~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

#34 Dear Corrine, Tell Somebody! Love, Annie


Judul Buku : Dear Corrine, Tell Somebody! Love, Annie
Penulis : Mari Evans
Halaman : 47
Penerbit : Just Us Books

Corrine bersahabat dengan Annie. Suatu hari Annie mendapati Corrine menghindari dirinya dan tidak mau berbicara dengannya. Annie bingung, dan berusaha mendekati Corrine. Tapi Corrine seperti tidak tersentuh. Akhirnya Annie mengirimkan surat kepada Corrine . Beberapa kali Annie mengirimkan surat, tapi Corrine tidak juga membalasnya. Annie tidak putus asa. Bahkan Annie meminta bantuan Suster Price untuk meyakinkan Corrine.

E-book ini adalah fiksi yang ditulis dalam bentuk kumpulan surat-surat Annie, Suster Price, dan Corrine. Dari surat-surat tersebt, kita bisa membaca bahwa Corrine terlibat dalam masalah serius berupa child abuse. Corrine tidak berani bercerita, sehingga permasalahannya terus berlarut-larut. Corrine akhirnya merasa tidak berharga, dan dia tidak mau lagi berbicara dengan sahabatnya, Annie.

Seringkali jika seorang anak menjadi korban kekerasan, apalagi jika dilakukan oleh orang terdekat, anak tersebut akan menutup diri dan menyimpan lukanya sebagai suatu rahasia. Buku ini mengajak kita untuk menjadi teman yang perhatian, dan mau menolong teman yang mengalami masalah tersebut. Perhatian itu harus diberikan secara terus menerus, sampai si anak mendapatkan perlindungan.

Walaupun buku ini ditujukan bagi anak-anak berusia 8-12 tahun, tapi buku ini juga bisa dibaca bersama orang tua, atau bahkan bersama teman-teman dan guru. Dan saya rasa, orang dewasa pun harus membaca buku ini.



PS. Postingan untuk Name In A Book Challenge 2012

#33 Tiga Venus


Judul Buku : Tiga Venus
Penulis : Clara Ng
Halaman : 294
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Berhati-hatilah dengan permintaanmu. Jangan sampai tanpa kau sadari ada bintang yang jatuh saat permintaanmu terucap :)

Tiga wanita. Tiga kehidupan. Tiga persoalan.

Juli, ibu rumah tangga. Mempunyai tiga orang anak dan sedang hamil muda. Kesibukannya mengurus keluarga membuat kepalanya hampir pecah. Belum lagi dengan pekerjaan sambilannya, memasak catering untuk dua perusahaan besar. Jika saja dia tahu kehidupan setelah pernikahan yang akan dia alami, mungkin dia tidak akan menikahi Kevin, suaminya sekarang ini.

Emily. Direktur sebuah perusahaan perhiasan di Jakarta. Lajang, cantik, dan kaya. Hidupnya hanya dipersembahkan untuk kerja, kerja, dan kerja. Dia ingin membuktikan bahwa gender tidak ada hubungannya dengan kualitas. Karena sibuknya bekerja, dia tidak mau memikirkan mengenai pasangan hidup, apalagi berkeluarga. Satu orang pembantu dan satu ekor kucing sudah cukup baginya. Tapi jika pekerjaan sudah menyita semua waktunya, bahkan di saat dia seharusnya beristirahat dia masih menemani si bos di kantor, Emily merasa hidupnya mulai kacau.

Lies, janda muda yang memilih bercerai daripada menjadi korban KDRT oleh suaminya. Akibatnya, Lies tidak lagi percaya pada makhluk bernama pria, dan menutup pintu hatinya untuk pria manapun. Beruntung baginya yang adalah guru, dia bisa menenggalamkan dirinya dalam buku-buku sastra untuk diajarkan pada murid-muridnya. Tapi, Lies tidak bisa menutup mata terhadap satu kata yang sangat sensitif, yang sayangnya melekat pada dirinya. Janda.

Dan ketiga Dewi Venus turun tangan, dan ikut campur dalam ketiga masalah wanita-wanita itu, yang terjadi adalah kekacauan yang lebih besar. Bayangkan saja, Juli harus menjadi Lies, Lies menjadi Emily, dan Emily menjadi Juli, hanya dalam satu malam saja.

