~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Review 2019. Show all posts
Showing posts with label Review 2019. Show all posts

#597 Dia

 

Denia patah hati ketika Janu mengabarkan bahwa dirinya akan bertunangan. Berbagai cara dilakukan oleh Denia supaya dia tidak menghadiri pesta pertunangan Janu dan Sasa. Tapi nasibnya sedang sial. Dia terpaksa menemani tantenya berangkat ke Jakarta. Lebih sial lagi, di kereta tempat duduknya diambil oleh seorang pria yang menyebalkan.

Denia sudah lama dekat dengan Janu. Meski tidak ada hubungan darah, hubungan mereka seperti saudara. Tapi perasaan Denia berkembang menjadi cinta yang tak pernah diungkapkannya. Sayangnya, momen kekecewaannya tertangkap oleh kamera fotografer di acara pertunangan itu. Kebetulan fotografer itu adalah sepupu Saka, pria menyebalkan yang ditemui Denia di kereta. Melihat foto itu, Saka langsung tahu apa yang dirasakan oleh Denia. Dan dia berusaha untuk membuat Denia mengungkapkan perasaannya pada Janu.

Denia kesal dengan Saka yang selalu mau ikut campur urusannya. Sementara itu, orangtuanya memintanya untuk tinggal lebih lama di Jakarta. Itu artinya dia harus lebih lama melihat kemesraan Janu dan Sasa. Tapi di sisi lain, Janu juga tidak menunjukkan perubahan sikap pada Denia. Dia masih bercanda dan saling menggoda. Janu bahkan sering mengucapkan "Love you"  pada Denia sehingga membuat hati Denia teriris. 

Sementara itu Denia tanpa sengaja malah dekat dengan keluarga Saka. Terutama dengan adiknya Saka yang menggemaskan, si Hantu Ubi Galih. Galih juga yang menjodohkan Denia dan Saka. Tapi antara Saka dan Denia seperti anjing dan kucing yang tidak pernah akur. Walaupun demikian, saya lebih suka interaksi antara Denia dan Saka dibandingkan Denia dan Janu. Menurut saya, Janu justru yang mempermainkan hati Denia. Hati saya ikut sedih ketika Denia "disidang" oleh Janu, Sasa dan Mila (adiknya Sasa yang juga suka pada Saka) ketika foto itu sampai di tangan Sasa. Memangnya salah jika dia memiliki perasaan cinta pada Janu?

Senang rasanya menutup rangkaian daftar bacaan di tahun ini dengan novel yang menarik. Saya suka karakter Denia yang tangguh, meskipun dia menyimpan sakit hati yang dalam. Dan ketika Denia dengan kuat dan tabah memutuskan untuk melupakan Janu, semuanya dijalaninya sendiri dengan tegar. 

Novel ini merupakan versi cetak ulang dengan alternate ending. Dulunya novel ini diterbitkan oleh Gagas Media, dan kemudian diterbitkan kembali dengan ending yang berbeda oleh GPU dalam lini young adult. Entah bagaimana akhir cerita edisi sebelumnya, tapi saya suka dengan ending  terbitan GPU ini. Recommended.

Dia
Nonier
280 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Desember, 2019



#596 Deuce!


Ketika Namira kehilangan ibunya, dia diliputi duka yang mendalam. Belum lagi utang yang ditinggalkan akibat biaya pengobatan ibunya semasa sakit. Kini Namira tinggal berdua dengan bapaknya yang seorang pekerja bengkel. Untuk membantu bapaknya, Namira bekerja sebagai pemungut bola di lapangan tenis. Meskipun hanya satu-satunya perempuan yang bekerja memungut bola di lapangan itu, Namira mengerjakan semuanya dengan tekun setiap hari.

