~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

#39 Loe Gue End


Judul Buku : Loe Gue End
Penulis : Zara Zettira ZR
Halaman :  335
Penerbit : Vinca Inc.

Berawal dari membaca blognya Ms. Complaint yang berjudul sama, akhirnya saya terdampar di blog-nya mbak Zara, yang kala itu hampir menyelesaikan cerita berseri berjudul Loe Gue End itu. Dari blognya juga saya mendapatkan informasi kalau cerita berseri tersebut akan diterbitkan menjadi sebuah buku oleh beliau, dan pemesanan bisa dilakukan via email. Saya tertarik dengan tulisan "kisah nyata" dan "mendapat banyak tanggapan dari pengunjung", sehingga tanpa pikir panjang saya segera ikut memesan buku tersebut. Lagipula saya tidak merasa nyaman membaca tulisan panjang di layar laptop.

Pemesanan saya lakukan bulan November, dan bukunya datang sekitar awal Desember, lengkap dengan tanda tangan mbak Zara Zettira ZR. Tapi, saya baru berkesempatan untuk membacanya di bulan Februari ini.

Buku ini adalah kisah dari Alana, seorang pecandu alkohol yang juga anak dari dokter bedah palstik ternama di Jakarta. Kehidupan Alana yang penuh kemewahan membuat dia selalu bisa mendapatkan alkohol setiap harinya. Kalau di sampul bukunya dia disebut drug addict, sebenarnya tidak juga. Walaupun demikian, Alana kadang menggunakan obat-obatan terlarang itu untuk menurunkan berat badannya, atau jika dia tidak bisa mendapatkan alkohol. Maklumlah, Alan harus menjaga postur tubuhnya demi kariernya di dunia modelling. Alana punya genk, D Ngocols namanya. Isinya juga anak-anak orang kaya di Jakarta. Ada Fifi, Tomi, Yosi, Lina, Radit dan Vira. Mereka sering berkumpul dan pesta miras serta obat-obatan. Berbagai macam istilah obat terlarang ada di buku itu.

Sejak lahir, Alana tidak mengenal ibunya. Dia hanya memiliki ayah yang sibuk dengan dunia kerjanya. Suatu ketika Alana terusik dengan kehadiran Santika.  Santika muncul bersamaan dengan serangkaian kejadian yang membuat shabat-sahabatnya mengalami musibah. Fifi meninggal, Tomi lumpuh, pesawat Vira kecelakaan, Lina ditangkap oleh polisi, semuanya setelah mendapatkan email dari Santika. Anehnya mereka tidak bisa melacak Santika ini, walaupun sudah menggunakan jasa intel di Mabes Polri. Hingga akhirnya, mobil milik Alana rusak parah dengan baretan Santika di kap mobilnya. Alana memutuskan untuk pergi ke Bali, untuk bersembunyi dan menyepi.

Tanpa dia duga, di Bali dia bertemu dengan ibunya. Tepatnya, ibunya sengaja untuk menemui dia. Alana tidak bisa menerima begitu saja penjelasan ibunya, apalagi setelah ibunya mengatakan dia punya saudara kembar bernama Santika. Alana sangat terkejut dengan kenyataan bahwa dia mempunyai saudara kembar yang fisiknya jauh berbeda dengan dirinya.  Kontan saja, Alana menuntut pertanggung jawaban Santika atas musibah yang menimpa sahabat-sahabatnya. Tetapi kemudia Santika menjelaskan mengenai kemampuan Astral Projection yang mereka miliki berdua, dimana jiwa mereka mampu keluar dari tubuh badaninya dan saling mengunjungi, ataupun berkunjung ke tempat lainnya. Hal ini juga menjelaskan mengapa Alana terkadang ketika melamun atau lagi high dengan alkoholnya merasa seperti mengunjungi tempat-tempat tertentu. Santika menjelaskan bahwa dia melakukan semuanya itu demi melindungi Alana adiknya dari pengaruh buruk teman-temannya.

Alana yang masih tidak percaya dibawa oleh Santika mengunjungi "dunia mereka". Sayangnya, Alana tersesat dan masuk ke dunia antara hidup dan mati. Di sana dia bertemu dengan Fifi, yang belum menerima kematiannya. Sementara itu, di dunia nyata, Alana mengalami mati suri.

