~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

#58 Selene Putri Sang Cleopatra


Judul Buku : Selene Putri Sang Cleopatra
Penulis : Michelle Moran
Halaman : 499
Penerbit : Esensi


Jika kita melihat sejarah antara Mesir dan Romawi di masa lampau, kita akan menemukan beberapa nama seperti Julius Caesar, Cleopatra VII, dan Tiga Serangkai : Oktovianus, Markus Antonius, dan Lepidus. Ketika Julius Caesar dibunuh oleh Brutus dan Cassius, Tiga Serangkai inilah yang bangkit untuk mengalahkan pembunuh Caesar tersebut. Akan tetapi persekutuan antara Tiga Serangkai tidak bertahan lama. Markus Antonius yang terpikat pada Cleopatra memilih untuk tinggal di Alexandria, Mesir dan meninggalkan Romawi, termasuk juga istrinya Oktavia (kakak dari Oktavianus).  Markus Antonius akhirnya menikah dengan Cleopatra dan memiliki tiga orang anak, Alexander, Selene, dan Ptolemius. Alexander dan Selene adalah anak kembar. Kehadiran ketiga anak tersebut semakin memicu perpecahan di antara Tiga Serangkai.

Pecahnya Tiga Serangkai diikuti dengan permusuhan di antara mereka. Ketika kekuasaan Lepidus direbut Oktavianus, Oktavianus pun bangkit melawan Markus Antonius. Lewat pertempuran laut di Aktium, Markus Antonius mengalami kekalahan. Ketika Markus Antonius dibunuh, dan Cleopatra melakukan bunuh diri karena tidak mau menjadi tawanan Oktavianus. Ketiga anak mereka akhirnya dibawa ke Romawi oleh Oktavianus. Sayangnya, Ptolemeus meninggal dalam perjalanan dan mayatnya dibuang ke laut.

Di Romawi, Alexander dan Selene dianggap sebagai tamu, dan dirawat oleh Oktavia. Meskipun datang sebagai tawanan perang, mereka berdua bisa tinggal di Villa Palatina milik Oktavianus.  Bagaimanapun juga mereka memiliki darah Romawi, walaupun secara fisik mereka terlihat seperti orang Mesir. Alexander memiliki keahlian berkuda, sementara Selene lebih tertarik pada arsitektur. Kemampuannya menggambar sketsa dan menguasai beberapa bahasa membuatnya semakin disayangi oleh Oktavia. Kepandaiaannya merancang bangunan dan  memilih bahan yang baik suatu waktu nanti akan menyelamatkan dirinya dari kekuasaan Oktovianus.

Berbeda dengan dua buku tentang Ratu Mesir sebelumnya (Nefertiti dan Nefertari), kali ini Selene tidak terlalu berperan dalam pemerintahan. Novel ini lebih banyak menceritakan tentang kondisi Romawi di bawah pemerintahan Caesar Oktovianus melalui sudut pandang Selene. Salah satu kondisi yang mendapat porsi cukup besar (dan menjadi benang merah dalam cerita ini) adalah tentang perbudakan. Pada saat itu, lebih dari separuh penduduk Romawi adalah budak dari berbagai bangsa. Mereka diperlakukan secara tidak manusiawi, diperjual-belikan, diadu dengan hewan buas, semuanya demi kesenangan penduduk yang memiliki kewarganegaraan Romawi. Jika ada seorang budak yang merugikan tuannya, maka seluruh budak harus menanggung akibatnya. Kondisi ini memicu pemberontakan bawah tanah oleh seorang yang disebut Elang Merah. Elang Merah selalu menempelkan pengumuman yang mengisyaratkan perlawanan terhadap Caesar Oktovianus. Beberapa kali juga Elang Merah menyelamatkan budak-budak yang tertindas. Yang jelas Elang Merah adalah ancaman bagi kekuasaan Caesar.

Selene, dalam hatinya, menentang perbudakan. Dia sendiri merasa dirinya tidak berbeda dengan nasib budak, karena masa depannya ditentukan oleh Caesar Oktovianus. Suatu waktu Selene membeli kebebasan seorang budak kesayangan Oktovia, setelah Gallia (nama budak itu) nyaris diperkosa oleh seorang senator tua. Selene pun ingin membangun sebuah rumah untuk anak-anak terlantar yang ditinggalkan oleh orangtua mereka di jalanan.

