~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

#45 The Power Of Six


Judul Buku : The Power Of  Six
Penulis : Pittacus Lore
Halaman : 511
Penerbit : Mizan Fantasi


Awalnya saya mengira buku ini akan bercerita tentang Enam, salah satu Garde dari Planet Lorien. Tetapi ternyata Enam sudah mendapat bagian khusus di The Lost File : Six's Legacy. Apalagi kisah di buku sekuel I Am Number Four ini dibuka oleh Marina, Garde nomor Tujuh. Artinya, dalam buku ini mulai bermunculan Garde lainnya.

Marina, nama bumi untuk Tujuh, adalah seorang wanita seperti Enam. Cepannya bernama Adelina. Sejak turun dari pesawat Loriec, mereka berkelana jauh dan sepertinya mengalami nasib paling tidak menyenangkan. Terlunta-lunta di jalanan, menjadi pengemis, hingga akhirnya mereka terdampar di sebuah biara di Spanyol. Adelina, mungkin karena putus asa akan nasib yang mereka alami, kemudian menjadi biarawati dan melupakan tugasnya untuk melatih Tujuh.

Tujuh yang hampir mencapai usia 18 tahun, syarat untuk tetap berada di biara, mulai tidak betah dengan kehidupan biara. Dia tahu tempatnya bukan di situ. Ketika dia melihat berita-berita di internet tentang John Smith di Ohio, Amerika Serikat, dia berusaha mencari takdirnya. Perlahan seiring dengan munculnya Pusakanya (kemampuan untuk menyembuhkan makhluk hidup dan bernafas di dalam air), Tujuh mencoba meyakinkan Adelina akan takdir mereka.

Sementara itu, Empat, Enam, Sam, dan Bernie Kosar memulai perjalanan mereka mencari Garde lainnya. Perjalanan itu dipersulit dengan kenyataan John (Empat) dan Sam dianggap sebagai teroris yang sudah menghancurkan bangunan sekolah. Mereka menjadi salah satu dari daftar buronan FBI. Berkali-kali mereka harus meloloskan diri baik oleh kejaran polisi maupun Mogadorian. Kenyataan bahwa mantera pelindung telah terpatahkan membuat keadaan mereka semakin sulit. Yang menarik adalah romantisme di buku fantasi action ini tidak terlupakan. Sam yang menyukai Enam, juga menyadari bahwa Empat mulai jatuh cinta pada Enam. Walaupun Empat terus menyangkal dengan mengatakan dia sudah jatuh cinta pada Sarah, dan sebagai Loric mereka hanya jatuh cinta sekali seumur hidupnya. Enam sendiri menunjukkan perhatian yang sama pada Sam dan Empat.

Dalam peti Loric peninggalan Henri untuk Empat, ada sebuah surat yang ditulis oleh Henri sebelum kematiannya. Surat itu mengatakan bahwa ayah Sam adalah manusia pertama yang menolong mereka, dan ayah Sam mempunyai alat pemancar untuk menemukan Garde lainnya. Mereka memutuskan untuk kembali ke Ohio, demi menemukan alat itu. Kepercayaan diri Sam semakin bangkit, bahwa keyakinannya ayahnya masih hidup adalah benar.

Empat, Enam, Sam dan Bernie Kosar kembali ke Ohio. Saya sempat kesal membaca bagian ini, dimana Empat dengan begitu egoisnya berusaha menemui Sarah, dan mencelakakan teman-temannya. Empat menemui ganjarannya ketika Sarah ternyata mengkhianati dia, dengan menyerahkan mereka ke polisi. Untungya ada Enam yang (lagi-lagi) kembali menyelamatkan mereka.

Dibandingkan dua buku sebelumnya, saya sangat suka buku ini. Selain alurnya lebih cepat dengan adegan action lebih banyak, di buku ini mulai bermunculan Garde-Garde lainnya. Fakta tentang Lorien dan pesawat kedua yang datang juga ada di buku ini. Ternyata selain Empat, Enam, dan Tujuh, ada  juga Sembilan dan Sepuluh (Garde terakhir yang masih bayi ketika datang ke Bumi).  Tidak sabar untuk membaca buku ke tiga, The Rise Of Nine yang kabarnya akan terbit Agustus 2012 (masuk Indonesia kapan ya?)