Kisah nyata ini ditulis kembali oleh mbak Zara berdasarkan email-email yang dikirim oleh Alana sendiri kepada mbak Zara. Beberapa tokoh dan lokasi sengaja disamarkan demi menjaga nama baik orang-orang yang terkait di dalamnya. Akhir ceritanya sendiri bisa dibilang menggantung, karena tiba-tiba pada bab terakhir (yang juga adalah email terakhir dari Alana) Alana seperti ingin menyudahi saja ceritanya yang sudah panjang dan berbelit-belit itu.

Saya memberikan bintang dua saja untuk keberanian Alana menceritakan tentang dirinya, padahal itu bisa saja berarti mengungkap aibnya. Yang membuat saya terganggu adalah banyaknya typo (ciri khas self publishing), kemudian tata letak pada beberapa bab terakhir yang kacau (ada beberapa kalimat dari bab sebelumnya yang "tersangkut" di bab berikutnya).  Di samping itu, gaya bercerita Alana yang berbelit-belit juga membuat saya harus membolak-balik bukunya untuk memahami kisahnya (terkadang ketika Alana bercerita tentang sesuatu, tiba-tiba saja terselip percakapan yang entah kapan waktunya). Saya juga ga suka dengan sampulnya. Ga tahu siapa saja yang dimaksud dengan tiga orang model di sampul itu. Padahal kalau mau melihat ceritanya, harusnya di situ bisa profil Alana dan Santika saja.

Mengenai kemampuan astral projection, saya percaya kemampuan itu ada.  Seorang sahabat saya pernah menceritakan bahwa dia punya kemampuan itu. Bukan saja di rentang waktu yang sama, jiwanya bahkan bisa mengembara ke masa lalu. Kalau ngelihat dia hanya diam dan bengong seperti "kosong", bisa jadi dia lagi "jalan-jalan".  Kabarnya kemampuan seperti ini bisa dilakukan oleh siapa saja, setelah melewati proses latihan. Tapi seram juga mikirin bagaimana kalau ga bisa balik lagi ke tubuh aslinya.

Ohya, menurut bukunya, kisah ini akan difilm-kan segera. Tapi setelah membaca bukunya, rasanya saya tidak tertarik untuk menonton filmnya. Maaf .. :)


#38 Writer vs Editor


Judul Buku : Writer vs Editor
Penulis : Ria N. Badaria
Halaman : 312
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Hidup terkadang tidak sesuai dengan apa yang direncanakan...

Kalimat di atas sepertinya menjadi garis besar dari novel kedua karya Ria N. Badaria. Ketiga tokoh di dalamnya, Nuna (the writer), Rengga (the editor), dan Arfat (the chief-editor) sama-sama tidak menyangka jalan hidup mereka melenceng dari apa yang mereka rencanakan.

Nuna, awalnya ingin jadi penulis setelah membaca Harry Potter pemberian seseorang yang dikaguminya. Tapi akhirnya dia menjalani hari-harinya sebagai seorang karyawati di swalayan waralaba di Bogor. Walaupun demikian, Nuna masih mengirim beberapa draft novelnya ke penerbit-penerbit lokal. Penolakan demi penolakan diterima oleh Nuna, hingga akhirnya GlobalBooks menerima draft novelnya.

Rengga, editor yang bertanggung jawab atas naskah milik Nuna merasa bahwa novel Nuna akan menjadi best seller. Sayangnya Rengga mengalami kesulitan menghubungi Nuna, karena Nuna tidak mempunyai handphone. Hingga suatu waktu Nuna berhasil dihubungi, dan Rengga menyiapkan rencana untuk memberikan pelajaran buat penulis muda tersebut. Di restoran Jepang dekat GlobalBooks, Rengga dan temannya Radit berhasil membuat Nuna terkejut karena harus membayar tagihan makanan mereka berdua (dengan harga yang cukup mahal bagi Nuna, tentunya).

Di kantornya, Rengga sendiri menghadapi masalah ketika Kepala Editor bagian Fiksi harus diganti. Penggantinya adalah seorang lelaki lulusan sekolah sastra di Australia. Yang membuat Rengga lebih heran lagi adalah ketika Arfat, Kepala Editor yang baru, meminta Rengga untuk menghubungi Nuna agar datang ke kantor GlobalBooks. Di luar dugaan, Nuna mengenal Arfat, yang tak lain adalah cinta terpendamnya yang memberikan buku Harry Potter kepadanya dulu.

