~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Review 2022. Show all posts
Showing posts with label Review 2022. Show all posts

#638 Pasta Kacang Merah



Sentaro menjalani hari monoton di sebuah kedai dorayaki. Dia bekerja di kedai itu untuk membayar utangnya kepada si pemilik toko. Sampai kemudian dia berkenalan dengan Tokue, yang menghampiri kedainya untuk mencari pekerjaan. Tokue adalah wanita tua, dengan cacat pada jari tangannya. Karena kasihan, dan terutama penasaran dengan rasa enak dari pasta kacang merah buatan Tokue, Sentaro mempekerjakan Tokue untuk membuat pasta isian dorayaki. Lima puluh tahun pengalaman membuat pasta kacang merah memang tidak akan salah. Dorayaki buatan mereka laris.

Sayangnya, Tokue tidak bisa bekerja lebih lama. Sebagai penyintas lepra, jari-jari Tokue yang cacat menjadi kendala. Desas-desus menyebar dan membuat Nyonya pemilik toko pun meminta Sentaro memberhentikan Tokue. Namun sebelum diberhentikan, Tokue memilih mengundurkan diri. Akan tetapi berbeda dengan karir kerjanya, persahabatan antara Sentaro dan Tokue justru makin dekat.

Ada satu bagian dimana Sentaro merasakan hidupnya tidak bermakna. Namun ketika mendengarkan perjalanan hidup Tokue, Sentaro merasa dirinya tidak ada apa-apa dibandingkan Tokue. Kehadiran Tokue memberinya semangat untuk menjalani hidup, bahkan mencoba hal baru meski belum menunjukkan keberhasilan.

 I've just completed read 100 books in 2022 by reading this book. Saya memang sengaja memilih buku ini untuk menjadi pamungkas di Goodreads Reading Challenge 2022. Rasa hangat dan haru karena berhasil melakukan sesuatu yang awalnya saya rasa tidak akan bisa saya lakukan sejalan dengan perasaan Tokue di akhir cerita Pasta Kacang Merah. Bagian penutup dimana Tokue diceritakan mendengarkan pujian dari pepohonan yang dilaluinya itu membuat rasa hangat dan haru seperti yang saya sebutkan di atas. Tokue juga pastinya tidak menyangka dia bisa berhasil menjalani hidupnya sebagai penyintas lepra. Bahkan dia berhasil mengubah kehidupan seorang Sentaro.

Novel ini layak untuk dikoleksi, kehangatan kisahnya ditambah tampilan covernya dengan warna pink yang cantik memanjakan mata. 


Pasta Kacang Merah
Durian Sukegawa
240 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Oktober 2022



#637 The Privileged Ones

 


Rara, mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pandawa, mempersiapkan kanal Youtube dengan konten bermanfaat yang harus bisa mengimbangi gempuran konten sampah yang beredar di masyarakat. Bersama kedua sahabatnya, merke bukan hanya sekadar mengerjakan tugas akhir mata kuliah Publisitas itu untuk mendapatkan nilai terbaik. Rara punya harapan besar dengan hadiah yang dijanjikan dari kompetisi bergengsi kolaborasi kampusnya dengan Change TV.

Terlahir dari keluarga miskin, Rara memutuskan untuk kuliah di Jakarta, meski kedua orang tuanya tidak merestuinya. Dukungan Indah, kakaknya yang juga tinggal di Jakarta, menjadi dorongan kuat bagi Rara. Indah membantu Rara untuk kebutuhannya di Jakarta, disamping beasiswa yang diperoleh Rara dan juga pekerjaan paruh waktu yang dilakukannya. Jika chanel Soul Diary yang digagasnya bisa menang, masalah keuangan bisa teratasi. Namun saingan terberat mereka adalah chanel milik DIva, teman sekelasnya, yang memiliki keluarga kelas sosialita. Diva jelas memiliki semua sumberdaya yang bisa mendukungnya. Jika dibaratkan lomba lari, Rara dan Diva tidak berangkat dari garis start yang sama.