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah bahwa dalam usia yang masih belia (12 tahun), Selene mampu merancang sebuah bangunan, memikirkan persoalan yang dihadapi rakyat, termasuk segala intrik dalam kekuasaan Romawi. Bukan hanya Selene, saudara-saudara tirinya dan anak-anak Caesar, bahkan sudah memikirkan tentang pernikahan dan kekuasaan. Umur segitu sih saya masih "sibuk" bermain dengan teman-teman saya... ;-)

Dalam buku ini juga ada kisah romantisnya. Selene menyukai Marcellus, calon pewaris tahta (anak dari Oktavia). Akan tetapi Marcellus sudah dijodohkan dengan Julia anak dari Caesar Oktovianus (pernikahan antar saudara di Romawi dimaksudkan untuk menjaga kemurnian klan mereka). Selene sendiri telah dijodohkan dengan Juba, salah satu panglima kesayangan Oktovianus. Padahal Selene tidak menyukai Juba yang dianggapnya selalu memandang sinis dan kasar pada Selene.  Lagipula sebagai orang terdekat Oktovianus, tentu saja Selene menaruh curiga pada Juba. Hanya saja Selene tidak tahu bahwa Juba telah jatuh hati padanya dan selalu melindunginya sejak Selene dibawa dari Mesir. Sayangnya kisah manis antara Selene dan Juba hanya mendapat porsi yang sedikit.

Ohya, di buku ini kita tidak akan menjumpai silsilah keluarga seperti di kedua buku sebelumnya. Hal ini membuat saya cukup bingung menghubungkan antara satu tokoh dengan tokoh yang lain, padahal jumlah mereka cukup banyak. Sebagai gantinya, Michelle menampilkan peta kota Romawi lengkap dengan bangunan-bangunannya, yang menurut saya justru tidak perlu ada. Pilihan cover edisi terjemahan Bahasa Indonesia ini juga kurang menarik jika dibandingkan dengan cover edisi di luar sana.  Walaupun demikian, saya tidak ragu memberi  empat bintang untuk Selene :)


PS. Postingan untuk Name In A Book Challenge 2012

#57 Nefertari : Sang Ratu Heretik


Judul Buku : Nefertari Sang Ratu Heretik
Penulis : Michelle Moran
Halaman : 443
Penerbit : Esensi

Nefertari adalah anak dari adik perempuan Ratu Nefertiti, Mutnodjmet. Ketika Nefertiti dibunuh pleh pendeta Aten, Wazir Ay (ayahnya) menjadi seorang Firaun. Akan tetapi Firaun Ay hanya berkuasa sebentar, karena Firaun Ay dan semua keluarganya tewas terbakar. Ada yang mengatakan peristiwa tersebut adalah kecelakaan, tetapi banyak juga yang mengatakan bahwa mereka sengaja dibakar oleh pendeta-pendeta Aten. Untung bagi Mutnodjmet (dan Nefertari yang masih dalam kandungan), malam itu sedang berjalan-jalan di taman sehingga bisa lolos dari kebakaran maut. Jenderal Horemheb mengambil alih kekuasaan dengan menikahi keluarga Firaun tersisa yakni Mutnodjmet. Ketika Firaun Horemheb berkuasa, dia menghapuskan seluruh arca dan lukisan tentang keluarga Nefertiti tanpa tersisa. Dia pun mengumumkan bahwa Dinasti Nefertiti adalah kaum heretik (sesat). Sejarah Nefertiti dan keluarganya dihapuskan. Ketika Mutnodjmet melahirkan putrinya, Nefertari, dia pun wafat. Nefertari adalah satu-satunya putri dari Dinasti Nefertiti yang tersisa. Nefertari dinamakan seperti nama bibinya. Walaupun dia tetap dibesarkan di dalam lingkungan istana, akan tetapi julukan heretik tidak pernah terlepas darinya.

Firaun Horemheb tidak mempunyai keturunan, sehingga dia mengangkat Jenderal Ramses I menjadi Firaun selanjutnya. Ketika Firaun Ramses I mangkat, Mesir dipimpin oleh Firaun Seti putranya. Ramses I sendiri mempunyai dua orang putri lainnya, Henuttawy dan Woserit yang menjadi Pendeta Wanita Agung. Henuttawy adalah Pendeta Agung Isis dan Woserit adalah Pendeta Agung Hathor.

