~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Review 2020. Show all posts
Showing posts with label Review 2020. Show all posts

#619 Hi, Bye!

 



Awalnya saya membaca novel Satu Kelas karya Citra Novy, dan saya suka ceritanya. Akhirnya saya mencari beberapa karya beliau di Gramedia Digital, iPusnas dan Google Playbook. Trus nemu novel  Garis Tangan. Ternyata ada prekuelnya yang berjudul Satu Atap, dan sekuelnya yang berjudul Hi, Bye! Langsung deh dibaca ketiganya secara berurutan. Karena novel ini adalah buku #3 dari series Satu Atap, jadi reviewnya mengandung spoiler buku #1 dan buku #2. 

Pada buku #1 dikisahkan bahwa Aundy dan Argan menjadi tumbal dari pelarian Mahesa (kakaknya Argan) dan Audra (kakaknya Aundy). Mahesa dan Audra dijodohkan dan kemudian berlanjut ke pernikahan. Tapi, di hari pernikahan mereka keduanya kabur. Tidak ingin menanggung malu, kedua belah pihak orang tua sepakat untuk menikahkan Aundy dan Argan menggantikan kedua kakak mereka. Aundy tidak bisa menolak, karena kesehatan ayah Argan menjadi taruhannya. Akhirnya mereka sepakat pernikahan mereka harus dirahasiakan dan hanya sampai kesehatan ayah Argan membaik.

Sebenarnya Argan memiliki kekasih bernama Trisha. Namun karena prank ulang tahun yang dilakukan Trisha, Argan mengira mereka sudah putus. Itu juga yang membuat Argan menerika pernikahan dadakan mereka. Sementara Aundy juga punya kekasih bernama Ariq. Keduanya juga sepakat, tidak ada sentuhan di antara mereka dan harus saling jujur. Kenyataannya Argan seringkali ingkar janji dan tidak jujur pada Aundy. Hingga suatu hari, Argan mengetahui rahasia yang disimpan Trisha dan mereka berdua putus. Argan melampiaskan kekecewaannya pada minuman keras. Dia pulang dalam keadaan mabuk, dan meniduri Aundy yang dikiranya Trisha. 

Satu kesalahan yang membuat mereka harus terikat dalam pernikahan selamanya. Meskipun Aundy tidak hamil, ada perubahan dalam diri Argan. Aundy yang sejak awal mulai menyukai Argan, mulai terganggu dengan kehadiran Trisha yang ingin kembali pada Argan. Sementara Argan sendiri mulai sadar dirinya mencintai Aundy. Sayangnya, rasa cinta yang disertai bayang-bayang ketakutan membuat Aundy memilih untuk berpisah. Argan setuju, namun jika suatu saat dia tidak bisa melupakan Aundy, dia akan bertekad untuk kembali mengejar Aundy.

Empat tahun berpisah, akhirnya mereka bertemu kembali di pernikahan Mahesa dan Audra. Argan menepati ucapannya untuk kembali mengejar mantan istrinya. Tentu saja Argan mendapatkan restu dari kedua orang tua mereka. Tetapi Aundy masih ragu karena ada banyak wanita di sekitar Argan. Dengan perjuangan panjang, keduanya bersatu kembali.

Sayangnya, pernikahan kedua antara Aundy dan Argan menyisakan satu masalah. Tanpa sengaja, Aundy mengetahui bahwa Argan menemui seorang wanita sebelum pernikahan mereka. Aundy kecewa pada Argan dan dia berharap dirinya tidak pernah bertemu dengan Argan agar tidak jatuh cinta pada pria itu. Dan harapannya menjadi kenyataan. Aundy kembali ke masa SMA kelas X, saat dia belum bertemu dengan Argan. Di sisi lain, Argan juga merasakan lelah luar biasa dengan pernikahan dan bisnis kopi miliknya. Argan berharap dia bisa kembali di masa-masa kebebasannya, saat dia belum mengenal Aundy. Dan harapannya menjadi kenyataan.

Buku #3 ini menceritakan masa-masa Aundy dan Argan kembali ke masa lalu. Menariknya, meski sebagian besar apa yang mereka alami sama seperti sebelumnya, Aundy dan Argan malah bertemu lebih awal. Ada perasaan yang tumbuh dan alam bawah sadar mereka mengatakan bahwa keduanya saling memiliki. Mungkin ini salah satu konsep jodoh ya, akhirnya baik Aundy dan Argan kembali memperjuangkan kebersamaan mereka. 

