~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

#27 Metropolis


Judul Buku : Metropolis
Penulis : Windry Ramadhina
Halaman : 331
Penerbit : Grasindo


Cerita dalam buku ini diawali dengan suasana pemakaman Leo Saada, salah satu mafia penting di Jakarta. Kematiannya yang tidak wajar, yaitu terbakar di dalam mobilnya sendiri, meninggalkan tanda Tanya bagi banyak orang, terutama puteranya Ferry Saada.  Kematian Leo menyusul kematian beberapa gembong mafia yang tergabung di dalam Sindikat 12. Sindikat 12 sendiri adalah lelompok mafia pemasok narkoba yang menjadi momok bagi polisi karena selalu bisa lolos dan tidak tersentuh hukum.

Agusta Bram, adalah anggota polisi Sat Reserse Narkotika yang mengusut kasus Sindikat 12. Kasus ini semakin membesar ketika satu persatu pemimpin Sindikat 12 tewas terbunuh. Dibantu Erik, polwan asistennya, mereka mencoba membongkar misteri pembunuhan tersebut, walaupun sebenarnya kasus ini bukan lagi di bawah wewenang mereka.

Kematian para pemimpin Sindikat 12 ini ternyata ada hubungannya dengan kejadian masa lampau, dimana sebelum Sindikat 12 ada, perdagangan narkoba di Jakarta dikuasai oleh satu orang, Frans Al. Kali ini putranya, Johan Al, yang dikira telah mati terbunuh bersama orangtuanya menuntut balas demi kematian ayahnya. Tapi tentu saja kasus ini bukan hal yang mudah, karena melibatkan oknum mantan polisi wanita yang belakangan ketahuan bahwa dia adalah putri dari Leo Saada.

Demi ayahku yang sudah mati….

Tagline dari judul novel yang terpampang di sampul buku ini, memang menjadi benang merah dari kisah dalam novel ini. Masing-masing tokoh membawa dendam masa lalu, membalaskan kematian ayah mereka. Mengenai judulnya “Metropolis”, cukup mewakili tentang Jakarta yang metropolitan dengan segala persoalan di dalamnya. Walaupun di dalam buku ada juga pub yang bernama sama yang menjadi salah satu tempat penting dalam cerita ini.

Tema kriminal dan misteri yang tidak biasa diangkat oleh penulis fiksi di Indonesia tersaji cukup baik dalam novel ini. Riset mendalam tentang mafia narkoba di Jakarta yang dilakukan oleh Windry menambah bumbu dalam cerita ini.  Apalagi didalamnya disertakan beberapa gambar denah TKP yang membuat pembaca ikut memahami setiap kasus yang dihadapi oleh tokoh. Walaupun di pertengahan buku sudah ketahuan siapa pembunuh sebenarnya, tetapi kejutan masih tersaji hingga halaman terakhir. Alur ceritanya memang lambat, sehingga pembaca yang bukan penikmat misteri pasti akan berhenti membacanya di tengah-tengah buku.

Saya sendiri pertama kali tertarik oleh covernya yang seperti surat kabar dengan bercak darah. Tadinya saya mengira ini adalah novel terjemahan sampai saya melihat nama penulisnya yang juga penulis novel Orange. Berbeda dengan kisaha Orange yang bittersweet, dalam buku ini kisah roman tidak banyak. Hanya sedikit saja, itupun semua menjadi kasih tak sampai :). Ohya novel ini ada situsnya juga... lumayan buat ngintip gambaran karakter tokohnya.



#26 Touché!


Judul Buku : Touché! 
Penulis : Windhy Puspitadewi
Halaman : 201
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Dulu, saya tidak tahu apa yang dimaksud dengan fiksi fantasi. Setelah bergabung dengan BBI, ternyata genre ini cukup digandrungi oleh para blogger buku. Ketika meminjam buku ini di sepupu saya,  saya hanya melihat label teenlit di sampul depannya. Dan sebagaimana cerita-cerita teenlit lainnya yang ringan menghibur, saya memutuskannya untuk membacanya di sela-sela kesibukan UAS. Ternyata untuk teenlit yang satu ini saya salah.

