~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

#22 Why Don’t Penguins’ Feet Freeze?


Judul Buku : Why Don’t Penguins’ Feet freeze?
Penulis : Mick O’Hare
Halaman : 304
Penerbit : Ufuk Press

Pernahkah anda bertanya, mengapa langit yang cerah tampak biru, dan awan gelap pertanda akan hujan? Atau apakah anda tahu jika membuat air panas akan lebih cepat membeku menjadi es batu dibandingkan air dingin jika dimasukkan dalam freezer? Atau, mengapa kita menangis saat mengiris bawang? Anda sudah menemukan jawabannya? Jika belum, anda mungkin harus membaca buku ini.

Judul yang tertulis di atas adalah judul asli dari buku terjemahan ini.  Judul terjemahannya cukup panjang, “Mana Yang Lebih Banyak, Orang Mati Atau Orang Hidup? & Mengapa Rambut Menjadi Uban?” (makanya tidak saya jadikan judl postingan). Berhubung ini satu-satunya buku terbitan Ufuk Press di rak buku-ku, sementara bacaan bulan Desember BBI (salah satunya) adalah buku terbitan Ufuk, maka saya memutuskan membaca ulang buku ini.

Buku ini merupakan kumpulan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada majalah New Scientist di Inggris. Pertanyaan yang nyeleneh, lucu, tapi tentu saja kita ingin tahu jawaban ilmiahnya. Seperti misalnya jawaban dari mengapa rambut menjadi uban adalah karena adanya pigmen warna pada folikel rambut, yang mana semakin kita tua, jumlah pigmen tersebut semakin berkurang dan akhirnya rambut menjadi perak atau putih (uban).

Orang-orang yang memberikan jawaban di buku ini tentu saja adalah para pembaca majalah New Scientist tersebut. Dan jangan salah, penanya dan penjawabnya berasal dari hampir semua belahan dunia. Jadi seperti kolom terbuka di sebuah majalah agar semua orang bisa berpartisipasi dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul di sekitar kita tanpa ada habisnya. Saya tidak tahu pasti apakah di Indonesia sudah ada majalah yang memuat hal serupa.

Ada beberapa topik besar yang dirangkum dalam buku ini, yaitu tentang tubuh manusia, tumbuhan dan hewan, makanan dan minuman, sains seputar rumah, planet dan jagat raya, cuaca, bahkan transportasi. Sayangnya terjemahannya masih membuat kening saya berkerut saat membacanya dan harus mengulang beberapa kalimat sehingga bisa dipahami.  Saya memang sering mengalami kesulitan memahami buku-buku berbau ilmiah yang diterjemahkan dari bahasa Inggris.  Lebih “enak” membacanya dalam bahasa aslinya.


#21 Tiga Manula Jalan-jalan ke Singapura


Judul Buku : Tiga Manula Jalan-jalan ke Singapura
Penulis : Benny Rachmadi
Halaman : 90
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia


Apa jadinya kalau tiga orang kakek pergi jalan-jalan ke Singapura? Adalah Liem, seorang pengusaha gadget keturunan Cina mengajak dua orang sahabatnya Waluyo (Jawa) dan Sanip (Betawi) ke Singapura.  Namanya kakek-kakek, ada aja kelakuannya yang mengundang ketawa. Mulai dari pake minyak angin di pesawat, mandi-mandi di bawah patung Singa Muntah, sampai menikmati teh tarik di suatu tempat makan.

Dalam komik ini, bukan hanya kelakuan ketiga kakek tadi yang diceritakan, tapi juga bagaimana budaya dan lifestyle yang ada di Singapura. Misalnya fakta bahwa Blackberry tidak setenar i-Phone. Atau menyebrang jalan pakai aturan, dan tidak boleh merokok di tempat umum.

