~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Qanita. Show all posts
Showing posts with label Qanita. Show all posts

#328 The Nine Lessons


Judul Buku : The Nine Lessons
Penulis : Kevin Alan Milne
Halaman : 323
Penerbit : Qanita 

August Witte dan Erin Witte telah menikah selama 7 tahun. Selama itu pula mereka (lebih tepatnya August) menunda untuk memiliki anak. Betapa terkejutnya August ketika suatu hari Erin menunjukkan sebuah testpack yang menandakan kehamilannya. Pernikahannya terancam retak karena kehamilan Erin.

#103 The Girl Who Kicked The Hornet's Nest


Judul Buku : The Girl Who Kicked The Hornet's Nest
Penulis : Stieg Larsson
Halaman : 984
Penerbit : Qanita

Buku ketiga dari Series Millenium ini benar-benar memuaskan. Kalau di buku pertama bertemakan ekonomi, buku kedua mengambil segmen matematika, maka di buku ketiga bernuansa politik.  Di sini, baik Lisbeth maupun Mikael mendapatkan porsi yang sama. Seperti judulnya, si gadis alias Lisbeth benar-benar mengusik sarang lebah yang dalam hal ini adalah Seksi Analisis Khusus.

Di akhir buku kedua, The Girl Who Played With Fire, Lisbeth mengalami sejumlah luka tembak. Tapi yang terparah adalah peluru yang menembus tengkoraknya dan terperangkap di antara otaknya. Tim dokter yang menolongnya berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan Lisbeth, termasuk juga fungsi otaknya. Hasilnya,  Lisbeth tidak kehilangan kemampuan khususnya kecuali dalam hal analisis matematika. Masalah berikutnya yang harus dihadapi oleh Lisbeth adalah pengadilan terhadap beberapa tuntutan kejahatan.

Ayahnya, Zalachenko, yang sempat mengalami luka parah akibat tebasan kampak oleh Lisbeth juga selamat. bahkan ayahnya mengalami kesembuhan yang lebih cepat dibandingkan Lisbeth. Sayangnya, "para lebah" tidak lagi bisa melindungi mantan agen Rusia tersebut. Zalechenko dibunuh di rumah sakit tempatnya dirawat. Pembunuhnya, Evett Gullberg adalah pimpinan Seksi Analisis Khusus, juga tewas karena kanker setelelah sukses membunuh Zalachenko.

Sekali lagi saya dibuat jatuh suka pada tokoh Lisbeth. Hanya dengan berbekal PDA, dia mampu mengumpulkan data untuk pembelaan dirinya, padahal dia sedang dirawat di rumah sakit dalam penjagaan khusus (diisolasi). Tentu saja dia dibantu oleh teman-temannya di Republik Hacker. Dengan gadget tersebut juga, dia mampu berhubungan dengan Mikael yang fokus untuk membuktikan bahwa Lisbeth tidak bersalah, sekaligus membongkar aib di pemerintahan. Yang menarik, Lisbeth bahkan sempat-sempatnya membantu Erika mengatasi masalah di tempat kerjanya. Hebat!!

Dari ketiga buku dalam series Millenium, bisa saya katakan buku ini yang paling padat, penuh konflik, dan super rame (tokoh-tokohnya banyak beneerr...). Dan ohya, gaya Don Juan-nya Mikael kembali lagi di sini, sudah gitu affair-nya dengan salah satu tokoh penting yang membantu dia dalam mengungkap kasus Lisbeth :mrgreen:



#100 The Girl Who Played With Fire


Judul Buku : The Girl Who Played With Fire
Pengarang : Stieg Larsson
Halaman : 904
Penerbit : Qanita

Butuh waktu cukup lama bagi saya semenjak menyelesaikan buku #1 dari serial Millenium ini untuk kemudian melanjutkannya di buku #2. Alasan pertama karena ketiga buku dalam trilogi Millenium ini tergolong buku seksi dengan ketebalan di atas 500 halaman. Alasan kedua karena ada banyak buku lain yang menggoda untuk dibaca duluan :) Berhubung saya akan pindah ke Jogja untuk dua tahun ke depan dan malas membawa buku-buku tebal, akhirnya saya memutuskan untuk read-a-thon dua buku tersisa dari trilogi Millenium.