Touché (baca : Tusye) adalah sebuah kata dalam bahasa Perancis yang berarti terkena, disentuh atau dipengaruhi.  Dalam buku ini Touché adalah sekelompok orang yang memiliki kemampuan khusus dengan cara menyentuh objeknya. Kemampuan itu bisa bermacam-macam.  Ada yang Track Finder, artinya dia bisa mengetahui informasi apa saja dari benda yang disentuhnya, jika benda tersebut pernah disentuh oleh orang lain. Ada juga Text Absorber, artinya dia bisa menyerap semua informasi  dari tulisan yang disentuhnya. Kemudian Mind Reader, tentu saja bisa membaca pikiran orang yang disentuhnya, dan berbagai macam jenis Touché yang lain. Kemampuan ini bersifat genetik, akan tetapi tidak hadir belum tentu seorang Touché, memiliki anak Touché juga. Kemampuan ini tersebar secara acak, dan dalam satu generasi bisa saja terdapat beberapa Touché, kecuali jenis Track Finder, Empath, dan Mind Reader. Ketiganya hanya hadir satu orang di setiap generasi di seluruh dunia. Dan khusus untuk Empath, selalu seorang wanita.

Riska, tokoh utama dalam buku ini adalah seorang Empath. Dia bisa merasakan perasaan dari seseorang yang disentuhnya. Awalnya menjadi seorang Empath membuat Riska selalu pusing, karena harus merasakan segala macam perasaan orang yang bersentuhan dengannya. Bayangkan saja bagaimana jika perasaanmu berubah-ubah dalam sehari, tidak menyenangkan, bukan? Bersyukurlah Riska, orangtuanya memahami kemampuannya sehingga Riska bisa tumbuh berdamai dengan dirinya sendiri.

Dani, tokoh utama lainnya, adalah seorang Text Abosrber. Kemampuannya ini membuat Dani menjadi juara kelas. Enaknya, dia tidak perlu belajar. Dia cukup menyentuh buku-buku pelajarannya sehingga dia bisa menghapalkan semua informasi yang ada di dalamnya. Walaupun demikian, banyak orang yang sirik sama dia, terutama teman-teman sekelasnya.

Indra adalah seorang Mind Reader. Kemampuannya ini ternyata membawa dampak buruk baginya. Ketika keluarganya menyadari bahwa Indra adalah orang yang spesial, mereka mulai menjauhi Indra. Tentu saja bisa dipahami, karena mereka tidak ingin pikiran mereka bisa dibaca oleh Indra. Di mana lagi tempat paling rahasia yang diketahui oleh seorang manusia kecuali di pikirannya? Bagaimana jika pikirannya pun diketahui orang lain? Indra tumbuh tidak percaya diri dan merasa tidak dibutuhkan. Ketika Indra bertemu dengan Dani dan Riska, akhirnya Indra punya harapan untuk hidup. Dia punya orang yang memahami dia. Dan Indra berjuang mati-matian untuk melindungi kedua temannya tersebut.

Riska, Dani dan Indra dipertemukan oleh guru mereka bernama Pak Yunus, yang tidak lain adalah seorang Track Finder. Dari Pak Yunus pula mereka mendapatkan banyak informasi mengenai kemampuan mereka, dan bahwa mereka tidak sendirian di bumi ini. Beberapa orang terkenal di dunia masa lampau yang pernah hidup juga adalah Touché.  Misalnya Karl Friedrich May adalah seorang Text Absorber, dan menggunakan kemmpuannya itu untuk menulis cerita tentang suku asli Amerika. Beethoven, bisa menyerap partitur musik, sehingga walaupun dia tuli dia bisa menciptakan lagu-lagu yang sangat indah. Dr. Joseph Bell (disebut-sebut sebagai Sherlock Holmes di dunia nyata) adalah seorang Mind Reader. Tentunya Pak Yunus juga memberitahukan pada mereka bahwa hidup mereka tidak sepenuhnya aman. Banyak orang yang menginginkan mereka untuk dijadikan alat, dan banyak juga yang ingin menghabisi para Touché.

Konflik mulai muncul ketika Pak Yunus menghilang karena diculik. Tugas Riska, Dani, dan Indra adalah menemukan kembali guru mereka itu. Dengan kemampuan yang mereka miliki, mereka melacak keberadaan si penculik untuk menyelamatkan Pak Yunus. Dengan segala hal yang mereka alami, keterikatan di antara mereka semakin kuat. Khususnya antara Riska dan Indra. Si Empath dan Mind Reader.