Singkat cerita, Arfat dan Nuna jadian. Cinta lama yang bersemi kembali. Setelah Arfat berhasil menggaet Nuna, Rengga baru menyadari bahwa dia juga mencintai Nuna. Dilema yang dihadapi oleh Rengga adalah bersaing dengan boss-nya sementara dia tahu Nuna begitu memuja Arfat. Mana mungkin Rengga bisa memenangkan hati Nuna?

Cinta segitiga adalah hal yang sering diangkat di dalam novel-novel Metropop. Yang menjadi unik dari cerita ini adalah latar belakang ceritanya yang mengangkat setting sebuah penerbitan. Sayangnya, penulis tidak terlalu mengeksplorasi tentang pekerjaan penulis dan editor ini. Tadinya saya berharap mengetahui bagaimana prosesnya sebuah naskah dari penulis sampai ke editor, kemudian naik cetak, dan menjadi best seller.  Hal kedua yang tidak biasa adalah kurangnya taburan merk pada novel Metropop ini. Hanya ada Nissan Terano milik Arfat dan CRV Silver milik Rengga. Nuna sendiri digambarkan sebagai gadis yang tinggal di sebuah rumah yang terletak di gang dengan kehidupannya yang sederhana.

Alur cerita cukup menarik dengan ending yang bisa ditebak, plus sedikit kejutan di akhir cerita. Saya lumayan suka dengan gaya penulisan Ria yang mengalir (walaupun agak terganggu dengan restoran Jepang yang berkali-kali muncul di cerita ini, gak ada restoran lain apa di Jakarta?). Ada beberapa adegan-adegan berbau Korea (kabarnya penulisnya memang menyukai dorama-dorama Korea). Sampulnya juga unik, dengan tumpukan buku-buku yang menggambarkan pekerjaan penulis dan editor.


#37 Celebrity Wedding


Judul Buku : Celebrity Wedding
Penulis : aliaZalea
Halaman : 328
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Revel adalah seorang penyanyi pop rock dan pemilik dari manajemen artis MRAM. Pria dengan wajah tertampan itu tentu saja menjadi dambaan banyak gadis di Indonesia. Sayangnya Revel sudah mempunyai pacar bernama Luna, artis berwajah cantik keturunan Indo-Jerman. Suatu waktu Revel dan manajernya mendatangi kantor Inara, dan mereka secara spesifik meminta Inara untuk menangani keuangan Revel dan manajemennya. Sebagai akuntan publik yang memiliki sertifikasi Internasional, Inara tidak mampu menolak pekerjaan yang ditawarkan oleh atasannya.

Pada saat Inara dan Revel bertemu untuk pertama kalinya, baik Inara maupun Revel sudah merasakan perasaan khusus antara mereka. Akan tetapi, keduanya menyangkali perasaan itu. Mana mungkin Revel yang tampan itu akan jatuh cinta pada gadis mungil berwajah pucat seperti Inara?

Hingga akhirnya Revel diterpa gossip karena Luna hamil. Karier Revel terancam, terlebih lagi bukan dia ayah dari bayi yang dikandung Luna. Untuk menyelamatkan kariernya, atas inisiatif mamanya, Revel menawarkan sebuah kontrak pernikahan pada Inara, satu-satunya gadis yang dianggap aman oleh Revel. Inara yang sudah bosan dengan perlakuan keluarganya yang terlalu protektif menerima kontrak itu.

Pernikahan mewah pun diadakan, Revel dan Inara menjadi sepasang suami-istri di atas kertas. Dan ketika benih cinta mulai bersemi di antara mereka, pernikahan ini pun mulai menjadi pernikahan sungguhan. Konflik muncul lagi ketika Luna kembali datang kehidupan mereka, dan kontrak nikah itu habis masa waktunya. Sesuai kesepakatan Revel dan Inara harus bercerai. Tapi bagaimana jika salah satu dari mereka menolak hal tersebut?

Ide ceritanya sebenarnya bukan hal yang baru, nikah kontrak antara sepasang pria dan wanita, yang kemudian salah satu (atau keduanya) ternyata benar-benar jatuh cinta. Ending-nya pasti sudah bisa ditebak. Apalagi konflik dari luar tidak terlalu terasa mengganggu.