Dari judulnya saja, saya sudah bisa menebak kalau buku ini akan bercerita tentang Lisbeth Salander. Berbeda dengan buku pertama yang fokusnya lebih kepada Mikael Blomkvist, kali ini porsi Lisbeth jauh lebih banyak. Pada buku kedua ini, kita seakan membaca biografinya Lisbeth. Siapa dia, asal-usul keluarganya, dan mengapa dia memilih jalan hidupnya yang nyentrik itu. Menarik sekali buat saya yang sudah menyukai Lisbeth sejak di buku pertama.

Cerita Lisbeth dibuka dengan kisah seorang gadis berusia 13 tahun yang dikurung di tempat gelap, dan diikat di sebuah ranjang. Seorang pria datang mengawasinya, tapi gadis ini malah menendang pria itu yang mengakibatkan kakinya yang tadinya tak terikat akhirnya diikat juga di ranjang tempatnya dibaringkan. Satu-satunya hal yang membuatnya melupakan hal yang dialaminya saat itu adalah pikiran dimana dia melemparkan bom molotov api ke sebuah mobil, dan penumpang di dalamnya ikut terbakar. Jauh di halaman berikutnya kemudian terungkap bahwa gadis yang terikat itu adalah Lisbeth.

Mikael sudah setahun lebih tidak berjumpa dengan Lisbeth. Sejak kejadian Wennerström yang melibatkan dirinya dan Lisbeth berakhir, Lisbeth memutuskan semua hubungan dengan dirinya. Lisbeth sendiri menggunakan waktunya untuk keliling dunia. Berbekal dana selundupan dari rekening Wennerström, Lisbeth menikmati perjalanannya. Sepulangnya dari liburan, Lisbeth mulai menata hidupnya. Dia membeli apartemen mahal dan mengisinya dengan perabotan yang mahal pula. Dia pun mencari tahu apa yang sementara dikerjakan oleh Mikael. Tentu saja dengan kemampuan hacker-nya yang canggih sehingga dia tidak perlu bertemu dengan Mikael yang sudah membuatnya patah hati. Lisbeth menemukan kasus yang ditangani oleh majalah Millenium membuatnya tertarik. Apalagi ketika dia menemukan nama seseorang di sana. ZALA.

Putus asa karena ditinggal Lisbeth, Mikael kembali fokus pada majalah Millenium yang dikelolanya. Kali ini majalah Millenium akan menerbitkan edisi khusus mengenai sex trade ilegal yang terjadi di Swedia. Ada dua orang jurnalis yang meneliti mengenai hal tersebut dan menginginkan Millenium menerbitkan tulisan mereka. Dua jurnalis ini adalah Mia Johansson dan Dag Svensson, kebetulan adalah sepasang kekasih. Ketika tulisan itu siap untuk diterbitkan, tiba-tiba kedua jurnalis tadi dibunuh. Bersamaan dengan itu seorang pengacara (wali Lisbeth Salander) juga mati tertembak. Tuduhan pembunuhan kemudian diarahkan kepada Lisbeth Salander karena ditemukannya sidik jari gadis itu di senjata yang digunakan untuk membunuh ketiga orang tadi. Kepolisian Swedia mulai melakukan pencarian dan investigasi atas diri Lisbeth Salander. Kru Millenium juga melakukannya demi dua jurnalis yang bekerja pada mereka. Tetapi Mikael melakukan penyelidikan ini sekaligus mencari dimana Lisbeth Salander karena dia yakin Lisbeth tidak bersalah.

Kekaguman saya pada Lisbeth semakin bertambah. Di saat orang-orang sibuk mengumpulkan barang bukti dan data-data tentang dirinya, Lisbeth sendiri sudah beberapa langkah di depan mereka. Lisbeth sendiri mengejar orang yang bernama Zala yang dia yakini ada peranannya di balik semuanya. Lisbeth juga meyakini bahwa Zala tidak bekerja sendiri. Ada kekuatan besar yang ikut mendukungnya. Kekuatan yang melibatkan aparat kepolisian Swedia.