Rara memilih mengangkat tema kesehatan mental di dalam chanel Youtubenya. Dia dibantu oleh seorang psikolog muda bernam Giri. Berbagai kasus mereka tayangkan untuk memberikan edukasi pentingnya memeprhatikan kesehatan mental seperti halnya kesehatan fisik. Tanpa Rara sadari, dirinya sendiri tengah bergelut dalam insecurity akan kemiskinannya. Sementara itu, Indah juga sedang bergumul dengan konflik rumah tangganya. Apakah impian mereka untuk bisa memiliki lebih banyak pilihan dalam hidup tidak bisa mereka raih?

Novel ini sangat bergizi. Ada tiga topik utama yang bisa saya pelajari dari novel ini. Yang pertama tentang sisi psikologis dan kesehatan mental. Bukan hanya satu contoh kasus yang dialami oleh tokoh utama, tapi ada beberapa kasus lainnya yang juga diangkat dalam novel ini. Yang kedua, tentang privilese, seperti judulnya. Seringkali kita memahami privilese itu sebatas ketersediaan materi dan sumber daya. Padahal setiap orang pasti terlahir dengan privilese-nya masing-masing. Kita sering terjebak memandang kelebihan orang lain dan hal-hal di luar kuasa kita, lalu mengecilkan privilese yang kita punya dan tidak berbuat apa-apa, padahal hal itu ada dalam kendali kita. Yang ketiga, bahwa tiap orang punya lintasan pertandingannya masing-masing. Saya mengutip paragraf terakhir dalam novel ini yang bisa kita jadikan pelajaran.

Siapa pun kita, hidup tak akan pernah mudah. Namun, semesta selalu membuka celah bagi mereka yang menolak menyerah.

Meski berada pada lini Young Adult, saya rasa novel ini bisa juga dibaca untuk orang dewasa. Bahkan oleh orangtua muda, karena ada ilmu parenting yang bisa diterapkan di dalamnya. Ini salah satu novel terbaik yang saya baca di tahun 2022.

The Privileged Ones
Mutiarini
248 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Maret, 2022



#636 Home Sweet Loan

 



"Sudah tidak zaman untuk 'We fall in love with people we can't have', menjadi dewasa adalah 'We browse houses that we can't buy'"

Kaluna, seorang pegawai bank di Bagian Umum. Dia rela hidup hemat demi membeli rumah agar bisa keluar dari rumah orang tuanya yang dihuni bersama kedua orang tua dan kedua kakak beserta keluarga mereka masing-masing. Kaluna berusaha ikhlas ketika kamarnya dipindahkan ke kamar pembantu di dekat ruang jemur, karena keponakannya meminta untuk punya kamar sendiri. Sementara itu, Hansa kekasih Kaluna mendesaknya untuk menikah dengan resepsi mewah di hotel. Kaluna tidak ingin menikah sebelum mendapatkan tempat tinggal sendiri. Dia tidak mau juga tinggal bersama mertuanya nanti. Kaluna paham betul setelah melihat keluarga kedua kakaknya yang sangat bergantung pada Ibu mereka.

Kaluna mempunyai tiga teman dekat di kantor. Tanisha, ibu satu anak yang juga ingin mencari rumah tapak, agar hidupnya tidak menua di apartemen. Kamamiya, gadis yang berambisi menjadi selebgram. Dia menghabiskan penghasilannya untuk membeli barang-barang mewah sebagai bahan konten di instagramnya. Lalu ada Danan, anak tunggal yang hidupnya tanpa beban materiil, yang kemudian ingin mengubah hidupnya gara-gara satu pertanyaan dari Kaluna. Keempatnya bersama-sama mencari hunian yang dekat dengan Jakarta.