Karena sudah capek dengan porsi pekerjaan dan latihan fisik di lapangan tenis, Namira sering bolos dalam pelajaran olahraga. Apalagi pelajaran olahraga hanya senam, setelah itu murid perempuan bisa istirahat sambil ngerumpi. Namira memilih kegiatan yang bermanfaat seperti tidur di ruang UKS atau makan di warung. Sayangnya, Aksan si ketua kelas tidak sependapat dengan Namira. Ketika guru pelajaran olahrga berganti, Namira tidak lagi bisa sering bolos pelajaran olahraga.

Selain Aksan, ada satu orang lagi yang berusaha dihindari oleh Namira. Dia adalah Kafi, anak pemilik lapangan tenis, yang juga atlit tenis yang sering berlatih di lapangan yang sama. Sejak awal Namira bekerja, Kafi sering membentaknya dan menyebutnya bocah hanya karena postur tubuh Namira yang kecil. Akibatnya Namira takut sekaligus sebal pada Kafi. Sampai suatu ketika, rasa takut dan sebal itu memuncak dan membuat Namira melempar mata Kafi dengan bola tenis. 

Saya suka dengan kisah Namira. Mengambil latar kota Magetan, kisahnya bergulir dengan sederhana. Karakter Namira yang agak lemot justru menggemaskan. Namira yang deg-degan menghadapi dua cowok yang menyebalkan, sampai Namira sadar kalau keduanya sama-sama menyukai Namira. Lantas bagaimana memilih antara Kafi dan Aksan, saat keduanya berada pada posisi deuce?

Hal lain yang saya sukai adalah interaksi antara Namira dan bapaknya. Duh...bikin baper apalagi saat bapaknya malah memberikan dukungan pada Namira saat Namira dipecat dari klub tenis gara-gara insiden pelemparan bola tenis ke mata Kafi. Keunikan lain dari novel ini adalah adanya unsur olahraga, khususnya tenis. Sedikit banyak adalah informasi tentang tenis dan pentingnya olahraga bagi remaja. Saya jadi penasaran ingin membaca karya Netty Virgiantini lainnya. Sepertinya masih nyambung dengan olahraga juga.

Deuce!
Netty Virgiantini
260 halaman
Gramedia Pustaka Utama
November 2019




#595 Algoritme Rasa

Junia Padma, seorang senior back-end developer. Dia adalah satu-satunya programmer cewek di kantornya. Tidak jarang dia mendapati pandangan penuh keraguan dari kliennya. Seperti ketika dia berhadapan dengan Bhisma, calon klien yang ingin membuat sebuah e-commerce. Tapi yang membuat Juni merasa tidak nyaman saat bertemu Bhisma bukan karena hal itu. Lebih kepada Bhisma adalah mantan pacar sahabatnya, Sandra, dan waktu itu Sandra dan Bhisma tidak putus baik-baik. Sandra yang meninggalkan Bhisma, demi seorang pria yang lebih kaya bernama Harsya.

Dan benar dugaan Juni. Bhisma belum bisa move on, dan ingin kembali kepada Sandra. Bhisma mendekati Juni, ingin menjadikan Juni sebagai pintu untuk membawanya kembali kepada Sandra. Bhisma beranggapan Sandra tidak cocok untuk Harsya, dan Juni sependapat dengan itu. Harsya memang kaya dan mapan, tapi matanya yang suka jelalatan membuat Juni tidak ingin sahabatnya menikah dengan pria semacam itu. Misi Sandra-Harsya putus pun dijalankan oleh Bhisma dan Juni.

Sayangnya ada yang salah dengan misi ini. Juni tidak bisa menyangkal kedekatannya dengan Bhisma membawa perasaan lain di hatinya. Apalagi Bhisma membuat perubahan besar dalam hidup Juni dengan membantunya mengatasi trauma di hidupnya dan memulihkan hubungan keluarganya. Belum lagi Bhisma membawa Juni lebih jauh mengenal keluarga Bhisma dan rahasia dalam keluarganya. Juni harus menemukan anti virus agar program dalam dirinya tidak berantakan.