Nefertari tumbuh dan besar bersama Ramses II. Bersama dengan Asha (anak seorang Jenderal) mereka bertiga sering pergi berburu. Di antara Nefertari dan Ramses II mulai tumbuh benih-benih cinta. Akan tetapi ketika Ramses II diangkat menjadi Firaun Mesir Hulu, dia dinikahkan dengan Iset. Nefertari merasa sangat sedih, tapi dia menyadari status heretik yang disandangnya membuat rakyat Mesir tidak mempercayai dia. Apalagi Pendeta Agung Henuttawy berusaha meyakinkan Firaun Seti agar menjadikan Iset sebagai Permaisuri Utama. Langkah tersebut ditempuh oleh Pendeta Agung Henuttawy agar rakyat Mesir lebih sering berkunjung ke kuil Isis, sehingga dia lebih banyak memperoleh pundi-pundi persembahan.

Pendeta Agung Woserit, yang mengetahui kelicikan Henuttawy membawa Nefertari ke kuil hathor. Di sana dia dibimbing menjadi seorang putri bukan hanya cantik tapi juga cerdas dan pemberani.  Tidak heran jika Firaun Ramses II semakin cinta padanya, dan meminta Nefertari untuk menjadi istrinya. Dengan segala kepandaian Nefertari, akhirnya dia terpilih menjadi Permaisuri Utama.

Bulan ini, sehubungan dengan Hari Wanita Internasional yang jatuh di bulan Maret,  anggota Blogger Buku Indonesia (BBI) mengadakan acara baca bareng buku bertema perempuan. Saya memilih untuk membaca dua buku yang menceritakan tentang perempuan dari Mesir yang dengan kepandaian mereka akhirnya bisa memimpin rakyat Mesir. Kedua perempuan ini adalah Nefertiti dan Nefertari. Yang menarik dari keduanya adalah bukan hanya kecantikan mereka yang membuat mereka terpilih menjadi istri Firaun, tetapi juga kepandaian dan strategi yang mereka terapkan untuk mencapai tujuan mereka.

Dalam buku ini, tujuan utama Nefertari adalah memenangkan cinta Ramses II. Dia sadar bahwa kecantikan bukanlah satu-satunya modal utama memikat Ramses II. Dengan kemampuan berbahasa asing (dia mampu menguasai 8 bahasa asing...canggih ya), keberanian maju ke medan perang, kebijaksanaan menghadapi masalah di Balairung Sidang membuat dia menjadi kesayangan Ramses II.  Ramses II sendiri adalah Firaun yang paling terkenal di Mesir. Di masa pemerintahannya dia banyak membangun peninggalan sejarah yang masih dikenang sampai saat ini. Jika sebuah pepatah mengatakan bahwa di belakang pria yang sukses ada seorang wanita yang hebat, maka demikian juga yang terjadi pada Firaun Ramses II. Dengan adanya Nefertari sebagai partnernya dia mampu menjadi Firaun Mesir yang hebat. Kalau jaman sekarang, Nefertari mungkin bisa jadi Mentri Luar Negeri kayak Hillary Clinton ya

Terlepas dari beberapa hal yang hanya merupakan rekaan penulis dalam buku ini (sehingga buku ini dikategorikan sebagai fiksi), saya sangat menyukai cerita Nefertari ini. Penulisnya mampu menghadirkan kisah sejarah menjadi sebuah cerita yang mengalir dan mampu dicerna oleh masyarakat awam. Saya memberikan empat bintang untuk Nefertari.


PS. Postingan untuk Name In A Book Challenge 2012

#56 The Wind In The Willows


Judul Buku : The Wind In The Willows 
Penulis : Kenneth Graham
Halaman : 134
Penerbit : Mahda Books

The Wind In The Willows menceritakan tentang persahabatan yang terjalin antara empat hewan, yaitu Moly si Tikus Air, Ratty si Tikus Tanah, Tuan Luak dan Toady si Katak. Keempatnya memiliki karakter yang berbeda-beda. Moly selalu dipenuhi rasa ingin tahu, Ratty senang bertualang di sungai dekat rumahnya,  Toady selalu ceroboh dan tidak sabaran, sementara Tuan Luak pendiam namun bijaksana.

Cerita ini diawali dengan kisah Moly yang meninggalkan rumahnya yang kecil dan gelap di suatu musim semi yang indah. Di atas permukaan, dia bertemu dengan Ratty yang kemudian mengajaknya bertualang menggunakan perahu. Ratty mengenalkan kehidupan di tepi sungai kepada Moly. Ada begitu banyak hal yang baru diketahui oleh Moly. Moly yang dulunya merasa rumahnya di dalam tanah terasa menyenangkan, ternyata menjumpai pengalaman yang lebih menyenangkan sejak berkenalan dengan Ratty. Sejak saat itu, Moly pun tinggal di rumah Ratty.

