~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

#50 Daddy Long Legs


Judul Buku : Daddy Long Legs
Penulis : Jean Webster
Halaman : 235
Penerbit : Penerbit Atria


Dear, Mr. Daddy...

Hai.... Mungkin Anda tidak mengenal saya, tapi saya mengenal Anda. Well... setidaknya Judy yang mengenalkan saya pada Anda. Anda tahu kan, dia menulis surat kepada Anda hampir setiap bulan. Bahkan terkadang dalam sebulan dia bisa menulis surat berkali-kali. Saya tidak tahu kalau Judy senang bercerita (lewat tulisan tentunya dan sepertinya hanya pada Anda). Seringkali ketika saya mengajaknya untuk ngobrol bersama di malam hari, dia memilih untuk menyingkir, dan ketika saya mengintipnya, dia sudah larut dalam surat-suratnya.

Judy memang senang membaca (Anda sudah tahu itu), dia juga senang sekali ketika diajak pergi ke peternakan. Mungkin karena dia berasal dari panti asuhan (maafkan kata-kata saya), dimana dia harus bekerja sepanjang waktu. Dia benar-benar gadis beruntung karena Anda membiayai studinya.

Daddy... (boleh kan saya memanggilmu begitu?),

Anda sangat sombong tidak membalas satu pun surat Judy. Saya seperti membaca monolog saja. Hampir saja saya kobosanan membaca surat-surat Judy itu. Tapi Anda sangat manis mengirmkan bunga untuk Judy ketika dia sakit atau mengirimkan uang padanya ketika Natal tiba. Tapi saya sangat penasaran siapakah Anda sebenarnya?

Sudahlah, Daddy... Saya tidak tahu mau menuliskan apa lagi. Saya kan tidak seperti Judy yang bisa menulis surat berlemba-lembar. Sekarang Judy sudah benar-benar menjadi penulis. Dia bahkan mendapatkan uang dari tulisannya. Tulisannya kabarnya sangat menarik. Ah... Judy memang berbakat.

Sincerely,

Desty-yang-ikut-membaca-surat-Judy

PS. Saya dengar Anda mau menemui Judy. Bisakah saya ikut bertemu dengan Anda?


#49 A Waltz at Midnight


Book Title: A Waltz at Midnight
Writer: Crista McHugh
Page(s): 55
Publisher: Carina Press

This is a second eBook which I’ve got from NetGalley. It was a short romantic novel, another kind of Cinderella Story that take place at 1866 in New York.

Susanna Parkwell and her brother Hank Parkwell are come from the South. Unfortunately, Hank loses his leg in Civil War. They have to live in a boarding house and work there for a place to stay. Both Susanna and Hank don’t like to live in that situation, but the circumstances make them have to. Susanna has to serve some rich girls which study at Vassar College.

One of these girls, Charlotte, receives a letter from a man named Theodore Barkley. The letter explains about an arrangement made by their parents that set them in to a business marriage. Charlotte asks for Susanna to write back the rejection letter, since she doesn’t want to marry Theodore. Susanna writes the letter behalf for Charlotte. Instead of feeling abandoned, Theodore is more curious for Charlotte and sends her many letters. He even sends Charlotte some sketch that made by him. Off course, it’s not Charlotte who reply all Teddy’s letters but Susanna. By their letters, they start to fall in live each others. Until one day, Teddy plans to meet Charlotte. Susanna gets upset about his plan, but Charlotte forced her to continue to play act. How will Susanna get out of this one without getting heartbroken?

There was some section where Susanna being a maid, and the clock struck 12 times to separate them deeply felt like Cinderella story. But I love to read all the letters imagine me being in Susanna side. Not only because of the choice words used by Theodore and Susanna, but also their thoughts about the impact of war, freedom, rights of women, and off course love.

Too bad the story is very short. I hope the character development of several villains like Annabelle, a rich girl who is always oppressive Susanna, or even from Hank and Charlotte. And although this is a romance story, you barely find a sexual scene but kiss :)

Well, I give three out of five stars to Susanna and Theodore.


#48 Pengakuan Gadis Call Center


Judul Buku : Pengakuan Gadis Call Center
Penulis : Lisa Lim
Halaman : 462
Penerbit : Gradien Mediatama


Dulu, setelah saya menyandang gelar sarjana, yang ada di pikiran saya adalah mencari kerja secepatnya. Tentu saja saya mengirimkan beberapa lamaran ke perusahaan yang sesuai dengan background ilmu yang saya miliki. Enam bulan lamanya, penolakan demi penolakan saya terima. Saya bahkan melebarkan opsi ke perusahaan yang tidak sesuai dengan ilmu saya. Alasannya tidak lain adalah saya harus bekerja.

Madison Lee (Maddy) juga sama galaunya ketika menerima penolakan demi penolakan. Ketika Karsynn sahabatnya mengajaknya untuk melamar ke sebuah perusahaan telekomunikasi, Maddy pun menyambutnya. Setelah melalui serangkaian tes, akhirnya mereka diterima bekerja sebagai operator telepon di call center.