Nyaris tidak ada typo dalam buku ini. Hanya ada beberapa singkatan yang mungkin terlupakan oleh penulis untuk dijabarkan. Seperti misalnya pada halaman 126, ketika Revel dan Inara mendiskusikan menu catering pernikahan mereka, Revel menekankan bahwa semua masakan harus dimasak menggunakan EVOO, dengan alas an EVOO jauh lebih sehat daripada minyak goreng. Sampai di akhir bab saya tidak menemukan penjelasan dari EVOO itu. Saya perlu membuka halaman Google untuk mencari kepanjangan dari kata EVOO yang adalah Extra Virgin Olive Oil. Singkatan lainnya misalnya MARM yang adalah nama manajemen artis dari Revel. Silahkan menebak sendiri kepanjangan dari MARM itu.

Setelah membaca dua karya aliaZalea lainya seperti Blind Date dan Miss Pesimis, rasanya tidak terlalu heran lagi ketika membaca Celebrity Wedding ini. Adegan romance seperti halnya kisah-kisah Harlequin bisa dijumpai di buku ini. Walaupun tidak bertaburan merk seperti metropop pada umumnya, tapi kehidupan ala kalangan atas masih terasa kental di buku ini.


#36 Alita @ Heart


Judul Buku : Alita @ Heart
Penulis : Dewie Sekar
Halaman : 448
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Melihat dari judulnya saja, sudah bisa ditebak bahwa buku ini ada hubungannya dengan buku berjudul Alita @ First. Ya, buku Alita @ Heart merupakan sekuel atau buku kedua dari dwilogi Alita. Kalau di buku Alita @ First menceritakan kasih tak sampai-nya Alita dan Yusa (kakaknya), maka di buku kedua ini menceritakan tentang pemulihan hati dan pencarian cinta Alita dan Yusa. Berbeda dengan buku pertama yang diceritakan dari sudut pandang Alita, di buku kedua ini ada tiga orang yang bercerita. Alita, Yusa, dan Gading.

Baik Alita maupun Yusa yang sama-sama (tetap) melajang di buku pertama, menjadi tumpuan harapan orangtuanya (khususnya Yang Mulia Mama) untuk segera menikah mengingat usia mereka yang sudah layak untuk berumah tangga. Walaupun tidak nyaman dengan tuntutan mamanya, tapi sebagai anak yang baik, keduanya berusaha menyenangkan hati mamanya.

Yusa jatuh hati pada Abel, sahabat Alita. Yang mengejutkan perasaan Yusa ini sudah mulai tumbuh sejak mereka pindah ke Jakarta, yang artinya sejak Abel masih pacaran dengan Juno. Akan tetapi Yusa ragu buat nembak Abel, karena sepertinya Abel sedang dekat dengan Gading, duda kaya pemilik restoran yang juga adalah pelanggan toko bunga Abel. Ketika Alita tahu kakaknya jatuh cinta pada sahabatnya, tentu saja Alita sangat senang. Bahkan diam-diam Alita juga sebal dengan Gading yang mendekati Abel.

Gading merasakan ketidak sukaan Alita padanya. Dia mulai mendekati Alita untuk mengetahui mengapa Alita selalu sins dan sebal padanya (walaupun Alita tidak menunjukkannya dengan terang-terangan). Belakangan, ketika Alita tahu Gading hanya menganggap Abel sebagai teman, akhirnya Alita juga berteman dengan Gading. Bahkan ketika Yusa akhirnya jadian dengan Abel, Alita malah semakin dekat dengan Gading.  Ternyata mereka sama-sama pernah merasakan kehilangan orang yang dikasihi, dan hal itulah yang membuat mereka menjadi dekat.  Hanya ada satu masalah. Gading sepertinya masih menyimpan rasa cinta untuk mantan istrinya. Sementara Alita harus melupakan Erwin yang sudah mati.

Alita cemburu pada Gading. Bukan karena Gading masih mencintai mantan istrinya, tapi karena Gading masih punya kesempatan untuk mengejar kembali cintanya yang hilang itu. Alita mendesak Gading untuk kembali pada mantan istrinya. Sementara Gading menuruti desakan Alita, Alita kembali merasakan kehilangan yang sama ketika dia kehilangan Erwin.

Dengan tiga sudut pandang orang yang berbeda, cerita dalam buku ini menjadi semakin “kaya”. Setidaknya saya tidak perlu terlalu larut dalam pikiran galau Alita. Hanya saja, menurut saya ada beberapa tokoh yang rasanya tidak perlu ada, seperti Lee, Mas Bagas, dan Rama. Dengan adanya tiga tokoh tadi, petuah-petuah tentang cinta dalam buku ini semakin bertambah, dan tentu saja menambah tebal halaman bukunya.  Saya sempat bosan dengan percakapan yang intinya itu-itu saja berulang-ulang.

