~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Review 2018. Show all posts
Showing posts with label Review 2018. Show all posts

#549 Pengantin Pesanan



Sinta (Li Su Cin) atau biasa dipanggil A Cin sedang mempertimbangkan tawaran ibunya, Bong Pai Yin, yang memintanya untuk menikah kembali. Bagaimanapun juga keluarga mereka yang tidak kaya mengandalkan Sinta sebagai tulang punggung. Ditambah dengan Angelina, anaknya dari suami pertamanya, dan Aloy adiknya, kehidupan mereka sungguh pas-pasan. Sebenarnya Sinta masih menyimpan trauma karena perpisahan dengan suaminya akibat KDRT. Padahal dahulu mereka menikah karena saling cinta. Sayangnya, kelahiran Angelina mematikan api cinta suaminya. Memiliki anak perempuan bukanlah harapan suaminya.

Meskipun tinggal di Jakarta, Sinta dan keluarganya berasal dari Singkawang. Ada semacam tradisi yag terjadi di Singkawang yaitu Pengantin Pesanan. Seorang calo atau agen akan mencari perempuan dari Singkawang untuk menjadi istri bagi pria dari Taiwan. Sebenarnya perempuan Indonesia bukan satu-satunya "incaran" pria Taiwan. Perempuan dari Vietnam atau Cina daratan juga sering menjadi target. Hanya saja keunggulan perempuan dari Singkawang adalah keuletan, rajin, dan tidak suka, sehingga amoy Singkawang lebih disukai. Keluarga perempuan akan menerima "uang susu" sebagai nilai tukar. Proses perkenalan sangat singkat, hanya hitungan hari atau minggu. Si perempuan akan mendapatkan foto pria Taiwan yang akan dinikahinya dari agen. Jika beruntung, pria itu akan datang ke Indonesia untuk menikah langsung. Jika tidak, menikahi selembar foto sudah cukup. 

Bagi pria Taiwan, mencari calon istri dari luar negeri adalah hal yang lumrah. Hal ini terjadi
karena persoalan demografis, dimana jumlah pria di atas usia 15 tahun jauh lebih banyak daripada jumlah perempuannya. Jika pria ini memiliki ekonomi mapan, tentunya tidak sulit mencari calon pengantin perempuan. Tapi bagi mereka yang hidupnya tergolong ekonomi menengah ke bawah akan kesulitan mendapatkan perempuan lokal. Karena itu mereka mencari perempuan di negara lain. Tentunya yang masih memiliki latar belakang budaya yang sama. Alasan ini juga yang mendorong Lu Kai Wei mencari calon istri seorang amoy  Singkawang. 

Sinta setuju menikah dengan Lu Kai Wei, pria asal Taiwan. Setelah menikah, dia langsung ikut suaminya ke Taiwan. Angelina ditinggalkannya bersama ibunya. Meskipun sedih, Sinta tahu kelangsungan hidup keluarganya ada di tangannya. Tiga bulan pertama biasanya menjadi "masa percobaan" bagi pengantin pesanan. Semua penghasilan suami akan ditahan oleh ibu mertua. Paspor dan surat berharga ditahan untuk jaga-jaga agar menantu perempuan ini tidak melarikan diri. Hal ini semata-mata untuk melihat kesungguhan untuk menjadi istri. Sinta cukup beruntung Kai Wei sangat menghormatinya. Meski kaku, Kai Wei selalu memperlakukan Sinta dengan baik. Sinta diminta membantu Lao Ma (ibu mertuanya) untuk bekerja di warung ban tiao milik keluarga Lu. Tidak butuh waktu lama, Sinta dipercayakan untuk menjaga warung itu sendirian. 

Di tangan Sinta warung ban tiao milik keluarga Lu cukup laris. Sinta bisa menyisihkan sedikit uang yang diberikan suaminya untuk dikirimkan kepada keluarganya. Namun kendala muncul ketika Sinta hamil. Tenaganya terkuras habis untuk menjaga warung, sementara di rumah sikap Lao Ma yang keras tidak memperbolehkannya untuk banyak beristirahat. Di sisi lain, Sinta merasa tertekan dengan harapan keluarga suaminya agar nantinya dia melahirkan anak laki-laki. Siapalah dirinya yang bisa menentukan jenis kelamin bayinya?

Ada dua issue utama yang diangkat dalam novel ini. Yang pertama adalah tentang perdagangan perempuan di balik modus pengantin pesanan. Meski sekarang model pernikahan semacam ini sudah jauh berkurang, tapi masih ada saja yang melakukannya. Tidak semua perempuan seberuntung Sinta yang mendapatkan suami yang mau menghargainya. Beberapa perempuan harus pasrah menerima takdir keluarga baru yang belum dikenalnya sama sekali. Belum lagi gegar budaya yang tentu jelas berbeda. Menikah dengan pria asing tidak lantas mengubah status ekonomi, karena terkadang pria yang dinikahi juga bukan berasal dari keluarga kaya. 