Yang saya suka dari serial ini adalah bucinnya Argan ke Aundy. Lucu aja membaca betapa Argan mencintai Aundy, sementara Aundy lebih cuek meski dalam hati dia juga berharap pada Argan. Satu-satunya yang mengganggu saya adalah bahwa dalam keluarga mereka ada dua pernikahan, antara Aundy dan Argan serta Audra dan Mahesa. 

Novel ini menjadi penutup dari Tantangan Baca Goodreads 2020, untuk kategori "Buku terakhir dari sebuah seri". Tadinya saya sudah hopeless saja tidak menyelesaikan tantangan baca ini karena ketinggalan 3 bulan sejak bulan September. Ternyata di bulan Desember ada buku series yang saya baca. 

Hi, Bye!
Citra Novy
295 halaman
LovRinz Publishing
Juni, 2020
 

#618 Gadis Minimarket




Keiko Furukura, seorang perempuan berusia 36 tahun, telah menghabiskan separuh hidupnya menjadi pekerja paruh waktu di minimarket. Meskipun masih memiliki kedua orang tua, Keiko tinggal sendirian di sebuah apartemen tua. Adik perempuannya telah menikah dan mempunyai seorang anak.

Rupanya kehidupan yang dijalani oleh Keiko dianggap "tidak normal". Seorang wanita lajang dengan pekerjaan paruh waktu cukup lama. Meskipun demikian, Keiko menikmati hidupnya serta rutinitas yang harus dijalaninya. Dia bahkan tidak mempermasalahkan jika setiap hari dia hanya memakan nasi dan rebusan sayur, atau makanan yang akan kadaluarsa di minimarket. Keiko mulai "terusik" ketika bertemu teman-temannya, dan juga "berurusan" dengan Shiraha, yang mulai menunjukkan ekspektasi masyarakat terhadap kehidupan normal.

Saat membaca buku ini, saya membayangkan karyawan minimarket yang menjamur di Indonesia dan sepertinya di sini pekerjaan seperti itu bukanlah pekerjaan paruh waktu. Mungkin ada yang menganggapnya seperti itu. Tapi seperti Keiko yang begitu berdedikasi dan mencintai pekerjaannya, menurut saya normal saja jika Keiko bertahan dengan pekerjaannya. Apalagi saat ini mencari pekerjaan kan sulit. Keiko sepertinya melihat semuanya dalam pandangan sederhana dan simpel. Seperti misalnya menghentikan perkelahian antara dua anak laki-laki dengan mengalihkan perhatian mereka.

Novel ini cukup ringkas tapi padat, dengan antiklimaks yang tiba-tiba. Standar sosial yang menjadi benang merah dalam novel ini relevan dengan situasi di Indonesia, dimana jika ada wanita menikmati kehidupan berkarir daripada memulai kehidupan berkeluarga di usia kepala tiga akan dicap tidak normal. Novel ini menunjukkan bahwa kehidupan yang dijalani penuh cinta seperti Keiko akan membuatnya bahagia. Tidak peduli dengan suara-suara di luar sana

Gadis Minimarket - Convienence Store Woman
Sayaka Murata
160 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Juli, 2020


#617 The Gourmet To My Tea



Mille sedang mengerjakan tugas akhir-nya ketika dia bertemu dengan Leydn. Di angkatannya, Leydn cukup terkenal. Putih, tinggi, dengan paras tampannya. Percakapan pertamanya dengan Leydn membuat Mille mulai tertarik. Leydn sosok yang mencerahkan. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya tidak pernah membosankan, malah membuat Mille menjadi penasaran. Pertemuan demi pertemuan membuat Mille yakin dia menyukai Laydn, tapi Laydn menolak untuk mengukuhkan hubungan mereka menjadi formal sebagai pasangan kekasih.

Sampai kemudian datang berita buruk tentang Leydn di masa lalu. Mille marah pada Leydn karena perbuatannya di masa lalu, dan dia menolak menerima penjelasan dari Leydn karena Leydn membenarkan kejadian masa lalu tersebut. Puluhan surat dituliskan Leydn untuk Mille karena Mille menolak berbicara dengannya. Tapi Mille tetap kukuh menolak Leydn.