Itu hanya permulaan saja. Bingung, kaget, dan tidak terima terjebak di dalam tubuh orang lain membuat baik Juli, Emily dan Lies merasa lebih kacau lagi. But live must go on. Tidak mungkin bagi mereka menjelaskan pada semua orang di sekitar mereka tentang apa yang mereka alami. Bisa jadi mereka akan dianggap gila, dan tentu saja tidak ada satupun yang percaya. Ketiga wanita ini harus bisa menjalani kehidupan yang berbeda dan tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Tapi bukan berarti mereka menjadi pasrah. Masing-masing mulai membenahi kehidupan si tubuh tempat jiwa mereka terdampar. Emily mulai menunjukkan pada mertuanya (Juli) bahwa dia punya harga diri dan martabat sebagai istri. Lies menunjukkan sisi kewanitaan yang disangsikan oleh bosnya (Emily). Juli mengubah gaya mengajar (Lies) sehingga suasana di dalam kelas menjadi lebih hidup, dan sesama rekan guru mulai mempercayai dia. Tentu  saja masing-masing mereka belajar dari tubuh baru itu. Emily merasakan kehangatan keluarga, Lies mulai berani membuka diri bagi pria, dan Juli bisa merasakan kembali kerinduan berada di tengah riuhnya anak-anak.

Membaca buku ini seperti menonton sebuah film. Ceritanya mengalir, walaupun kadang saya bingung karena tokoh dan karakter yang bertukar. Tapi memang membingungkan kan, ketika kehidupan bertukar seperti yang dialami ketiga wanita tadi?
Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya – Harper Lee (To Kill A Mockingbird)
Kutipan di atas, yang ada di halaman awal buku ini, benar-benar menjadi jiwa dari buku ini. Saya sendiri terkadang membayangkan bagaimana sikap yang harus saya ambil ketika saya menghadapi suatu masalah, dengan menempatkan diri saya pada sudut pandang yang berbeda. Put yourself in other shoes. Karena hidup bukan saja hanya tentang diri kita.

Bicara soal permintaan, saya sudah lama ingin membaca buku ini. Sejak bergabung dengan Goodreads dan melihat buku ini di sana, saya segera memasukkannya dalam daftar wishlist. Cukup lama bertahan di daftar itu, hingga akhirnya seorang Santa yang baik hati melihat keinginan saya itu, dan mewujudkannya.

Terima kasih, Maya Floria Yasmin. You are the Venus for my wish :)

PS : postingan ini dibuat bersama-sama dengan anggota BBI lainnya yang terlibat dalam "Secret Santa". Secret Santa adalah kegiatan di bulan Desember kemarin dimana setiap anggota BBI menjadi santa bagi anggota lainnya, dan mengirimkan sebuah buku yang ada dalam daftar wishlist masing-masing. And trust me... it's addicted! Let's do it again, pals... 


#32 Where She Went - Setelah Dia Pergi


Judul Buku : Where She Went (Setelah Dia Pergi)
Penulis : Gayle Forman
Halaman : 240
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Saya ingin bercerita sedikit. Saat saya ke Gramedia di Mall Panakkukang, Makassar minggu lalu, saya berkali-kali melirik buku ini di rak buku. Masih ada bertumpuk-tumpuk buku ini di sana. Tapi saya tidak menemukan buku pertamanya, If I Stay. Saya memutuskan untuk meninggalkan rak buku tanpa mengambil buku ini. Saya berjanji tidak akan membelinya sebelum saya mempunyai seri pertama dari buku ini. Kemudia saya berpindah ke Gramedia lainnya, dan saya akhirnya menemukan If I Stay di antar tumpukan buku di pojok ruangan (saat itu sepertinya petugasnya sedang mengatur kembali tata letak buku-buku untuk dipajang di rak buku). Buku If I Stay tinggal satu buah. Tanpa pikir panjang lagi, saya mengambil buku itu, dan buku Where She Went tentunya.

Setelah membaca if I Stay, saya tidak perlu menunggu lama lagi untuk melanjutkan membaca sekuelnya. Berbeda dengan buku pertama yang “dingin”, di buku kedua ini saya merasakan kesan lebih “hangat”. Baik dari segi cover-nya, dan juga alur ceritanya. Kali ini kita akan melihat kisah cinta Adam dan Mia dari sudut pandang Adam.