Issue kedua adalah kesetaraan gender. Bukan menjadi rahasia bahwa dalam budaya Tiongkok, keberadaan anak laki-laki jauh lebih bernilai daripada anak perempuan. Sinta mengalami hal itu. Sebagai anak perempuan dia selalu diminta bekerja keras, sementara adiknya Aloy sangat dimanja. Akibatnya Aloy tumbuh menjadi sosok pria yang kurang memiliki rasa tanggung jawab. Kebiasaannya berjudi membuat keuangan keluarga semakin sulit, dan Sinta yang harus berusaha mengatasinya. Bukan hanya itu, keluarganya sendiri berantakan karena dia melahirkan anak perempuan. Sekarang, keluarga barunya juga menuntut hal yang sama. Sinta seringkali berharap dia terlahir sebagai anak laki-laki.

Kedua issue tersebut sering diangkat berulang sepanjang novel ini, yang (mungkin) menjadi kelemahan dalam novel ini. Bisa jadi penulis ingin menekankan dua poin penting dari hasil risetnya, tapi bagi saya perulangan itu sedikit mengganggu. Tapi saya menyukai cara penulis menyelesaikan konflik yang dialami Sinta. Cukup adil dan realistis.

Saya sangat penasaran dengan tradisi Pengantin Pesanan ini, sehingga saya mencoba mencari literatur tentang itu. Ada beberapa berita dan jurnal ilmiah yang saya temukan,namun belum semuanya saya baca. Pengantin Pesanan rasanya seperti dua sisi mata uang. Ada untung dan ruginya. Yang pasti, novel ini menjadi sumber ilmu baru bagi saya.

Pengantin Pesanan
Mya Ye
336 halaman
Gramedia Pustaka Utama
November 2018

#548 [Blogtour & Giveaway] Tinderella


Ho...ho...ho.... Christmas is coming! Memasuki bulan Desember, aura natal sudah mulai terasa ya, apalagi kalau ke pusat perbelanjaan. Ada begitu banyak persiapan yang dilakukan oleh orang-orang yang akan merayakan natal. Begitu juga dengan enam orang penulis ternama yang menuliskan kisah-kisah seputar persiapan natal dalam kumpulan cerpen yang diberi judul Tinderella.

1. Tinderella by Stephanie Zen
Rachel masih terpukul dengan berita jadian kedua sahabatnya, Ralph dan Hailey. Seandainya Rachel tidak memendam rasa pada Ralph, tentunya berita itu akan dengan senang hati diterimanya. Sekarang Hailey mengundangnya untuk datang di acara natal, dan Rachel tidak punya pendamping untuk ke sana. Ide gila melibatkan aplikasi Tinder disampaikan oleh sahabatnya, Renata. Rachel menolak mencari pasangan lewat Tinder. Lebih baik dia berpura-pura sakit saja supaya tidak datang ke acara itu. Sayangnya, Rachel benar-benar tertimpa masalah. Dia mengalami kecelakaan sehingga kakinya harus di-gips. Bagaimana kalau pria yang menabraknya menawarkan diri menemaninya ke pesta natal?

2. Mireya - Dharmawati Chen
Pohon natal itu belum juga berdiri. Biasanya Ariella akan memasang pohon natal bersama ibunya dan anaknya, Mireya. Tapi akhir-akhir ini Mire suka marah-marah dan membantah. Satu-satunya orang yang didengar oleh Mire, hanya neneknya. Ariella meminta kepada ibunya untuk berbicara pada Mire. Bagaimana Ariella bisa meninggalkan Mire jika anak itu masih marah padanya?

3. Way Back Into You - Putu Felicia
Semua laki-laki memang tidak setia. Termasuk papanya dan Chris. Itulah sebabnya Lia menolak ketika Chris datang menjemput Lia untuk pulang ke Indonesia dan merayakan natal bersama keluarga. Setelah sekian tahun hidup sendirian di Kyoto, Jepang, Lia sudah bisa menata kembali hidupnya. Hanya saja memaafkan papa dan Chris yang sudah mengkhianatinya bukan perkara gampang. Apalagi ketika Chris mengatakan mau melamarnya dan menikah dengannya. Butuh 999 mawar dan perjalanan ke luar negeri baru Lia mau mempertimbangkan tawaran itu. 

4. Stella Maris - Donna Widjajanto
Jonathan dan Maris telah lama menikah. Sebelum menikah, keduanya sepakat jika mempunyai anak, salah satu dari mereka harus berhenti dari pekerjaannya. Tapi saat ini  Jonathan dan Maris sedang berada di puncak karir, dan keinginan untuk memiliki anak tidak lagi ada dalam agenda mereka. Maris yang seorang dosen, sedang mempersiapkan diri untuk lanjut S3, sementara Jonathan akan mendapatkan promosi. Jika pilihan karir itu membuat keduanya terpisah, apakah Jonathan dan Maris masih mengingat alasan mereka untuk menikah dulu?

5. Cicil Santa - Anjar Anastasia
Tahun ini Cicil ingin meminta kado natal jalan-jalan ke Raja Ampat kepada Sinterklas. Sebenarnya Cicil juga tahu siapa yang menjadi Sinterklasnya. Namun, saat natal semakin dekat, Siwi, sahabatnya tertimpa masalah. Kakak Siwi kecelakaan, dan ayahnya dipecat dari pekerjaannya. Rencana Siwi study tour ke Jawa Timur bisa batal. Siapa yang bisa menjadi sinterklas untuk Siwi? 