Saya membeli novel ini langsung dari penulisnya dengan harga kurang dari IDR75,000. #TGTMT adalah karya debut penulis, dan novel ini tidak dijual di toko buku. Membaca novel ini menambah pengetahuan, terutama soal astrologi dan filsafat. Kalau kamu menyukai novel dengan quote-quote indah, novel ini bisa jadi pilihan. Hanya saja, bagi saya kalimat-kalimat yang layaknya majas dan pengandaian itu a litlle bit too much.

Saya suka ceritanya, dan endingnya cukup realistis. Bagi Leydn dengan penyakit di masa lalunya yang berat, hal yang terjadi padanya menjadi wajar. Saya sedikit kesal pada Mille yang rada naif. Menolak penjelasan karena rasa sakit hati, untuk kemudian menyesal setelah Leydn pergi darinya. Tapi memang sesuatu menjadi lebih berharga ketika sudah tidak dijumpai, kan?

Selamat untuk mbak Ghea atas novel pertamanya. Ditunggu karya berikutnya ya.

The Gourmet To My Tea
Ghea Ginting
230 halaman
Ellunar Publisher
Juni, 2020


#616 Dry


California Selatan mengalami kekeringan. Pemerintah setempat mengumumkan status Keran-Mati (Tap-Out)karena kemarau yang sudah berlangsung lama. Krisis air mulai terjadi, dimana air untuk diminum menjadi langka. Alyssa Morrow dan adiknya Garret bahkan hanya kebagian es batu di pusat perbelanjaan. Mereka membawa pulang berkantung-kantung es batu untuk dijadikan air minum. Saat cadangan air mereka mulai menipis, kedua orang tua mereka berinisiatif pergi ke pantai, karena mereka mendengar ada tanki yang dapat memproses air laut untuk menjadi air yang dapat diminum.

Waktu berlalu, dan kedua orang tua Alyssa tidak juga kembali. Alyssa memutuskan untuk pergi mencari orang tuanya. Kelton McCracken, tetangga mereka, ikut membantu. Sebenarnya keluarga McCracken tidak mengalami krisis seperti warga lainnya. Ayah Kelton telah mempersiapkan diri dalam menghadapi krisis jauh sebelumnya. Mereka memiliki semua hal yang diperlukan untuk bertahan hidup. Namun McKracken tidak mau berbagi dengan yang lain. Dalam perjalanannya menuju pantai, Alyssa menyaksikan sisa-sisa kekacauan. Sesuatu telah terjadi, dan mereka tidak bisa menemukan orang tua mereka. 

Saat itulah mereka bertemu dengan Jacqui, seorang gadis yang unik dan pemberani, yang menyelamatkan mereka dengan imbalan mendapatkan antibiotik untuk luka di lengannya dari Kelton. Kelton membawa mereka kembali ke rumah McKracken, dan membuat Alyssa, Garret dan Jacqui terkagum-kagum dengan isi rumah Kelton. Namun, Alyssa membuat satu langka keliru dengan membagikan air minum botolan yang diambilnya dari persediaan keluarga McKracken kepada warga di sekitar. Tidak perlu menunggu waktu lama, rumah keluarga McKracken diserbu oleh warga.

Perjalanan Alyssa, Garret, Kelton dan Jacqui mencari air merupakan inti dari kisah dalam novel ini. Dari keempat tokoh itu, saya paling menyukai Garret. Dia bukan tokoh utama, tapi keberadaannya seringkali menyelamatkan situasi. Saya tidak suka dengan Alyssa, yang menurut saya terlalu naif, meskipun dia, di antara tokoh lainnya, memang yang berpikir jernih dan bertindak secara rasional. 

