~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Simone Elkeles. Show all posts
Showing posts with label Simone Elkeles. Show all posts

#305 Rules of Attraction


Judul Buku : Rules of Attraction (Perfect Chemistry #2)
Penulis : Simone Elkeles
Halaman : 396
Penerbit : Laluna and Friends

Cukup lama berselang sejak novel Perfect Chemistry diterbitkan hingga keluar sekuelnya yang berjudul Rules of Attraction ini. Jika di buku pertama kita bertemu dengan Alex Fuentes, kali ini kita akan bertualang bersama Carlos Fuentes, adik dari Alex. Setelah dipaksa meninggalkan Chicago untuk kembali ke Mexico, hanya butuh waktu dua tahun bagi Carlos kembali lagi ke Amerika Serikat untuk tinggal bersama kakaknya.

#265 How To Ruin a Summer Vacation


Judul Buku : How To Ruin a Summer Vacation (How To Ruin #1)
Penulis : Simone Elkeles
Halaman : 243 (ebook)
Penerbit : Llewellyn Worldwide

Amy adalah gadis keturunan Israel-Amerika. Enam belas tahun yang lalu, ayahnya, seorang pemuda Israel bertemu dengan ibunya, dan terlibat dalam kisah semalam. Hasilnya, lahirlah Amy. Kedua orang tuanya tidak pernah menikah. Amy tinggal bersama ibunya, dan ayahnya (Ron Barak) hanya mengunjunginya pada saat ulang tahun. Amy tidak benar-benar mengenal ayahnya (Amy menyebut ayahnya sebagai SD (Sperm Donor)), namun jauh di dalam hatinya dia ingin kedua orangtuanya bersatu. Mungkin karena kondisi keluarganya, Amy tumbuh menjadi gadis yang selalu merasa insecure.

#200 Return To Paradise


Judul Buku : Return To Paradise (Leaving Paradise #2)
Penulis : Simone Elkeles
Halaman : 237 (ebook)
Penerbit : Llewellyn Worldwide


Yay!! Review #200 di blog ini!!

Okey. Cukup euphoria-nya. Karena penasaran dengan kisah 'nggantung antara Caleb dan Maggie, proyek baca bareng dengan Putri yang awalnya direncanakan dalam waktu 2 bulan jadi batal. Akhirnya kami sepakat meneruskan membaca buku ke 2 dari Leaving Paradise ini.

Di akhir buku pertama dikisahkan kalau Caleb pergi meninggalkan Paradise karena dia tidak tahan dengan situasi di dalam keluarganya. Ibunya menjadi pecandu obat penenang agar bisa tetap bertahan dengan kondisi memiliki seorang anak mantan tahanan, ayahnya yang denial dan saudara kembarnya yang terus menutup diri. Di sisi lain, Caleb tidak bisa menghindari Maggie, padahal hukum melarangnya berhubungan dengan korban dari perbuatannya di masa lampau. Maggie sendiri mengetahui kenyataan yang sebenarnya yang ditutupi oleh Caleb darinya. Tapi dia ingin Caleb sendiri yang mengakuinya. Caleb justru lari dari hubungan tanpa status di antara mereka, dan meninggalkannya di Paradise.

Delapan bulan berlalu, dan kisah di buku kedua diawali dengan tertangkapnya Caleb dalam kasus obat terlarang. Saat membaca ini saya langsung bereaksi, "ha?? mulai dari nol lagi?". Ternyata Caleb tinggal dengan seorang bandar narkotik. Bukannya Caleb tidak menyadari hal itu, tetapi dia terpaksa karena membutuhkan tempat tinggal. Tapi Caleb tahu diri untuk tidak menyentuh barang terlarang itu. Hanya saja dia membutuhkan Damon, konselor-nya, untuk membebaskannya dari kemungkinan ditahan. Damon memang bisa melepaskan dia dari kemungkinan ditahan, tetapi Caleb harus mengikuti program Re-START (suatu program dimana pesertanya diminta untuk bersaksi mengenai bahaya mengemudikan kendaraan di bwah pengaruh alkohol). Mau tidak mau Caleb terpkasa mengikuti program itu. Dan alangkahnya terkejutnya Caleb ketika dia menemukan Maggie juga menjadi salah satu peserta Re-START.