6. Notal - Theresia Ann
Mbah Uti selalu saja menyebut kata natal menjadi notal. Ella dan keluarganya sudah maklum dengan kelakuan Mbah Uti yang nyentrik. Termasuk saat Mbah Uti memaksa Ella mengundang pacarnya, James, yang tinggal di luar negeri untuk datang saat Mbah Uti dibabtis natal nanti. Ela sedih, James belum siap untuk bertemu dengan keluarganya. Tapi bukan Mbah Uti kalau dia tidak punya jalan keluarnya. Ella hanya berharap tahun ini ada keajaiban notal.. eh.. natal untuknya. 

***
Melihat sampulnya, sudah pasti bisa ditebak Kumpulan cerpen ini memang hadir untuk memeriahkan natal. Awalnya saya sempat berpikir kumpulan cerpen ini diperuntukkan untuk satu kalangan umur saja. Tapi ternyata isinya lints generasi. Dari anak-anak sampai kakek-nenek. Ide ceritanya juga bervariasi yang disajikan dengan gaya bererita masing-masing penulis. 

Meskipun berlatar belakang natal, bagi yang tidak merayakan natal juga dapat mengambil pelajaran dan pesan moral dari keenam kisah ini. Karena kisah-kisah di dalamnya berisi tentang kerelaan hati, memaafkan, mengampuni, dan pengharapan.

Tinderella
Stephanie Zen dkk
328 halaman


Gramedia Pustaka Utama
November 2018




And now...giveaway time!

 Ada satu eksemplar kumpulan cerpen Tinderella gratis buatmu yang beruntung. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 4-7 Desember 2018. Cara mendapatkan bukunya mudah saja. Cukup jawab pertanyaan berikut ini di kolom komentar:

Jika kamu merayakan natal, persiapan apa saja yang kamu lakukan menyambut natal? Jika tidak merayakan natal, apa persiapanmu menjelang akhir tahun?

Sertakan juga nama, email dan akun media sosialmu (twitter/facebook/instagram). Silakan membagikan informasi tentang blogtour dan giveaway ini ya. Dan jangan lupa mengunjungi blog Toples Aksara  ya.

Good luck!

***
Hai semuanya!! Terima kasih sudah berpartisipasi dalam blogtour dan giveaway ini ya. Ada kabar baik buat kalian, karena saya akan memberikan 2 (dua) buah buku untuk yang beruntung. Dan mereka adalah....

Valdo Gabriel Saragih
Devi Juliyanti

Selamat untuk kalian berdua. Saya akan menghubungi kalian untuk mendapatkan informasi alamat pengiriman. Dan buat yang lain....masih ada kesempatan mendapatkan novel ini di Toples Aksara ya...Go grab it fast!


#547 Purple Prose


"Karma itu seperti asap, Ya. Dia selalu ada di udara, walaupun tidak terlihat. Ketika waktunya tiba, dia akan datang untuk menagih pertanggungjawaban."

Galih bimbang saat atasannya mengatakan bahwa dirinya akan dimutasi ke kantor di Bali. Tujuh tahun yang lalu, dia meninggalkan Bali setelah kematian sahabatnya, Reza. Tapi Galih juga merasa ada masa lalu yang harus diselesaikannya di Bali. Meskipun mamanya melarang, Galih akhirnya setuju bertugas di Bali. 

Sebagai seorang supervisor, tentunya Galih akan memiliki banyak bawahan di kantornya. Salah satunya adalah Roya, seorang gadis pendiam yang sepertinya selalu menjadi sasaran kemarahan rekan-rekannya yang lain. Roya kadang terlihat kikuk, dan selalu meminta maaf. Satu lagi kebiasaan Roya yang dijumpai Galih, gadis itu suka membakar dupa. Roya memang tidak cantik, tapi dialah yang menarik perhatian Galih. Terutama ketika Roya dengan berani mau menolong Galih saat bertemu dengan orang-orang di masa lalunya.

Baik Galih maupun Roya terjebak dalam kungkungan masa lalu. Galih dahulu pernah terjerumus dalam dunia narkoba bersama Reza dan Roy. Narkoba itu pula yang merenggut nyawa Reza, sementara Roy menghilang entah kemana. Sementara Roya tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Tujuh tahun yang lalu, Roya meminta adiknya Kanaya pergi membelikan es campur untuknya. Bukan es campur yang dibawa Kanaya, tetapi luka fisik dan batin akibat diculik dan diperkosa oleh orang yang tidak dikenalnya. 

Saya tidak mempersiapkan diri saat membaca novel ini, tidak memasang ekspektasi apa-apa. Saya memilihnya sebagai bacaan menjelang tidur dari Gramedia Digital. Novel ini kemudian menahan saya dari kantuk, dan dibuat terpana hingga halaman terkahir. Bukan sebuah novel metropop biasa.

