~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

#91 Fifty Shades Of Grey


Judul Buku : Fifty Shades of Grey (Fifty Shades #1)
Penulis : E.L. James
Halaman : 356 (ebook)
Penerbit : The Writer's Coffee Shop Publishing House


Pertama kali "terlibat" dalam kehebohan buku ini adalah ketika timeline di twitter ngomongin soal buku kipas terlaris saat ini. Diriku yang penasaran segera mendaftarkan diri untuk dikirimin ebook-nya sama mbak @daneeollie. Tapi begitu lihat jumlah halamannya, saya berpikir ulang buat membacanya. Apalagi kabarnya buku ini laris karena adegan BDSM-nya.  Jadilah si ebook dengan setia menghuni folder "to read" di laptopku. Akhir bulan lalu, lewat percakapan twitter juga, beberapa anggota BBI (@daneeollie, @asdewi, @alvina13, @r3n87, @esf2369, @destinugrainy) sepakat buat baca bareng buku ini di bulan Juli. Nah... kalau ada temannya saya mau baca... Kalau kata @r3n87,  biar "tersiksa" bareng juga gara-gara baca buku ini. Dan terbentuklah #50united di twitter :D Kebetulan lagi, kesampaian juga punya tablet buat baca ebook. Yak... serasa alam semesta mendukung, dimulailah "perjuangan" membaca buku ini. :mrgreen:

Anastasia Steele, mahasiswa tingkat akhir jurusan literatur, dengan terpaksa menggantikan temannya Kate Kavanagh untuk mewawancarai donatur utama dari universitas tempat mereka bersekolah. Si milliuner ini bernama Christian Grey. Dari wawancara itu, Ana menyimpulkan bahwa Mr. Grey ini adalah orang yang arogan, penuh percaya diri, tetapi sekaligus orang tertampan yang pernah dijumpainya. Sejak pertemuan pertama mereka, Ana sudah merasakan perasaan "aneh" pada Christian. Begitupun dengan Christian. Dan pada pertemuan ketiga, Ana tahu dia jatuh cinta pada Christian. Sayangnya Christian mengatakan pada Ana bahwa dia bukan orang yang tepat buat Ana. Merasa ditolak, Ana mencoba melupakan Christian.

Ternyata Christian berubah pikiran, dan mulai "mengejar" Ana. Dimulai dengan hadiah berupa edisi pertama buku Tess of The D'Urbervilles, ditolong ketika mabuk berat di sebuah kafe, ciuman panas di elevator, hingga diajak ke Seattle dengan helikopter pribadi milik Christian. Perlakuan yang diterima oleh Ana membuatnya merasa yakin akan menyerahkan dirinya pada Christian. Sesampainya di rumah mewah milik Christian di Seattle, Ana terkejut ketika Christian menyerahkan sebuah kontrak perjanjian untuk ditanda tangani oleh Ana, sebelum mereka memulai hubungan di antara mereka. Dan lebih terkejut lagi ketika Christian memperlihatkan "Red Room of Pain" pada dirinya. Christian Grey ternyata hanya mengenal hubungan Dominant-Submissive. Tentu saja dirinya menjadi si Dom, dan wanita-nya (dalam hal ini Ana) adalah si Sub. Dan dalam menjalankan hubungannya, Christian mengikat pasangannya dalam sebuah kontrak yang diketahui oleh pengacaranya.  Christian menginginkan Ana hanya dengan caranya sendiri, dengan kontrol penuh darinya. Yang Ana harus lakukan hanyalah mematuhi apapun yang diminta oleh Christian tanpa bantahan. Tapi jangan salah, Ana ini bukan orang pertama yang jadi Sub-nya Christian. Sebelumnya udah ada 15 orang. Hanya Christian bilang baru kali ini dia jatuh cinta sama Sub-nya.