Membaca novel ini rasanya seperti naik rollercoaster. Emosi saya dibuat naik turun, but in good term. Konflik demi konflik dibuat berlapis dan tertata sedemikian rupa, membuat saya tidak bisa berhenti membacanya. Seandainya nggak ingat lagi ngerjain project di kantor yang membuat saya harus bangun pagi-pagi, bisa nembus subuh baca novel ini.

Sakit hati, kekecewaan, ketakutan, kemarahan bercampur aduk menjadi satu membuat Juni mengalami trauma berkepanjangan. Awalnya berasal dari masalah di dalam keluarganya, lalu kemudian merembet kepada hubungannya dengan sahabat dan pria-pria yang mendekatinya. Sementara itu, Bhisma melakukan satu kesalahan fatal dengan membuat hati Juni tambah hancur berantakan.

Yang saya suka dari Job Series #3 ini adalah soal pekerjaan Juni. Dia seorang programmer, yang sehari-hari berurusan dengan coding, bahasa program, dan segala hal berbau informatika yang umumnya akrab dengan kaum pria. Ada banyak ilmu-ilmu tentang per-coding-an yang dituliskan oleh penulis. Seimbang dengan ilmu psikologinya. Good job.

Satu quote yang saya rasa menjadi benang merah di dalam novel ini,

"...tapi penerimaan setiap orang itu beda. Kadang apa yang kita anggap sebagai bentuk perhatian dan rasa sayang justru menyakiti. Apa yang kita niatkan bercana ternyata melukai." (hlmn 392).



Algoritme Rasa
Pradnya Paramitha
464 halaman
Elex Media Komputindo
November, 2019

#594 Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982


Isu feminisme di negara yang menjunjung patriarki akan selalu mengundang kontroversial. Demikian pula yang terjadi di Korea Selatan, ketika novel ini terbit pertama kali pada tahun 2016. Seorang selebritis Korea, Irene Red Velvet,  yang terlihat membaca novel ini sempat mendapatkan bullying dari netizen. Saya sendiri tertarik ingin membaca novel ini karena informasi yang beredar dan karena tagline "lahir tahun 1982" itu. Soalnya saya juga lahir di tahun yang sama.

Kim Ji-Yeong adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya seorang perempuan, dan adiknya seorang laki-laki. Perlakuan yang diterima oleh Ji-Yeong dan kakaknya tidak seistimewa yang diterima oleh adik laki-laki. Sebagaimana seorang perempuan Korea dibesarkan, Ji-Yeong dan kakaknya harus mulai membantu ibu mereka sejak usia dini. Sementara si adik laki-laki tidak perlu. Dalam urusan pembagian makanan pun, adik laki-laki selalu mendapatkan bagian terbaik.

Bukan hanya di rumah, di sekolah perlakuan yang diterima oleh murid perempuan tidak sama dengan murid laki-laki. Meski beberapa kali murid perempuan berusaha melawan, tapi upaya mereka akhirnya akan padam. Ji-Yeong sendiri beberapa kali meneriakkan protes, tapi hanya disimpan di dalam hatinya. Dia tidak mampu bersuara. Hingga akhirnya Ji-Yeong menikah, lalu mempunyai anak. Ji-Yeong harus melepas pekerjaan yang diperolehnya dengan susah payah. Ji-Yeong mengalami depresi, tapi tetap diam.

Puncak depresi yang dialami Ji-Yeong akhirnya memaksanya untuk bersuara. Tapi suara itu bukan keluar dari pribadi Ji-Yeong. Dia berkata-kata seperti orang lain. Suaminya menjadi bingung, dan akhirnya membawanya ke psikolog.

Somehow, ada beberapa kali saya mengambil jeda saat membaca novel ini. Dengan usia yang kurang lebih sama dengan sosok Kim Ji-Yeong, saya dengan mudah menaruh kaki dalam sepatunya. Sosok ibu Kim Ji-Yeong yang membanting tulang mencari tambahan nafkah bagi keluarga sama persis dengan ibu saya. Saya lantas bersyukur, meski hidup di Indonesia yang masih menganut patriarki, setidaknya kesetaraan gender telah saya alami. Tapi ada satu kalimat di bagian akhir novel ini yang paling menohok buat saya, yang masih saya (dan teman-teman perempuan lainnya di tempat kerja) alami dan sering mendapatkan sorotan dari pimpinan.