Buku ini ibarat makanan paket komplit. Fantasi ada, misteri ada, romance ada, bahkan ilmu pengetahuan juga ada. Nilai plusnya lagi, tidak ada typo yang saya temukan dalam buku ini. Dialog yang terjadi di antara tokoh juga mengalir sekaligus cerdas. Mengenai quote, bertebaran deh dalam buku ini. Kabarnya penulisnya memang menghapal banyak quote untuk dijadikan bahan tulisan. Ending-nya juga menarik, walaupun saya sudah bisa menebaknya dari awal. Saya jadi penasaran dengan karya Windhy lainnya :) Dan ya... sepertinya saya harus memasukkan beberapa fiksi fantasi dalam bacaan saya tahun ini.  Ada saran?


#25 Jangan Berkedip!


Judul Buku : Jangan Berkedip!
Penulis : Primadonna Angela Mertoyono & Isman Hidayat Suryaman
Halaman : 198
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Tahu flash fiction? Dunia mengenalnya dengan berbagai nama. Di Perancis, disebut sebagai nouvelle. Di China disebut cerita semenit atau cerita sepanjang rokok. Saya menyebutnya cerita kentang (kena tanggung). Gimana nggak tanggung, saat saya masih ingin membacanya, seringkali genre prosa seperti ini berakhir tiba-tiba, dan meninggalkan kejutan yang membuat saya bertanya-tanya. Seringkali saya harus membaca kembali untuk memahami jalan ceritanya. Dan setelahnya saya akan berkata, “ah..iya ya…” , minimal saya akan tersenyum atas kelambatan otak saya mengolah flash fiction.

Saya lupa, kapan pertama kalinya saya membaca flash fiction. Sejak saat itu saya menyukai genre prosa yang satu ini. Singkat tapi mengejutkan. Dan ketika saya menemukan buku ini di Goodreads, saya segera memasukkannya dalam daftar to-read dan wishlist. Beruntung bagi saya, ada @peri_hutan yang mau meminjamkan bukunya untuk saya baca.

Jangan berkedip! berisi 64 cerita sangat pendek karya pasangan penulis (suami-istri) Donna dan Isman. Walaupun tema ceritanya bervariasi, tapi tema bunuh diri dan percintaan paling terasa saat membaca buku ini. Seperti pada cerita berjudul “Pesan Bunuh Diri yang menceritakan seorang wanita yang melakukan korupsi dan memilih membunuh dirinya daripada masuk penjara. Tapi seperti yang saya bilang di atas bahwa selalu ada kejutan di akhir cerita, wanita ini hanya ‘membunuh’ namanya saja, dan akan menjadi sosok wanita bernama lain di negara lain.

Atau kisah percintaan pada cerita “Jajahlah Negeri Ini”, yang mengisahkan seorang pria yang jatuh cinta pada sosok bernama Keke, yang diharapkannya berbeda gender dengannya.

Ada satu cerita yang sangat singkat, hanya satu kata.

“Hei”

Mau tahu judulnya?

Semua yang Ingin Kau Katakan pada Cinta Pertamamu Saat Ia Tiba-tiba Lewat di Hadapan Setelah Lima Tahun dan Tampak Sangat Menawan Tanpa Cincin di Jari Manisnya Apalagi dengan Sorotan Jingga Matahari Senja yang Membuatmu Mengharapkan Daun-daun Ikut Berguguran Begitu Ia Berhenti Serta Menatapmu

:D

Walaupun Isman dan Donna saling bergantian dalam menulis cerita sangat pendek dalam buku ini, tapi saya lebih menyukai cerita-cerita yang dibuat oleh Isman. Ending-nya lebih mengejutkan dibanding dengan cerita yang dibuat oleh Donna yang umumnya hampir mudah ditebak akhir kisahnya.

Dari ke-64 cerita dalam buku ini, favorit saya adalah “Tamu Tak Diundang” yang menceritakan seorang pria pengelola restoran yang sedang sibuk menjamu konsumen yang akan menilai kualitas restorannya. Di saat-saat genting, anaknya datang mencari perhatian dengan maksud memperkenalkan temannya. Sang ayah yang tidak mau diganggu, memberikan uang pada anaknya untuk pergi bermain di game center di seberang restorannya. Saat kembali menjamu tamu penting tadi, anaknya datang lagi menanyakan pada ayahnya apakah dia melihat temannya yang hedak diperkenalkan pada ayahnya. Pada saat yang bersamaan, seorang pengunjung restoran lainnya berteriak terkejut gara-gara ada jangkrik di dalam mangkok supnya. Si ayah sangat terkejut karena insiden yang terjadi tepat saat restorannya sedang dinilai. Dan lebih terkejut lagi ketika si anak menangis keras, karena temannya terendam di dalam mangkok sup.



PS: Postingan ini dibuat dalam rangka review bersama BBI-ers tentang Kumpulan Cerpen.