Saya dapat buku ini gratis, hasil dari penukaran poin telkomsel sejumlah 100 poin. Walaupun harus bayar ongkos kirim, dan sempat gagal konfirmasi pembayaran, akhirnya buku ini sampai dengan selamat di rumah. Begitu sampai, langsung jadi rebutan orang-orang di rumah untuk dibaca :)

Benny menceritakan ketiga tokoh tadi dalam komik yang lucu. Jika anda familiar dengan kartun Benny-Mice di koran Kompas mingguan, pastinya bisa menikmati komik ini. Karakter gambarnya sama persis, jenis font-nya juga sama. Hanya saja bagi saya "kurang nendang". Entahlah sepertinya ada rasa yang hilang. Mungkin karena sudah terbiasa dengan duo Benny-Mice ya... Padahal sampai sekarang saya tidak bisa membedakan mana gambar Benny dan gambar Mice. Konon mereka berdua bergantian mengisi karikatur di Koran Kompas setiap minggunya. :)


#20 Mengejar Malam Pertama


Judul Buku : Mengejar Malam Pertama
Penulis : Wenda Koiman
Halaman : 208
Penerbit : Gradien Mediatama

Warning : Ini bukan novel mesum, tetapi kisah komedi yang mengajak anda sedikit menilik keunikan malam pertama
 Itu peringatan pertama dari penulisnya. Dan seperti judulnya, buku ini mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Doni yang menerima perjodohan oleh orangtuanya dengan seorang gadis Gysta Arista. Ada satu alasan kuat Doni menerima perjodohan itu. Doni ingin merasakan malam pertama.

Maka dimulailah perjalanan Doni menuju Malam Pertama-nya. Gysta, gadis yang dijodohkan dengannya adalah seorang wanita cantik, lembut. Singkat kata Doni beruntung mendapatkan Gysta. Setelah menjalani ijab kabul, tibalah saat yang ditunggu-tunggu Doni. Tapi kemudian, malam pertamanya batal gara-gara kebakaran di sebelah rumah. Apes!

Tapi, masih ada bulan madu. Sialnya bulan madu berubah menjadi Toxic Moon. Disusul dengan serangkaian kejadian yang membuat malam pertama Doni berantakan. Apakah obsesi Doni bisa terwujud?

Buku ini memang adalah bacaan untuk dewasa. Tapi isinya sangat lucu. Sempat mengira buku ini novel, tapi di sampul belakang ada label Non-Fiksi Komedi. Jadi? Apakah Doni adalah si penulis sendiri? :D

Buku ini bukan hanya sekedar tentang malam sakral antara suami dan istri. Tapi juga bagaimana sebuah pernikahan itu bukan hanya sekedar hubungan fisik saja. Yang membuat saya salut adalah, tokoh buku ini, si Doni (walaupun berotak mesum) bersedia melepaskan keperjakaannya  setelah benar-benar resmi dalam ikatan rumah tangga.

Btw, saya juga suka dengan pilihan covernya yang unik.  Empat bintang buat Mengejar Malam Pertama.


#19 Kening


Judul Buku : Kening
Penulis : Rakhmawati Fitri
Halaman : 194
Penerbit : Terrant

Lagi-lagi dapat info buku ini dari twitternya si penulis, Fitri Tropica a.k.a Fitrop. Fitrop yang dikenal sebagai komedian, host di beberapa acara televisi, ternyata juga menjadi seorang penulis. Buku pertamanya diberi judul Kening. Menurut yang saya tangkap sewaktu membaca Catatan Kening (semacam prakata di awal buku), kening merupakan salah satu ciri has Fitrop yang paling mudah dilihat. Walaupun terkadang menjadi bahan sindiran, Fitrop mempersilahkan khalayak ramai untuk mengetahui apa yang ada di balik keningnya untuk kemudian dikenang.