Btw, saya penasaran dengan penulisnya, Pittacus Lore. Saya mencoba mengunjungi situsnya di sini, tapi tidak menjumpai keterangan apa-apa tentang siapa dia sebenarnya. Di sana dia mengatakan kalau dirinya salah satu tetua Loric yang turun ke bumi untuk menceritakan tentang Sembilan Garde pahlawan Lorien. Dari beberapa sumber mengatakan bahwa Pittacus Lore adalah James Frey. Ohya, di situsnya itu kita bisa mencoba aplikasi untuk mengetahui Pusaka Loric apa yang ada di dalam diri kita. Berani mencoba?



#44 The Lost File, Six’s Legacy


Judul Buku : The Lost File, Six’s Legacy
Penulis : Pittacus Lore
Halaman : 102
Penerbit : Mizan Fantasi

Bagian ini sebenarnya diterbitkan sebagai e-book oleh Pittacus Lore. Mizan Fantasi kemudian menjadikannya sebagai bonus di dalam buku ke-dua dari The Legacy Legend, The Power of Six. The Lost File : Six’s Legacy sendiri disebut-sebut sebagai Lorien Legacies #0.5. Kalau melihat nomornya berarti buku ini adalah prekuel dari buku I Am Number Four (Lorien Legacies #1). Untuk itulah, saya memutuskan membaca bagian ini terlebih dahulu sebelum membaca The Power of Six (Lorien Legacies #2)

The Lost File : Six’s Legacy sendiri menceritakan tentang Enam sebelum bertemu dengan Empat. Seperti halnya Nomor Empat, Enam ditemani oleh seorang Cepan bernama Katarina. Enam sendiri bernama Kelly, ketika mereka tiba di persembunyian mereka di Mexico. Namun berbeda dengan Empat yang lebih senang dipanggil John, Enam lebih menyukai nama aslinya.

Enam mendapatkan pelatihan lebih dini dari Katarina. Berbagai jurus bela diri dan pengaturan strategi dikuasai oleh Enam. Dibandingkan pelatihan-pelatihan lainnya, pelatihan fisik paling disukai oleh Enam. Suatu ketika, setelah berlatih bela diri, Katarina menemukan tulisan di sebuah blog di internet dengan nama Dua. Sebuah tulisan menarik perhatian Katarina dan Enam.

“Sembilan, sekarang delapan. Apa kalian ada di sana?”

Enam yakin itu adalah nomor Dua. Mereka memang sudah lama memantau internet dan berita dari luar negeri untuk mencari tahu keberadaan delapan Garde lainnya. Spontan Enam menjawab tulisan tersebut dengan menuliskan komentar di blog itu.


“Ya! Kami disini!”

Sedetik kemudian, garis yang menandakan Dua telah dibunuh oleh Mogadorian muncul di kaki Enam. Sejam kemudian mereka sudah dalam perjalanan menuju Amerika Serikat.  Dalam perjalanan Mogadorian berhasil menemukan mereka. Akan tetapi berkat mantera pelindung yang diberikan pada Garde, Enam berhasil selamat. Enam tidak dapat dibunuh jika Garde Nomor Satu sampai Lima belum mati. Katarina dan Enam berhasil lolos dan menyelamatkan diri mereka.

Di New York, sayangnya mereka tidak bisa lolos dari serbuan Mogadorian. Katarina dan Enam ditangkap dan disiksa. Dalam penyiksaan itu Katarina mati terbunuh, sementara Enam tetap ditahan. Berkat latihan fisik yang diberikan Katarina, Enam berhasil bertahan hidup. Ketika Pusaka pertamanya muncul (kemampuan menghilang tak kasat mata), Enam memanfaatkan Pusakanya itu untuk melarikan diri dari markas Mogadorian. Enam kemudian melanjutkan hidupnya dan berusaha menemukan Garde lainnya. Ketika dia melihat berita tentang John Smith yang selamat dari rumah yang habis terbakar, Enam yakin dia adalah salah satu dari empat Garde yang harus ditemuinya.

Buku setebal 102 halaman ini kemudian menjadi pengantar bagaimana akhirnya Enam berhasil menemui Empat dan menolongnya meloloskan diri dari Mogadorian. Bersama-sama mereka berusaha menemukan keempat Garde lainnya. Melalui buku ini kita bisa tahu mengapa Enam begitu tangguh jika dibandingkan dengan Empat. Bisa jadi oleh latihan fisik yang diberikan Katarina atau karena dendam atas kematian Katarina di depan matanya.