Jangan menganggap pekerjaan sebagai operator di call center itu gampang. Maddy mengalami hari-hari yang sulit ketika dia bekerja sebagai gadis call center. Mulai dari makian pelanggan yang tidak sabaran, bahasa asing yang belum pernah didengar, sampai rayuan dari pelanggan yang tidak senonoh. Belum lagi atasannya yang sekejam Hittler, dan keharusan menjual produk pada pelanggan. Kegalauan Maddy bertambah ketika Karsynn sahabatnya jatuh cinta pada pria beristri, dan Mika, pria impian hatinya, malah jatuh cinta pada gadis lain. Untungnya ada Truong, rekan Maddy di kubikel sebelah yang selalu menghibur dengan tingkah dan komentarnya yang lucu. Truong yang homo dan cadel itu juga selalu membawakan makanan Asia untuk Maddy.

Maddy ternyata berasal dari keluarga berada. Ayahnya (almarhum) adalah seorang peneliti dan ibunya adalah dokter spesialis kandungan. Walaupun demikian, Maddy tidak dekat dengan ibunya yang sibuk bekerja. Maddy juga penikmat buku. Beberapa buku yang Maddy baca dan tertulis di dalam novel ini spontan mengingatkan saya pada Mbak Fanda (yang juga adalah penyunting novel ini). Bagaimana tidak, bacaan Maddy itu buku-buku klasik dan historical story. Persis seperti mbak Fanda :D

Alur ceritanya cenderung datar. Saya tidak merasakan klimaks dan anti-klimaks dari kisah si gadis call center ini. Beberapa bab “hanya” menceritakan tentang kejadian seputar telepon-telepon yang diterimanya. Baru di bab akhir kisah antara Maddy dan Mika mendapat porsi lebih banyak. Masih banyak typo-nya juga. Tapi saya suka sekali dengan gambar sampulnya. Warna biru cerah dan gadis manis memakai headset jauh lebih menarik dibandingkan cover aslinya.  After all, saya kasih tiga bintang untuk Maddy, si gadis call center.


#47 Twivortiare


Judul Buku : Twivortiare
Penulis : Ika Natassa
Halaman : 283
Penerbit : Self Publishing by Nulisbuku


Alexandra is back. Melalui account twitter @alexandrarheaw, Alex menceritakan pernikahan keduanya dengan dr. Beno Wicaksono. Seperti yang sudah diceritakan di novel prekuelnya, Divortiare, Alex dan Beno pernah menikah. Tapi, karena kesibukan masing-masing (Beno sebagai dokter jantung dan Alex sebagai karyawati sebuah bank) membuat komunikasi di antara mereka tidak berjalan dengan baik. Ketika Alex meminta cerai, Beno dengan tanpa usaha mengiyakan permintaan Alex (hal yang kemdian meyakinkan Alex bahwa Beno tidak benar-benar mencintainya). Singkat cerita, di akhir kisah Divortiare, Alex dan Beno sama-sama merasakan masih ada cinta di antara mereka. Apakah mereka kembali menjadi pasangan?

Pertanyaan itu terjawab di Twivortiare. Alex dan Beno menikah untuk kedua kalinya, setelah 8 bulan berpacaran. Kali ini, Alex membuat Beno berjanji supaya tidak melepaskannya apapun permintaan Alex nantinya. Alex juga meminta perhatian penuh dari Beno, dan tidak menjadikannya sebagai hal kedua setelah pekerjaannya.

Walaupun diceritakan dari sudut pandang Alex (apalagi hanya lewat rangkaian tweets yang maksimal cuma 140 karakter tiap paragraf), saya bisa menikmati kelanjutan kisah Alex dan Beno. Dan dalam pernikahan kali ini, tetap saja Alex dan Beno “rajin” bertengkar. Mengapa saya bilang rajin? Soalnya pertengkaran mereka di dalam buku Twivortiare ini ga jauh-jauh dari masalah cemburu, kurang perhatian,dan miskomunikasi. Beno cemburu dengan Adrian, nasabah Alex; Alex cemburu pada  Rania, kolega Beno sesama dokter. Alex masih merasa Beno kurang perhatian, dan Beno menganggap Alex sulit dimengerti. Ketika Beno meminta Alex untuk “wajib lapor”, Alex merasa seperti terpenjara.

Mengutip apa yang dikatakan Alex lewat twitternya (saya lupa persisnya kalimatnya seperti apa) bahwa pernikahan kedua ini membuat mereka sangat berhati-hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan sebelumnya. Mereka berusaha untuk terus berkomunikasi, baik itu lewat telepon, BBM, maupun Skype ketika mereka harus berjauhan. Tindakan berhati-hati itu membuat Alex dan Beno selalu membuat kesepakatan yang mengharuskan yang satu menuruti yang lain supaya mereka tetap berdamai. Dan terus menerus berada dalam situasi win-lose solution itu tentu saja melelahkan. Tidak heran, ketika mereka menemukan jalan buntu berkomunikasi, Alex memilih untuk menghindar, sementara Beno merasa Alex bersifat kekanak-kanakan.