"Sebaik apa pun orangnya, pekerja perempuan hanya akan menimbulkan banyak kesulitan apabila mereka tidak bisa mengurus masalah pengasuhan anak." (hlmn. 175)

Novel ini dilengkapi dengan banyak catatan kaki, yang seakan-akan membuat novel ini terasa seperti sebuah esai. Lalu ada sebuah ulasan di bagian akhir novel yang membuat pembaca bisa lebih memahami kondisi yang dialami oleh Kim Ji-Yeong.

Terjemahan versi Indonesia lebih duluan terbit dibandingkan terjemahan Inggris-nya. Terima kasih GPU yang sudah gerak cepat, sehingga novelnya bisa terbit hampir bersamaan dengan tayangnya film adaptasi novel ini. Tapi sebagai penganut paham baca dulu baru nonton, menuntaskan buku ini wajib dilakukan sebelum menonton filmnya.

Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982
Cho Nam-Joo
192 halaman
Gramedia Pustaka Utama
November, 2019


#593 Lusifer! Lusifer!


Markus Yonatan dibesarkan dalam keluarga Kristen. Ayahnya seorang diaken, ibunya pekerja gereja. Kakaknya, Matius Abraham adalah seorang pemimpin barisan pendoa. Ketiga orang dalam keluarga Markus tersebut telah mengalami lahir baru. Dahulu ayahnya sering berganti perempuan, sementara ibunya mencari pelarian di racun serangga. Namun sejak Matius Abraham mendapatkan penglihatan dan lahir baru, ayah dan ibunya pun mulai berubah. Tidak ingin menjadi beban dalam keluarga, Markus Yonatan memutuskan untuk ikut lahir baru.

Markus Yonatan dulunya punya seorang kakak rohani, bernama Singa Yehuda. Tapi Singa Yehuda lebih suka dipanggil SY saja, karena baginya nama yang menyimbolkan Yesus Kristus itu terlalu berat baginya. Tugas SY adalah membimbing Markus Yonatan agar lebih dekat pada Tuhan dan menjauhi urusan duniawi. SY punya seorang adik perempuan bernama Mawarsaron. Sikap Mawarsaron ternyata berbeda dengan keluarganya. Dia tidak ingin terlibat dalam persekutuan di gereja. Puncaknya ketika Mawarsaron dianggap telah dirasuki oleh tiga jenis iblis. Empat belas orang terpilih menjadi tim barisan pendoa untuk membebaskan Mawarsaron dari kuasa iblis. Markus Yonatan salah satu diantaranya. Di tengah situasi pelik melawan kuasa iblis, Markus dihadapkan pada pilihan. Iman kepercayannya atau logika akal sehat.

Saya melihat buku ini pertama kali di instastory-nya Dewi Lestari. Lantas saya memasukkannya ke dalam wishlist setelah membaca sinopsisnya. Sebagai seorang yang dibesarkan dalam keluarga Kristiani, latar belakang yang diangkat dalam novela ini cukup akrab bagi saya. Meskipun tata ibadah di gereja saya bukan karismatik, namun saya cukup tahu mengenai hal tersebut.

Mengejutkan. Itu kesan pertama saya saat membaca novela ini. Saya bisa memahami pikiran Markus Yonatan saat dia merasa sebagai "anak hilang". Dalam novela ini digambarkan ada keluarga yang menyepelekan sisi humanis pada hubungan antara orangtua dan anak, hanya karena kesibukan mereka melayani Tuhan. Penulis berani mengangkat fanatisme dalam agama minoritas disandingkan langsung dengan kemanusiaan. 

Meskipun novela ini banyak menyebutkan istilah keagamaan khususnya Kristen Protestan karismatik, berikut prosesi ibadah atau ritualnya, membacanya tidak akan membingungkan. Saya suka dengan novela ini, dan memasukkannya dalam salah satu bacaan favorit saya tahun ini. 