Di musim panas, Moly ingin sekali bertemu dengan si Katak. Ratty pun mengantarkan Moly ke Puri Katak, tempat tinggal Toady si Katak. Sesampainya di sana, ternyata Toady ingin mencoba bertualang menggunakan kereta gipsi miliknya, dan mengajak Moly dan Ratty untuk ikut serta. Ratty menyetujui permintaan Toady hanya supaya Toady tidak sendirian. Menurutnya Toady sangat berbahaya jika ditinggalkan sendirian. Lagipula, perjalanan bersama Toady biasanya tidak akan berlangsung lama. Benar saja, ketika dalam perjalanan mereka bertemu dengan tut-tut si mobil balap. Perhatian Toady langsung beralih ke mobil balap tersebut, dan hal tersebut membuat kereta gipsi mereka mengalami kecelakaan.

Sifat Moly yang selalu ingin tahu juga membuatnya ingin sekali menjumpai Tuan Luak. Moly pun mengajak Ratty, tapi kali Ratty menolak.  Pada suatu musim dingin, Moly nekat menuju ke Hutan Rimba untuk menjumpai Tuan Luak. Ternyata Hutan Rimba memang menakutkan. Ada banyak suara-suara aneh. Moly sangat ketakutan. Untungnya Ratty segera datang menjemputnya. Dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja mereka menemukan rumah Tuan Luak yang sudah tertutup salju. Beruntung bagi mereka, Tuan Luak menerima mereka dan menjamu mereka di rumahnya yang besar dan hangat.

Ketika Moly dan Ratty berjalan kembali ke rumah mereka, tanpa sengaja Moly mengenali kembali rumah yang pernah ditinggalkannya dulu. Moly ingin berhenti, tapi Ratty ingin cepat-cepat pulang ke rumahnya. Satu pelajaran moral yang saya peroleh lewat Moly adalah bahwa kemanapun kita pergi, rumah kita akan menjadi tempat kita kembali pulang. Dan pulang ke rumah sendiri itu, walaupun rumah kita kecil dan sederhana, rasanya sangat menyenangkan.
Aku tahu… rumahku kecil dan suram.. tidak seperti… tempatmu yang nyaman … atau Puri Katak yang indah…atau rumah Luak yang besar…tapi itu rumahku sendiri. (Moly – hal 51)


Namun sungguh melegakan dia punya tempat untuk pulang, rumahnya sendiri, hal-hal yang pasti membuatnya merasa diterima. Sungai adalah tempat bertualang. Di sini adalah rumahnya (Hal 57)

Petualangan Molly dan Ratty terus berlanjut. Suatu waktu mereka harus mencari Portly anak berang-berang yang hilang. Dalam perjalanan mereka mencari Portly, mereka mendengar ada suara seperti nyanyian surgawi. Ternyata suara itu berasal dari Pelindung Makhluk-Makhluk Kecil yang digambarkan sebagai sosok yang kokoh, besar, memiliki tanduk melengkung, dan senyuman yang indah. Mereka terpana melihat sosok itu, tapi bukan dengan rasa ketakutan melainkan rasa kedamaian. Mungkin begitulah rasanya jika kita “bertemu” dengan Pelindung kita. Tidak ada rasa takut, hanya damai. Dan seringkali, Pelindung itu bisa dijumpai dalam hening dan diam.

Berbeda dengan Moly dan Ratty yang menjumpai sosok Pelindung, Toady justru masuk penjara akibat ulahnya mencuri Tut-tut mobil balap. Walaupun sudah dibantu oleh anak sipir penjara untuk lolos, perjalanannya pulang ke rumah sering menjumpai hambatan. Bahkan ketika sampai di rumahnya ternyata dia harus menjumpai kenyataan bahwa rumahnya sudah ditempati oleh para Rase dan Cerpelai. Syukurlah Tuan Luak, Moly dan Ratty mau membantu Toady merebut rumahnya kembali.