Setelah Resign! dan Ganjil-Genap, satu lagi fenomena pekerja urban di Jakarta diangkat melalui novel ini, yaitu persoalan hunian. Mencari hunian yang layak dengan harga terjangkau itu nyaris mustahil. Tidak jarang ada yang masih menumpang hidup bersama orang tua meski sudah berkeluarga, seperti kedua kakak Kaluna. Masalahnya, beban keluarga Kanendra dan Kamala akhirnya menjadi persoalan Bapak dan Ibu, bahkan Kaluna pun harus terseret di dalamnya. Kaluna jadi berpikir panjang untuk menikah jika nantinya harus tetap hidup bersama orang tua atau mertua.

Novel metropop tidak lengkap tanpa kisah romansa-nya. Kaluna yang mencoba memahami keinginan (orangtua) pacarnya akhirnya kandas di tengah jalan. Dua tahun mencoba memantaskan diri, tetap saja Kaluna selalu kurang di mata ibunya Hansa. Hansa pun turut menyalahkan Kaluna yang katanya terlalu irit sampai tidak mencoba memahami keinginan orang tuanya. Lalu ada Danan, yang jatuh cinta pada Tanisha sejak SMA tapi selalu ditolak, lantas pacaran dengan Miya dan akhirnya putus. Sisa Kaluna saja yang belum menjadi bagian dari kisah cinta Danan. Tapi bagian Kaluna-Danan itu bikin hati hangat saat membacanya.


Home Sweet Loan

Almira Bastari

312 halaman

Gramedia Pustaka Utama

Februari, 2022



#635 Chasing The Blue Flames



Lulu tahu hubungannya dengan Damar sulit untuk diteruskan karena perbedaan di antara mereka. Damar juga menyadari itu. Damar pun merencanakan untuk memberikan kenangan terbaik bagi Lulu, supaya perpisahan di antara mereka tidak terlalu menyakitkan. Tapi Lulu tidak sependapat. Terpuruk karena perpisahan mereka membuat Lulu memutuskan untuk melakukan trip ke Kawah Ijen. Di sana, ada fenomena blue flames yang konon bagi siapa yang melihatnya maka permohonannya akan terkabul. Lulu berharap dia bisa menyaksikan langsung cahaya biru itu, agar dia bisa kembali ke masa lalu. Mungin jika dia tidak pernah bertemu dengan Damar, hatinya tidak akan sesakit saat ini. Permohonan Lulu terkabul. Dia kembali ke masa kuliahnya saat pertama kali bertemu dengan Damar.

Bukan hanya Damar saja. Lulu juga bertemu kembali dengan Sarah, sahabatnya yang sekarang sudah tak ada kabarnya. Juga Dewa, kakak tingkat yang pernah ditaksirnya. Lulu menjalankan misinya untuk menghindari Damar, tapi ternyata itu sulit untuk dilakukan. Meski dijalani sekali lagi, jika takdir sudah berkehendak, maka hasil akhirnya tidak akan berubah.

Mengusung konsep time travel, novel ini menceritakan tentang takdir dan bagaimana menyikapinya. Waktu yang sudah dilalui bukan hanya berisi kenangan indah saja, tetapi juga banyak hal-hal yang tidak menyenangkan yang mengikutinya. Lulu mencoba menjalani tiga bulan di masa lalu membenahi hal yang dianggapnya perlu dibenahi. Ada satu hal yang berkesan dari novel ini yang saya tangkap. Kenangan itu akan menghampiri pas lagi benar-benar butuh. Tidak masalah mengenang masa lalu ketika muncul rasa kangen. Setidaknya kangen itu akan memberikan kehangatan.

Terima kasih GPU atas buntelan bukunya.

Chasing The Blue Flames
Saufina
304 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Agustus, 2022



#634 Vision


Bagaimana rasanya jika kamu mempunyai kemampuan untuk melihat sesuatu yang akan terjadi di masa depan? Apalagi kalau yang terlihat itu adalah siapa yang akan menjadi jodohmu?