Purple prose atau prosa ungu adalah kalimat berlebih yang sering muncul di sebuah buku atau novel. Kalimatnya boros kata, bertele-tele, seakan-akan menarik pehatian pembaca. Galih menggunakan analogi purple prose untuk menggambarkan kondisinya dan Roya yang terjbak dalam kesalahan di masa lalu. Berlembar-lembar kehidupan mereka terus dipenuhi kesalahan itu, membuat mereka tidak bisa memafkan diri sendiri. Perasaan senasib inilah yang membuat Roya akhirnya bisa membuka diri pada Galih. Tapi ketika keduanya mencoba membuka lembaran baru, karma dari masa lalu datang menuntut pertanggungjawaban.

Latar belakang pulau Bali yang masih mempercayai mistis semakin mengentalkan kehadiran karma ini. Beberapa kali Galih merasakan ada kehadiran 'sosok' di sekitarnya. Cara Roya mengusir kegundahan hatinya dengan menyalakan dupa juga membuat suasana mistis semakin terbangun. 

Saya bisa mengatakan novel ini ditulis dengan baik, tertata dalam tempo yang teratur. Satu per satu masa lalu yang mengungkung Galih dan Roya diurai dan diselesaikan. Sebuah plot twist (yang sebenarnya bisa saya tebak) dilemparkan di saat Galih dan Roya menyadari masa lalu mereka berhubungan. Dan kemudian penulis menyajikan penutup yang adil dan realistis. Saya sempat bertanya-tanya mengapa penulis seperti bermain aman tidak ingin melibatkan hukum dalam kasus Galih dan Roya. Tapi saya pun menyadari sebenarnya sanksi sosial sudah lebih dari cukup membuat kedua tokoh ini menderita. Saya percaya dengan karma. Dan novel ini menggambarkan karma itu dengan sangat baik. Ketika kamu bisa belajar dan menemukan nilai kehidupan dalam sebuah novel fiksi, percayalah novel itu layak mendapatkan bintang sempurna.

Purple Prose
Suarcani
304 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Oktober 2018





#546 Kelly on the Move



Sudah dua tahun sejak Kelly Nahm diputuskan sepihak oleh kekasihnya, Bobby. Selama dua tahun itu pula Kelly masih mengikuti gerak-gerik Bobby di media sosial. Kelly bahkan membuat akun palsu untuk itu. Ada perasaaan tidak rela dan ikhlas melihat Bobby yang kini sudah memiliki kekasih dan sedang mempersiapkan pernikahan. Sepuluh tahun Kelly mendampingi Bobby dalam masa sulitnya, sekarang setelah Bobby sukses dengan karirnya justru gadis lain yang dipilihnya? Apa kekurangan Kelly sampai Bobby tidak menjadikannya pendmaping hidup?

Kelly pintar dan hidup mapan. Tidak sekaipun dia menyusahkan Bobby. Di usia 28 tahun, dia sudah menjadi dosen di sebuah universitas swasta. Pekerjaannya inilah yang membantu Kelly agar dunianya tidak berfokus hanya pada patah hatinya. Di kampus, dia memiliki track record  yang bagus. Tidak heran dalam pementasan teater musikal tahunan yang akan diselenggarakan oleh fakultasnya, Kelly ditunjuk sebagai ketua panitia.

Kegiatan ini membawanya berkenalan dengan Assen Hristand. Seorang bintang film yang kini lebih menekuni dunia balik layar sebagai seorang sutradara. Assen diminta oleh Prof. Rengga untuk menggantikan dirinya mengawasi latihan teater. Sebagai ketua panitia, tentunya Kelly harus sering berhadapan dengan Assen. Awalnya Kelly tidak mengenali Assen sebagai seorang public figure. Wajar saja, tontonan Kelly lebih banyak sinema Korea dibandingkan sinema Indonesia. Sikap Kelly yang menganggap Assen bukan seorang yang penting menarik perhatian Assen. Dia bertekad untuk mendekati ibu dosen itu.

Karakter Kelly ini menarik. Mandiri, sukses, dan tegas dalam dunia pekerjaan. Saya suka dengan cara Kelly berinteraksi dengan rekan kerja dan mahasiswanya.Tapi kalau urusan cinta, Kelly seperti pasir yang rapuh. Kelly sulit sekali untuk move on dari masa lalunya. Bahkan dia cenderung menyiksa diri dengan mengikuti semua perkembangan mantannya. Ketika Assen mencoba mendekatinya dengan terang-terangan Kelly menolak. Untungnya Assen tidak mudah menyerah. Kelly sempat membuat saya sebal dengan tingkahnya yang sulit move on, seakan masa depannya berakhir hanya karena putus dari pacarnya. Tapi memang kenyataannya karakter seperti ini bisa kita jumpai di dunia nyata. 

Bagi beberapa orang patah hati tak sesederhana itu. (hlm 224)

Persahabatan Kelly dengan Tere (teman sekamarnya), Cris (pacar Tere sekaligus rekan kerja), Inez (rekan seruangan di kampus) dan Erni (staf administrasi di kampus) menambah kemeriahan dalam novel ini. Banyak adegan lucu yang terjadi ketika mereka berkumpul. Meski begitu, mereka nggak hanya hadir dalam suka saja, saat Kelly terpuruk berkali-kali teman-temannya ini membangkitkan semangat Kelly. 

