~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

#164 The Silver Lining Playbook


Judul Buku : The Silver Lining Playbook
Penulis : Matthew Quick
Halaman : 234 (ebook)
Penerbit : Picador

Salah satu tema Baca Bareng BBI untuk bulan Februari ada buku-buku yang diadaptasi menjadi film dan dinominasikan dalam penghargan Oscar. Salah satu film yang dinominasikan dalam kategori Best Picture untuk tahun 2013 adalah Silver Linings Plyabook, yang diadaptasi dari novel berjudul The Silver Lining Playbook karya Matthew Quick. Berhubung ebooknya sudah tertimbun lama di dalam tablet, jadi saya memutuskan untuk membacanya dalam ajang Baca Bareng BBI. Tentunya setelah membaca bukunya, saya pun menonton filmnya. Dan setelah melakukan keduanya, ternyata saya mendapatkan ada banyak perbedaan antara buku dan filmnya.

Baiklah saya akan mereview bukunya dulu. Dengan mengambil sudut pandang orang pertama (Pat) kisahnya diawali dengan keluarnya Pat Peoples dari penjara (Pat menyebutnya sebagai the bad place). Selama di dalam penjara Pat juga mendapatkan terapi atas kelainan psikologis yang dialaminya. Tidak dijelaskan mengapa Pat masuk ke dalam tempat yang buruk itu atau mengapa Pat harus menjalani terapi. Yang Pat ketahui adalah sekeluarnya dia dari tempat yang buruk itu, Pat akan bertemu lagi dengan istrinya Nikki yang berpisah dengannya untuk sementara waktu. Pat juga berusaha memperbaiki dirinya menjadi pria yang diinginkan oleh Nikki. Pat mengurangi berat badannya dengan berolahraga secara rutin. Pat membaca literatur/sastra Amerika karena Nikki bekerja sebagai guru sastra. Pat ingin tampil sempurna di depan Nikki. Pat juga berusaha untuk selalu berpikiran bahwa di akhir semua peristiwa yang dialaminya dia akan melihat The Silver Lining. Menurut om Wiki, arti dari Silver Lining adalah optimisme. Ya, Pat berusaha optimis. Makanya dia sangat frustasi ketika membaca beberapa literatur seperti The Great Gatsby dan A Farewell to Arms yang berakhir tragis dan pesimis.

Ketika Pat tiba di rumah, dia menjumpai ada begitu banyak perubahan yang terjadi (selain ayahnya yang masih tidak mau berbicara dengannya). Foto pernikahannya dengan Nikki yang ada di ruang tamu tidak ada, Nikki pun tidak ada di rumah. Ibunya memberikan banyak alasan kepada Pat. Namun yang paling mengejutkan bagi Pat adalah ketika dia dan ayahnya menonton pertandingan football, dia menjumpai bahwa stadion Veteran sudah dirubuhkan. Pat lalu menyadari dia sudah berada di penjara dalam jangka waktu empat tahun. Waktu yang sangat lama bahkan untuk perpisahannya dengan Nikki.

Setelah keluar dari penjara, Pat harus tetap menjalani terapi bersama Dr. Patel. Pertemuan pertama tidak berlangsung baik. Pat tiba di kantor Dr. Patel dan mendengar lagu instrumentalia dari Kenny G yang berjudul "Songbird". Pat langsung beraksi terhadap lagu itu, dia menjadi marah dan pusing ketika mendengarnya. Pat menjadi benci dengan Kenny G, karena KG membuatnya lepas kendali. Bahkan mendengar namanya pun dia tidak mau. Belakangan diketahui bahwa lagu itu ada hubungannya dengan peristiwa kriminal yang membuatnya masuk penjara.