#43 I Am Number Four


Judul Buku : I Am Number Four
Penulis : Pittacus Lore
Halaman : 493
Penerbit : Mizan Fantasi

Sepuluh tahun yang lalu, Planet Lorien diserang oleh bangsa Mogadorian. Semuanya musnah, kecuali sembilan orang Garde dan sembilan Cepan (penjaga) mereka yang didatangkan ke Bumi. Sembilan pasang Loric yang secara fisik seperti manusia itu berpencar ke seluruh bumi, dibekali satu peti Loric. Sebuah mantera melindungi mereka dari Mogadorian, dimana kesembilan Garde tersebut hanya bisa dimusnahkan secara berurutan.

Ketika tiga orang Garde akhirnya mati, Garde ke-Empat merasa was-was karena berikutnya adalah gilirannya dibunuh. Dia dan Henri, Cepannya, harus terus berpindah dan bersembunyi. Kota Paradise, Ohio menjadi tujuan mereka selanjutnya. Untuk penyamaran mereka, Nomor Empat memilih nama John Smith, dan menjadikan Henri Smith sebagai ayahnya. John berkenalan dengan Sarah, salah satu gadis ex- cheerleader di sekolah barunya itu. John jatuh cinta pada Sarah, dan cintanya juga bersambut. John juga mempunyai seorang sahabat bernama Sam, yang sangat tertarik akan hal-hal yang berbau supernatural.

Masing-masing Garde memiliki Pusaka yang menjadikan mereka istimewa dibandingkan warga Lorien lainnya. Tidak ada yang tahu kapan Pusaka ini muncul. Kekuatan dari Pusaka inilah yang akan menjadi senjata mereka untuk melawan bangsa Mogadorian dan menghidupkan kembali planet Lorien. Ketika Pusaka itu muncul, barulah Garde boleh membuka peti Loric miliknya.

Pusaka John muncul tiba-tiba ketika dia sedang belajar astronomi di dalam kelas. Telapak tangannya bersinar seperti sebuah lampu sorot. Henri kemudian mejalankan tugasnya sebagai pelatih sehingga John bisa menguasai Pusaka-nya tersebut. Kemunculan Pusaka ini akhirnya diikuti oleh Pusaka-Pusaka berikutnya. Selain Lumen (sinar yang muncul dari telapak tangannya itu), John juga tahan dan mampu mengendalikan api, serta dapat berbicara dengan hewan.

Suatu peristiwa akhirnya mengungkap identitas Nomor Empat. Tanpa disadarinya, seseorang merekam persitiwa dimana dia menyelamatkan Sarah dari rumah yang terbakar. Di video tersebut, tampak John melompat dari lantai dua rumah yang terbakar dan tidak mengalami luka apapun. Video tersebut beredar di internet, yang mengakibatkan Mogadorian berhasil menemukan jejak mereka. Apakah Nomor Empat berhasil selamat dari Mogadorian?

Buku ini sepenuhnya menceritakan tentang Nomor Empat. Jujur saja, saya melihat sosok Nomor Empat sebagai super hero yang labil dan galau. Berkali-kali Nomor Empat melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya dan Cepannya, walaupun sudah diperingatkan sebelumnya oleh Henri. Saya lebih suka pada sosok Henri yang benar-benar melakukan perannya sebagai pelindung dan penjaga. Dia bahkan mengorbankan dirinya demi keselamatan Garde Nomor Empat yang dijaganya.

Dalam buku ini juga muncul Garde lainnya yaitu Nomor Enam. Berbeda dengan Nomor Empat, Nomor Enam adalah seorang gadis yang tangguh, mampu mengendalikan dirinya, dan tahu konsekuensinya sebagai seorang Garde. Pengetahuannya tentang Lorien dan asal-usulnya pun jauh lebih baik daripada Nomor Empat. Kalau salah satu endorsement di sampul buku ini yaitu dari Michael Bay mengatakan Nomor Empat adalah pahlawan bagi generasi ini, saya justru melihat Nomor Enam sebagai pahlawannya.