Saat membaca buku ini bagian yang paling saya sukai adalah bagian dimana Lisbeth dan Mikael berkomunikasi lewat file-file di laptop milik Mikael. Ketika Mikael menanyakan apakah Lisbeth bersalah atas ketiga pembunuhan tersebut, Lisbeth hanya mengatakan bahwa dia tidak sepenuhnya tidak bersalah.
" Tidak ada orang yang tidak bersalah. Yang ada hanyalah perbedaan derajat tanggung jawab"
 Berbeda dengan buku pertama yang diwarnai istilah-istilah ekonomi, di buku kedua ini Lisbeth membawa kita memahami persamaan-persamaan matematika. Walaupun Lisbeth tidak menyelesaikan pendidikan formalnya, kemampuan analisis matematika-nya sangat mengagumkan. Padukan itu dengan kemampuan pikiran fotografis-nya, Lisbeth benar-benar menyita perhatian saya. Sedikit bocoran dari saya, jangan mengharapkan penyelesaian di akhir buku ini. Justru di bagian akhir itu ada banyak hal yang terungkap dan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru. Rasanya tidak sabar untuk segera melanjutkan ke buku #3.



#69 Pride and Prejudice


Judul Buku : Pride and Prejudice
Penulis : Jane Austen
Halaman : 588
Penerbit : Qanita 


Pertama kali mengetahui kisah ini adalah waktu menonton DVDnya di rumah sepupu saya. Masih belum ngeh kalau kisah ini termasuk salah satu kisah roman populernya Jane Austen. Saya memilih untuk menonton DVDnya karena suka dengan cover DVD yang romatis habis. Tapi alih-alih romantis, saya dan sepupu malah ketiduran saat menontonnya karena filmnya membosankan. :)

Baru sejak bergabung dengan BBI, saya baru sadar bahwa Pride and Prejudice termasuk dalam novel roman klasik. Banyak teman-teman yang membicarakannya, tapi saya tidak begitu tertarik karena filmnya saja tidak bagus. Tapi kemudian setelah membaca beberapa novel klasik, saya jadi penasaran dengan novel Pride and Prejudice. Beruntung salah seorang mahasiswa saya mau meminjamkan bukunya ke saya. Akhirnya, hari ini, setelah lama dicuekin di rak buku, Pride and Prejudice menemani saya saat saya terbaring sakit karena demam :)

Mr. Bennet dan Mrs. Bennet mempunyai lima orang anak gadis (Jane, Lizzy, Mary, Kitty dan Lydia) yang cantik tapi belum menikah. Berhubung mereka bukan keluarga yang kaya dan tak satupun dari anak gadisnya itu yang akan mewarisi rumah dan tanah yang mereka tempati, Mrs. Bennet merasa perlu untuk mencarikan pasangan untuk anak-anaknya. Tentu saja dia haruslah pria yang kaya dan terhormat. Ketika desa mereka didatangi oleh seorang pemuda kaya, Mr. Bingley, Mrs. Bennet segera menyuruh suaminya untuk menemui pria tersebut. Singkat cerita, usaha mereka berbuah manis. Mr. Bingley memang menyukai Miss Bennet yang sulung (Jane).

Ternyata Mr. Bingley tidak datang sendiri. Dia ditemani adik perempuannya Miss Bingley, dan sahabatnya Mr. Darcy. Sayang sekali watak dan perilaku Mr. Darcy sangat jauh berbeda dengan Mr. Bingley yang ramah. Dia angkuh, sombong, dan menganggap rendah gadis-gadis Bennet. Lizzy adalah orang pertama yang menyatakan ketidak sukaannya terhadap Mr. Darcy, karena Mr. Darcy tidak mengajaknya berdansa, padahal dia berada tidak jauh dari Mr. Darcy sepanjang malam.