Profesi Kelly yang seorang dosen mungkin membuat saya lebih merasa 'related' dengan novel ini. Bagaimana Kelly berusaha membangun karirnya meski passion awalnya tidak mengarah ke profesi tersebut. Hanya saja, ibu dosen ini mungkin terlalu ambisius dengan rencana S3-nya yang hanya dua tahun saja. Duh...bakal membuat iri para calon doktor di dunia nyata deh.

Kelly on the Move adalah bacaan saya yang ke-150 di tahun ini, sekaligus merampungkan 2018 Goodreads Reading Challenge. Leganya bisa menyelasaikan tantangan ini.

Kelly on the Move
Seplia
296 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Oktober 2018




#545 Too Cold To Handle


Judul Buku : Too Cold To Handle
Penulis : Sofi Meloni
Halaman : 288
Penerbit : Elex Media Komputindo


Apa salahnya dengan mimpi menikah, menjadi istri, dan punya anak kembar? Nggak ada. Terdengar aneh memang di jaman milenial sekarang jika seorang perempuan muda dengan peluang berkarir punya mimpi seperti itu. Tapi bagi Cantika, mimpinya itu harus bisa terwujud bersama seseorang. Gunawan, cinta pertamanya yang akhirnya bisa ditemukannya kembali.

Tika pun mendesak kedua orang tuanya dan ayahnya Gun agar diberi kesempatan berkenalan lebih dekat dengan Gun. Tika sampai bela-belain pindah ke apartemen di gedung yang sama dengan apartemen Gun. Tika meminta kunci apartemen Gun agar dia bisa sering datang mengunjungi Gun. Sayangnya, cinta ini sepertinya hanya sepihak saja. Gun yang dingin seolah-olah tidak memiliki perasaan apa-apa. Tika tidak putus asa, dia melakukan apa saja untuk empat bulan masa perkenalan sebelum perjodohan mereka ditentukan. Empat bulan untuk menaklukkan hati Gun.

Novel ini judulnya Too Cold To Handle, tapi kenapa pas bacanya bikin hati jadi hangat ya?

Perkembangan karakter Tika dalam novel ini digambarkan dengan jelas dan baik. Tika yang awalnya hanya berfokus pada diri dan keinginannya sendiri, mengabaikan pekerjaan yang didapatkannya dari koneksi ayahnya, akhirnya bisa menjadi sosok yang berubah. Membaca perjuangan Tika mengejar cintanya ini membuat hati menjadi hangat. Saya bisa ikut sedih dengan penolakan dan kekakuan Gun, meski kadang bergumam 'duh...Tika kok kamu nggak nyadar juga sih?'. Salut sama Tika yang memiliki cinta begitu besar untuk Gun. Keberadaan Sarah, sahabat Tika, dengan problemanya juga menambah bumbu kisah novel ini. Sedikit banyak kehadiran Sarah membuat perkembangan karakter Tika menjadi berarti. 

Tapi cowok kayak Gun memang menggemaskan ya? Dengan hanya menggunakan POV orang pertama (Tika), misteriusnya Gun makin terasa. Penulisnya ini memang kayaknya sengaja bikin pembaca makin gregetan sama Gun. Dengan segala perhatian yang diberikan oleh Tika, hati Gun yang terbuat oleh es rasanya tak tersentuh.

Tentu saja ada klimaksnya dan membuat akhirnya Tika menyadari kekeliruannya menyandera Gun dalam segala perhatiannya. Dan saat Tika mulai melepaskan Gun, mengapa justru dia semakin sulit move on karena perlakuan Gun pada dirinya? Hehe....penasaran kan? Baca novel ini segara dan biarkan hatimu menghangat.

Ditunggu karya berikutnya ya, mbak Sofi.... :)


#544 The Kiss Quotient



Judul Buku : The Kiss Quotient
Penulis : Helen Hoang
Penerbit : Corvus (Kindle Edition)
Halaman : 336

Saya sedang kehilangan hasrat membaca setelah melewati rangkaian kegiatan di kampus yang menguras fisik dan waktu. Saat saya menuliskan kondisi ini di twitter, seorang teman merekomendasikan buku ini. Katanya ini buku kipas tapi romance-nya bagus. Kebetulan nemu ebooknya di Google Play hanya 30rb-an saja, saya langsung beli dan baca.

Stella seorang ahli ekonomi yang sangat ahli dalam algoritma, namun "parah" dalam bercinta. Ibunya sudah mendesaknya untuk segera berkeluarga dan memiliki anak. Masalahnya sebagai seorang yang memiliki sindrom Asperger, Stella sulit untuk bersosialisasi. Dia pernah punya kekasih, namun begitu sampai di urusan "kamar tidur", Stella menjadi sosok yang kaku. Untuk itu, dia menyewa seorang escort untuk melatihnya dalam urusan romansa.

Michael menerima pekerjaan sebagai escort untuk membantunya melunasi biaya pengobatan ibunya yang terkena kanker. Sejak ditinggalkan oleh ayahnya, Michael mengambil alih menjadi tulang punggung keluarga. Dikaruniai tubuh dan wajah yang memikat, membuat Michael mudah untuk disukai. Michael sendiri selalu memasang batas untuk kliennya agar tidak terlibat lebih jauh. Tetapi dengan Stella semua aturan terpaksa dilanggar.