Terlepas dari itu, adegan demi adegan action di buku ini sangat hidup. Saya berkali-kali merasakan ketegangan ketika membaca bagian actionnya. Kelebihan lainnya adalah saya tidak menemukan typo dalam buku ini. Setelah membaca habis buku ini, saya tidak sabar untuk melanjutkan ke buku sekuelnya, The Power of Six. Untung bagi saya, Okky bersedia meminjamkan kedua bukunya ini sekaligus :)


#42 Pembunuhan di Sungai Nil


Judul Buku : Pembunuhan di Sungai Nil (Death on the Nile)
Penulis :  Agatha Christie
Halaman : 392
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Siapa yang tidak kenal dengan Hercule Poirot? Tokoh rekaan Agatha Christie yang adalah seorang detektif bertubuh kecil dan selalu berpenampilan rapi ini telah banyak mengungkap kasus-kasus kriminal.  Kali ini, Poirot mengambil kesempatan untuk berlibur ke Mesir dan menyusuri Sungai Nil.

Bersamaan dengan dia, ada sepasang suami istri yang baru saja menikah juga ikut dalam liburan ini. Mereka adalah Simon Doyle dan istrinya Linnet Ridgeway. Linnet Ridgway (atau Linnet Doyle) adalah seorang wanita berusia 20 tahun yang merupakan salah satu konglomerat di Inggris. Dia baru saja membeli rumah yang besar. Awalnya Linnet dikabarkan bertunangan dengan Lord Windlesham. Tapi entah mengapa, dia akhirnya menikah dengan Simon Doyle, yang tak lain adalah mantan tunangan Jacqueline Bellefort, sahabatnya.

Tanpa disangka, Miss Bellefort ternyata juga ada dalam perjalanan wisata ke Mesir itu. Mr. dan Mrs Doyle merasa terganggu dengan kehadiran Miss Bellefort, dan meminta Hercule Poirot berbicara dengan Miss Bellefort. Rupanya Miss Bellefort masih merasa sakit hati dengan pernikahan mantan tunangannya dengan sahabatnya itu. Dia berniat untuk terus membuat pasangan itu tidak nyaman dengan kehadirannya. Tentu saja Mr. dan Mrs. Doyle tidak dapat berbuat apa-apa karena Miss Bellefort tidak memberikan ancaman apapun pada mereka. Miss Bellefort juga mengatakan ingin sekali membunuh pasangan itu. Dia bahkan memperlihatkan pistol kecil miliknya kepada Poirot. Poirot menasehatinya agar tidak melakukan perbuatan keji dan rendah tersebut.

Perjalanan menyelusuri Sungai Nil dengan kapal penumpang terus berlanjut. Hingga suatu malam Miss Bellefort dalam keadaan mabuk menembak kaki Simon Doyle yang bermaksud menenangkannya. Miss Belelfort terkejut akan perbuatannya dan menjadi histeris. Sementara dia ditangani oleh beberapa penumpang lain, Simon Doyle yang mengalami retak pada tulang kering di kakinya terpaksa harus tidur dalam keadaan diberi morfin penghilang rasa sakit. Mr. Doyle melarang siapapun memberitahu Linnet mengenai kejadian ini supaya Linnet tidak khawatir. Tentunya Linnet tidak akan tahu, karena keesokan paginya dia ditemukan tewas dengan kepala berlubang karena tertembak oleh pistol yang sama yang digunakan oleh Miss Bellefort kepada Simon Doyle. Di samping jasad Linnet terdapat tulisan huruf “J” yang berwarna merah, dan salah satu ujung jari Linnet pun berwarna sama. Apakah Linnet berusaha memberitahu pembunuhnya sebelum dia meninggal?

Buku ini sendiri pertama kali diterbitkan di Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 1979, dan sudah lima kali cetak ulang hingga tahun 2011. Tidak seperti kisah-kisah Hercule Poirot biasanya, kematian seseorang baru terjadi di pertengahan buku ini. Tapi dengan analisa-analisa yang tajam dia mampu mengungkapkan misteri pembunuhan wanita tersebut. Saya pribadi tidak mampu menebak siapa pembunuhnya hingga di akhir cerita. Yang unik adalah lokasi kejadian yang bukan di Inggris seperti biasanya, tapi di Mesir dan tepatnya di Sungai Nil. Ada beberapa kota di Mesir yang dituliskan di buku ini tapi tidak digambarkan secara rinci. Agatha Christie sendiri lebih menggambarkan tokoh-tokoh dalam ceritanya lebih spesifik.