Seterusnya, kisah ini berlanjut dengan upaya keras Mrs. Bennet menjodohkan anaknya Jane dengan Mr. Bingley. Segala cara dilakukan Mr. Bennet bahkan menyuruh anaknya berhujan-hujan berkuda ke rumah Mr. Bingley, hanya agar anaknya sakit dan tinggal di rumah itu. Dooh... ibu ini, saking silaunya sama kekayaan Mr. Bingley malah mengorbankan anaknya. Untungnya Jane juga menyukai Mr. Bingley, jadi dia tidak mengeluh soal itu.

Sebenarnya kisah dalam buku ini ditujukan untuk Lizzy dan Mr. Darcy (seperti yang tertulis di ringkasan pada cover belakang buku). Tapi kisah antara Mr.Darcy dan Lizzy sendiri tidak banyak.  Tapi entah kenapa, saya cukup bersabar membaca cerita ini hingga sampai ke halaman tengah dimana Mr. Darcy dengan pedenya menyatakan cintanya pada Lizzy, tapi malah ditolak Lizzy. Lizzy sendiri menolaknya karena mendengar hal-hal buruk (dan tentu menyaksikan langsung perangai yang angkuh) dari Mr. Darcy.
"Sejak awal, perangaimu, keangkuhanmu, sikap acuh tak acuhmu, jadi landasan kebencianku padamu. Belum sebulan mengenalmu, aku sudah tahu bahwa kau adalah pria yang takkan mungkin kunikahi."
 Lalu dimana letak romantismenya? Menurut saya romatismenya adalah ketika Lizzy menyadari bahwa pandangannya terhadap Mr. Darcy salah, dan diam-diam dia berharap Mr. Darcy akan melamarnya sekali lagi. Walaupun bertemu berkali-kali, tapi Mr. Darcy tidak juga melakukannya. Ketika Lizzy tahu bahwa Mr. Darcy diam-diam banyak melakukan kebaikan pada keluarganya, Lizzy makin nelangsa.

Dari beberapa review teman-teman, banyak yang menceritakan kebosanan membaca buku ini. Tapi anehnya saya malah menikmati buku ini. Yah... ada beberapa adegan yang terkesan dilebih-lebihkan, juga surat-surat yang berbelit-belit dengan kata-kata indah. Dan, ohya, kurangnya porsi antara Lizzy dan Mr. Darcy juga membuat saya mengurangi porsi bintangnya.

Don't judge a book by it's movie. Pepatah ini cocok buat pengalaman saya dengan Pride and Prejudice. Ternyata membaca bukunya memang lebih asyik dibandingkan menonton filmnya. Mungkin karena waktu itu saya tidak tahu apa-apa soal kisah roman ini. Dan sekarang setelah membaca bukunya saya malah jadi pengen nonton filmnya lagi.



#60 The Girl With The Dragon Tattoo


Judul Buku : The Girl With The Dragon Tattoo
Penulis : Stieg Larsson
Halaman : 783
Penerbit : Qanita


Saya sudah lama memasukkan buku ini dalam TBR saya. Tapi ga pernah dibaca karena bukunya yang berbentuk ebook plus berbahasa Inggris pula. Lihat halamannya yang sampai ratusan semakin mengurungkan niat saya. Padahal saya dapat ebook lengkap triloginya lho. Dan ketika Mizan grup mengeluarkan daftar buku yang didiskon sampai 40%, saya langsung membeli triloginya *kalap*. Tapi begitu bukunya datang, ga langsung dibaca juga. Keburu dibaca duluan sama suami :)

Hingga akhirnya kesampaian juga saya membaca buku ini. Halaman pertama sangaaaat membosankan. Dialog antara dua orang tentang segala istilah perekonomian di Negara Swedia sana membuat saya tambah pusing. Belum lagi nama-namanya yang sulit dilafalkan, dan ada begitu banyak nama. Sempat saya tinggalkan dan membaca buku lain yang lebih tipis. Tapi mau tidak mau buku ini harus saya bereskan.