Sebuah media menyebutkan novel ini adalah kombinasi dari 50 Shades of Grey, Pretty Woman dan Crazy Rich Asians. Michael memang memiliki darah Vietnam, dan budaya Vietnam juga masih kental di dalam lingkungan keluarganya. Sementara itu, romantika antara Stella dan Michael ini memang "hot". Beberapa adegan versi kipas dituliskan secara eksplisit. Terutama karena Stella sebagai "pemula dalam urusan bercinta" mendapatkan banyak pelajaran dari Michael.  Di sisi lain, Michael yang kaya pengalaman ternyata menemukan dirinya tidak bisa melepaskan Stella. 

Helen Hoang, penulisnya juga didiagnosa mengalami Autism Spectrum Disorder. Hal ini pula yang menginspirasinya dalam menulis novel The Kiss Quotient. Melalui novel ini, kita bisa melihat bagaimana Stella berusaha menemukan zona nyaman dalam berhubungan dengan orang asing diantara ketidaknyamanan yang dirasakannya sebagai seorang Asperger. Itu menjadi poin plus dalam novel ini. 

The Kiss Quotient masuk dalam nominasi awal Goodreads Choice Award 2018 untuk kategori Romance dan Debut Author. Tentu saja saya memilih buku ini untuk GCA 2018. The Kiss Quotient ini juga rencananya akan diadaptasi menjadi film. Mungkin ingin mengikuti jejak sukses To All The Boys I've Loved Before dan Crazy Rich Asians.


#543 Tiba Sebelum Berangkat


Judul Buku : Tiba Sebelum Berangkat
Penulis : Faisal Oddang
Halaman : 212
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia


Kata "bissu" pada sinopsis novel ini membuat saya tergerak untuk segera memiliki karya Faisal Oddang. Sempat tersimpan cukup lama, karena saya mencari waktu yang tepat untuk membacanya. Saya pernah membaca sebuah review tentang buku ini yang mengatakan bahwa sekali membaca halaman pertama, tidak bisa melepaskan novel ini sampai halaman terakhir. Dan memang itu yang terjadi.

Novel ini berkisah tentang Mapata dan perjalanannya menjadi bissu. Bissu merupakan gender kelima yang ada dalam kepercayaan Bugis. Bissu bukan laki-laki atau perempuan. Bissu dihadirkan sebagai penengah, pengisi kekosongan, dan penyambung lidah antara manusia dan Dewata. Mapata menjadi bissu setelah tinggal beberapa waktu menjadi toboto di arajeng (rumah) Puang Matua Rusmi, seorang pemimpin bissu  di kampungnya di Wajo. Selama tinggal bersama Puang Matua Rusmi, Mapata belajar banyak hal. Meski ada kabar miring yang beredar bahwa menjadi toboto berarti melayani semua kebutuhan, bahkan bisa "dipakai" oleh Puang Matua Rusmi, Mapata tidak gentar. Dia tetap setia melayani Puang Matua Rusmi. Entah bagaimana, Mapata meyakini bahwa dirinya nanti akan menjadi bissu juga. Mungkin inilah alasan mengapa judul novel ini Tiba Sebelum Berangkat. Frase ini merupakan pepatah dalam bahasa Bugis yang artinya kurang lebih mengetahui tujuan akhir sebelum memulai sesuatu. 

Yang menarik adalah karena Mapata menceritakan kembali tentang dirinya itu dalam keadaan habis disiksa. Lidahnya terpotong, luka-luka di sekujur tubuhnya. Bagi Mapata yang terpenting adalah akal dan ingatannya. Karena tak seorang pun bisa mencuri ingatan.  Mapata menuliskan kisahnya itupun atas paksaan Ali Baba, seorang dari kumpulan pembela agama yang diakui Indonesia. Mereka bertugas merazia para penganut kepercayaan yang tidak mau mengkuti agama resmi negara. Dalam kisahnya, Mapata menuturkan tentang kondisi politik yang terjadi di Sulawesi Selatan pasca Indonesia merdeka. Waktu itu bissu dipaksa untuk bertobat, dan mengucapkan kalimat syahadat. Perang antara kelompok gurilla, TII, KNIL dan sekutu lainnya berkecamuk membuat kumpulan bissu terpecah.

Suatu naskah fiksi yang berlatar historikal yang membuat pembaca bertanya-tanya benarkah ini yang sesungguhnya terjadi adalah naskah yang bagus. Meski penulis mengeaskan bahwa novel ini murni fiksi, saya yakin riset yang mendalam dilakukan oleh beliau dalam merangkai peristiwa demi peristiwa. Tidak heran jika novel ini masuk dalam 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2018 bersanding dengan sejumlah karya sastra lainnya. Namun mungkin saya perlu memberikan peringatan sebelum membaca novel ini, lapangkan pikiran, buka hati. Isi novel yang vulgar dan brutal mungkin tidak cocok dibaca sambil memakan sesuatu. Percayalah.