Lusifer! Lusifer!
Venerdi Handoyo
138 halaman
Post Press
Juli, 2019


#592 Syrian Brides


Syrian Brides is a debut from Anna Halabi, a Syrian who currently lives in Germany with her family. This book contains 14 short stories about Syrian women, all of them married women or brides to be who lives in Syrian.

I honestly don't know much about culture in Syria, and reading this collection of short stories enlightens me. From some articles I read, patriarchal culture in Syria makes women in the second classes. Likewise, in this anthology, women must submit under the hands of their husbands. In the story of The Groom's Miracle, it is told of a wife who was locked up by her husband, was afraid she might stray if he let her out. Also in the The Groom's Hand which depicts a light-handed husband but always compensates luxury items for his wife.

The issue of polygamy was also discussed in one of the short story entitled The Bride's Maid. Khadija is 7 months pregnant and wants a maid. When her husband returned with a beautiful girl, Khadija was worried. Until then her husband wanted to marry the girl on the grounds of maintaining their honor. 

I understand that Syrian cultures are influenced by Arabic culture, so does about the marriage. If you curious about that, you should read this book. This collection of short stories gives readers a unique insight into the Syrian culture. Although generally raised about household issues that are gloomy, but there are also stories that make me smiles and even laugh. My favorite is Nobody's Bride, about a clever woman who robbed two sellers at about the same time.

I hope this anthology can be translated into Indonesian. But you can buy the paperback on Amazon and the digital version in Google Play  Hopefully Anna can continue to produce other work about Syrian culture. Thank you Anna for providing me this book. 

Syrian Brides
Anna Halabi
132 pages (Kindle edition)
Petra Books
November, 2018


#591 Starting Over



Erlan adalah orang kepercayaan Johny Salim. Kepercayaan Johny terhadap Erlan mungkin melebihi kepercayaannya pada anak tunggalnya sendiri, Prita Salim. Tidak heran jika Johny menginginkan Erlan menjadi menantunya dan membuat mereka bertunangan. Prita sendiri tidak habis pikir bagaimana harus menghadapi Erlan yang seperti robot, tidak punya perasaan. Prita bahkan mencoba membuat taruhan check-in di hotel dengan seorang artis hanya untuk membuat Erlan cemburu. Yang ada artis itu ditemukan tewas di hotel, dan Prita yang menjadi tersangkanya. Untungnya ada Erlan yang membereskan kasus itu, sehingga Prita dinyatakan tidak bersalah, meski sempat merasakan tinggal di tahanan. Kejadian itu ditambah beberapa hal lain membuat Prita memutuskan pertunangan dengan Erlan.

Prita memutuskan untuk tidak lagi mendekati Erlan. Lebih dari itu dia meyakini bahwa Erlan betul-betul manusia robot tanpa perasaan. Meski kedua orang tuanya mencoba terus menjodohkan mereka, Prita tidak ingin dekat dengan pria yang tidak bisa memahami perasaannya. Di sisi lain, Erlan juga merasa dirinya tidak pantas untuk disandingkan dengan anak atasannya itu. Hutang budinya pada Johny Salim terlalu besar untuk ditukar dengan posisi menjadi menantu. Lebih dari pada itu, Erlan tidak ingin menempatkan Prita dalam posisi ibunya. Erlan tahu dalam darahnya ada gen ayahnya yang pemberang dan suka menyakiti wanita. Tidak mungkin dia berlaku seperti itu pada Prita.

Baik Prita maupun Erlan ini punya asumsi dan kesimpulan masing-masing, sampai sebuah ciuman membuat Prita memutuskan untuk mengejar Erlan. Tapi memang karakter Erlan ini lempeng kayak kayu sih... menggemaskan membaca interaksi keduanya. Namanya perempuan ya, pengen juga diperjuangkan, dikejar apalagi sama pria yang disukainya. Belum lagi ada muncul wanita lain yang menjadi penghalang antara Erlan dan Prita. 