*sigh*

Ini pengalaman pertama saya membaca buku bertemakan romance- BDSM. Mengejutkan sekaligus melelahkan. Yang membuat saya terkejut adalah beberapa hal mengenai hubungan BDSM yang dipaparkan secara jelas lewat kontrak antara Christian dan Ana. Saya sempat berpikir buku ini bisa saja jadi semacam panduan saking eksplistnya aturan-aturan yang tertulis dalam buku ini (tapi menurut beberapa info, adegan slap-slap-an di buku ini belum seberapa dan ga bisa dijadikan panduan). Trus bagian melelahkannya lebih banyak lagi misalnya repetisi yang terjadi di beberapa bagian buku ini, antara lain: (1) Ana yang mengigit bibirnya kemudian dilarang oleh Christian karena itu membuatnya terangsang, (2) Beberapa versi Holy dan crap yang diucapkan oleh Ana, dan (3) tulisan CEO, Grey Enterprises Holdings Inc. di akhir setiap email yang dikirimkan oleh Christian pada Ana. Bagian melelahkan berikutnya adalah the subconscious  dan the inner goddess-nya Ana yang sering muncul ketika Ana sedang memikirkan apa lagi yang dilakukan oleh Christian (btw, di sini sampai ngitung ada 80 bagian Ana’s subconscious dan 59  bagian Ana's inner-goddess) :D

Ngomong soal email, bagian email-email-an antara Ana dan Christian adalah bagian yang menarik buat saya (kecuali signature-nya Christian). Kalimat-kalimat mereka lucu, dan di situ kelihatan kalo Christian benar-benar perhatian sama Ana. Walaupun ada bentuk perhatian lain yang diberikan oleh Christian lewat Macbook Pro, Blackberry atau Audi sport berwarna merah, tapi bagi Ana hadiah-hadiah itu hanya memperlihatkan kalau Christian adalah orang kaya yang mau membeli tubuhnya dengan hadiah mahal.

Kalau ada yang bertanya, "semua adegan kipas-nya penuh kekerasan gitu ya?", jawabannya ga juga. Christian bisa juga vanilla-style :) Tapi ya gitu deh... dia tetap aja ngakunya hanya tahu yang Dom-Sub. Memang Christian ego-nya tinggi, konon katanya itu disebabkan karena masa lalunya yang suram. Ada apa dengan masa lalunya masih jadi misteri di buku ini, dan sepertinya baru terungkap di buku kedua, Fifty Shades Darker. Yang bikin saya bertanya-tanya... Fifty Shades itu maksudnya apa? Kalo kata om Google artinya lima puluh nuansa. Nuansa apa? Satu-satunya keterangan dari si Mr. Grey hanya pas dia bilang, " ..because I am Fifty Shades of fuc*ed-up". Nah lho!! :D

Sebenarnya ya, menurut saya, kisah cinta antara Christian dan Ana menarik juga. Christian tertarik dengan "keluguan" Ana, dan juga Christian belum pernah diinginkan sebagaimana Ana menginginkan dirinya. Karakter Christian ini antara loveable dan hateable. Dari sisi Ana sendiri, walaupun dia cinta banget sama Christian, dia masih punya "standar". Dia tidak langsung silau sama hadiah, tampang, kekuasaan Christian. Dia bahkan mau mempelajari kontraknya dan mau mencoba hal yang baru. Dia mau tahu kenapa Christian menyebut dirinya sebagai fifty shades of fuc*ed-up. Apakah karena masa lalunya sampai Christian ga mau disentuh oleh Ana. Ada ketergantungan dan hubungan yang saling mengikat antara Christian dan Ana. Di sinilah love story-nyaTapi... berhubung buku ini sudah dikenal karena BDSM-nya, banyak pembaca (dan media) yang lebih fokus ke sana. Akhirnya banyak yang ga suka, kontra dan sebagainya. Ga tahu ini ada hubungannya atau nggak, setelah buku ini booming saya perhatikan di Goodreads dan beberapa media sosial banyak bermunculan fiksi-fiksi romance (khususnya dari luar) yang mengusung tema serupa (dalam hal ini kisah romance BDSM, trisum, menage, abuse, etc). 

Buku ini akan diterjemahkan oleh Gramedia dan akan terbit tahun ini juga. Yah... mengingat buku ini laris sedunia, wajarlah kalau Indonesia "harus" ikut ambil bagian di dalamnya. Ada begitu banyak kontroversi mengenai penerjemahan buku ini ke bahasa Indonesia mengingat material ceritanya yang tidak biasa. Saya sendiri ga yakin mau membaca terjemahannya, bukan karena materi ceritanya, tapi lebih ke "feel"nya yang akan berbeda kalau sudah diterjemahkan. Tapi lihat nanti saja :mrgreen: Saya membayangkan buku ini bakal masuk dalam kategori metropop (romance ada, merk-merk juga bertaburan). Yang pasti saya mau melanjutkan membaca sekuelnya, tapi tetap baca bareng #50united dong....