Tapi mendekati halaman akhir, ceritanya main manis. Sudah lama saya tidak membaca novel yang membuat hati saya berdesir karena cerita cintanya.  Dialognya pun kembali mengalir lancar. Saya suka dialog-dialog lewat SMS atau BBM yang dilakukan para tokoh. Walaupun buku ini bertajuk Metropop, tapi dengan dialog yang mengalir tadi, rasanya lebih “membumi”.

Satu lagi perbedaan antara buku pertama dan buku kedua, adalah ending-nya. Tidak akan saya ceritakan kok… biar kalian membaca bukunya langsung J



PS. Postingan untuk Name In A Book Challenge 2012

#35 Alita @ First


Judul Buku : Alita @ First
Penulis : Dewie Sekar
Halaman : 328
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Alita, tokoh utama dalam buku ini jatuh cinta pada Erwin. Sayangnya Yusa, kakak Alita, yang adalah  juga sahabat Erwin sudah mewanti-wanti Alita agar tidak jatuh hati pada Erwin. Soalnya Erwin itu cowok playboy yang brengsek. Dia selalu memanfaatkan pesona dirinya untuk memikat banyak gadis. Tapi yang namanya jatuh cinta apa bisa dilarang?

Yusa sendiri punya pacar bernama Ava. Ava juga menasihati Alita untuk tidak jatuh cinta dengan Erwin. Alita yang menganggap Ava sebagai kakaknya sendiri,tentu menghormati pendapat Ava. Sayangnya Ava tidak berumur panjang. Ava meninggal dunia dua  bulan sebelum menikah dengan Yusa.

Erwin sendiri awalnya menganggap Alita hanya sebagai adiknya saja, dan memperlakukan Alita dengan penuh kasih sayang layaknya seorang kakak. Baik Erwin maupun Alita sama-sama suka menulis puisi. Ketika mereka berdua mengunjungi telaga Menjer, mereka membuat Perjanjian Menjer yang isinya mereka akan saling mengirimkan puisi setiap bulannya. Ada satu puisi yang dikirim Alita kepada Erwin yang menurutku sangat bagus.
Sudahkah?
Adalah hujan bulan juni yang mengingatkanku pada lintasan sepi saat malam luruh ke bumi dan bebukitan menghitam di kejauhan dan sepanjang perjalanan kau hanya sejangkauan
Sudah sempatkah kubilang kukekasihi jutaan aksara dengan rindu-dendam yang kupelajari diam-diam dari bintang-bintang yang padam berabad-abad silam sampai senyummu meledakkan dunia kecil dan nyaman yang semula selalu kuhuni seorang diri dengan senang hati?
Sudah sempatkah kuungkap betapa aku merasa tak lengkap sejak kaubuat hatiku jatuh tanpa sebab?
Sudah sempatkah kukatakan adalah sudah sehingga cukup sudah kau sajalah?
Nah, sekarang sudah…

Alita yang terus menerus menyimpan rasa cintanya pada  Erwin akhirnya diketahui oleh Erwin tepat saat dia akan  menikah. Alita patah hati. Tetapi bahkan hingga Erwin bercerai dengan istrinya, dan Erwin ingin bersama-sama dengan Alita, Alita tetap menolaknya dengan alasan semua orang terdekatnya tidak akan setuju jika dia jadian dengan Erwin.

Untungnya kisah cinta yang sedih, galau, dan tak sampai ini bisa diceritakan oleh penulisnya dengan baik. Walaupun saya sempat berpikir, Alita ini terlalu naïf dan tidak menghargai cintanya sendiri. Alita menutup pintu hatinya demi cintanya pada Erwin. Lanjut saya berpikir, memangnya kenapa dengan cowok playboy. Memang sih Erwin digambarkan sebagai don juan yang bisa tidur dengan wanita siapa saja yang terjerat pada pesonanya. Tapi belakangan setelah bercerai Erwin berubah. Hanya saja Yusa dan Alita tetap menutup mata atas perubahan Erwin. Mereka tetap menilai Erwin berdasarkan masa lalunya.

Endingnya tidak terduga. Sebagai bocoran, hingga akhir kisah ini masih terasa galau. Berhubung ada sekuelnya, saya masih menggantungkan harapan di buku kedua nanti ceritanya tidak lebih galau.



PS. Postingan untuk Name In A Book Challenge 2012

PSS. Thanks buat Nike atas pinjaman bukunya :)