~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Windhy Puspitadewi. Show all posts
Showing posts with label Windhy Puspitadewi. Show all posts

#504 Touché: Rosetta


Judul Buku : Touché: Rosetta
Penulis : Windhy Puspitadewi
Halaman : 200
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 


Penggemar novel fantasy dalam negeri mungkin sudah menunggu terbitnya kelanjutan serial Touché ini. Buku kedua-nya terbit pada tahun 2014, dan sesuai siklus 3 tahunan (menurut penulisnya), maka buku ketiga diterbitkan pada tahun ini. Sebelum membacanya, saya mau ngasih peringatan: read on your own risk

Seperti kisah para kaum Touché sebelumnya, kali ini kita akan diajak berkenalan dengan Edward Kim, pemuda berpostur tinggi agak kurus dan bermata sipit yang memiliki kemampuan bisa menyerap informasi dari sebuah tulisan hanya dengan menyentuhnya. Keunikannya apapun bahasa dan tulisan yang tertera di situ, bisa dipahami langsung oleh Edward. Namun kemampuannya ini tidak bisa berlaku jika tulisannya merupakan produk digital. Profesor Fischer yang menyadari kemampuan Edward memanfaatkannya untuk keperluan menerjemahkan prasasti atau dokumen kuno. Hal ini tentunya menguntungkan Profesor Fischer, sementara bagi Edward tidak ada masalah selama dia mendapatkan banyak uang.

Masalah mulai muncul ketika salah satu Profesor Hamilton, rekan kerja Profesor Fischer, ditemukan tewas terbunuh. Ellen Hamilton, putri angkat Profesor Hamilton bersama dengan Yunus King, meminta bantuan Edward untuk membuka brankas rahasia yang diduga akan memberikan jawaban siapa pembunuh Profesor Hamilton. Pada kesempatan itu juga, Edward mendapatkan penjelasan dari Yunus mengenai siapa dirinya. Edward sangat terkejut mengetahui ada banyak orang terkenal yang termasuk dalam kaum Touché seperti dirinya. Termasuk Jean-Francois Champolitan, yang menerjemahkan Batu Rosetta.

 Petualangan Edward, Ellen dan Yunus untuk membuka misteri pembunuhan Profesor Hamilton dimulai. Ketika Edward (dibantu oleh Ellen yang memiliki ingatan eidetic) berhasil membuka brankas itu mereka menemukan buku tua yang berisi tulisan-tulisan kuno. Edward menerjemahkan seluruh isi buku itu, dan memindahkan terjemahannya di dalam laptop milik Ellen. Tanpa mereka sadari, nyawa mereka menjadi taruhannya. 

Novel ini sungguh adalah novel yang page-turner. Membaca novel ini mengingatkan saya saat membaca buku-buku Dan Brown, karena misteri yang ingin dipecahkan oleh Edward dan timnya terkait dengan para tokoh legendaris dari Italia seperti Michaelangelo dan Leonardo Da Vinci. Siapa yang menyangka kalau mereka juga termasuk dalam Touché ? Meski saya bisa menebak beberapa bagian dari misteri di dalam novel ini (seperti patung David dan lukisan di langit-langit kapel) dan juga siapa yang membunuh Profesor Hamilton, tapi saya ikut merasakan rasa penasaran dan ketegangan saat membaca novel ini.

Lantas resiko apa yang saya singgung di awal postingan ini? Karena novel ini ditutup dengan ending mengejutkan sekaligus menggantung. Belum lagi ada kehadiran Hiro Morrison yang membuat saya semakin penasaran. Membayangkan baru bisa membaca kelanjutannya 3 tahun lagi sempat membuat saya kesal. 


#486 Touché: Alchemist


Judul Buku : Touche : Alchemist (Touche #2)
Penulis : Windhy Puspitadewi
Halaman : 224
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Hiro Morrison, seorang anak genius keturunan Jepang-Amerika, tanpa sengaja berkenalan dengan Detektif Samuel Hudson dari Kepolisian New York. Kala itu, Sam sedang menyelidiki kematian seorang wanita. Hiro terlihat berkeliaran di tempat kejadian perkara sambil membawa cotton bud. Yang awalnya menyadari kehadiran Hiro adalah Karen, anak gadis Sam.

#26 Touché!


Judul Buku : Touché! 
Penulis : Windhy Puspitadewi
Halaman : 201
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Dulu, saya tidak tahu apa yang dimaksud dengan fiksi fantasi. Setelah bergabung dengan BBI, ternyata genre ini cukup digandrungi oleh para blogger buku. Ketika meminjam buku ini di sepupu saya,  saya hanya melihat label teenlit di sampul depannya. Dan sebagaimana cerita-cerita teenlit lainnya yang ringan menghibur, saya memutuskannya untuk membacanya di sela-sela kesibukan UAS. Ternyata untuk teenlit yang satu ini saya salah.