Ohya, saya sempat bertanya-tanya mengapa pada gambar sampulnya ada gambar kucing? Ternyata dalam novel ini dijelaskan kalau kucing dianggap hewan yang mulia di suku Bugis. Satu kekaguman saya pada penulis adalah konsistensinya mengangkat budaya Sulawesi Selatan dalam bentuk fiksi. Cara yang mudah menjangkau anak muda agar tidak melupakan sejarahnya, khususnya anak muda di Sulawesi Selatan. 


#542 Little Fires Everywhere


Judul Buku : Little Fires Everywhere
Penulis : Celeste Ng
Halaman : 368
Penerbit : Spring

When we try to turn a concept as huge and multifaceted as motherhood into an ideal, we lose sight of all the complexities of what being a mother actually means. (Celeste Ng)

Sejarah dan takdir menggariskan ketika perempuan dilahirkan, suatu saat nanti akan ia menjadi ibu, bagaimana pun caranya. Saat seorang perempuan kemudian memilih tidak menjadi ibu, muncullah penghakiman. Bahkan saat seorang perempuan memutuskan menjadi ibu, tetap ada persoalan. Cara mengandung, cara melahirkan, cara menyusui, cara membesarkan anak, cara mendidik anak semuanya menjadi bahan perdebatan. Welcome to motherhood world!

Perihal keibuan ini Celeste Ng angkat  lewat novel-nya, Little Fires Everywhere. Novel yang akan menghadirkan beberapa perempuan dan pilihannya dalam menjalani status keibuan
Ada Elena Richardson. Ia tumbuh dan besar di sebuah kota bernama Shaker Heights di negara bagian Ohio. Elena gambaran perempuan Shaker Heights ideal. Wanita karier yang mapan, memiliki suami seorang pengacara, rumah besar, dan tentunya keteraturan hidup. Elena menjalani kehidupan yang tertata dan disiplin. Menimbang badan sekali seminggu, sarapan dengan satu setengah gelas sereal, dan melahirkan anak-anak dengan jeda waktu yang teratur. Dia punya rencana dan meyakininya. 
Kelahiran anak bungsunya, Isabelle, bak duri dalam daging bagi Elena. Tidak ada keteraturan ada dalam diri Izzy – nama panggilan si anak bungsu. Izzy pemberontak yang selalu dianggap melakukan kesalahan di mata ibunya. Ketika rumah mereka terbakar habis pada suatu musim panas, Elena yakin Izzy pelakunya. 

Di  Shaker Heights ada rencana untuk segalanya… Filosofi dasarnya adalah segalanya bisa –dan seharusnya-direncanakan, dan dengan melakukan itu maka kita bisa menghindari hal yang tidak patut, tidak menyenangkan dan bencana” (hlm. 17)

Lalu, ada Mia Warren.  Ia seorang seniman fotografi dan bersama putrinya, Pearl, hidup berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk mencari inspirasi baru. Semasa muda, Mia memutuskan untuk menjadi surrogate mother (seorang ibu yang melahirkan anak untuk perempuan lainnya, baik itu menggunakan sel telur dari si ibu ataupun impantasi sel telur perempuan lain yang telah dibuahi pada rahimnya), demi membiayai mimpinya menjadi seorang seniman. 

Mia sosok ibu yang mencerminkan kebebasan sekaligus kemandirian. Saat tiba di Shaker Heights, Mia bekerja sambilan untuk sekadar mendapatkan uang demi menghidupi dirinya dan Pearl. Ia bahkan bekerja menjadi pramuwisma di rumah keluarga Richardson hanya agar tidak ada permusuhan antara dirinya dan induk semangnya, Elena. Mia tahu Elena ingin menunjukkan superioritas atas dirinya. Setidaknya masalah uang sewa apartemen  bisa teratasi sekaligus Mia dapat mengawasi Pearl yang semakin akrab dengan anak-anak Richardson.

Ada juga Bebe Chow. Ia imigran dari Kanton, Tiongkok dan datang ke Amerika mengikuti kekasihnya. Sayangnya, ketika dia hamil, kekasihnya meninggalkannya. Bebe memutuskan mempertahankan kandungannya dengan bekerja sebagai pelayan. Kelahiran sang bayi membuat Bebe tidak bisa mencukupi kebutuhan mereka berdua. Dalam keadaan capek luar biasa dan melihat si kecil tidak mau menyusu, Bebe memutuskan untuk menitipkan bayinya di depan gedung pemadam kebakaran. Ia menyertakan pesan agar seseorang mau merawat sang bayi yang diberi nama May Ling. Ini sulit tapi tidak ada jalan lain bagi Bebe. 

May Ling diadopsi oleh keluarga McCullough dan diberi nama Mirabelle. Linda McCullough seorang wanita yang putus asa untuk mendapatkan bayi dari rahimnya sendiri. Setiap kali dia mengandung, bayinya akan keluar sebelum mencapai waktunya. Kehadiran Mirabelle bagai oasis yang menyegarkan kekeringan hatinya. Linda menyadari anaknya yang berasal dari ras China-Amerika perlu terhubung dengan latar belakang keluarga asalnya dari Tiongkok. 