Hidup Pat mulai berubah ketika dia berjumpa dengan Tiffany, adik ipar temannya. Tiffany sendiri juga menjalani terapi dengan seorang ahli terapis. Tiffany adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya. Sejak suaminya meninggal, Tiffany menjadi hiperseks. Dia berhubungan dengan siapa saja di kantornya, hingga akhirnya dia dipecat. Singkat cerita Tiffany mau menjadi penghubung antara Pat dan Nikki (yang ternyata oleh hukum tidak boleh bertemu). Pat bisa menulis surat untuk Nikki dan nantinya Tiffany yang akan menyampaikannya kepada Nikki via telepon. Syarat yang diminta Tiffany hanya satu, Pat bersedia menjadi partnernya dalam acara dansa tahunan. Pat yang sangat ingin bertemu dengan Nikki menyetujui kesepakatan itu.

Okey, enough with the book. Kalau saya lanjutkan bisa jadi spoiler :) Mari kita lanjutkan ke filmnya. Berikut ini adalah trailer filmnya.






Seperti yang saya tuliskan sebelumnya ada banyak perbedaan antara buku dan filmnya. Kalau di buku disebutkan Pat berada di dalam penjara selama 4 tahun, di film Pat berada di pusat rehabilitasi selama 8 bulan karena penyakit bipolar yang dideritanya. Kemudian di buku disebutkan sikap ayahnya yang tidak bersahabat pada Pat, di film terlihat ayahnya mau menyapa Pat ketika dia tiba di rumah. Alasan perpisahannya dengan Nikki juga diketahui pada bagian awal film, berbeda dengan di buku yang baru ketahuan pada bagian akhir. Porsi Tiffany di film lebih banyak dibandingkan dengan yang di buku. Walaupun secara garis besar jalan ceritanya sama, tetapi saya lebih menyukai kisah di buku dibandingkan dengan filmnya, walaupun alur cerita di buku lebih lambat. But hey... Bradley Cooper dan Jennifer Lawrence aktingnya bagus lho. Buktinya Bradley Cooper masuk nominasi Oscar juga untuk pemeran utama pria Jennifer Lawrence memenangkan Oscar untuk pemeran utama wanita.

Saya menikmati membaca buku ini. Buat pencinta bacaan klasik mungkin tertarik membaca buku ini kalau saya beritahu bahwa Pat memberikan tanggapannya atas beberapa sastra klasik yang dibacanya. Ga tanggung-tanggung, setiap buku dibahas sampai satu bab. Kesetiaan Pat dalam menantikan pertemuannya dengan Nikki (walaupun belakangan jadi sedikit menyebalkan) dan optimismenya patut diberi acungan jempol. Di detik terakhir pun Pat berharap ada keajaiban. Dia ingin Tuhan bersikap optimis dalam mengatur jalan hidupnya.


#163 The Wrong Woman


Judul Buku : The Wrong Woman 
Penulis : Linda Warren
Halaman : 304 (ebook)
Penerbit : Harlequin Special Release

Ethan Ramsey datang ke Dallas untuk membujuk adiknya, Travis, supaya mau pulang mengunjungi ayah mereka di ranch pada akhir pekan. Alih-alih, Travis justru membawanya ke sebuah nightclub dan menyaksikan seorang wanita penari stripper beraksi. Sebagai seorang mantan agen FBI yang saat ini berprofesi sebagai Private Investigator, Ethan menyadari bahwa penari itu sedang ketakutan hanya dengan memandangi matanya. Tidak ingin tinggal lebih lama di nightclub itu, Ethan segera menyeret adiknya pulang. Keesokan harinya, di sebuah restauran, Ethan melihat si wanita penari itu sedang duduk sendirian. Travis lalu menyapa wanita itu dan mengajaknya kencan. Anehnya gadis itu justru sangat marah karena disangka seorang penari stripper. Ethan meminta maaf atas kelakuan adiknya, tetapi dia sendiri masih penasaran dengan wanita itu. Sebelum meninggalkan restauran, Ethan memberikan kartu namanya kepada wanita itu.

Serena Welch sedang memikirkan kondisi keuangan keluarganya ketika Travis datang menuduhnya sebagai seorang stripper. Sejak kakeknya meninggal dunia dan meninggalkan banyak hutang, Serena berusaha memikirkan bagaimana caranya agar rumah mereka tidak disita. Dari percakapan yang tidak terduga di restauran pagi itu, Serena mengetahui ada seseorang yang sangat mirip dengannya. Apakah mungkin dia masih memiliki kerabat? Satu-satunya jalan untuk mengetahuinya adalah dengan meminta bantuan Ethan.