Membaca beberapa halaman pertama membuat saya berpikir tidak akan mudah menyelesaikan novel ini. Kekeringan yang dinarasikan di dalam novel ini begitu terasa, sampai membuat saya berkali-kali menghentikan membacanya. Saya punya pengalaman kekurangan air di masa lalu, sampai membuat saya dan teman-teman harus mencari sumber air untuk mendapatkan air bersih. Meski tentu saja yang saya alami tidak separah apa yang dialami oleh Alyssa di dalam novel ini, tapi kondisi itu membuat saya sangat menghargai pentingnya air bersih. Saat kran air di rumah tidak mengalirkan air, saya menjadi frustasi. Menempatkan diri dalam kondisi di buku ini, sampai ada orang-orang yang rela melakukan apa pun demi air, sungguh membuat depresi.

Novel ini hanya salah satu dari sekian banyak buku yang membahas tentang perubahan iklim. Bahkan pembaca juga bisa menemukan climate fiction lain yang mengangkat topik berbeda. Pemanasan global dan perubahan iklim menjadi issue penting yang seharusnya bisa dipahami dengan baik oleh semua orang. Bahwa perubahan itu memiliki dampak yang menghancurkan. Menampilkannya dalam bentuk fiksi bisa menjangkau lebih banyak orang. Untuk young adult, novel ini bisa menjadi pilihan. 

Dry (Kering)
Neal Shusterman & Jarod Shusterman
456 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Mei, 2020

#615 1984


Saya mungkin termasuk dalam sekian orang yang belum pernah membaca karya fenomenal dari George Orwell ini. Namun tidak ada kata terlambat untuk membaca sebuah buku, kan? Lewat agenda #Baca1984Bareng yang digagas oleh @hzboy, saya mulai membaca novel 1984. Saya membaca versi digital terbitan Bentang Pustaka, yang saya beli lewat Gramedia Digital. 

Winston Smith adalah seorang anggota partai Sosing yang bekerja di Kementrian Kebenaran. Salah satu tugas Winston adalah melakukan revisi terhadap dokumentasi yang pernah terbit di negara Oceania. Revisi dilakukan agar pikiran masyarakat tetap terkendali sesuai dengan visi partai. Winston bekerja dengan taat, namun lama kelamaan dia menyadari bahwa realitas di masyarakat menjadi kabur karena ketatnya pengawasan partai. Poster dari Bung Besar dengan tulisan "BUNG BESAR SEDANG MENGAWASI SAUDARA" seperti mata-mata yang mengontrol perilaku setiap anggota masyarakat. Kegelisahan Winston mulai dituangkannya lewat tulisan pada buku catatan yang diperolehnya secara ilegal.

Pertemuan Winston dengan Julia, salah seorang anggota partai yang bertugas di Departemen Fiksi, menjadi titik balik upaya pemberontakan Winston. Pertemuan pertama mereka adalah di Acara Dua Menit Benci yang diselenggarakan untuk menayangkan propaganda kebencian terhadap Emmanuel Goldstein, musuh rakyat dan pengkhianat negara. Saat pertama bertemu, Winston membenci Julia. Dia bahkan ingin melakukan hal yang kasar terhadap Julia di dalam benaknya. Tapi saat Julia memberikan selembar kertas yang bertuliskan "I Love You" kepada Winston, pemikiran Winston mulai berubah. Pertemuan rahasia bersama Julia membuat Winston merasa menjadi orang yang baru. Pemikirannya terbuka, apalagi seperti Winston, Julia juga membenci tindakan-tindakan otoriter yang dilakukan oleh partai. 

Novel ini ditulis pada tahun 1949, yang menggambarkan kondisi dystopia Inggris di tahun 1984. Ada istilah yang pernah saya baca mengenai timeline novel ini : sebuah kisah di masa depan yang sudah lewat. Menarik bahwa kondisi dystopia yang digambarkan di dalam novel ini banyak diasosiasikan dengan kondisi saat ini. Misalnya penggunaan "telescreen" untuk mengawasi rakyat di dalam novel 1984, diasosasikan dengan upaya pemerintah saat ini mengontrol pemakaian internet dan penyebaran berita. Saya sempat menelusuri beberapa jurnal ilmiah terkait novel 1984, dan menemukan ada begitu banyak aspek yang bisa ditelaah dari novel ini. 

Namun, sebagai pembaca romance garis keras (hehe...), saya ingin membahas tentang hubungan antara Winston dan Julia. Banyak yang tidak setuju jika novel 1984 ini disebut sebagai sebuah love story. Kayaknya isu ini menguak saat Kristen Stewart membintangi film Equals yang disebut sebagai remake dari 1984. Tapi kenyataannya, kisah hubungan antara Winston dan Julia mengambil 1 bagian sendiri (Bagian 2) di dalam novel ini.