Bertemu kembali dengan Caleb juga merupakan kejutan bagi Maggie. Dengan tekad menunjukkan pada Caleb bahwa dia sudah move on, Maggie berusaha mengabaikan kehadiran Caleb. Namun Caleb bukanlah sosok yang bisa diabaikan oleh Maggie. Bagaimanapun juga rasa di antara mereka masih ada. Kendalanya hanya pada kejujuran dan saling percaya.  Bagi Maggie, cinta adalah kejujuran dan saling percaya. Sementara bagi  Caleb, cinta adalah melindungi orang yang dikasihi dari hal buruk.  Baik Caleb maupun Maggie sama-sama saling tidak mempercayai satu sama lain.

Konflik cinta antara Maggie dan Caleb di buku kedua ini lebih kuat emosinya. Alurnya pun tidak selambat buku pertama. Saya juga menyukai kehadiran peserta Re-START lainnya yang meski hanya "figuran" karakter masing-masing tetap kuat. Terkhusus Lenny, pemuda bengal yang sok tahu dan usil, ternyata memberikan pengaruh besar bagi Caleb untuk memutuskan dirinya harus kembali ke Paradise menghadapi masalahnya dan bukan lari dari masalah. Kehadiran Julio, teman Caleb di penjara yang hadir sesaat, tapi bisa membuat hubungan dalam keluarga Caleb mengalami pemulihan.  Dialog dalam buku kedua ini juga lebih lucu. Saya suka dengan pilihan kalimat-kalimat Simone Elkeles.

Leaving Paradise bukan hanya sekedar novel Young Adult biasa. Saya belajar banyak hal lewat novel ini. Tanggung jawab, kejujuran, keinginan menyenangkan orang lain, persahabatan tidak akan pernah lepas dari kehidupan seseorang.  Dan pada akhirnya memaafkan adalah langkah awal dalam memulai kehidupan yang baru.

4 stars

#199 Leaving Paradise


Judul Buku : Leaving Paradise (Leaving Paradise #1)
Penulis : Simone Elkeles
Halaman : 204 (ebook)
Penerbit: Llewellyn Worldwide


Caleb Becker baru saja dibebaskan, setelah setahun lamanya dia mendekan di penjara remaja karena menabrak seorang gadis, hingga gadis itu mengalami kerusakan yang parah di kakinya. Maggie Armstrong, gadis yang ditabraknya tidak lain adalah tetangganya sendiri, sahabat dari saudara kembarnya, Leah Becker. Seandainya saja dia tidak mabuk pada malam itu, seandainya saja dia tidak menabrak Maggie, dan ada banyak seandainya dalam pikiran Caleb. Jika saja dia bisa memutar waktu kembali. Tapi kini, setahun sesudah kejadian itu, Caleb hanya berharap semuanya kembali normal. Hanya saja yang dihadapinya sekarang sungguh berbeda. Orang tuanya menjadi kaku (dan sepertinya masih menyalahkannya atas kejadian setahun yang lalu), sementara saudara kembarnya malah "menyembunyikan" dirinya dalam pakaian dan atribut serba hitam.

Maggie sendiri mengalami masa sulit dalam satu tahun ini. Kecelakaan yang hampir merenggut kakinya, orang tuanya yang bercerai, sahabatnya (sekaligus tetangganya) Leah yang meninggalkannya karena dia "memasukkan" kakaknya ke penjara. Setelah menjalani serangkaian operasi dan terapi, Maggie bisa berjalan meski dengan tertatih-tatih.  Maggie ingin sekali meninggalkan Paradise, kota tempat tinggalnya. Saat ini permohonan beasiswa ke Spanyol adalah harapannya untuk bisa meninggalkan Paradise. Dia sangat membenci Caleb karena kejadian itu, suatu yang ironis mengingat dulunya dia begitu memuja Caleb.

Tentu saja Caleb dan Maggie tidak bisa saling menghindari selamanya. Meskipun Maggie bisa menghindarinya di sekolah, dia harus bertemu dengan Caleb di tempat lain. Ketika mengetahui permohonan beasiswanya ditolak, bantuan untuk sekolah datang dari Mrs. Reynolds yang memintanya untuk bekerja di rumahnya. Ternyata Caleb juga menjalani tugas sosialnya (dalam masa percobaan) di rumah Mrs. Reynolds. Meski Maggie meminta kepada Mrs. Reynolds untuk mengusir Caleb, Mrs. Reynolds tidak bisa melakukannya, karena itu akan membuat Caleb dipenjara lagi. Justru Mrs. Reynolds diam-diam menjadi mediator antara Caleb dan Maggie.