The Wind in The Willows sebenarnya adalah cerita fabel untuk anak-anak, akan tetapi kisahnya tidaklah sederhana. Saya sendiri mengalami kesulitan dalam mencerna ceritanya yang menurut saya tidak mengalir. Buku ini sendiri dikategorikan dalam kategori “klasik fantasy”. Wah… untuk membaca buku fantasy saja saya harus mengerahkan pikiran, apalagi cerita klasik. Ketika saya membaca cerita ini untuk kedua kalinya barulah saya mulai memahami kisah empat sahabat ini. Untungnya buku tidak tebal, hurufnya enak dibaca, ilustrasinya indah. Saya juga suka dengan syair-syair yang ada di dalamnya. Rima-nya benar-benar pas. Buku ini juga tampak elit dengan hardcover dan pita pembatas buku. Sangat layak untuk dikoleksi. Tiga bintang untuk The Wind in The Willows.


#55 Pintu Waktu (Ulysses Moore #1)


Judul Buku : Pintu Waktu (Ulysses Moore #1)
Penulis :  Pierdomenico Baccalario
Halaman : 222
Penerbit : Erlangga For Kids

Jason dan Julia mempunyai pandangan yang berbeda tentang Argo Manor, rumah besar dan antik yang baru saja dibeli oleh kedua orang tua mereka dan sekarang menjadi kediaman mereka. Jason melihatnya sebagai tempat yang menyenangkan karena jiwa petualangan yang ada di dalam dirinya, sedangkan Julia melihatnya sebagai bangunan tua yang membosankan. Walaupun Jason dan Julia adalah anak kembar, keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang. Julia jelas lebih "modern" dibanding Jason yang pendiam.

Argo Manor sendiri adalah rumah milik Ulysses Moore, yang terletak di atas tebing. Hingga Ulysses meninggal dunia, tidak ada satupun penduduk kota Kilmore Cove yang pernah melihatnya, kecuali penjaga rumah itu tentunya. Dari luar rumah tersebut terlihat megah, sementara di dalamnya terdiri atas banyak ruangan dan benda antik yang umumnya berasal dari Mesir.

Jason mempunyai seorang teman bernama Rick yang dikenalnya di sekolah. Rick sendiri sangat penasaran dengan Argo Manor. Ketika Jason mengundangnya untuk datang menginap di Argo Manor tentu Rick tidak akan menolaknya. Bersama Jason dan Julia, mereka bertiga menjelajahi rumah besar itu. Rick sendiri juga seorang petualang seperti Jason.

Suatu ketika, Jason menemukan sebuah kertas berisikan simbol-simbol seperti tulisan kuno dari Mesir. Mereka kemudian memutuskan untuk menjelajahi setiap ruangan di dalam rumah tersebut demi menemukan jawaban dari misteri yang ditinggalkan oleh Ulysses Moore. Kode demi kode berhasil dipecahkan oleh trio petualang ini. Hingga akhirnya mereka menemukan harta terpendam yang ditinggalkan oleh Ulysses Moore. Sayangnya yang memburu harta tersebut bukan hanya mereka bertiga. Ada seorang perempuan yang juga mengincar harta tersebut.

Buku anak-anak ini saya temukan di antara tumpukan buku di Perpustakaan Daerah. Gambar-gambar ilustrasinya sangat menarik, apalagi buku ini bersampul hardcover. Walaupun buku ini ditujukan untuk anak-anak, saya benar-benar merasakan ketegangan di saat membaca petualangan Jason, Julia dan Rick. Ketegangannya ternyata tidak berhenti di akhir buku saja, karena cerita Ulysses Moore ini ternyata berupa serial sebanyak empat buku. Waduuuh... harus segera mencari kelanjutan ceritanya kalau begini


#54 Sweet Misfortune


Judul Buku : Sweet Misfortune
Penulis : Kevin Alan Milne
Halaman : 456
Penerbit : Qanita

Sophie selalu merasa bahwa dalam hidupnya tidak ada kebahagiaan. Itulah nasibnya. Pendapatnya itu diawali saat dia mengalami kecelakaan yang menewaskan kedua orangtuanya dan neneknya. Sophie yang saat itu sedang berulang tahun, meminta sebuah coklat pada ayahnya yang sedang menyetir di tengah hujan deras. Malang bagi mereka, kecelakaan yang tak terhindarkan membuat Sophie sepanjang hidupnyadihantui perasaan bahwa dialah yang membuat kecelakaan itu terjadi.  Dan perasaan itu makin menjadi-jadi ketika Garrett tunangannya meninggalkan dirinya, setelah semua kepercayaan Sophie berikan pada Garrett.