Karena laris manis, buku ini bakal difilmkan. Konon E.L.James terinsipirasi dari kisah Bella-Edward sampai bikin trilogi Fifty Shades ini (walaupun saya sendiri bingung, bagian mana di Twilight yang menginspirasi beliau). Tapi beliau kabarnya menolak Kirsten Stewart dan Robert Partinson buat jadi pemeran utama. Kira-kira kalo filmnya bakal masuk ke Indonesia ga ya? 


PS. Postingan untuk Name In A Book Challenge 2012


#90 Perfect Chemistry


Judul Buku : Perfect Chemistry
Penulis : Simone Elkeles
Halaman : 452
Penerbit : Terakota

Brittany Ellis punya segalanya. Cantik, rambut pirang keemasan, pacar populer, mobil BMW baru, ketua tim pemandu sorak di sekolah, orang tua yang kaya. Dialah ikon kesempurnaan di mata teman-temannya. Sebaliknya, Alex Fuentes adalah pemuda anggota geng Latino Blood, biang onar, turunan Mexico, singkat kata jangan sampai berurusan dengannya. Tapi bagi mereka berdua itu hanyalah topeng kesempurnaan belaka.

Brittany memiliki rahasia yang disimpannya di rumah. Kakaknya, Shelley pengidap cerebral palsy. Walaupun sudah berusia 20 tahun, Shelley tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Dia tidak mampu berbicara dan hanya mampu duduk di kursi roda. Rahasia lain Brittany adalah ayahnya yang tidak peduli dengan keluarganya dan sibuk dengan pekerjaannya, serta ibunya yang menuntut kesempurnaan penuh. Jika Shelley tidak bisa tampil sempurna, maka Brittany haruslah sempurna.

Alex sendiri menjadi saksi mata terbunuhnya ayahnya, yang juga anggota geng Latino Blood, pada saat dia masih berumur enam tahun. Sejak saat itu dialah yang harus melindungi keluarganya (ibu dan kedua adiknya) dengan cara masuk ke dalam geng LB. Alex membuat dirinya tidak peduli pada apapun. Baginya kepedulian terhadap sesuatu membuat sakit yang dalam ketika dia harus kehilangan sesuatu tersebut.

Ms. Perfect dan Mr. Gangster dipertemukan dalam kelas Kimia. Mereka menjadi partner pada tahun senior, yang mengharuskan mereka bekerja sama untuk menyelesaikan proyek Kimia yang diberikan oleh Mrs. Peterson. Kedekatan mereka lambat laun menjadi rasa yang berbeda. Dari rasa benci satu sama lain berubah menjadi rasa cinta. Apalagi ketika mereka merasakan "kesamaan" pada diri mereka berdua, yaitu sama-sama bersembunyi di balik sebuah topeng.

Novel ini bukan hanya sekedar kisah cinta hate-then-love saja. Tapi lebih dalam kepada bagaimana menemukan kebenaran jati diri tanpa harus malu memperlihatkannya pada orang lain. Baik Brittany dan Alex berusaha keluar dari zona nyaman demi memperjuangkan masa depan mereka. Diceritakan secara bergantian dari sudut pandang Alex dan Brittany kita juga melihat kisah persahabatan, ras dan status sosial yang berbeda, serta pengorbanan demi sahabat, keluarga dan orang yang dicintai.



#89 Pengantin Surga


Judul Buku : Pengantin Surga
Penulis : Nizami Ganjawi
Halaman : 250
Penerbit : Dolphin

Saya teringat dengan percakapan beberapa tahun lalu bersama seorang sahabat saya. Entah apa yang kami diskusikan waktu itu, tapi sepenggal percakapan ini tetap saya ingat. Saya menanyakan pada dia, "kisah cinta mana yang menurutmu paling bagus yang pernah ada di dunia ini?". Spontan dan tanpa ragu dia menjawab, "Layla dan Majnun". Tidak berapa lama kemudian dia menyodorkan sebuah buku tipis bersampul merah pada saya. "Baca saja ini, nanti kamu juga bakalan mengerti", katanya.