Amanda sudah bisa berdamai dengan kemampuannya melihat sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Meski yang dilihatnya hanya berupa gambaran sekilas saja, tetapi semua yang dilihatnya benar-benar terjadi. Tidak ada yang tahu tentang kemampuan Amanda ini kecuali kedua orangtuanya.  Biasanya yang Amanda lihat adalah tentang orang-orang di sekitarnya. Hampir tidak pernah dia melihat tentang dirinya sendiri. Tapi ketika dia melihat Om Wira menyematkan cincin di jarinya dalam penglihatannya, Amanda menjadi galau. Apa iya jodohnya itu om-om yang umurnya beda jauh dengannya? Padahal Amanda baru mulai menyukai Utha, keponakan Om Wira.

Utha ini sepupu sahabatnya. Seharusnya Utha sudah kuliah, tapi dia menunda setahun. Di mata Amanda, Utha adalah sosok cowok yang usil, suka bercanda, dan over pede. Wajar sih, soalnya memang ada darah Australia di dalam tubuh Utha yang membuatnya seperti model bule. Banyak yang suka dengan Utha, apalagi di sekolahnya Amanda. Soal Om Wira, kegantengannya juga sama dengan Utha. Apalagi beliau punya seorang putra yang imut dan lucu. 

Novel teenlit debutan ini benar-benar menggemaskan. Bukan saja karena kegalauan Amanda dengan penglihatannya, tapi juga interaksi antara Utha dan Amanda. Keduanya kalau bertemu pasti ramai, ada saja kejadiannya. Mulai dari ketemu Raden Inu Kertapati palsu sampai ditangkap satpam karena kelamaan ngadem di ATM bank. Klimaksnya ya itu... masalah hati yang melibatkan Om Wira. Membaca novel ini bikin senyum-senyum sendiri. Alur cerita yang cepat juga membuat saya bisa menyelesaikan novel ini dalam sekali berbaring.. Padahal masih pengen lihat ke-unyu-an duo Amanda dan Utha ini.
.
Recommended teenlit. 

Vision
Cindy Jessica
256 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Mei, 2022




 

#633 Damar Kambang


Chebbhing masih berusia 14 tahun saat acara pernikahannya digelar. Sebelum dirias, Chebbhing diminta menyalakan damar kambang, sebuah pelita yang sumbunya mengambang di atas minyak. Pelita ini memiliki makna yang dalam untuk mengawali rumah tangga. Sayangnya, damar kambang Chebbhing berkali-kali mati. Mungkin itu sebuah pertanda ketidaklancaran acara pernikahannya. Ayahnya menolak pengantin laki-laki yang datang hanya membawa hantaran bantal dan tikar.

Kacong, si pengantin pria merasa terhina. Bukannya dirinya dan keluarganya tak sanggup membawa sebuah rumah sebagai hantaran, hanya saja adat istiadat kampung mereka berbeda. Calon mertuanya bahkan tak mau berunding. Sakrah, paman Kacong, segera bertindak. Dia mencari orang pintar untuk membalaskan dendam itu. Di rumahnya, Chebbhing merasa dirinya bagaikan barang yang ditelantarkan. Pernikahannya batal sebelum dia menginjak tempat resepsi, orang tuanya diam dan pergi mengurusi hal lain. Sayup-sayup Chebbhing mendengar suara memanggil namanya. Dia lantas melarikan diri dari rumah dan pergi menemui Kacong. Kacong menerimanya, membuatnya tinggal di rumah orangtuanya, dan menikmati apa yang seharusnya mereka lakukan jika saja pernikahan itu tidak dibatalkan.