Sementara Elena berkutat dengan kesempurnaan, putrinya, Lexie, memutuskan untuk tidak menjadi ibu karena tidak ingin terlibat masalah besar. Sayangnya Lexie menyelesaikan masalahnya dengan melemparkannya kepada Pearl. Ketika tanpa sengaja Elena menemukan catatan aborsi Pearl ketika berada di sebuah klinik, Elena merasa memiliki bahan bakar untuk menyalakan api yang lebih besar untuk Mia.  

“Apa yang menjadikan seseorang seorang ibu? Apa itu berdasarkan biologi, ataukah kasih sayang?” (hlm. 282)

Elena dan Mia adalah dua kutub yang bertolak belakang. Elena penuh keteraturan, sedangkan Mia memilih berpihak pada kebebasan. Di sisi seberang Bebe dan Linda bagaikan dua ibu di hadapan Raja Salomo yang berebut hak atas seorang anak. Bebe merasa layak sebagai ibu karena melahirkan, sedangkan Linda menganggap kasih sayangnya yang begitu besar memampukannya menjadi ibu bagi Mirabelle. 

Penulis ingin menampilkan banyak masalah tentang motherhood; bagaimana motherhood  diciptakan, bagaimana menjadi seorang ibu, bagaimana hal itu dipertahankan, dan bagaimana seorang ibu menjadi keras terhadap ibu lainnya. Para ibu saling menghakimi, dan menuntut standar kesempurnaan. Hingga akhirnya api-api kecil menjadi besar dan membakar habis kesempurnaan yang diunggulkan Shaker Heights.  Bukankah ini yang sering kita saksikan sehari-hari? Saling hakim terjadi antara ibu karier dan ibu rumahan,antara  ibu yang melahirkan normal dan ibu yang melahirkan caesar, antara ibu yang eksklusif memberi ASI dan susu formula. Tidak ada habis-habisnya. Setiap ibu ingin melindungi anaknya sekaligus nilai-nilainya sendiri.

 “Bagi orangtua, anak bukan sekadar seseorang: anak adalah tempat, semacam Narnia, alam abadi luas tempatmu menetap masa sekarang, masa lalu yang kau kenang, dan masa depan yang kau inginkan ada sekaligus.” (hlm. 136.)

Celeste Ng sendiri juga seorang ibu. Naluri keibuannya pula yang membuatnya terlibat dalam sebuah kontroversi rasisme di media sosial beberapa waktu lalu. Karya debutnya “Everything I Never Told You” mengangkat masalah rasisme dengan tokoh seorang Asia-Amerika seperti dirinya. Dalam sebuah cuitannya di akun twitter miliknya (@pronounced_ing) di tahun 2015, ia menuliskan bahwa dia jarang menemukan lelaki asia atraktif. Suami Celeste Ng adalah seorang kulit putih, sehingga hal ini mengundang reaksi negatif dari beberapa pihak, khususnya lelaki Asia, yang menganggap Celeste Ng rasis dan membuat stereotip bahwa orang Asia tidak menarik. 

Salah satu reaksi itu berasal dari seseorang yang bernama Brandon Ho. Dalam surat yang dikirimkannya lewat website pribadi Celeste Ng, Brandon menuliskan bahwa dia ingin melihat anak Celeste bertumbuh dan berpikir bahwa ibunya menganggap dia jelek. Celeste Ng menanggapi surat Brandon dengan menyebutkan bahwa ada beberapa lelaki asal Asia yang melecehkan feminis Asia hanya karena menikah dengan ras lain. Itu seperti misogyny yang bersembunyi di balik topeng anti rasisme. Kasus ini merebak dan ditanggapi oleh beberapa media, seperti Kulture (sebuah media Asia) yang menyayangkan tanggapan Celeste yang menyudutkan satu ras tertentu. Celeste Ng yang menikah dengan seorang pria Amerika dan tinggal di Amerika dianggap mempunyai kekuatan mempengaruhi pembaca kulit putih lainnya dalam stereotip ini. Kontroversi Celeste Ng terkait rasisme, pelecehan dan misogyny ini seperti api-api kecil yang membesar dan membakar media sosial. 

“Semua orang memandang ras, Lex”, bantah Moody. “Satu-satunya perbedaan adalah siapa yang berpura-pura tidak melakukannya”. (hlm. 52)

Pada akhirnya di tahun 20186, Celeste Ng meminta maaf atas pernyataannya tentang lelaki Asia itu. Walaupun demikian,  sebagai keturunan China-Amerika, Celeste Ng mengatakan bahwa dia akan selalu menulis tentang rasisme. Sebagai seorang non-white person, masalah tersebut selalu muncul dalam pikirannya. Hal ini memang terasa dalam dua karya Celeste. Meskipun tokoh utama dalam Little Fires Everywhere bukan seorang China-Amerika, hubungan antar ras juga menjadi isu penting dalam novel ini. Pada masa pemerintahan Donald Trump di tahun 2018, banyak kebijakan yang akan mempengaruhi orang dengan kulit berwarna yang tinggal di Amerika. Celeste berkata sudah menjadi tanggung jawabnya untuk mendukung perjuangan ras dari kulit berwarna lewat karya-karyanya. 

"These little fires have been burning for a very long time and now they have grown into a giant fire that we have to work together to put out." (Celeste Ng)


Tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Ruang dengan judul Api Kecil yang Membakar Status Keibuan