Sophie kemudian menuangkan kesedihan dan ketidak bahagiaannya dalam usaha yang dia miliki. Sophie mengelola sebuah toko cokelat. Selain coklat aneka rasa, dia juga menjual sebuah produk yang tanpa dia duga sangat laris. Namanya Kue kemalangan. Kue ini seperti kue keberuntungan dimana ada secarik kertas berupa ramalan keberuntungan tersimpan di dalamnya. Namun di dalam kue kemalangan Sophie, yang ada adalah ramalan ketidak beruntungan. Selain itu kue kemalangan ini terbungkus oleh coklat yang pahit, seakan menegaskan ketidak beruntungan itu sendiri.

Setahun berlalu, dan Sophie terus hidup dalam kesedihannya. Tanpa disangka, di hari ulang tahunnya yang ke-29 Garrett kembali datang memohon cintanya. Sophie yang sakit hati tidak bisa semudah itu menyerahkan kepercayaan dirinya pada Garrett. Tapi Garrett memohon satu kesempatan saja agar dia bisa menjelaskan mengapa dia meninggalkan Sophie setahun yang lalu. Sophie kemudian membuat persyaratan yang cukup sulit. Dia meminta Garrett memasang iklan di sebuah surat kabar lokal. Jika ada seratus surat yang berisi kebahagiaan yang diinginkan oleh Sophie, maka Garrett berhak mendapatkan satu kesempatan itu. Jadi beginilah iklan itu :
Dicari : Kebahagiaan
Tolong bantu aku mencari sesuatu yang hilang dari hidupku. Kirim saran ke PO Box 3297, Tacoma, WA 98402 (Kumohon hanya kebahagiaan yang bertahan lama. Bukan yang hanya bertahan sementara)

Iklan itu ternyata mendapatkan banyak tanggapan. Tapi bukan itu saja. Berawal dari sebuah iklan, Sophie dan Garrett mengetahui beberapa hal dari masa lalu mereka. Bagaimana mereka bisa saling terkoneksi satu sama lain, dan juga sekaligus menjawab apakah kebahagiaan sejati itu ada. Dan bukan hanya Sophie yang (ternyata) berkepentingan dengan iklan tersebut. Evelynn, saudara angkatnya, juga menemukan jawaban dari masa lalunya berkat iklan sederhana itu.

Awalnya saat membaca beberapa halaman pertama buku ini, saya menduga akan menemukan kebosanan pada tokoh yang tidak bisa melepaskan diri dari masa lalunya. Tapi ketika saya melanjutkan bacaannya saya menemukan diri saya berkali-kali menghapus air mata. Selain dialog segar dan kisah romantis yang tidak cengeng, saya menyukai kutipan-kutipan di setiap awal bab di buku ini.  Setelah saya perhatikan, ternyata kutipan itu adalah isi ramalan dalam kue kemalangan milik Sophie. Sebenarnya bukan ramalan ketidak beruntungan, tapi lebih ke kenyataan kehidupan yang bisa kita jumpai sehari-hari. Hanya saja kalimatnya terasa lucu oleh saya.

Kau akan segera jatuh cinta. Perhatian : saat seseorang jatuh, biasanya ada sesuatu yang patah.


Jangan terhanyut oleh seseorang yang romantis setengah mati. Romansanya akan berakhir dan yang tertinggal hanyalah setengah mati.

Di buku cetakan pertama yang saya baca ini, ada beberapa halaman (bahkan bab) yang terulang. Ada yang bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Seandainya halaman yang salah itu tidak ada, mungkin bukunya sedikit lebih tipis :) Saya juga lebih suka dengan cover aslinya yang memperlihatkan bentuk kue kemalangan milik Sophie.

Ohya, dalam buku ini ada ratusan orang yang mengirimkan surat balasan atas iklan itu. Kamu juga mau mengirimkan alasan kebahagiaan-mu? Penulisnya (Kevin A. Milne) melampirkan alamat emailnya (happiness@kevinamilne.com) jika kamu mau berbagi kebahagiaanmu :). Mungkin ada juga yang bertanya (sebenarnya saya yang bertanya-tanya sejak melihat nama penulisnya), apakah Kevin A. Milne ada hubungannya dengan A.A. Milne penulis Winnie The Pooh? Well... here the answer from his website "My mother, the genealogist, swears we are related to good old uncle A.A. Milne (pronounced Miln), but exactly how or where we connect on the family tree I can't say for sure." 

Lima bintang untuk Sweet Misfortune. Dan saya segera memasukkan buku-buku Kevin A. Milne lainnya dalam wishlist :)