ebook untuk dibaca karena tidak bisa tidur. Dan saya tidak menyesal memilih novel ini, karena cukup menghibur dan mendinginkan kembali kepala saya yang panas gara-gara ujian :)

Bliss adalah mahasiswa tingkat akhir jurusan teater yang senewen gara-gara masih virgin padahal sebentar lagi dia mau lulus dari college. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan di luar sana. Bukannya Bliss tidak dekat dengan cowok, tetapi dia merasa belum tepat waktunya untuk melepas virginitasnya. Tapi sekarang, Bliss harus segera mencari seseorang yang mau diajak one night stand. Kesley, sahabatnya, mengajaknya ke suatu bar setelah mendandaninya habis-habisan. Di bar itu dia bertemu dengan seorang pria yang membaca buku Shakespeare di tengah keriuhan bar. Hal aneh itu menarik perhatian Bliss, dan ternyata pria itu juga tertarik padanya. Bliss memutuskan untuk menjadikan Garrick sebagai pria yang akan mengambil virginitasnya. Bliss setuju ketika Garrick mengajaknya pulang ke apartemennya. Ternyata Garrick tinggal tidak jauh dari apartemen Bliss. Karena apartemen Garrick terkunci, mereka pun pindah lokasi ke apartemen Bliss. Tapi ketika situasi mulai memanas, Bliss kembali ragu dan menghentikan dengan segera apa yang sementara mereka lakukan, dan berlari keluar dari apartemennya sendiri dengan hanya menggunakan rok mini dan bra :D

Bliss yang kehilangan kesempatannya, berusaha menghindari Garrick. Sialnya, ketika masuk ke kelas keesokan harinya, Garrick ada di sana. Ternyata Garrick adalah professor pengganti yang akan mengajar Bliss selama satu semester penuh di kelas akting. Bliss salah tingkah, apalagi Garrick. Tapi mereka sepakat bahwa apa yang terjadi kemarin malam harus segera dilupakan. Sayangnya baik Bliss dan Garrick sudah saling menyukai, dan tentu saja satu semester menjadi neraka bagi Bliss.

Bliss yang jatuh cinta pada Garrick, tapi tidak bisa mewujudkan cintanya, tiba-tiba kelimpungan ketika sahabatnya Cade menyatakan cintanya padanya. Tentu saja Bliss tidak bisa menerima Cade, karena hatinya sudah ada pada Garrick. Tapi apakah dia harus menunggu Garrick tanpa kepastian, sementara Cade ada di dekatnya selalu? Apakah Bliss akan melepas virginitasnya pada Cade saja?

Walaupun temanya sederhana, tapi dialognya yang lucu membuat saya tanpa ragu memberikan bintang empat untuk novel ini.  Trus kenapa ga bintang lima aja? Coba deh perhatikan covernya... dua orang di cover itu ABG banget kan? Sementara dalam novelnya mereka udah twenty something (secara yang satu mahasiswi tingkat akhir dan yang satu lagi professor). Membaca novel ini seperti menonton film komedi romantis. Kalau kamu butuh bacaan yang ringan, cepat, dan lucu saya merekomendasikan novel ini, dengan catatan ada sedikit adegan kipas di sana :D

Cara Carmack, ternyata juga berumur twenty-something. Dia juga mendalami teater, seorang guru, dan pekerja paruh waktu. Hehe, penulis ini sepertinya memasukkan beberapa background dirinya dalam novel pertamanya ini. Untuk lebih mengetahui tentang penulis ini, silahkan berkunjung ke blognya.



#133 My Favorite Mistake


Judul : My Favorite Mistake
Penulis : Chelsea M. Cameron
Halaman : 370 (ebooks)
Penerbit : Harlequin

Taylor memasuki tahun kedua di UMaine, dan harus pindah ke apartemen baru yang disediakan oleh pihak universitas. Bersama Renee dan Darah mereka menunggu satu orang lagi penghuni baru. Dan betapa mereka sangat terkejut ketika penghuni baru yang "diberikan" oleh universitas adalah seorang pemuda. Universitas pasti salah mengirim orang, tetapi Hunter pemuda itu berhasil menunjukkan surat keterangan bahwa dia memang harus tinggal di apartemen itu. Sial bagi Taylor, dia harus berbagi kamar dengan Hunter. Taylor yang sudah kesal dengan pengaturan yang salah ini, semakin kesal ketika Hunter mengajukan kesepakatan pada Taylor.