Kali ini saya kembali memegang buku yang berkisah tentang cinta abadi Layla dan Majnun (thanks to Penerbit Dolphin dan mbak Truly). Kisah terjemahan dari naskah asli-nya Layli O Majnun disajikan dalam bahasa sastra yang cenderung hiperbola yang pastinya membuat pembaca terbuai oleh permainan kata yang indah. Konon, cerita inilah yang mnginsirasi Shakespeare menulis Romeo dan Juliet dan menentukan perkembangan sastra Arab, Barat, India dan Nusantara.

Tersebutlah Qays, putra dari seorang penguasa Badui bernama Syed Omri. Kehadiran Qays di tengah keluarga Syed Omri sudah dinantikan dalam waktu yang lama. Sebagai putra tunggal, Qays mendapatkan perhatian penuh dari ayahnya. Dia pun dikirim untuk belajar pada guru yang khusus mengajar anak bangsawan. Di "sekolah" ini dia bertemu dengan Layla.

Hati siapa yang tak terpikat dan dirajam kerinduan ketika memandangi kembang padang pasir itu? Tetapi Qays merasakan lebih daripada itu. Ia hanyut dalam samudra cinta sebelum tahu bahwa ia mengalaminya. Diserahkannya hatinya kepada Layla sebelum ia paham apa yang telah diserahkannya. Dan Layla? Tak jauh beda! Seletik api telah menyala di relung hati keduanya, dan masing-masing hati mencerminkan wajah yang dicintainya.

Selayaknya orang yang sedang kasmaran, Layla dan Qays mabuk dan tenggelam dalam cinta mereka. Banyak orang yang cemburu dan dengki pada kedekatan mereka berdua. Beberapa fitnah mengalir. Akhirnya orang tua Layla melarang pertemuan mereka. Layla dikurung di perkemahannya dan dilarang berjumpa dengan Qays. Di sinilah Qays menjadi kehilangan akal sehatnya, bertingkah layaknya orang gila dan orang-orang menyebutnya Majnun.

Majnun dikucilkan oleh orang-orang karena tingkahnya. Tapi begitu dia mengucapkan syair cinta, semua orang akan datang untuk mendengarkannya. Majnun hidup menyendiri, tinggal di hutan, berteman dengan hewan. Kisah cintanya disampaikan lewat angin, surat, dan orang-orang yang mendengarkannya. Layla sendiri dalam kesepiannya tetap memendam cintanya pada Majnun.

Bukannya tidak ada usahauntuk mempersatukan mereka. Ayah Qays mendatangi ayah Layla, tapi ditolak. Sahabat Qays, Nawfal, bahkan berperang demi memperebutkan Layla dari kemah ayahnya tapi tidak juga berhasil. Layla justru dinikahkan dengan Ibnu Salam oleh ayahnya. Walaupun raganya telah menikah, hatinya hanya untuk Majnun.

"Memang aku telah bersuami. Hanya seorang suami, bukan kekasih, karena ia tak pernah kuizinkan menyentuhku! Percayalah kepadaku, hari-hari telah membuatku letih, tetapi tak seorang pun yang bisa merenggut berlianmu ini. Cintaku tetaplah suci, tiada ternoda, seperti kuncup bunga yang tak akan pernah terbuka."
Dan Majnun membalasnya,

"Akulah debu yang menepel di kakimu. Engkaulah obat penawarku untuk ribuan luka. Engkaulah taman surgaku. Biarkanlah cintak kepadamu menjadi penjaga rahasia-rahasiaku. Selama dirimu tak terluka, segala penderitaan bukanlah apa-apa!"

Saya pribadi memahami kedalam cinta Majnun pada Layla, yang demi cinta dia rela mengorbankan dirinyadan mejadi "penguasa cinta" dalam keagungan. Dan ketika dia tidak mendapatkan cintanya di dunia, bersama pengantinnya dia menemukan cinta abadinya di surga. Seperti yang disebutkan oleh penerjemah di bagian akhir buku ini bahwa kisah ini bukan sekedar kisah cinta tak berbalas, namun cinta itu sendiri mentransformasikan pencintanya ke dalam persatuan mistik dengan Sang Kekasih.