Kebiasaan saya tiap Senin pagi itu adalah mengecek buku baru apa saja yang muncul di Gramedia Digital. Pas lihat novelnya Titi Sanaria yang terbaru ini, tentu saja langsung saya unduh. Pas siangnya saya lihat lagi novel ini sudah ga ada di GD. Nggak tahu kenapa, tapi saya sih bahagia karena sudah tersimpan di hape saya....hehe. 

Saya sudah membaca beberapa karya dari Titi Sanaria. Dan saya suka dengan novel-novelnya termasuk yang satu ini. Meski awalnya saya merasa seperti membaca Harlequin minus adegan-adegan panasnya. Maksud saya konfliknya agak mirip dengan HQ. Tokoh utama yang menyimpan masa lalunya sedemikian rupa sampai mempengaruhi cara pandangnya terhadap cinta. Tapi saya tetap suka dengan karakter Erlan dan Prita yang konsisten sampai akhir cerita. Tapi yang lebih menggemaskan itu si Orlin, asistennya Prita. Sok tahu, tapi juga suka kikuk menghadapi cowok yang disukainya. Pengen deh ada spin off ceritanya si Orlin ini. Jadian nggak sih dengan Bastian?

Starting Over
Titi Sanaria
394 halaman
Elex Media Komputindo
Oktober, 2019

#590 90 Hari Mencari Suami



Eli, seorang gadis berumur 30 tahun. Di usia kepala tiga ini, Eli terancam menjomlo seumur hidup. Pasalnya, adik bungsunya sudah merencanakan pernikahan, sementara adiknya yang kedua segera menyusul untuk melamar pacarnya. Sementara Eli, jangankan calon suami, pacar saja dia belum punya.

Di tengah kesibukannya sebagai seorang Event Organizer, Eli meminta saran pada sahabatnya. Sandra, yang sudah menikah dengan seorang bule, dan Rosa, seorang fotografer lepas adalah dua orang sahabatnya sejak bekerja di Glow. Sayangnya, Sandra juga sedang dirundung masalah berselisih pendapat dengan suaminya. Dan Rosa, dia harus menghadapi dirinya hamil dan tidak bisa meminta pertanggunjawaban dari pria yang memberinya anak itu. Untungnya Sandra masih sempat memberikan catatan khusus kepada Eli dengan judul 90 hari mencari suami,

Mitos bahwa seorang perempuan yang dilangkahi menikah oleh adiknya menghantui Eli. Beberapa kali dia berkenalan dengan laki-laki, ada saja kendalanya. Dari yang 'anak mami' sampai seorang posesif. Meski Eli berusaha tidak mempercayai mitos itu, tapi sebenarnya dia juga takut seandainya nanti dia benar-benar tidak menikah.

Ken Terate sudah banyak mengeluarkan novel-novel dalam lini teenlit  dan young adult. Namun novel ini adalah debut pertama beliau dalam lini metropop. Novel ini bisa saya bilang sukses sebagai debut pertama. Eli adalah gambaran gadis metropolitan yang sukses dalam karir namun memiliki tanda tanya besar dalam urusan jodoh.

Hanya saja, pengantar bagi Eli untuk sampai ke misi "90 hari mencari suami" itu terlalu panjang menurut saya. Butuh 90an halaman sampai akhirnya Eli memutuskan untuk mencari suami. Terlepas dari itu, saya suka dengan pesan moral yang disebutkan dalam novel ini:

"Lo boleh punya alasan apa pun buat nikah atau nggak nikah, tetapi ketakutan bukan salah satunya." (hlmn 288)

Novel ini saya rekomendasikan untuk kamu yang merasa senasib dengan Eli, atau yang sedang merencanakan pernikahan, atau bahkan yang terbersit pemikiran tidak ingin menikah. Mungkin pikiranmu akan berubah setelah membaca novel ini.

90 Hari Mencari Suami
Ken Terate
364 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Oktober, 2019