Tapi ayah Chebbhing datang menjemput anaknya dengan paksa. Dia diseret pulang. Berkali-kali Chebbhing melarikan diri, sampai akhirnya dia dipasung dan dirantai. Ayahnya tidak tinggal diam, dia mencari dukun yang mampu menyembuhkan anaknya. Sampai ketika, Ke Bulla, seorang kiai terpandang memberikan pengobatan. Chebbhing akan dinikahkan secara siri sebagai istri ketiga sang Kiai jujungan keluarganya. Tapi pernikahan ini harus dirahasiakan dari khalayak umum. Jangan sampai istri pertama dan kedua Kiai mendengarnya.

Mengulas tradisi pernikahan di Madura, membuat saya tertarik untuk membaca novel ini. Chebbhing , salah satu tokoh dalam novel ini dinikahkan dalam usia belia. Sebagai anak gadis, Chebbhing layak mendapatkan mahar yang mahal. Minimal sebuah rumah untuk tempat Chebbhing dan suaminya tinggal nantinya. Saya setuju dengan sebagian filosofi rumah sebagai hantaran, seperti penjelasan Ibunya Chebbhing . Rumah sebagai simbol kesetiaan, keamanan, bentuk didikan agar lelaki belajar hidup mandiri dan bertanggung jawab sebelum menikah. Ini memang logis dan masuk di akal. Tetapi mengibaratkan seorang anak perempuan sebagai burung yang harus disediakan sangkarnya, agar dia memperoleh batasan-batasan kebebasan, sekligus menjadi hak milik seorang tuan, saya kurang sependapat. Tetapi di kampung Chebbhing , jika hanya bermodalkan bantal dan tikar, akan menjadi cibiran tetangga. Tidak mungkin anak gadis dijual murah kepada calon keluarga suaminya.

Cinta ditolak dukun bertindak. Dunia mistis masih kental dalam novel ini. Kayaknya semua masalah harus diselesaikan dengan bantuan dukun. Sebenarnya bukan hanya kisah Chebbhing dalam novel ini. Masih ada setidaknya dua perempuan lain dengan masalah pernikahan mereka masing-masing, tapi masih terhubung dengan Chebbhing . Yang satu adalah Ibunya Kacong, dan satu lagi adalah istri kedua Kiai. Masalahnya, kisah ketiga perempuan ini masing-masing menggunakan POV orang pertama, tapi tidak ada pembeda antara kisah mereka. Baik itu sekadar huruf atau gaya bahasanya. Jadinya kadang saya bingung, perempuan yang mana bercerita kali ini. Lalu ada lagi muncul "satu orang" bernarasi- ditandai dengan huruf dicetak miring -yang seakan-akan dialah yang menceritakan keseluruhan kisah dalam Damar Kambang ini.

Saya kurang puas dengan akhir kisah dalam novel ini. Rasanya masih banyak persoalan yang belum dibereskan, dan masih banyak pertanyaan belum terjawab. Meski pada akhirnya damar kamang milik Chebbhing menyala dengan sempurna di rumahnya.

Damar Kambang
Masyari Muna
208 halaman
Kepustakaan Populer Gramedia
Desember, 2020


 

#632 Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam



Tidak biasanya Magi Diela pulang malam. Pekerjaannya sebagai penyuluh pertanian honorer memang mewajibkannya mengunjungi kelompok tani, bahkan yang jauh dari rumahnya. Tapi hari itu berbeda. Magi ditangkap oleh Leba Ali. Dia mengalami yappa mawine, sebuah kondisi yang disebut juga sebagai kawin tangkap di Sumba. Magi Diela diculik, ditangkap, untuk dikawini. 

Kawin tangkap adalah satu budaya di Sumba dimana anak perempuan dapat ditangkap oleh pihak laki-laki yang akan meminangnya untuk mempersingkat urusan adat agar tidak memakan waktu yang lama menuju perkawinan. Namun, umumnya kedua pihak keluarga telah memiliki kesepakatan untuk menempuh cara ini. Ada pula yang menyebutkan bahwa hal itu dapat dilakukan jika pihak laki-laki gagal mencapai kesepakatan. Dilihat dari sudut pandang Hak Asasi Manusia, budaya ini tentu saja merugikan pihak perempuan. 