Hari ini merupakan posting bersama buku Agatha Christie oleh beberapa anggota BBI. Saya sendiri sudah membaca beberapa karya Agatha Christie, tapi baru kali ini mereview bukunya. Cukup menantang juga mengingat banyaknya tokoh-tokoh yang terlibat dalam setiap kejadian kriminal yang diceritakan dalam buku ini.


Agatha Christie (15 September 1890 – 12 Januari 1976) dikenal sebagai The Queen of Crime. Dia sudah menulis 66 cerita detektif dengan menggunakan beberapa tokoh detektif. Dua diantaranya yang paling terkenal adalah Hercule Poirot dan Jane Marple. Agatha juga menulis beberapa cerita romance dengan menggunakan nama pena Mary Westmacott. Death on the Nile sendiri diterbitkan pertama kali pada tahun 1973 di Inggris dan sudah pernah difilmkan dengan judul yang sama pada tahun 1978, bahkan dibuat dalam bentuk PC-game “hidden object” pada tahun 2007. Pada tahun yang sama (2007), novel ini diterbitkan dalam bentuk novel grafis oleh penerbit HarperCollins. Untuk mengetahui lebih jelas tentang Agatha Christie anda bisa mengunjungi website resminya di http://agathachristie.com.

Well, untuk konflik sungai Nil saya akan berikan bintang tiga.


#41 Manusia Setengah Salmon


Judul Buku : Manusia Setengah Salmon
Penulis : Raditya Dika
Halaman :272
Penerbit : Gagas Media


Manusia Setengah Salmon adalah kumpulan tulisan dari Raditya Dika yang ke-enam setelah Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, Radikus Makankakus, Babi Ngesot dan Marmut Merah Jambu.  Gaya bercerita komedi berdasarkan pengalaman sehari-hari yang sama juga dilakukan oleh Raditya Dika di buku ini. Kali ini, disamping cerita agak panjang yang ditulisnya, ada juga beberapa artikel kumpulan kicauannya di twitter.

Kali ini tema besar yang diusung dalam buku Manusia Setengah Salmon adalah tentang perpindahan. Raditya menceritakan tentang pengalamannya pindah rumah, hingga perasaannya saat pindah ke lain hati. Yang menarik adalah ketika Raditya menganalogikan perpindahan yang dia alami seperti perpindahan ritual yang dilakukan oleh ikan Salmon. Ikan Salmon setiap tahunnya akan melakukan mutasi dari hulu ke hilir hanya untuk bertelur. Ketika anak-anaknya sudah menetas, Salmon akan kembali ke tempat asalnya. Perpindahan yang dialami oleh ikan Salmon bukan tanpa resiko. Tidak sedikit Salmon yang mati selama perpindahan itu. Raditya mengibaratkan dirinya (dan mungkin banyak di antara kita) yang ketika mengalami perpindahan harus berjuang. Ada yang bisa saja terhilang dari diri kita setelah perpindahan itu, tapi juga hal baru yang akan mewarnai kehidupan selanjutnya.

Nyaris tidak ada yang baru dari buku Manusia Setengah Salmon jika dibandingkan dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Masih lucu (bahkan ada yang terkesan dipaksakan lucu seperti pada tulisan "Interview with the Hantus"). Beberapa tulisan tetap diambil dari blognya yang sudah makin jarang di-update itu.  Bahkan ada satu tulisan yang berjudul Kasih Ibu Sepanjang Belanda sudah pernah dimuat dalam buku The Journeys, yang juga diterbitkan oleh Gagas Media pada tahun 2011.

Saya hanya memberikan bintang dua untuk buku kali ini. Disamping beberapa typo, seperti kata jerit malam yang seharusnya jurit malam, belite yang seharusnya belit (lupa halaman berapa),  saya kurang dapat gregetnya membaca buku ini. Seperti kata seorang teman di twitter bahwa dia sudah berada pada garis lelah membaca buku ke- enam dari Raditya Dika. Kalau perasaan seperti ini hanya saya dan teman saya itu yang merasakan, berarti mungkin kami yang harus berpindah ke jenis buku yang lain :)

By the way, masih ingat dengan Si Kebo di buku Kambingjantan? Itu.. (mantan) pacarnya Raditya yang juga difilmkan. Akhirnya di buku ini, terungkap juga nama aslinya, yang selama ini selalu dirahasiakan. Siapa namanya? Silahkan baca sendiri bukunya ya... :)