“Just hear me out. If you can prove to me that you hate me, absolutely hate me, thenI'll leave. Find a couch to crash on.”
I snorted. “That should be easy; you can go pack your stuff now.”
“You haven't heard the rest of the deal. If you can prove to me that you love me, absolutely love me, I'll leave.” For the first time his face was serious. 
 Tidak ada jalan lain bagi Taylor selain menerima kesepakatan itu, karena pihak Universitas ternyata tidak memberikan solusi apa-apa. Taylor harus membiasakan dirinya tidur sekamar dengan pria yang punya kebiasaan mimpi buruk (sampai terkadang mengigau dalam tidurnya) dan ehm.. sleep naked. Semua itu bukan hal yang mudah bagi Taylor yang memiliki trauma dari masa lalunya. Akibat suatu peristiwa yang dialaminya saat berusia 12 tahun, Taylor tidak bisa mempercayai lelaki manapun apalagi untuk jatuh cinta. Hunter berusaha meruntuhkan dinding pertahanan Taylor, tapi di satu sisi dia tidak berani membuka diri sepenuhnya kepada Taylor.

Hunter adalah pria yang sulit untuk disepelekan, dengan mata biru, wajah tampan, beberapa tattoo di  badannya, pintar memasak, dan oh.. pemain gitar yang menguasai banyak lagu (tidak ketinggalan suara merdunya). Satu adegan yang membuat saya meleleh adalah ketika Hunter berusaha berbaikan dengan Taylor dengan mengajaknya kencan di sebuah rumah makan. Dan di akhir kencan itu Hunter dengan gitarnya menyanyikan lagu Fix You-nya Coldplay. (Saya jadi teringat dengan Boyce Avenue yang menyanyikan lagu tersebut)

Ada begitu banyak adegan romantis dan lucu yang heart taking dalam novel ini.  Ada satu adegan dimana Hunter membawa Taylor ke sebuah kastil dan mereka berpura-pura seperti pasangan yang mencari lokasi yang cocok untuk pernikahan mereka. Ketika mereka masuk ke dalam perpustakaan yang berisi banyak buku, Taylor yang kutu buku sangat takjub dan membuat Hunter heran dengan reaksi Taylor. Taylor pun menjawab,
“Why do you think Beauty picked the Beast? It was the library.”
 Romantisnya dimana? Bayangkan saja jika ada pria yang mengatakan kalimat ini di depan ibumu.
“Everything I do is to impress her. It’s my mission in life”
 Hahaha.. call me cheesy, but I absolutely will choose Hunter as one of the Best Boyfriend this year.


Ohya, review ini saya ikutkan dalam 2012 End of Year Book Contest yang diadakan oleh Okky. Kriteria yang terpenuhi adalah pada judulnya terdapat huruf A. Semoga menang!



#32 Where She Went - Setelah Dia Pergi


Judul Buku : Where She Went (Setelah Dia Pergi)
Penulis : Gayle Forman
Halaman : 240
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Saya ingin bercerita sedikit. Saat saya ke Gramedia di Mall Panakkukang, Makassar minggu lalu, saya berkali-kali melirik buku ini di rak buku. Masih ada bertumpuk-tumpuk buku ini di sana. Tapi saya tidak menemukan buku pertamanya, If I Stay. Saya memutuskan untuk meninggalkan rak buku tanpa mengambil buku ini. Saya berjanji tidak akan membelinya sebelum saya mempunyai seri pertama dari buku ini. Kemudia saya berpindah ke Gramedia lainnya, dan saya akhirnya menemukan If I Stay di antar tumpukan buku di pojok ruangan (saat itu sepertinya petugasnya sedang mengatur kembali tata letak buku-buku untuk dipajang di rak buku). Buku If I Stay tinggal satu buah. Tanpa pikir panjang lagi, saya mengambil buku itu, dan buku Where She Went tentunya.

Setelah membaca if I Stay, saya tidak perlu menunggu lama lagi untuk melanjutkan membaca sekuelnya. Berbeda dengan buku pertama yang “dingin”, di buku kedua ini saya merasakan kesan lebih “hangat”. Baik dari segi cover-nya, dan juga alur ceritanya. Kali ini kita akan melihat kisah cinta Adam dan Mia dari sudut pandang Adam.

Pada awal buku digambarkan bagaimana Adam yang sukses sebagai rockstar dengan band-nya Shooting Star. Tapi Adam tidak lagi bersama Mia. Mia memang memilih untuk tinggal dan hidup kembali, tetapi dia memilih untuk pergi dari kehidupan Adam. Selanjutnya dikisahkan bagaimana hidup Adam yang kacau, ketergantungan pada obat penenang dan rokok, serta mulai menyendiri.

Mia melanjutkan hidupnya sendiri. Masuk ke Juilliard setelah pulih dengan menakjubkan dari trauma kecelakaan yang membuatnya menjadi sebatang kara. Mia lulus sebagai musisi berbakat hanya dalam tiga tahun, dan memulai konser tunggalnya. Di konser itulah Mia kembali bertemu dengan Adam.