Kehidupan Serena berubah ketika Ethan menemukan fakta bahwa penari stripper itu adalah kembarannya. Yang lebih mengejutkan lagi Sarah, kembarannya, terlibat dalam suatu sindikat geng narkoba yang menewaskan seorang polisi. Di samping menolong Serena, Ethan sendiri punya kepentingan terhadap Rudy boyd, pemilik nightclub tempat Sarah ditemukan. Rudy berusaha menjerumuskan Molly (adik perempuan Ethan) dalam penjualan narkoba.

Di samping masalah tentang saudara kembarnya yang membuatnya harus berurusan dengan Ethan, Serena menyadari bahwa dia menyukai Ethan sejak pertama kali melihatnya. Hanya saja Ethan adalah seorang pria dengan harga diri dan ego yang sangat tinggi. Kegagalan dalam pernikahan, kehilangan anak, dan kecelakaan yang menyebabkan cacat pada pinggulnya membuat Ethan menutup diri pada hubungan personal. Tetapi pesona Serena begitu kuat, apalagi dia tidak bisa melupakan sentuhan tangan Serena yang bisa menghilangkan rasa sakitnya seketika.

Buku pertama dari serial Right/Wrong Twin adalah novel karya Linda Warren yang pertama kali saya baca. Dengan mengangkat tema suspense crime yang juga romantis, Linda membuat beberapa konflik di dalam kisah ini menjadi satu kesatuan yang utuh. Konflik-konflik itu antara lain masa lalu Ethan, masa lalu Serena dan bagaimana dia bisa terpisah dengan kembarannya, geng narkoba dan nightclub, dan keluarga Ethan. Tetapi jangan khawatir, banyaknya konflik tidak lantas membuat pembaca menjadi bingung, justru saling memperjelas jalan ceritanya. Saya jadi penasaran bagaimana dengan kisah Sarah Welch di Right/Wrong Twin #2.



#162 The Various Flavors of Coffee


Judul Buku : The Various Flavors of Coffee (Rasa Cinta dalam Kopi)
Penulis : Anthony Capella
Halaman : 680
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Pertama kali melihat buku ini di toku buku, saya langsung tertarik dan ingin memilikinya. Saya jadi impulsif gara-gara ada kata kopi pada judulnya. Sebagai penikmat kopi (meskipun lebih sering minum kopi instan), saya merasa wajib membaca novel yang satu ini. Dan ketika saya membuka halaman pertama, saya tahu membaca buku ini seperti menikmati secangkir kopi. Sesapi rasanya perlahan-lahan, rasakan kepahitan, manis, legit, dan aroma kopi memenuhi pikiranmu. Dan ketika halaman terakhir ditutup, ada rasa puas dan menyenangkan yang ditimbulkan seperti efek secangkir kopi.

Robert Wallis, seorang pria yang pandai merangkai kata, menjalani hidupnya dengan gaya mewah dan dipenuhi wanita penghibur. Robert selalu ingin menjadi seperti penulis favoritnya, Oscar Wilde. Di suatu ketika, saat keuangannya sudah mulai menipis, dia masuk ke sebuah kafe dan memesan secangkir kopi. Tetapi saat dia meminum kopinya, seketika itu juga dia mengumpat karena kopi itu berasa seperti karat di lidahnya. Umpatannya didengar oleh seorang pengusaha kopi, Samuel Pinker. Samuel menawarkan pekerjaan untuknya,  membuat semacam pedoman mengenai cita rasa kopi. Pedoman itu selanjutnya akan dinamakan Pedoman Wallis-Pinker.