#24 Orange


Judul Buku : Orange
Penulis : Windry Ramadhina
Halaman : 286
Penerbit : Gagas Media


Diyan Adnan. Seorang pengusaha sukses, anak dari pasangan konglomerat Tyo Adnan dan Indra Adnan. Pria tampan dengan penampilan fisik menarik, kaya, prestasi bisnis segudang, dan tentu saja masih single. You shop in mall, Diyan Adnan shops a mall. While eating lasagna. Sebagai anak pengusaha, Diyan yang memiliki jiwa bisnis merasa wajib untuk tetap menjalankan bisnis keluarganya. Diyan mencintai seorang model, yang pergi meninggalkannya di saat Diyan meminta gadis itu menikahinya. Diyan tidak mampu melupakan gadis itu, bahkan ketika dia ditunangkan oleh orangtuanya dengan seorang gadis anak dari rekan bisnis ayahnya.

Fayrani Muid. Lulusan perguruan tinggi jurusan fotografi. Objek apapun yang diabadikan olehnya dengan kamera pro Nikon kesayangannya selalu terlihat menarik. Kemampuannya dalam menangkap momen, membuatnya menjadi tangan kanan seoang pemilik studio foto ternama se-Asia, Erod Martin. Walaupun kedua orangtuanya sukses dalam dunia bisnis, Faye tidak tertarik sama sekali dengan bisnis. Ketika dia memilih menekuni dunia fotografi, kedua orantuanya tidak mampu menahannya. Untuk meneruskan bisnis keluarga, Faye ditunangkan dengan seorang pemuda sukses bernama Diyan Adnan.

Zaki Adnan. Anak hilang yang tidak mau terlibat dalam dunia bisnis, dan memilih bidang advertising sebagai lahan hidupnya. Lulusan sekolah desain ternama di Belanda ini memulai usaha advertising dengan teman-temannya tanpa mau terlibat urusan bisnis. Ketika dia bertemu dengan seorang gadis yang begitu menarik perhatiannya, Zaki mulai terobsesi. Sayangnya gadis itu adalah tunangan kakaknya, Diyan Adnan.

Rera. Model cantik yang memiliki ambisi untuk memiliki agensi model internasional. Dia meninggalkan Jakarta dan tunangannya ke Paris, demi mimpinya. Sayangnya, Rera tidak menyadari bahwa cinta yang dia tinggalkan di Jakarta masih mengikatnya begitu kuat, sampai ketika dia harus kembali ke Jakarta dalam suatu perjalanan bisnis. Di tengah kegalauannya, Rera tahu bahwa cintanya dengan Diyan adalah hal terakhir yang bisa dipegangnya, walaupun dia tahu cinta itu tidak akan membawa akhir apapun kecuali perpisahan.

Bagian tersulit saat mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain.

Kalimat diatas masing-masing dirasakan oleh empat tokoh dalam buku ini, Diyan, Fayrani, Zaki dan Rera. Kisah cinta segiempat yang terjadi di antara mereka membuat jalan hidup mereka berasa bittersweet seperti buah jeruk.  Membaca buku ini membuat saya juga merasakan bittersweet itu. Dalam kehidupan, antara ambisi pribadi dan manisnya cinta terkadang tidak bisa sejalan. Ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan salah satunya, terlebih lagi keduanya.

Terlepas dari manis pahitnya cinta dalam metropop ini, penggunaan banyak kalimat berbahasa inggris dalam percakapan antara tokoh-tokoh dalam buku ini mudah untuk dicerna dan dapat dipahami. Bisa dimaklumi ketika penulis mencoba memasukkan banyak unsur kebarat-baratan di dalam buku ini, termasuk di dalamnya sex before married. Saya menangkap kesan bahwa penulis ingin meniru kisah-kisah roman seperti Harlequin untuk membangun sisi romantisme dalam buku ini.

Selain itu, saya menemukan sedikit kejanggalan yang menggangu dalam membaca buku ini. Misalnya pada halaman 91, ketika dikisahkan Faye yang menghindari wartawan menolak melepaskan topi dan kacamata hitamnya ketika ditegur oleh Zaki. Tapi di halaman berikutnya (92), tertulis bahwa Zaki melihat mata Faye yang bersinar antusias. Padahal tidak tertulis bahwa Faye melepaskan kacamatanya.

Kemudian ada satu ilustrasi di halaman 56 yang menutupi sebagian tulisan. Semoga hal ini tidak ada lagi di cetakan kedua.