Winston dan Julia melakukan hubungan terlarang. Mengapa? Winston sebenarnya sudah pernah menikah dengan seorang wanita bernama Katherine. Pernikahannya dengan Katherine hanya bertahan 15 bulan setelah mereka tidak mendapatkan keturunan. Mereka berpisah namun tidak bercerai, karena perceraian dilarang oleh partai. Berhubungan dengan wanita di luar pernikahan juga adalah hal terlarang. Julia tertarik pada Winston karena dia menganggap Winston seorang yang memiliki pemikiran melawan partai. Winston tertarik pada Julia karena keberanian Julia. Keduanya harus mengatur sedemikian rupa waktu dan tempat untuk bertemu dan berkencan. Aksi Winston dan Julia ini bisa dihitung sebagai pemberontakan. Pertemuan dan interaksi intens antara keduanya membuat Winston memberanikan diri bertemu dengan O'Brien, salah satu tokoh partai yang menurut Winston juga seorang pemberontak. Winston menyatakan kesanggupannya untuk melakukan pemberontakan.

Baik Winston dan Julia mengalami perkembangan karakter yang menarik untuk diikuti. Cinta yang tumbuh diantara Winston dan Julia bukan semata-mata karena nafsu, tapi juga dilandasi rasa senasib sepenanggungan. Kehadiran Julia menyuntikkan keberanian pada Winston, mengubahnya menjadi seorang yang taat pada Bung Besar menjadi pemberontak. Meski dalam proses penghakimannya, baik Winston dan Julia merasa bahwa mereka mengkhianati satu sama lain.

Penggambaran dystopia di dalam novel ini benar-benar membuat depresi. Tekanan partai, aturan-aturan yang keras, juga hukuman yang dijalani oleh pemberontak. Kalian bisa memantau pendapat pembaca lainnya yang ikut #Baca1984Bareng di sini

1984
George Orwell
390 halaman
Bentang Pustaka
2014

#614 Efek Jera


Dio, seorang remaja berumur 19 tahun. Sehari-hari dia menyambung hidup dengan menjual DVD bajakan di dekat kampus ternama di Jakarta. Dio tamatan SMA, dan memilih meninggalkan rumah setelah ayahnya ditangkap karena kasus korupsi. Kini, Dio berhadapan dengan salah seorang pria dari masa lalunya yang mengajaknya beralih profesi.

Om Jon, demikian Dio memanggilnya. Dulu Om Jon adalah tetangga di depan rumah Dio yang mengajarinya membaca, mengaji dan sedikit bela diri. Namun kemudian Om Jon yang adalah seorang tentara ditugaskan ke luar negeri. Om Jon mengajak Dion untuk bergabung dalam bisnis start-up yang sedang dirintisnya. Om Jon membutuhkan pemuda untuk bertugas di lapangan, dan Om Jon yakin Dio bisa melaksanakan tugas itu. Setelah melalui pelatihan singkat di Cisarua, Dio diutus untuk tugas perdananya. 

Dio diminta ke Semarang untuk menyelidiki sebuah kasus yang melibatkan kematian seorang pilot muda dari Penida Airways bernama Angga Hudaya. Angga ditemukan tergantung di kamar kostnya. Menurut pemberitaan di media, Angga bunuh diri karena masalah pribadi. Tapi Om Jon dan rekannya, Pak Makarim tidak percaya itu. Ada kejanggalan dari kasus ini. Terutama setelah beberapa pilot yang pernah bekerja di Penida Airways mengungkapkan pelanggaran terkait hak-hak tenaga kerja di Penida Airways. Dio harus mengumpulkan informasi dan bukti-bukti yang berhubungan dengan pelanggaran tersebut. 

Efek Jera adalah novel ketiga Tsugaeda setelah Rencana Besar dan Sudut Mati. Ada rentang waktu yang cukup lama dari novel kedua hingga terbitnya novel ketiga ini. Selain itu, novel ketiga ini diterbitkan oleh penerbit yang berbeda dengan dua novel sebelumnya. Masih mendukung tema misteri dan investigasi, Efek Jera juga menghadirkan tokoh Makarim Ghanim, seorang ekonom yang tertarik memecahkan permasalahan ala detektif. Dio, tokoh utama dalam novel ini disebut sebagai asisten Makarim, meski yang menjadi tentor Dio sesungguhnya adalah Sarjono atau Om Jon. 