Pertemuan mereka membuat mereka kembali mengenang masa lalu, dan mencoba menjawab segala pertanyaan yang menggantung akibat perpisahan yang mereka alami. Dengan menjalani satu malam berkeliling kota New York , mereka mengurai tiga tahun yang terlewat dalam kesedihan, kesepian, kebencian dan amarah.

Dibandingkan buku pertama, saya lebih menyukai penggambaran lewat sudut pandang Adam. Jika di buku pertama, Adam digambarkan sebagai sosok yang cool, di buku ini kita bisa melihat bahwa Adam juga manusia yang bisa rapuh karena cinta. Adam yang dulunya berkata bahwa dia bisa melepaskan Mia asalkan Mia tetap hidup, ternyata tidak mampu menepati janjinya.

Btw, beberapa waktu lalu teman-teman BBI membuat polling best buddy dari buku-buku yang mereka baca selama 2011. Dan Adam Wilde menempati posisi pertama di hampir kebanyakan pilihan teman-teman BBI. Hal tersebutlah yang membuat saya penasaran dengan Adam dan memutuskan untuk membeli kedua buku karangan Gayle Forman ini. Tapi setelah saya membaca buku ini, ada yang membuat saya lebih penasaran lagi dibandingkan sosok Adam. Saya ingin sekali mendengarkan lagu-lagu Shooting Star dalam album Collateral Damage yang sebagian besar liriknya ditulis dalam buku ini.

Akhirnya, empat bintang untuk Adam.


#31 If I Stay - Jika Aku Tetap di Sini


Judul Buku : If I Stay - Jika Aku Tetap di Sini
Penulis : Gayle Forman
Halaman : 200
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Mia Hall, seorang gadis pemain cello berbakat yang lahir dari keluarga musisi. Dad, Mom, Teddy adiknya, bahkan Adam pacarnya mendukung kecintaannya pada musik klasik, walaupun mereka semuanya berharap Mia mengikuti jalur rockstar seperti mereka. Berkat kepiawaian Mia memainkan cello, bukan tidak mungkin Mia akan melanjutkan sekolahnya di Juilliard.

Semuanya nyaris sempurna, hingga suatu hari Mia dan keluarganya mengalami kecelakaan. Mobil yang ditumpangi oleh Mia dan keluarganya hancur berantakan. Dad dan Mom meninggal seketika di lokasi kejadian. Teddy pun akhirnya meninggal di rumah sakit terdekat. Mia mengalami memar di otaknya, bocor pada limpa dan paru-parunya, serta kakinya terluka cukup parah. Mia berada di antara hidup dan mati. Benar-benar antara hidup dan mati.

Roh Mia menyaksikan semuanya. Tubuhnya terkapar di ruang bedah sampai di ruangan perawatan ICU. Mia juga menyaksikan kerabatnya berdatangan untuk menantikan dirinya. Termasuk Adam, pacarnya. Mia harus memutuskan apakah dia harus tinggal atau pergi saja. Keputusan yang tidak mudah bagi Mia.

Jika Mia memilih untuk pergi, maka semuanya akan mudah. Dia tidak perlu merasakan kebimbangannya lagi terhadap Adam. Akan tetapi, Mia bisa saja memilih untuk tetap tinggal, karena Mia yakin Mom tidak akan menyukai dirinya yang menyerah begitu saja. Lagipula bagaimana dengan Adam yang begitu dicintainya?

Jika kau tinggal, aku akan melakukan apa saja yang kau inginkan. Aku sanggup kehilangan kau asalkan aku tidak perlu kehilangan dirimu hari ini. Aku akan melepaskanmu. Jika kau tetap hidup.”
Memang kisah antara Mia-Adam yang menjadi benang merah dalam buku ini, yang diceritakan dari sudut pandang Mia. Mia juga menceritakan bagaimana dia bisa bertemu dengan Adam, perasaannya terhadap Adam, dan kebimbangan atas pilihan hidupnya yang berbeda dengan Adam.

Membaca buku ini seperti menyelami pikiran Mia yang bimbang. Penggambaran Mia yang masih muda tapi terasa dewasa sangat jelas. Rasanya terlalu berat untuk “menjadi” Mia. Bukan hanya soal pilihan yang harus diambilnya, tapi juga mengenai jalan hidupnya sendiri. Jika di cover-nya terlihat gambar kursi taman yang kosong dan salju yang jatuh perlahan, seperti itu yang saya rasakan saat membaca buku ini. Kesendirian, kesepian, dan dingin. Rasanya tidak sabar untuk melanjutkan membaca sekuel dari buku ini.

Sementara, tiga bintang untuk Mia.