Touché (baca : Tusye) adalah sebuah kata dalam bahasa Perancis yang berarti terkena, disentuh atau dipengaruhi.  Dalam buku ini Touché adalah sekelompok orang yang memiliki kemampuan khusus dengan cara menyentuh objeknya. Kemampuan itu bisa bermacam-macam.  Ada yang Track Finder, artinya dia bisa mengetahui informasi apa saja dari benda yang disentuhnya, jika benda tersebut pernah disentuh oleh orang lain. Ada juga Text Absorber, artinya dia bisa menyerap semua informasi  dari tulisan yang disentuhnya. Kemudian Mind Reader, tentu saja bisa membaca pikiran orang yang disentuhnya, dan berbagai macam jenis Touché yang lain. Kemampuan ini bersifat genetik, akan tetapi tidak hadir belum tentu seorang Touché, memiliki anak Touché juga. Kemampuan ini tersebar secara acak, dan dalam satu generasi bisa saja terdapat beberapa Touché, kecuali jenis Track Finder, Empath, dan Mind Reader. Ketiganya hanya hadir satu orang di setiap generasi di seluruh dunia. Dan khusus untuk Empath, selalu seorang wanita.

Riska, tokoh utama dalam buku ini adalah seorang Empath. Dia bisa merasakan perasaan dari seseorang yang disentuhnya. Awalnya menjadi seorang Empath membuat Riska selalu pusing, karena harus merasakan segala macam perasaan orang yang bersentuhan dengannya. Bayangkan saja bagaimana jika perasaanmu berubah-ubah dalam sehari, tidak menyenangkan, bukan? Bersyukurlah Riska, orangtuanya memahami kemampuannya sehingga Riska bisa tumbuh berdamai dengan dirinya sendiri.

Dani, tokoh utama lainnya, adalah seorang Text Abosrber. Kemampuannya ini membuat Dani menjadi juara kelas. Enaknya, dia tidak perlu belajar. Dia cukup menyentuh buku-buku pelajarannya sehingga dia bisa menghapalkan semua informasi yang ada di dalamnya. Walaupun demikian, banyak orang yang sirik sama dia, terutama teman-teman sekelasnya.

Indra adalah seorang Mind Reader. Kemampuannya ini ternyata membawa dampak buruk baginya. Ketika keluarganya menyadari bahwa Indra adalah orang yang spesial, mereka mulai menjauhi Indra. Tentu saja bisa dipahami, karena mereka tidak ingin pikiran mereka bisa dibaca oleh Indra. Di mana lagi tempat paling rahasia yang diketahui oleh seorang manusia kecuali di pikirannya? Bagaimana jika pikirannya pun diketahui orang lain? Indra tumbuh tidak percaya diri dan merasa tidak dibutuhkan. Ketika Indra bertemu dengan Dani dan Riska, akhirnya Indra punya harapan untuk hidup. Dia punya orang yang memahami dia. Dan Indra berjuang mati-matian untuk melindungi kedua temannya tersebut.

Riska, Dani dan Indra dipertemukan oleh guru mereka bernama Pak Yunus, yang tidak lain adalah seorang Track Finder. Dari Pak Yunus pula mereka mendapatkan banyak informasi mengenai kemampuan mereka, dan bahwa mereka tidak sendirian di bumi ini. Beberapa orang terkenal di dunia masa lampau yang pernah hidup juga adalah Touché.  Misalnya Karl Friedrich May adalah seorang Text Absorber, dan menggunakan kemmpuannya itu untuk menulis cerita tentang suku asli Amerika. Beethoven, bisa menyerap partitur musik, sehingga walaupun dia tuli dia bisa menciptakan lagu-lagu yang sangat indah. Dr. Joseph Bell (disebut-sebut sebagai Sherlock Holmes di dunia nyata) adalah seorang Mind Reader. Tentunya Pak Yunus juga memberitahukan pada mereka bahwa hidup mereka tidak sepenuhnya aman. Banyak orang yang menginginkan mereka untuk dijadikan alat, dan banyak juga yang ingin menghabisi para Touché.

Konflik mulai muncul ketika Pak Yunus menghilang karena diculik. Tugas Riska, Dani, dan Indra adalah menemukan kembali guru mereka itu. Dengan kemampuan yang mereka miliki, mereka melacak keberadaan si penculik untuk menyelamatkan Pak Yunus. Dengan segala hal yang mereka alami, keterikatan di antara mereka semakin kuat. Khususnya antara Riska dan Indra. Si Empath dan Mind Reader.

Buku ini ibarat makanan paket komplit. Fantasi ada, misteri ada, romance ada, bahkan ilmu pengetahuan juga ada. Nilai plusnya lagi, tidak ada typo yang saya temukan dalam buku ini. Dialog yang terjadi di antara tokoh juga mengalir sekaligus cerdas. Mengenai quote, bertebaran deh dalam buku ini. Kabarnya penulisnya memang menghapal banyak quote untuk dijadikan bahan tulisan. Ending-nya juga menarik, walaupun saya sudah bisa menebaknya dari awal. Saya jadi penasaran dengan karya Windhy lainnya :) Dan ya... sepertinya saya harus memasukkan beberapa fiksi fantasi dalam bacaan saya tahun ini.  Ada saran?