Dalam menyusun pedoman itu, Robert harus berkerja bersama Emily Pinker, anak sulung Samuel Pinker. Semakin sering bertemu Emily, Robert jatuh cinta padanya. Dengan memberanikan diri, Robert melamar Emily. Ternyata Mr. Pinker meminta mahar sebesar seribu pound. Robert tidak punya uang sebanyak itu. Mr. Pinker pun mengusulkan kepada Robert untuk pergi ke Afrika dan membuka lahan perkebunan kopi miliknya di sana. Demi cintanya, Robert berangkat ke Afrika.

Di Afrika, Robert mulai mengenal adat istiadat termasuk upacara meminum kopi khas Abyssinia tradisional. Dalam upacara itu, Robert melihat seorang budak wanita yang langsung memikat hatinya. Perasaan Robert berbalas. Dengan mengambil resiko, Fikre, budak wanita itu, menyelipkan sebiji kopi ke tangan Robert. Ketika seorang wanita memberikan biji kopi pada seorang pria, itu artinya dia juga memberikan cintanya pada pria itu. Biji kopi pertama diikuti oleh biji kopi - biji kopi berikutnya. Robert semakin yakin akan cintanya pada Fikre. Hasrat liar dalam dirinya membuatnya mengirimkan surat untuk membatalkan pertunangannya kepada Emily.

Di London, Emily yang sedang menunggu kepulangan Robert menyibukkan dirinya dalam pergerakan politik. Emily berjuang untuk hak suara wanita dalam politik. Ketika surat pembatalan pertunangan dari Robert datang, Emily patah hati. Untungnya ada Arthur  Brewer, seorang politisi yang menghiburnya. Singkat cerita, Arthur melamar Emily dan mereka menikah. Tetapi ketika Arthur kemudian menjadi seorang politik sukses di parlemen, kehidupan pernikahan mereka mulai berubah. Sembunyi-sembunyi, Emily melakukan pergerakan di bawah tanah memperjuangkan hak wanita. Hal yang tentunya bertentangan dengan kedudukan Arthur di parlemen.

Membuka lahan perkebunan di Afrika bukanlah hal yang mudah. Robert harus berurusan dengan penebangan hutan, perbudakan, pemberontakan kaum pribumi, utang piutang, dan kondisi alam yang tidak ramah. Seakan belum cukup masalah yang diterima Robert, dia pun menjadi korban penipuan yang telak. Penipuan yang hampir saja membuatnya mati di Afrika, seandainya saja dia tidak ditolong oleh pekerjanya.

Seperti kata pada judul aslinya, the various flavors, buku ini membahas mengenai politik, ekonomi, agronomi, humanisme, hingga percobaan medis yang berkaitan dengan orgasme dirangkai dengan apik. Dan bagi anda pencinta kopi, jangan lewatkan pengetahuan tentang aneka ragam jenis kopi di seluruh dunia yang diangkat dalam beberapa bagian buku ini. Buku ini layak untuk dikoleksi. Saya mengacungkan jempol untuk semua riset yang dilakukan oleh penulis.


Anthony Capella, telah menulis lima novel historical yang semuanya berhubungan dengan cita rasa. The Various flavors of coffee adalah novel ketiga yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Lahir di Uganda, Afrika pada tahun 1962, Anthony adalah alumni St Peter’s College, Oxford, untuk mayor English Literature. Kalau melihat daftar bukunya di sini, sepertinya Anthony akan menjadi penulis favorit saya berikutnya.

#161 The Sweet Sins


Judul Buku : The Sweet Sins
Penulis : Rangga Wirianto Saputra
Halaman : 428
Penerbit : Diva Press


Pertama kali melihat buku ini adalah pada saat launching perdana di Pesta Buku Jogjakarta tahun kemarin. Karena mengangkat tema LGBT, saya jadi penasaran dan menyimak talkshow dengan penulisnya saat itu. Sayangnya, uraian penulis saat itu tidak membuat saya lantas ingin langsung membeli bukunya. Tapi saya masih penasaran, apalagi melihat ratingnya di Goodreads yang lumayan tinggi, 4.27. Dan memang berjodoh, saya akhirnya mendapatkan bukunya karena menang kuis yang diselenggarakan oleh penerbitnya.