Ohya, saya juga mengacungkan jempol pada penyunting buku ini. Kalimat-kalimatnya indah dan penuh makna dalam, membuat kita terasa dibawa ke masa hidup Nizami Ganjavi di Persia, tapi juga bisa jadi cermin untuk hidup kita sekarang. Satu penggalan yang saya temukan di halaman 139 bisa jadi bekal untuk kita semua.
Jangan mencari kepastian di dunia fana, sebab segala sesuatu akan sirna. Kau hanya akan menyesalinya nanti. tapi bila kau mati dari segala damba terhadap kehidupan ini dan membebaskan dirimu dari dunia yang merupakan setan berwajah malaikat, kau akan memasuki kehidupan abadi. dirimu adalah takdirmu; kematianmu, kehidupanmu. Yang baik akan kembali kepada yang baik, yang jahat akan kembali kepada yang jahat. Gema menyuarakan rahasiamu dari puncak-puncak gunung, mengungkapkan secara rahasia apa yang kau utarakan kepada dirimu sendiri.



Friday's Recommendation #1

Hiya... My first meme!!

Berkali-kali lihat meme di blog teman-teman, tapi nggak berani ikut. Akhirnya kali ini memberanikan diri ikutan meme yang diadakan sama Ren's Little Corner. Kenapa? Soalnya idenya menarik, merekomendasikan buku untuk diterjemahkan. Saya suka gemes kalo lihat buku yang ratingnya di Goodreads tinggi (4-5) atau buku yang lagi hits, tapi ga ada terjemahan Indonesianya. Secara saya rada susah kalo baca buku berbahasa Inggris yang tebel, saya mau merekomendasikan buku yang pengennya saya diterjemahkan.

 Aturannya kayak di bawah ini:

1. Pilih jenis rekomendasi buku. Ada dua jenis rekomendasi, yang pertama dan sifatnya mutlak adalah Rekomendasi Buku untuk Diterjemahkan . Jika tidak ada buku yang direkomendasikan untuk diterjemahkan, maka bisa memilih pilihan kedua, Rekomendasi Buku Pilihan. Disini rekomendasikan buku yang paling kamu suka baca dalam minggu ini.

2. Pilih hanya 1 (satu) buku untuk direkomendasikan. Tidak boleh lebih.

3. Beri sinopsis, genre buku dan alasan kenapa kamu merekomendasikan buku itu.

4. Blogger yang sudah membuat memenya, jangan lupa menaruh link ke blog di daftar linky di bagian paling bawah postingan meme ini di blog-nya Ren's Little Corner (host), sehingga pembaca bisa blog walking.

Edisi perdana ini saya rekomendasikan buku ini:

Nineteen Minutes (by Jodi Picoult)



Jodi Picoult, bestselling author of My Sister's Keeper and The Tenth Circle, pens her most riveting book yet, with a startling and poignant story about the devastating aftermath of a small-town tragedy. Sterling is an ordinary New Hampshire town where nothing ever happens--until the day its complacency is shattered by an act of violence. Josie Cormier, the daughter of the judge sitting on the case, should be the state's best witness, but she can't remember what happened before her very own eyes--or can she? As the trial progresses, fault lines between the high school and the adult community begin to show--destroying the closest of friendships and families. Nineteen Minutes asks what it means to be different in our society, who has the right to judge someone else, and whether anyone is ever really who they seem to be.

Saya penggemar novel-nya Jodi Picoult. Enam novel-nya yang sudah diterjemahkan sama Gramedia masuk dalam koleksi saya. Tentu saja saya pengen ada penerbit yang mau menerjemahkan buku ini.

Itu rekomendasi saya. Kamu? :)

#88 Antologi Rasa


Judul Buku : Antologi Rasa
Penulis : Ika Natassa
Halaman : 328
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Saat saya membaca buku ini bisa dibilang "terlambat". Euphoria buku ini sudah lama lewat. Saya sempat mengikuti tahun lali di timeline twitter betapa orang-orang memuja novel ini, dan juga @harrisrisjad . Di goodreads saja rata-rata pada ngasih bintang empat untuk novel Ika Natassa yang satu ini. Itu saja sudah cukup membuat saya penasaran ingin membacanya, dan baru kesampaian di pertengahan 2012 ini.