Berkat Mrs. Reynolds, Caleb dan Maggie akhirnya bisa menjadi dekat. Maggie yang pernah menyukai Caleb di masa lalu menyadari bahwa perasaannya pada Caleb tidak pernah berubah, meski dia berusaha membenci Caleb. Sementara Caleb sendiri menemukan bahwa hanya Maggie satu-satunya orang yang memahami kesulitan hidup yang dia alami selama ini. Tanpa mereka sadari ada perubahan akan cara pandang satu sama lain, yang akhirnya berujung pada kenyataan bahwa mereka saling mencintai. Hanya saja, keadaan membuat mereka tidak mungkin bersatu.

Alur yang lambat membuat saya sedikit bosan pada awalnya. Tetapi Simone Elkeles menaruh emosi yang kuat dalam novel ini. Ada kisah persahabatan, pengkhianatan, ikatan keluarga, dan kepercayaan diri di dalamnya. Kalau sebelumnya saya pernah membaca Perfect Chemistry,  saya harus bilang bahwa Leaving Paradise lebih bagus dibandingkan Perfect Chemistry. Ada twist yang mengejutkan di akhir novel ini yang membuat saya tertegun. Dan saya jadi semakin penasaran karena ternyata kisah Caleb dan Maggie masih berlanjut di buku kedua Return To Paradise.

4 stars

*) Proyek baca bareng dengan Putri Utama.

#90 Perfect Chemistry


Judul Buku : Perfect Chemistry
Penulis : Simone Elkeles
Halaman : 452
Penerbit : Terakota

Brittany Ellis punya segalanya. Cantik, rambut pirang keemasan, pacar populer, mobil BMW baru, ketua tim pemandu sorak di sekolah, orang tua yang kaya. Dialah ikon kesempurnaan di mata teman-temannya. Sebaliknya, Alex Fuentes adalah pemuda anggota geng Latino Blood, biang onar, turunan Mexico, singkat kata jangan sampai berurusan dengannya. Tapi bagi mereka berdua itu hanyalah topeng kesempurnaan belaka.

Brittany memiliki rahasia yang disimpannya di rumah. Kakaknya, Shelley pengidap cerebral palsy. Walaupun sudah berusia 20 tahun, Shelley tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Dia tidak mampu berbicara dan hanya mampu duduk di kursi roda. Rahasia lain Brittany adalah ayahnya yang tidak peduli dengan keluarganya dan sibuk dengan pekerjaannya, serta ibunya yang menuntut kesempurnaan penuh. Jika Shelley tidak bisa tampil sempurna, maka Brittany haruslah sempurna.

Alex sendiri menjadi saksi mata terbunuhnya ayahnya, yang juga anggota geng Latino Blood, pada saat dia masih berumur enam tahun. Sejak saat itu dialah yang harus melindungi keluarganya (ibu dan kedua adiknya) dengan cara masuk ke dalam geng LB. Alex membuat dirinya tidak peduli pada apapun. Baginya kepedulian terhadap sesuatu membuat sakit yang dalam ketika dia harus kehilangan sesuatu tersebut.

Ms. Perfect dan Mr. Gangster dipertemukan dalam kelas Kimia. Mereka menjadi partner pada tahun senior, yang mengharuskan mereka bekerja sama untuk menyelesaikan proyek Kimia yang diberikan oleh Mrs. Peterson. Kedekatan mereka lambat laun menjadi rasa yang berbeda. Dari rasa benci satu sama lain berubah menjadi rasa cinta. Apalagi ketika mereka merasakan "kesamaan" pada diri mereka berdua, yaitu sama-sama bersembunyi di balik sebuah topeng.

Novel ini bukan hanya sekedar kisah cinta hate-then-love saja. Tapi lebih dalam kepada bagaimana menemukan kebenaran jati diri tanpa harus malu memperlihatkannya pada orang lain. Baik Brittany dan Alex berusaha keluar dari zona nyaman demi memperjuangkan masa depan mereka. Diceritakan secara bergantian dari sudut pandang Alex dan Brittany kita juga melihat kisah persahabatan, ras dan status sosial yang berbeda, serta pengorbanan demi sahabat, keluarga dan orang yang dicintai.