Penida Airways di dalam novel ini mengingatkan saya pada dua maskapai penerbangan di Indonesia. Penida Airways menerapkan konsep penerbangan bertarif rendah (Low Cost Carrier) yang menyebabkan Penida Airways banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Sayangnya, pelayanan dan manajemen Penida Airways sangat mengecewakan. Sering terlambat plus angka kecelakaan yang tinggi. Di kepala saya yang terbayang adalah maskapai berlogo singa itu. Tetapi persoalan ketenaga kerjaan di Penida Airways mengingatkan saya pada maskapai berlogo burung biru yang kasusnya sempat booming di twitter. Sayangnya, wabah Corona membuat kasus itu seperti terlupakan. 

Nuansa misteri pada novel Efek Jera ini tidak sekuat dua novel sebelumnya. Tapi investigasinya lumayan. Hanya saja saya sulit membayangkan Dio dengan segala kemampuan dan kalimat-kalimat yang dia ucapkan adalah seorang pemuda belasan tahun. Meski kasus yang harus diselidiki Dio ini masih dalam tahapan ujicoba buatnya, tapi hampir membuat nyawa Dio melayang. Sepertinya Om Jon memang menaruh harapan sangat besar untuk Dio.

Hal kedua yang cukup mengganggu adalah tentang kematian Angga. Pada bab 10, ketika Dio datang mengunjungi kos tempat tinggal Angga, disebutkan bahwa mayat Angga baru ditemukan setelah dua hari sejak kematiannya. Itupun karena aroma busuk yang membuat penjaga kos curiga. Namun dalam jurnal milik seorang wartawati yang meliput kematian Angga disebutkan bahwa sehari sebelum kematiannya, Angga masih sempat janjian dengan wartawati tersebut untuk bertemu di sebuah kafe. 

Terlepas dari itu, novel ini memberikan penyegaran pada novel misteri di Indonesia. Saya mengapresiasi riset yang dilakukan penulis sehingga bisa meramu permasalahan aktual yang terjadi di Indonesia menjadi novel yang menarik dan page turner.. Saya pasti menantikan aksi Makarim selanjutnya.

Efek Jera
Tsugaeda
344 halaman
One Peach Media
Maret, 2020






#613 Lethal White



Sebelum membaca buku Cormoran Strike #4 ada baiknya membaca buku sebelumnya khususnya buku #3 yang berjudul Career of Evil. Sejujurnya, kisah antara Strike dan Robin yang membuat saya penasaran membaca buku #4 ini.

Robin menikah dengan pacarnya, Matthew. Keputusan itu diambil Robin setelah dirinya dipecat oleh Strike. Yang belakangan Robin ketahui, Strike menghubunginya kembali namun pesan-pesan itu telah dihapus oleh Matthew. Robin sangat marah dan hampir saja meninggalkan pernikahannya. Namun bayangan pengorbanan biaya yang telah dikeluarkan oleh kedua orangtuanya membuatnya mengurungkan niat itu. Kepada Strike, Robin berjanji akan segera kembali ke kantor setelah urusan bulan madunya selesai.

Kasus yang dihadapi oleh Strike dan Robin kali ini diawali oleh kedatangan seorang pemuda gila ke kantor mereka yang meminta bantuan Strike untuk mencari pembunuh seorang anak. Billy, pemuda itu mengaku telah melihat seorang pemuda mencekik seorang anak di sebuah tempat kuda. Namun Billy menghilang seketika sebelum Strike mengorek keterangan lebih lanjut. Kemudian datanglah permintaan dari seorang Mentri Kebudayaan untuk mengusut pemerasan atas dirinya yang dilakukan oleh seorang Mentri lainnya. Ternyata kedua kasus ini berhubungan karena orang-orang yang terlibat di dalamnya saling beririsan.