Ohya, saya menyukai salah satu tokoh lain dalam buku ini. Reina Adnan. Sekretaris sekaligus sepupu Diyan, yang merupakan tangan kanan Diyan. Dia “bertugas” untuk membereskan segala sesuatu yang berkaitan dengan Diyan, mulai dari bisnis sampai hubungan pribadi Diyan. Konsistensi Rei memanggil Faye dengan nama aslinya, Fayrani, menyiratkan bahwa Rei menganggap Faye hanyalah salah satu dari sekian hal yang harus diurusnya dalam kehidupan Diyan.

After all, empat bintang untuk Orange. Btw, terima kasih buat @peri_hutan yang mau meminjamkan buku ini :)


#23 When God Was A Rabbit


Judul Buku : When God Was A Rabbit
Penulis : Sarah Winman
Halaman : 396
Penerbit : Bentang Pustaka

Buku ini adalah memoar seorang gadis bernama Ellie, yang terbagi dalam dua bagian. Ellie sebagai gadis kecil dan Ellie yang adalah wanita dewasa. Ellie punya seorang kakak laki-laki, Joe, yang menjadi saksi kehidupan Ellie. Suatu waktu Ellie bertemu dengan Mr. Golan, seorang pria Yahudi yang mengalami masa-masa pahit di kamp penampungan. Ellie merasa bersahabat dengan Mr. Golan.  Entah apa yang terjadi pada Ellie dan Mr. Golan, yang pasti Ellie merahasiakan hal tersebut dari siapapun kecuali Joe. Joe kemudian melarang Ellie berteman dengan Mr. Golan, dan membelikan kelinci untuk Ellie. Mereka menamakan kelinci itu 'god". Ketika Mr. Golan ditemukan tewas bunuh diri, baik Ellie maupun Joe menyimpan rahasia pahit itu di dalam diri mereka masing-masing.

Ellie kemudian berteman dengan Jenny Penny. Gadis berambut ikal yang berasal dari keluarga broken home. Jenny seringkali harus menginap di rumah Ellie, karena ibunya sering membawa pacarnya pulang ke rumah. Bahkan Jenny berharap suatu waktu bisa tinggal bersama keluarga Ellie.

Selain orangtuanya (Mum & Dad), Joe, dan Jenny Penny, ada Nancy (bibinya yang lesbian dan seorang  artis) yang hadir memberi warna dalam hidup Ellie. Ada juga Charlie, teman baik Joe (yang di kemudian hari terungkap bahwa Joe juga memiliki disorientasi seksual, dan mencintai Charlie). Ada Arthur dan Ginger, dua orang tamu tetap di rumah mereka yang akhirnya menjadi anggota keluarga.

Ohya, bagaimana dengan "god"? God mati ketika dilindas oleh mobil seorang tamu yang menginap di rumah mereka. Akan tetapi Ellie masih sering mengalami pengalaman spiritualnya berjumpa dengan god ketika dia berada dalam suatu kondisi tidak menyenangkan. God memberikan keyakinan pada Ellie dengan cara mereka sendiri.

Buku ini tidak bisa saya kategorikan buku santai. Saya perlu mencerna kalimatnya dengan baik agar saya bisa mengerti apa yang diceritakan oleh Ellie. Terkadang Ellie menyisipkan cerita dalam cerita, sehingga saya sering bingung siapa lagi pengganti '-nya' yang diceritakan kali ini. Tapi mendekati halaman terakhir, saya bisa memahami pemikiran sederhana Ellie,  sekaligus melihat bahwa hidupnya tidaklah sederhana. Ellie merasakan sakit hati dibohongi Mr. Golan. Dia juga kecewa ketika Jenny Penny pergi dan tidak ada kabar sampai akhirnya mereka dewasa dan Ellie tahu Jenny ada di penjara karena membunuh suaminya. Ellie merasakan kehampaan ketika Joe mengalami amnesia. Atau kesedihan ketika Arthur harus mengalami kebutaan akibat "obat kuat" yang dikonsumsinya.

Banyak hal dikisahkan dalam buku ini, lewat sudut pandang Ellie. Ada sedih, kehilangan, kegembiraan yang meluap, cinta, harapan, persahabatan.  Salut buat mbak @rinurbad yang sudah menerjemahkan buku ini tanpa kehilangan gaya Ellie. Apalagi buku ini nyaris tanpa typo. Saya sendiri tidak menyesal memasukkan buku ini dalam daftar koleksi di 2011 kemarin. Empat bintang untuk buku ini.