Magi Diela yang diculik oleh Leba Ali, pria paruh baya yang memang telah mengincarnya sejak Magi masih SD. Leba Ali memberikan sejumlah hewan sebagai belis kepada keluarga Magi. Ama Bobo, ayah Magi, mau tak mau menerima perkawinan ini karena tidak ingin dianggap melanggar adat. Apalagi Magi telah ditahan di rumah Leba Ali selama dua hari. Tentunya Magi sudah tidak perawan lagi. Laki-laki mana yang mau menikahi anak perempuan yang sudah tidak perawan. 

Magi memang telah dinodai oleh Leba Ali dalam keadaan tidak sadar setelah dirinya diculik. Magi merasa harga dirinya runtuh. Dia tidak ingin menikah dengan Leba Ali. Dia memilih lebih baik mati apalagi karena keluarganya sendiri, terutama Ama Bobo, ayah yang dihormatinya lebih mementingkan adat budaya daripada anak perempuannya. Magi menggigiti pergelangan tangannya untuk memutuskan pembuluh nadi. Sayangnya, upaya Magi mengakali maut dapat dihindari. Dirinya berhasil diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit. Dangu Tida, sahabat Magi melaporkan tindakan penculikan dan pemerkosaan yang dilakukan Leba Ali kepada kepolisian. Meski demikian, Leba Ali yang awalnya ditangkap oleh polisi, bisa melenggang bebas karena koneksinya yang kuat dengan bupati setempat. Parahnya lagi, perkawinan Magi dengan Leba Ali tetap akan dilangsungkan, karena tikar adat telah digelar. Satu-satunya cara menghindari pernkawinan itu adalah dengan melarikan diri. Ditolong oleh Dangu dan Tara, iparnya, Magi melarikan diri meninggalkan kampungnya. Dia ditolong oleh kelompok LSM Gema Perempuan yang menampungnya dalam pelarian sampai kondisi aman. Magi merasa dirinya terusir dari tanah kelahirannya, harga yang sangat mahal dibayarnya untuk kebebasan. 

Di halaman sampul novel ini ada tulisan "trigger warning". Meski saya sudah mencoba menyiapkan diri dengan apa yang akan saya baca, tetapi membaca kisah Magi Diela tetap saja terasa terlalu kejam. Saya sampai mimpi buruk setelah membaca separuh dari novel ini. Di halaman terakhir saya juga memberikan apresiasi kepada Magi. Dia perempuan yang berani. Memilih jalan gelap dan sunyi menentang adat demi kehormatannya sebagai manusia.  

Novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam adalah novel kedua yang saya baca dengan tema perkawinan adat. Sebelumnya ada Pengantin Pesanan di Singkawang yang mengulas tentang budaya perkawinan yang merugikan pihak perempuan. Novel ini memang fiksi, tapi praktik budaya kawin tangkap masih terjadi di Sumba, NTT. Sebuah artikel di Magdalene mengulas tentang fenomena adat ini. Ternyata ada pergeseran dari adat-istiadat sesungguhnya dalam kawin tangkap ini. Budaya patrarki yang menganggap wajar saja apabila laki-laki mengedepankan ego, dominasi dan kekerasan membuat pelaku merasa memiliki kebebasan untuk melakukan pemaksaan dan intimidasi, bahkan kekerasan seksual kepada perempuan yang ditangkapnya. Inilah yang dilakukan oleh Leba Ali, karakter dalam novel ini yang bersembunyi di balik budaya untuk melegalkan perbuatan bejatnya. Kabar terakhir yang saya baca, pejabat pemerintah daerah Pulau Sumba sudah menyepakati untuk menolak praktik kawin tangkap demi melindungi hak perempuan dan anak. Semoga tidak ada lagi Magi di dunia nyata yang terpaksa harus meberikan tangisnya kepada bulan hitam. 


Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
Dian Purnomo
320 halaman
Gramedia Pustaka Utama
November, 2020




 

#631 Medium Rare Mom



Saran : sebelum membaca novel ini ada baiknya membaca A Man Who Loves You terlebih dahulu. Soalnya kalau di buku AMWLY, Ella bercerita kisah lajangnya, maka di MRM ini dia meceritakan kehidupan pernikahannya. Pas dengan genre novelnya. AMWLY itu City-lite, MRM itu Le-Marriage.

Ella menikah dengan Ardo, satu-satunya pria yang dicintainya. Setelah menikah, Ardo masih memberikan kebebasan bagi Ella untuk mengejar karirnya. Hingga kemudian, Ella hamil dan melahirkan Allea a.k.a Kunyit. Karena Ella masih bekerja, mereka memutuskan menggunakan jasa pengasuh. Nah kerempongan bersama pengasuh menjadi salah satu topik dalam novel ini. Mulai dari pengasuh yang merasa disantet, sampai pengasuh yang kabur begitu saja setelah masa garansi habis.

Berhubung masalah dengan pengasuh tidak kunjung selesai, akhirnya Ella memutuskan berhenti bekerja. Lagi-lagi Ardo mendukung keinginan istri tercintanya itu. Sekarang Ella memasuki masa-masa post power syndrome, dimana dia hampir (atau mungkin sudah) merasa depresi dengan peran barunya ini. Daripada tidak menghasilkan uang sama sekali, Ella mencoba membuka usaha garmen yang juga disetujui langsung oleh Ardo. Sampai ketika ternyata rekanan Ella menipunya, di saat Ella mendapati dirinya hamil anak kedua, keresahan Ella semakin menjadi. Yang membuatnya meledak dan menjadikan Ardo sebagai sasaran, karena dirinya merasa seorang diri tanpa ada orang yang ditempatinya berbagi. Ardo yang memproklamirkan dirinya sebagai best friend judtru di mata Ella ga ada bagus-bagusnya. Ujungnya mereka bertengkar, dan Ardo pergi dari rumah.

Membaca kisah Ella di MRM menurut saya sedikit berbeda dengan kisah Ella di AMWLY. Kalau di masa lajangnya, Ella seperti batu karang yang tahan terhadap ombak dan angin keras, di sini Ella kelihatannya seperti yang kehilangan dirinya. Beradaptasi dari wanita karir yang berpenghasilan menjadi ibu rumah tangga tanpa kerjaan membuatnya bingung. Di lain sisi, Ardo bukannya tidak memahami Ella. Tapi ya...namanya juga wanita, kadang nggak sadar kalau pria normal bukanlah makhluk yang bisa membaca pikiran. Dukungan tanpa syarat yang diberikan Ardo dibaca sebagai ketidakpedulian oleh Ella. 

Ada satu bagian dalam novel ini yang saya suka, yaitu pesan dari Mini, asisten rumah tangga Ella. "Gelas Ibu penuh... atuh kosongin dlu kalau mau diisi lagi". Kalimat ini juga yang menyadarkan Ella untuk mengosongkan dirinya. Dan dia baru merasa kosong setelah mencurahkannya kepada Tuhan. Setelah itu, Ella baru bisa berpikir kembali dengan jernih.

Menutup halaman terakhir novel ini, saya lantas berpikir apakah ini semi-biografi atau kisah nyata ya? Hehe... Jarang-jarang isi novel itu menceritakan proses kreatif atau latar belakang dari keberadaan novel itu sendiri. Terima kasih juga untuk kak Mel Bakara atas kiriman bukunya. Saya ngasih bintang 5 bukan karena dapat bukunya gratis dari penulisnya. Tapi karena saya memang mengambil banyak pelajaran dari Ella dan semestanya ini. Ditunggu karya selanjutnya ya, kak Mel...


Medium Rare Mom
Mel Bakara
312 halaman
Elex Media Komputindo
Desember, 2021