Jujur saja, saya tidak begitu tertarik dengan kasus di dalam buku #4 ini. Ada banyak zona abu-abu yang baru mulai kelihatan kejelasannya setelah masuk ke bagian kedua buku ini. Yang mana sudah hampir setengah buku yang setebal 700an halaman ini. Itupun setelah orang yang mengajukan kasus kedua kepada Strike meninggal dalam keadaan mengenaskan. Kepiawaian Robert Galbraith menghubungkan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya (meskipun ada banyak sekali tokoh yang terlibat) membuat kasusnya mudah dicerna.

Saya justru tertarik dengan hubungan antara Strike dan Robin (yang sejak series ini diawali, relasi kedua tokoh utama ini membuat saya penasaran). Robin harus menjalani terapi karena serangan panik akibat kecelakaan di kasus terakhir yang membuat dirinya dipecat oleh Strike. Di samping itu dia berusaha meyakinkan dirinya untuk percaya bahwa pernikahannya dengan Matthew layak dipertahankan, hanya untuk mendapati suaminya belum bisa melupakan kekasihnya yang lama. Sementara itu Strike juga harus mengalami putus hubungan dengan kekasih sepuluh bulannya, sampai bertemu kembali dengan Charlotte, mantan tunangannya. Lantas bagaimana dengan hubungan antara Strike dan Robin sendiri? Di balik sikap profesionalisme antar partner yang harus mereka jaga, ada rasa yang terus terpendam. Dan membuat sebagian pembaca penasaran akan kelanjutannya di buku ke#5 yang akan terbit tidak lama lagi. 


Lethal White - Kuda Putih
Robert Galbraith
704 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Juli, 2019



#612 Satu Hari Bersamamu


Dua hari yang lalu, tepatnya 20 Mei 2020 adalah tepat dua tahun sejak kepergian papaku. Saat membaca sinopsisnya saya langsung memutuskan harus membacanya sekarang, setelah menyimpan buku ini selama 7 tahun di rak buku.

Apa yang akan kau lakukan seandainya kau diberi satu hari lagi bersama orang yang kau sayangi, yang telah tiada?

Nggak, saya nggak seputus asa Charley, tokoh dalam novel ini, yang ingin menghabisi hidupnya setelah serangkaian kegagalan yang dihadapinya. Berpisah dengan istrinya, pekerjaan berantakan, dan tidak diundang saat pernikahan putri satu-satunya. Charley memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di kota tempatnya lahir. Saat dalam perjalanan ke kota itu, dia mengalami kecelakaan. Namun Charley masih bisa bangkit dan berjalan sampai ke rumahnya. Dan di sana dia bertemu dengan ibunya. Hal yang tidak mungkin, karena ibunya sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Meski merasa tidak mungkin, Charley melewati satu hari penuh bersama ibunya. Mengunjungi beberapa orang yang juga akan berakhir hidupnya.

Di sela-sela perjalanan bersama ibunya, Charley mengulas balik kehidupannya. Sejak ayahnya meninggalkan keluarga mereka, saat-saat dia dibela oleh ibunya, saat-saat dia tidak membela ibunya, atau ketika sampai akhir hidup ibunya, yang Charley selalu pikirikan adalah membuat ayahnya bangga. Membuat dirinya menjadi anak ayah, bukan anak ibu.

Ada banyak rahasia terungkap, hal-hal yang tidak diketahui oleh Charley sebelumnya. Hal yang kemudian mengubah cara pandangnya terhadap ibunya dan juga ayahnya. Terlebih lagi cara dia menghadapi hidup yang harus dijalaninya

Novel ini menyentuh saya sedemikian rupa. Saya merasa saya juga ingin punya satu hari lagi untuk bercakap-cakap secara pribadi, heart to heart , dengan Papa. Hal yang tidak sering saya lakukan semasa beliau masih hidup. Mungkin kesempatan itu akan datang, mungkin juga tidak. Di akhir kisah ini, ada satu kata yang diucapkan oleh seorang wanita untuk Charley. "Perdonare" yang berarti "maafkan". Kata yang sama yang saya bisikkan di telinga Papa menjelang nafas terakhirnya. "Maafkan saya, Pa."

In memoriam of Papa, May 20th 2018.

Satu Hari Bersamamu
Mitch Albom
248  halaman
Gramedia Pustaka Utama
Desember, 2010