Reino, seorang mahasiswa di universitas Jogjakarta jatuh cinta pada Ardo, seorang newscaster TV lokal yang menolongnya dalam sebuah kecelakaan. Awalnya Reino sempat ragu dengan perasaannya ketika berada di dekat Ardo. Ardo begitu pengertian, lembut dan menyayangi dia. Reino yang tadinya berprofesi sebagai seorang gigolo tidak yakin orientasi seksualnya mengatakan bahwa dia mencintai seorang laki-laki. Tetapi perasaannya tidak bisa berbohong. Kebersamaannya dengan Ardo adalah hal yang membuat dirinya menjadi utuh.
“Tubuhmu adalah tubuhku. Aku milikmu. Kamu milikku. Tidak ada rahasia lagi. Tidak ada penghalang lagi. Sakitmu adalah sakitku. Tawamu, air matamu, marahmu, semuanya adalah tanggung jawabku”
Kalimat di atas adalah janji setia antara Aldo dan Reino. Walaupun cinta mereka sedemikian besarnya, tidak semua orang bisa menerima kenyataan bahwa Reino adalah gay. Termasuk juga sahabatnya, Nyta dan Maia, yang awalnya kecewa dengan perubahan pada diri Reino. Tapi hal itu tidak lantas merusak persahabatan mereka. Nyta dan Maia tetap menghargai Reino sebagai seorang individu. Ujian terberat justru datang dari pihak Ardo sendiri. Ketika dia dijodohkan dengan seorang gadis oleh keluarganya, Ardo berada di dalam dilema. Dia tidak ingin melepas Reino, namun tentu tidak mampu membuat orang tuanya kecewa. Dosa termanis yang dinikmati oleh Reino dan Ardo justru menjadi bumerang bagi mereka.

Tema LGBT termasuk jarang disentuh dalam novel romance Indonesia. Saya senang bisa menemukan satu lagi buku yang "tidak biasa". Apalagi mendengar pengakuan penulis yang mengatakan dia melakukan riset atas apa yang dituliskannya di dalam buku ini. Latar belakang pendidikan psikologi tentunya menjadi faktor penunjang untuk penulis. Seperti ketika penulis berusaha menceritakan bagaimana Reino menjadi gay karena kerinduannya akan sosok ayah yang hilang dari dalam hidupnya ditemukan pada diri Ardo.

Hanya saja saya ternyata tidak menikmati membaca buku ini. Gaya bahasa yang gaul dan blak-blakan ala ABG baru pertama kali pacaran membuat saya berpikir ulang tentang kedewasaan tokoh Reino dan Ardo. Belum lagi panggilan cheesy antara Reino dan Ardo seperti "sayangnya aku udah bangun, ya?" atau "pacarnya aku kenapa?". Adegan peluk-cium-bangun dengan tubuh basah dan lengket juga sering sekali diulang-ulang sehingga akhirnya malah tidak menjadi romantis. Kemudian cerita dalam cerita, teori fisika, perwayangan, opera, sampai segala maca filosofinya Ardo membuat saya bosan sampai akhirnya saya skip saja. Terakhir,  ada banyak ruang kosong dalam buku ini. Satu atau dua kalimat saja untuk satu halaman penuh. Saya pikir itu adalah pengantar antar bab, ternyata bukan. Dan itu terjadi dalam beberapa halaman. *sigh*. Dua bintang cukuplah untuk dosa yang manis ini.


#160 Hector


Judul Buku : Hector (5th Street #3)
Penulis : Elizabeth Reyes
Penerbit : Smashword Edition

Hector Ayala sekarang menjadi pemilik 5th Street gym bersama kakaknya, Abel dan dua rekannya, Noah dan Gio. Selain itu dia juga mendapat kesempatan untuk bertanding pada event Friday Night yang diadakan oleh 5th Street. Tapi menjadi petinju saja tidak cukup, karena Abel dan Mamanya menghendaki Hector melanjutkan sekolahnya. Untuk itu, dia memanfaatkan keahliannya bermain catur untuk mendapatkan beasiswa masuk ke universitas.