Pada awal buku digambarkan bagaimana Adam yang sukses sebagai rockstar dengan band-nya Shooting Star. Tapi Adam tidak lagi bersama Mia. Mia memang memilih untuk tinggal dan hidup kembali, tetapi dia memilih untuk pergi dari kehidupan Adam. Selanjutnya dikisahkan bagaimana hidup Adam yang kacau, ketergantungan pada obat penenang dan rokok, serta mulai menyendiri.

Mia melanjutkan hidupnya sendiri. Masuk ke Juilliard setelah pulih dengan menakjubkan dari trauma kecelakaan yang membuatnya menjadi sebatang kara. Mia lulus sebagai musisi berbakat hanya dalam tiga tahun, dan memulai konser tunggalnya. Di konser itulah Mia kembali bertemu dengan Adam.

Pertemuan mereka membuat mereka kembali mengenang masa lalu, dan mencoba menjawab segala pertanyaan yang menggantung akibat perpisahan yang mereka alami. Dengan menjalani satu malam berkeliling kota New York , mereka mengurai tiga tahun yang terlewat dalam kesedihan, kesepian, kebencian dan amarah.

Dibandingkan buku pertama, saya lebih menyukai penggambaran lewat sudut pandang Adam. Jika di buku pertama, Adam digambarkan sebagai sosok yang cool, di buku ini kita bisa melihat bahwa Adam juga manusia yang bisa rapuh karena cinta. Adam yang dulunya berkata bahwa dia bisa melepaskan Mia asalkan Mia tetap hidup, ternyata tidak mampu menepati janjinya.

Btw, beberapa waktu lalu teman-teman BBI membuat polling best buddy dari buku-buku yang mereka baca selama 2011. Dan Adam Wilde menempati posisi pertama di hampir kebanyakan pilihan teman-teman BBI. Hal tersebutlah yang membuat saya penasaran dengan Adam dan memutuskan untuk membeli kedua buku karangan Gayle Forman ini. Tapi setelah saya membaca buku ini, ada yang membuat saya lebih penasaran lagi dibandingkan sosok Adam. Saya ingin sekali mendengarkan lagu-lagu Shooting Star dalam album Collateral Damage yang sebagian besar liriknya ditulis dalam buku ini.

Akhirnya, empat bintang untuk Adam.


#31 If I Stay - Jika Aku Tetap di Sini


Judul Buku : If I Stay - Jika Aku Tetap di Sini
Penulis : Gayle Forman
Halaman : 200
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Mia Hall, seorang gadis pemain cello berbakat yang lahir dari keluarga musisi. Dad, Mom, Teddy adiknya, bahkan Adam pacarnya mendukung kecintaannya pada musik klasik, walaupun mereka semuanya berharap Mia mengikuti jalur rockstar seperti mereka. Berkat kepiawaian Mia memainkan cello, bukan tidak mungkin Mia akan melanjutkan sekolahnya di Juilliard.

Semuanya nyaris sempurna, hingga suatu hari Mia dan keluarganya mengalami kecelakaan. Mobil yang ditumpangi oleh Mia dan keluarganya hancur berantakan. Dad dan Mom meninggal seketika di lokasi kejadian. Teddy pun akhirnya meninggal di rumah sakit terdekat. Mia mengalami memar di otaknya, bocor pada limpa dan paru-parunya, serta kakinya terluka cukup parah. Mia berada di antara hidup dan mati. Benar-benar antara hidup dan mati.

Roh Mia menyaksikan semuanya. Tubuhnya terkapar di ruang bedah sampai di ruangan perawatan ICU. Mia juga menyaksikan kerabatnya berdatangan untuk menantikan dirinya. Termasuk Adam, pacarnya. Mia harus memutuskan apakah dia harus tinggal atau pergi saja. Keputusan yang tidak mudah bagi Mia.

Jika Mia memilih untuk pergi, maka semuanya akan mudah. Dia tidak perlu merasakan kebimbangannya lagi terhadap Adam. Akan tetapi, Mia bisa saja memilih untuk tetap tinggal, karena Mia yakin Mom tidak akan menyukai dirinya yang menyerah begitu saja. Lagipula bagaimana dengan Adam yang begitu dicintainya?

“Jika kau tinggal, aku akan melakukan apa saja yang kau inginkan. Aku sanggup kehilangan kau asalkan aku tidak perlu kehilangan dirimu hari ini. Aku akan melepaskanmu. Jika kau tetap hidup.”
Memang kisah antara Mia-Adam yang menjadi benang merah dalam buku ini, yang diceritakan dari sudut pandang Mia. Mia juga menceritakan bagaimana dia bisa bertemu dengan Adam, perasaannya terhadap Adam, dan kebimbangan atas pilihan hidupnya yang berbeda dengan Adam.

