~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Mahda Books. Show all posts
Showing posts with label Mahda Books. Show all posts

#201 Extremely Loud & Incredibly Close


Judul Buku :  Extremely Loud & Incredibly Close
Penulis : Jonathan Safran  Foer
Halaman : 430
Penerbit : Mahda Books



“Apa-apaan?”
 Itu adalah judul dari bab pertama buku ini, sekaligus ekspresi saya saat membaca buku ini. Dan ekspresi itu bertahan sampai saya selesai membaca buku ini. Kalau beberapa endorsement di sampul buku ini bilang “memikat”, “mengharu biru” dan “spektakuler”, saya akan menyebutnya “ajaib”. Kenapa ajaib? Baru kali ini saya menemukan buku dengan format penulisan yang amburadul, tapi dalam arti yang baik tentunya. Saya sampai harus mengunduh buku elektroniknya untuk membuktikan bahwa isi buku ini bukan salah cetak. Bayangkan saja ada satu halaman penuh dengan huruf bertumpuk seperti printout yang rusak, atau satu bab penuh dengan coretan-coretan merah seperti pekerjaan seorang editor. Ajaib.

Lalu ceritanya sendiri seperti apa?

Oskar Schell, seorang anak berumur sembilan tahun, baru saja kehilangan ayahnya akibat peristiwa 9/11 di New York. Di hari kematian ayahnya, Oskar baru saja pulang ke apartemen mereka dan mendengarkan pesan yang ditinggalkan oleh ayahnya di mesin penjawab telepon. Ada beberapa pesan di sana. Entah kenapa Oskar malah menyembunyikan mesin penjawab itu, dan menggantikannya dengan mesin penjawab baru yang sama persis. Yang Oskar sadari adalah bahwa dia satu-satunya orang di keluarganya yang mendengar suara ayahnya sebelum meninggal, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong ayahnya.

Beberapa waktu lamanya setelah kematian ayahnya, Oskar menemukan sebuah amplop dengan tulisan “Black” di dalam vas biru milik ayahnya. Di dalam amplop itu ada sebuah kunci. Oskar meyakini kunci itu milik ayahnya. Pertanyaannya, di mana lubang kunci yang pas dengan kunci itu? Maka dimulailah pencarian “Black” di seluruh New York. Oskar yakin ayahnya menyimpan sebuah rahasia seperti yang ayahnya sering lakukan selama ini. Bisa jadi ayahnya ingin Oskar membuka rahasia itu.

Saat membaca buku ini, saya sempat berpikir Oskar adalah anak yang “aneh”. Dia menganggap dirinya adalah seorang penemu (dia sampai menyurati Stephen Hawking berkali-kali), seorang yang jenius. Ada beberapa bagian yang saya tidak pahami dalam buku ini. Mengapa Oskar selalu membuat dirinya memar? Apakah itu semacam hukuman yang dia terapkan untuk dirinya sendiri? Apa mungkin anak berumur 9 tahun dibiarkan oleh orang tuanya berkeliaran di kota New York pasca peristiwa 9/11? Dalam buku ini kita juga melihat bagaimana Oskar yang tadinya begitu dekat dengan ayahnya, sepeninggal ayahnya dia masih mencari-cari keberadaan ayahnya namun justru hal itu membuatnya dekat dengan ibunya.

Membaca bagian Oskar saja sudah membuat saya bingung, ditambah lagi bagian surat si nenek dan kakek malah bikin tambah bingung. Tapi justru karena kebingungan itu membuat saya memberikan bintang empat untuk buku ini. Aneh, kan? Jangan-jangan keanehan Oskar sudah menjangkiti saya.

Ada yang memasukkan buku ini sebagai buku klasik kontemporer. Well… sejujurnya saya tidak tahu apa kriteria sebuah buku disebut sebagai klasik kontemporer. Saya akan mengutip blog-nya Ndari tentang kategori buku ini
Buku klasik-kontemporer adalah buku yang telah dibaca banyak orang, membuka tren baru di dunia literatur dan telah menjadi klasik, tapi ditulis di jaman modern. Buku-buku ini menjadi timeless, dibaca kapanpun tetap bagus.

Extremely Loud & Incredibly Close memuat tentang trauma (baik pasca 9/11 maupun pasca perang), kekeluargaan, dan perjuangan untuk bertahan hidup. Issu seperti ini seringkali menjadi topik pembahasan literature, khususnya di Amerika. Dan saya rasa buku ini bisa memberikan pelajaran bagi kita. Tentunya dengan gaya penulisan anti mainstream, saya yakin kapanpun waktunya buku ini tetap menarik untuk dibaca. Saya sendiri jadi tertarik mengoleksi buku ini. Apalagi mengingat penerbitnya yang udah gulung tikar, buku ini pasti akan jadi buku langka.

 4 stars

PS. Terima kasih untuk mas Tezar yang sudah meminjamkan bukunya :)

#56 The Wind In The Willows


Judul Buku : The Wind In The Willows 
Penulis : Kenneth Graham
Halaman : 134
Penerbit : Mahda Books

The Wind In The Willows menceritakan tentang persahabatan yang terjalin antara empat hewan, yaitu Moly si Tikus Air, Ratty si Tikus Tanah, Tuan Luak dan Toady si Katak. Keempatnya memiliki karakter yang berbeda-beda. Moly selalu dipenuhi rasa ingin tahu, Ratty senang bertualang di sungai dekat rumahnya,  Toady selalu ceroboh dan tidak sabaran, sementara Tuan Luak pendiam namun bijaksana.