Tema cerita sederhana, kisah cinta segi-banyak yang rumit antara Keara, Harris, Ruly, Denise dan Panji. Keempat orang pertama adalah sahabat yang sama-sama bekerja di sebuah bank besar di Indonesia, dan ditempatkan di divisi yang berbeda. Keara, wanita penakluk banyak pria, ternyata memendam rasa cinta pada Ruly, cowok atletis yang alim. Sayangnya Ruly menyukai Denise, seorang istri yang ditelantarkan suaminya. Sementara Harris, playboy yang "mengoleksi" banyak wanita, justru menyukai Keara sejak pertemuan pertama mereka di lift. Trus Panji? Ah, dia hanya seorang cowok yang menjadi pelampiasan Keara karena tidak bisa mendapatkan Ruly. Tapi Panji ini ternyata teman lamanya Harris,yang punya kelakuan sebelas dua belas dengan Harris dalam hal wanita.
Doesn't it scare you sometimes how times flies and nothing changes?
 Itu kutipan yang saya ambil di halaman 31, dan menjadi kesimpulan saya setelah membaca habis buku ini dalam waktu semalam. Yah... buku setebal 328 halaman hanya menceritakan soal kasih tak sampai dengan bumbu-bumbu kehidupan metropolis dan di akhirnya tidak ada yang berubah. Ekspektasi saya yang tinggi pada buku ini jadi terjun bebas setelah saya membaca adegan "delapan bulan kemudian" di akhir buku ini.

Sejak awal, penokohan Keara dan Harris dibangun bahwa mereka berdua adalah tokoh yang penuh percaya diri. Soal fisik tidak diragukan lagi dengan kemampuan mereka menggaet pasangan yang bukan kelas sembarangan, Keduanya juga pemuja kebebasan dalam gaya hidup. Tapi kok ya ketika Keara dan Harris making love dalam keadaan mabuk berat, Keara langsung benci sama Harris? Kan yang ngajak duluan juga Kearra, tapi tetap menuduh Harris memanfaatkan suasana untuk berhubungan badan dengannya, Kearra kenal siapa Harris kan? Kalau Harris bisa melakukan hal yang sama pada wanita lain, kenapa sama Keara tidak? Karena mereka bersahabat? Come on....

Entah kenapa, saya selalu merasakan bahwa di setiap novel Ika Natassa, dia selalu hadir dalam diri tokoh utama. Ika Natassa hadir dalam wujud Keara di novel ini, Alexandra di Divortiare dan Twivortiare, dan Andrea di A Very Yuppy Wedding. Seorang banker, hidup mapan dan berkelas, sosialita, lulusan universitas di Amerika Serikat (NYU lebih tepatnya). Yang beda cuman kisah cintanya saja. Di Keara, Ika lebih menampakkan dirinya lewat hobby fotografi yang Canonian, fans berat John Mayer, pernah nonton live F1 di Singapura. Saya teringat sama postingannya Mia, dimana di akhir postingan itu dia membahas mengenai pengarang yang formulanya begitu-begitu saja seperti Sophie Kinsella, Sidney Sheldon, dan Danielle Steele. Pengarang yang belum bisa move on dari zona nyamannya. Sepertinya saya akan menambahkan satu lagi pengarang di daftar-nya Mia :D

Satu-satunya hal yang membuat saya memberikan bintang dua pada Antologi Rasa ini adalah gaya bercerita Ika yang "tidak biasa". Penggunaan PoV yang berganti-gantian dengan penataan yang apik. Saya jadi ingat dengan Twivortiare yang penulisannya bergaya ala twit itu. Kreatif.

Soal penggunaan bahasa Inggris yang bertebaran di setiap halaman, detail-detail tentang F1, konser John Mayer (semua judul lagu di konser itu disebutkan!), sudahlah... Itu termasuk zona nyamannya Ika. Tapi ya...anehnya saya tetap menantikan novel-novel Ika Natassa berikutnya. Haha... hers are my guilty pleasure