Membaca buku ini seperti menyelami pikiran Mia yang bimbang. Penggambaran Mia yang masih muda tapi terasa dewasa sangat jelas. Rasanya terlalu berat untuk “menjadi” Mia. Bukan hanya soal pilihan yang harus diambilnya, tapi juga mengenai jalan hidupnya sendiri. Jika di cover-nya terlihat gambar kursi taman yang kosong dan salju yang jatuh perlahan, seperti itu yang saya rasakan saat membaca buku ini. Kesendirian, kesepian, dan dingin. Rasanya tidak sabar untuk melanjutkan membaca sekuel dari buku ini.

Sementara, tiga bintang untuk Mia.


#30 Sam Bennett's New Shoes


Judul Buku : Sam Bennett’s New Shoes
Penulis : Jennifer Thermes
Halaman : 32
Penerbit : Carolrhoda Books Inc.

Pada tahun 1600-an hingga 1700-an para petani di Amerika memiliki kepercayaan unik. Mereka percaya bahwa ada arwah-arwah yang sering datang mengunjungi rumah mereka. Untuk mencegah arwah itu masuk ke dalam rumah, mereka menyimpan sepatu bekas milik anak mereka di beberapa tempat yang bisa menjadi jalan masuk arwah itu, misalnya di cerobong asap atau dekat jendela. Mereka percaya bahwa ketika arwah melihat sepatu bekas tersebut, arwah ini akan pergi karena menganggap rumah yang mereka datangi sudah ditinggalkan oleh pemiliknya. Walaupun sepatu yang disembunyikan umumnya sepatu anak-anak, akan tetapi ditemukan juga beberapa sepatu orang dewasa.

Sam Bennet adalah anak pertama dari seorang petani. Suatu hari ayahnya membelikan sepatu baru untuknya. Sepatu lamanya kemudian disimpan oleh ayahnya di dekat cerobong asap. Untuk keberuntungan, kata ayahnya. Sepatu baru Sam agak kebesaran, tapi Sam tetap memakainya. Seiring pertumbuhannya, Sam menganggap sepatu baru itu membawa keberuntungan baginya.  Dengan sepatu barunya Sam bisa membantu ayahnya bertani, memberi makan babi, mengambilkan air dari sumur tanpa tertumpah untuk ibunya, dan mencukur bulu domba.

Setahun berlalu, sepatu Sam mulai sempit. Ayahnya yang melihat betapa Sam rajin membantu selama ini, memutuskan untuk membelikan sepatu baru lagi untuk Sam. Kali ini sepatunya berbentuk boot, seperti orang dewasa. Sepatu lama Sam diwariskannya ke adiknya Caleb yang sangat gembira mendapatkan sepatu baru. Seterusnya, sepatu itu berpindah tangan setiap tahun kepada adik-adiknya. Sampai akhirnya sepatu itu benar-benar rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Sepatu itu disimpan di loteng dan terlupakan.

Ketika Sam dewasa, menikah dan mempunyai seorang anak, Sam hendak membangun kamar kecil untuk anaknya di loteng. Sam menemukan sepatu tua itu, dan teringat tradisi ayahnya. Sam menyimpan sepatu tuanya di dekat jendela untuk menjaga rumahnya dan untuk keberuntungan. Sam berjanji, suatu saat nanti dia akan menyimpan sepatu bekas milik anaknya.

Tidak ada informasi mengapa hanya sepatu anak-anak yang disembunyikan. Hanya sedikit informasi mengenai kepercayaan ini, mungkin karena budaya ini bukan merupakan budaya asli penduduk, tapi dibawa oleh para pendatang dari Inggris. Ketika penulis buku ini, Jennifer Thermes, menemukan beberapa sepatu anak-anak bekas di rumah tua yang ditempatinya, dia  mulai membuat sebuah cerita tentang Sam Bennett. Menurut Jennifer, anak-anak adalah simbol dari harapan dan impian akan masa depan. Menyembunyikan sepatu anak-anak sama halnya menyimpan harapan dan impian akan masa depan.



PS. Postingan untuk Name In A Book Challenge 2012