Cerita ini diawali dengan kisah Moly yang meninggalkan rumahnya yang kecil dan gelap di suatu musim semi yang indah. Di atas permukaan, dia bertemu dengan Ratty yang kemudian mengajaknya bertualang menggunakan perahu. Ratty mengenalkan kehidupan di tepi sungai kepada Moly. Ada begitu banyak hal yang baru diketahui oleh Moly. Moly yang dulunya merasa rumahnya di dalam tanah terasa menyenangkan, ternyata menjumpai pengalaman yang lebih menyenangkan sejak berkenalan dengan Ratty. Sejak saat itu, Moly pun tinggal di rumah Ratty.

Di musim panas, Moly ingin sekali bertemu dengan si Katak. Ratty pun mengantarkan Moly ke Puri Katak, tempat tinggal Toady si Katak. Sesampainya di sana, ternyata Toady ingin mencoba bertualang menggunakan kereta gipsi miliknya, dan mengajak Moly dan Ratty untuk ikut serta. Ratty menyetujui permintaan Toady hanya supaya Toady tidak sendirian. Menurutnya Toady sangat berbahaya jika ditinggalkan sendirian. Lagipula, perjalanan bersama Toady biasanya tidak akan berlangsung lama. Benar saja, ketika dalam perjalanan mereka bertemu dengan tut-tut si mobil balap. Perhatian Toady langsung beralih ke mobil balap tersebut, dan hal tersebut membuat kereta gipsi mereka mengalami kecelakaan.

Sifat Moly yang selalu ingin tahu juga membuatnya ingin sekali menjumpai Tuan Luak. Moly pun mengajak Ratty, tapi kali Ratty menolak.  Pada suatu musim dingin, Moly nekat menuju ke Hutan Rimba untuk menjumpai Tuan Luak. Ternyata Hutan Rimba memang menakutkan. Ada banyak suara-suara aneh. Moly sangat ketakutan. Untungnya Ratty segera datang menjemputnya. Dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja mereka menemukan rumah Tuan Luak yang sudah tertutup salju. Beruntung bagi mereka, Tuan Luak menerima mereka dan menjamu mereka di rumahnya yang besar dan hangat.

Ketika Moly dan Ratty berjalan kembali ke rumah mereka, tanpa sengaja Moly mengenali kembali rumah yang pernah ditinggalkannya dulu. Moly ingin berhenti, tapi Ratty ingin cepat-cepat pulang ke rumahnya. Satu pelajaran moral yang saya peroleh lewat Moly adalah bahwa kemanapun kita pergi, rumah kita akan menjadi tempat kita kembali pulang. Dan pulang ke rumah sendiri itu, walaupun rumah kita kecil dan sederhana, rasanya sangat menyenangkan.
Aku tahu… rumahku kecil dan suram.. tidak seperti… tempatmu yang nyaman … atau Puri Katak yang indah…atau rumah Luak yang besar…tapi itu rumahku sendiri. (Moly – hal 51)


Namun sungguh melegakan dia punya tempat untuk pulang, rumahnya sendiri, hal-hal yang pasti membuatnya merasa diterima. Sungai adalah tempat bertualang. Di sini adalah rumahnya (Hal 57)

Petualangan Molly dan Ratty terus berlanjut. Suatu waktu mereka harus mencari Portly anak berang-berang yang hilang. Dalam perjalanan mereka mencari Portly, mereka mendengar ada suara seperti nyanyian surgawi. Ternyata suara itu berasal dari Pelindung Makhluk-Makhluk Kecil yang digambarkan sebagai sosok yang kokoh, besar, memiliki tanduk melengkung, dan senyuman yang indah. Mereka terpana melihat sosok itu, tapi bukan dengan rasa ketakutan melainkan rasa kedamaian. Mungkin begitulah rasanya jika kita “bertemu” dengan Pelindung kita. Tidak ada rasa takut, hanya damai. Dan seringkali, Pelindung itu bisa dijumpai dalam hening dan diam.

Berbeda dengan Moly dan Ratty yang menjumpai sosok Pelindung, Toady justru masuk penjara akibat ulahnya mencuri Tut-tut mobil balap. Walaupun sudah dibantu oleh anak sipir penjara untuk lolos, perjalanannya pulang ke rumah sering menjumpai hambatan. Bahkan ketika sampai di rumahnya ternyata dia harus menjumpai kenyataan bahwa rumahnya sudah ditempati oleh para Rase dan Cerpelai. Syukurlah Tuan Luak, Moly dan Ratty mau membantu Toady merebut rumahnya kembali.

The Wind in The Willows sebenarnya adalah cerita fabel untuk anak-anak, akan tetapi kisahnya tidaklah sederhana. Saya sendiri mengalami kesulitan dalam mencerna ceritanya yang menurut saya tidak mengalir. Buku ini sendiri dikategorikan dalam kategori “klasik fantasy”. Wah… untuk membaca buku fantasy saja saya harus mengerahkan pikiran, apalagi cerita klasik. Ketika saya membaca cerita ini untuk kedua kalinya barulah saya mulai memahami kisah empat sahabat ini. Untungnya buku tidak tebal, hurufnya enak dibaca, ilustrasinya indah. Saya juga suka dengan syair-syair yang ada di dalamnya. Rima-nya benar-benar pas. Buku ini juga tampak elit dengan hardcover dan pita pembatas buku. Sangat layak untuk dikoleksi. Tiga bintang untuk The Wind in The Willows.