Satu hal lagi yang menjadi “masalah” dalam rumah tangga mereka adalah ketidak hadiran seorang anak. Selain jengah ditanya terus menerus oleh keluarga besar mereka, satu sama lain merasa dalam ketakutan akan mengecewakan pasangan mereka karena Alex tidak kunjung hamil.

Terlepas dari segala konfilk yang dialami oleh Alex dan Beno, saya sangat salut Ika Natassa mampu menghidupkan kembali karakter Alex lewat @alexandrarheaw. Dan bukan hanya Alex, kehadiran orang-orang di sekitar mereka juga tetap hidup walaupun semua hanya bisa dilihat lewat sudut pandang Alex. Satu-satunya karakter yang hadir adalah @winasoedarjo, sahabat Alex yang selalu menjadi tempat curhat Alex. Dialognya masih banyak berbahasa Inggris khas Ika, dan sedikit istilah perbankan. Typo masih ada, tapi wajarlah karena self publishing. Mungkin nanti kalau diterbitkan oleh Gramedia, typo-nya bisa berkurang.

Mengenai sampulnya, yang sudah pernah membaca Divortiare pasti familiar dengan kardus bertuliskan His dan Hers. Kali ini ditambah dengan si burung biru-nya twitter. Saat membaca halaman awal dari novel ini saya sempat berpikir, mereka kan sudah tinggal bersama, tapi kenapa kardusnya masih terpisah seperti di Divortiare. Ternyata setelah saya selesai membaca novel ini saya menarik kesimpulan sendiri soal kardus itu. Biarpun mereka sudah tinggal seaatap, tapi tetap saja masih ada dua kepentingan dan kepribadian yang belum sepenuhnya terbuka satu sama lain. Baik Alex dan Beno masih mengkotak-kotakkan diri mereka dalam pernikahan ini. Well, benar atau tidaknya kesimpulan saya, silahkan ditanyakan ke penulisnya di account twitternya @ikanatassa :)

Btw, karena penasaran dengan kelanjutan kisah Alex dan Beno, saya jadi mem-follow @alexandrarheaw.  Si dokter kadang nge-tweet juga pake akunnya Alex, untuk menjawab pertanyaan dari fansnya. Tapi ya gitu deh… jawabannya hanya satu dua kata saja.


#46 Irish Thoroughbred


Judul Buku : Irish Thoroughbred
Penulis : Nora Roberts
Halaman : 200
Penerbit : Silhouette

Sejak berumur 10 tahun,ketika kedua orang tuanya meninggal dalam sebuh kecelakaan, Adelia Cunnane harus bekerja keras bersama bibinya di lahan pertanian milik mereka. Kehidupan sangat keras bagi mereka, tidak ada waktu untuk bersenang-senang. Ketika bibinya pun meninggal dunia, Adelia menjadi sebatang kara di Irlandia. Salah seorang pamannya, Paddy Cunnane, yang menetap di Amerika, mengajaknya untuk datang ke Amerika dan tinggal bersamanya.

Jadilah Adelia tiba di sebuah perternakan kuda bernama Royal Meadows milik Travis Grant. Paddy adalah salah satu pelatih kuda pacu milik Travis. Di tempat tersebut Adelia bekerja sebagai perawat kuda. Kemampuan Adelia merawat binatang menarik perhatian Travis. Hampir semua kuda di perternakan itu bisa dekat dengan Adelia.

Walaupun bertubuh kecil, Adelia dianggap memiliki lidah yang tajam oleh Travis. Seringkali mereka terlibat dalam pertengkaran, yang justru membuat Travis semakin menyukai Adelia. Dee sendiri mulai jatuh cinta pada Travis walaupun dia sadar tidak mungkin Travis akan menikahi karyawannya. Akan tetapi keadaan berbalik ketika Paddy terkena serangan jantung. Sebagai seseorang yang dianggap sosok ayah oleh Travis, dia akan memenuhi segala permintaan Paddy. Paddy meminta Travis menjaga Adelia untuknya, dan Travis menyanggupinya dengan menikahi Adelia.

Pernikahan mereka berlangsung singkat dan cepat di kamar tempat Paddy dirawat. Tanpa sepengetahuan Paddy, Travis membuat perjanjian dengan Adelia bahwa pernikahan itu akan berakhir ketika Paddy telah sembuh. Adelia menyanggupinya, walaupun dalam hati dia merasa sangat sedih karena Travis tidak bisa mencintainya sebesar cintanya pada Travis.

Kisah romantis khas Harlequin yang selalu berakhir dengan indah selalu menjadi bacaan yang menyenangkan bagi saya. Apalagi dalam buku ini bukan hanya romantisme antara Adelia dan Travis yang diumbar, tapi juga kasih sayang Adelia kepada pamannya, keponakaan kembar Travis, bahkan kepada Majesty, kuda pacu milik Travis.  Bacaan yang tepat untuk menutup bulan cinta Februari.

Buku ini adalah seri pertama dari Irish Heart yang ditulis oleh Nora Roberts. Sebenarnya sudah ada terjemahannya yang diterbitkan oleh Gramedia dengan judul Kekuatan Cinta, tapi demi janji membaca satu buku berbahasa Inggris setiap bulan, saya memilih untuk membaca versi aslinya.