Pada saat dia berkunjung ke universitas tersebut, dia mendapati seorang gadis berambut merah yang sedang diganggu oleh sekelompok pemuda. Yang mengejutkan adalah dia melihat Walter, temannya di masa SMA, sedang membela gadis itu. Sayangnya tubuh besar Walter tidak berguna, dia justru jatuh tersungkur dipukuli oleh pemuda tadi. Dia mengingat waktu SMA dulu, teman dekatnya sering mem-bully Walter hingga Walter mumutuskan berhenti sekolah. Hector tidak punya kesempatan menolong Walter saat itu, dan dia terus menyesali karena tidak menolong Walter. Sekarang adalah kesempatannya untuk menolong Walter. Dengan mudah, Hector menyingkirkan sekelompok pemuda itu.

Gadis berambut merah itu bernama Charlotte Brennan a.k.a Charlee. Dari pengakuan Walter, dia sengaja ingin menolong Charlee karena dia menyukai gadis itu. Ternyata Charlee dan Walter adalah anggota tim catur di universitas itu, dan mereka masuk ke dalam US team untuk maju ke event Junior National Olympiad. Lewat suatu seleksi, Hector pun menjadi anggota team dan hal itu membuka jalan baginya untuk masuk ke universitas menggunakan beasiswa catur. Semakin sering Hector berinteraksi dengan Charlee, dia menyadari bahwa dia menyukai gadis itu. Tetapi Hector tidak mungkin merebut Charlee dari Walter.

Di sisi lain, Charlee langsung jatuh cinta pada pemuda tampan yang menolongnya. Charlee mulai berfantasy tentang Hector, membayangkan dirinya menjadi kekasih Hector. Tetapi berkali-kali dia menjumpai Hector bersama wanita lain. Suatu waktu Charlee mendapatkan kesempatan berduaan dengan Hector, dan ketertarikan fisik di antara mereka memicu ciuman panas yang sudah lama diimpikan Charlee. Seketika Charlee menyimpan harapan Hector mempunyai perasaaan yang sama dengannya. Tetapi harapan itu pupus, ketika keesokan harinya Hector memintanya untuk melupakan kejadian malam itu.

Kisah Hector lebih baik daripada kisah Gio, tetapi tidak sebagus kisah Noah. Noah yang sudah menjadi ayah dan Gio yang bertunangan adalah sekilas info mengenai dua tokoh utama serial 5th Street. Abel justru mendapat porsi yang lebih, selain karena dia saudaranya Hector, mungkin juga karena berikutnya Abel yang menjadi tokoh utama dalam serial 5th Street #4. Kegiatan di gym juga tidak sebanyak sebelumnya, kecuali pada saat ada pertandingan tinju dan pesta perayaan sesudahnya. Cinta segitiga antara Hector, Charlee dan Walter adalah konflik utama yang mengambil hampir dua per tiga bagian dari buku ini. Awalnya memang agak membosankan, tetapi mendekati akhir kisahnya menjadi "panas" dan ada beberapa flashback yang justru membuat kisahnya menarik. Masa lalu Charlee salah satunya. Saya mengapresiasi usaha penulis yang berusaha menggambarkan tentang seorang gadis remaja yang tertutup, pemalu, dan broken home. Seperti remaja di Amerika lainnya, Charlee juga memiliki kebutuhan seksual, dan karena dia tidak mempunyai teman kencan, dia pun sering melakukan D.I.Y. (Do It Yourself -- you know what I mean). Ketika Charlee menceritakan masa lalunya pada Hector, justru Hector yang memberikan penjelasan logis kepada Charlee bahwa apa yang dilakukannya itu bukanlah sesuatu yang freak. Kehidupan tanpa seorang ayah yang dijalani oleh personil 5th Street ini membuat mereka menjadi dewasa melebihi usianya, dan Hector salah satu di antaranya. Meskipun dia adalah personil termuda, tetapi pemikiran dan cara bersikap Hactor sudah sama dengan personil lainnya.