Walaupun cerita "Hello Goodbye" mendominasi isi buku ini, saya paling suka dengan "Letters to You". Awalnya saya kira kisah itu masih seputaran Agra, ternyata kisah itu buat Mama Bapaknya Fitri.  Buku ini "ringan" (walaupun kening saya sempat berkerut membaca kalimat-kalimat panjang yang beranak pinak). Melihat sisi lain dari seorang Fitri Tropica membuat saya ikut tertawa, sedih, terharu, dan berdebar-debar bersama kisah-kisahnya.  Misalnya pada bab "Hello Goodbye", diceritakan bagaimana Fitrop yang berawal dari penyiar radio akhirnya menjadi seorang bintang televisi. Di bab yang sama juga menceritakan tentang kasih (nyaris) tak sampainya, bagaimana seorang Fitrop yang kelihatannya sangat lucu ternyata punya sisi feminim dan haru.

Ohya, ukuran buku yang lebih kecil dari buku novel pada umumnya (tapi ga sekecil novel-novel macam Sandra Brown atau Harlequin) cukup unik. Apalagi di dalamnya ada karikatur lucu-lucu yang ikut mendukung ceritanya.  Nggak tahu mau dikategorikan Fiksi atau Non-Fiksi, karena isinya nyaris seperti kisah nyata tapi kalau dibaca berasa baca novel :)


#18 Kedai 1001 Mimpi


Judul Buku : Kedai 1001 Mimpi
Penulis : Valiant Budi (@vabyo)
Halaman : 444
Penerbit : Gagas Media

Saya mendapatkan informasi tentang buku ini langsung dari linimasa penulisnya, @vabyo, sekitar bulan April 2011. Kalau tidak salah, twitnya waktu itu disertai link ke website buku ini. Baru pada bulan Mei 2011 saya membelinya di Makassar, dan langsung melahap habis buku ini. Saya tertarik membelinya karena ada tagline "Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI".  Dan pas membacanya ada gabungan perasaan sedih, takjub, lucu, dan terkejut. Komplit.

Valiant Budi a.k.a Vabyo, sebagai penulis, menceritakan kisahnya mulai dari dia melamar pekerjaan untuk bekerja di luar negeri sampai dengan kepulangannya kembali ke tanah air.  Di KSA (Kingdom of Saudi Arabia) Vabyo bekerja sebagai seorang barista di kedai kopi internasional. Banyak kejadian dan orang-orang yang ditemuinya membuat Vabyo malah ingin cepat-cepat kembali ke tanah air.

Saya pribadi tidak menyangka bahwa di negara 1001 aturan itu, justru penduduknya terkesan arogan yang menganggap orang dari suku bangsa lainnya memiliki derajat yang lebih rendah.  Seharusnya buku ini menjadi bacaan wajib bagi para TKI sebelum ke KSA. Minimal biar dapat gambaran bagaimana situasi atau keadaan di sana.

Lama sesudah membaca buku ini, saya sempat mengikuti linimasa @vabyo. Beberapa kali dia menceritakan bahwa banyak yang mencaci maki dirinya gara-gara buku ini. Ada yang mengatakan dia kafir, ada yang bilang dia berdusta, dan ada yang bilang dia sengaja menjelek-jelekkan KSA. Padahal di halaman awal bukunya ada tertulis pernyataan dari Valiant Budi

Kedai 1001 Mimpi berdasarkan kisah nyata. Beberapa nama dan tempat saya samarkan demi perlindungan dan permintaan. Saya tak meminta Anda untuk percaya. Silahkan cari data atau buktikan sendiri.
Well, it's your right to judge. But for me, I do believe :)

Btw, terlepas dari isi buku ini, saya menyukai cover dengan gambar gelas styrofoam dan tulisan Indunisi di bawah Saudi dan Filipini. Apalagi penulisan masing-masing bab menggunakan huruf Arabic style. Seandainya tidak ada typo salam buku ini, saya akan memberikan lima bintang. Tapi seperti layaknya cetakan pertama setiap terbitan, biasanya ada typo yang tersebar. Jadi empat bintang untuk Kedai 1001 Mimpi.