Kali ini saya tidak akan mereview isi ceritanya. Silahkan baca di sini, sini, dan sini untuk mengetahui jalan ceritanya. Lagipula filmnya sudah banyak yang nonton, walaupun saya sendiri belum nonton. Kali ini saya akan mengulas bintang demi bintang yang saya berikan untuk buku gadis bertatto ini.

Bintang pertama untuk Lisbeth Salander, tokoh utama dari Trilogi Millenium. Tidak bisa saya pungkiri bahwa karena saya sangat penasaran dengan karakter “canggih” ini makanya saya nekat membeli 3 buku sekaligus. Lisbeth digambarkan sebagai gadis berpenampilan nyentrik, dengan banyak tattoo dan dua tindikan di tubuhnya. Kemampuannya sebagai hacker sangat menakjubkan. Belum lagi ingatan fotografisnya. Saya suka dengan adegan dimana dia menjebak pengacara/walinya yang sudah menganiaya dia secara seksual. Kemudian ketika dia menyamar sebagai asisten Wennerström, dengan tampil sebagai wanita pirang, kaya, dan seksi.  Cerdas dan tidak terduga. Menurut saya Lisbeth selalu satu langkah di depan Blomkvist.

Bintang kedua untuk Blomkvist. Agak-agak ga rela sih ngasih bintang buat Mikael Blomkvist ini, karena dia mau tidur dengan perempuan mana saja yang mengajaknya tidur bersama. Tapi kejeliannya menyelesaikan kasus Harriet Vanger membuat saya merelakan satu bintang untuknya. Kok bisa sih dia tahu bahwa Harriet masih hidup? *spoiler detected*

Bintang ketiga untuk plot ceritanya yang mengangkat tentang kekerasan seksual pada wanita Swedia. Suatu topik yang masih dianggap tabu untuk dibicarakan. Tetapi penulis berhasil meramunya sedemikian rupa, sehingga alur ceritanya bisa diikuti. Memang sih adegan-adegan kekerasan banyak bertaburan di buku ini, sadis malahan.

Bintang keempat untuk ketekunan sang penulis menceritakan segala macam detail di buku ini. Seingat saya, inilah buku fiksi pertama yang sangaaaat detail yang pernah saya baca. Salut. Dari buku ini kita bisa belajar tentang sejarah perekonomian di Swedia, aliran sekte yang menggunakan ayat-ayat Alkitab sebagai pembenaran atas perbuatan keji yang dilakukan, dan juga teknik hacking pun diulas secara detail.

Sudah empat bintang ya? Tapi…. Bintangnya terpaksa saya kurangi karena beberapa hal. Pertama, masih ada typo. Bahkan ada yang fatal. Seharusnya tertulis Anne Vanger malah tertulis Anne Blomkvist. Kedua, detail yang cukup banyak membuat saya bosan di awal cerita. Ketiga, kasus Wennerström di awal dan akhir cerita, walaupun ada hubungannya, tapi menurut saya seperti buat nambah-nambah halaman saja. Ga tahu ya di filmnya, kasus Wennerström ini masih ada apa nggak. Tapi ibarat sudah anti klimaks, eh dipaksain anti klimaks lagi :mrgreen:

Jadinya… cukup tiga bintang untuk seri Millenium pertama ini. Btw, kabarnya buku kedua lebih seru ya?



#54 Sweet Misfortune


Judul Buku : Sweet Misfortune
Penulis : Kevin Alan Milne
Halaman : 456
Penerbit : Qanita

Sophie selalu merasa bahwa dalam hidupnya tidak ada kebahagiaan. Itulah nasibnya. Pendapatnya itu diawali saat dia mengalami kecelakaan yang menewaskan kedua orangtuanya dan neneknya. Sophie yang saat itu sedang berulang tahun, meminta sebuah coklat pada ayahnya yang sedang menyetir di tengah hujan deras. Malang bagi mereka, kecelakaan yang tak terhindarkan membuat Sophie sepanjang hidupnyadihantui perasaan bahwa dialah yang membuat kecelakaan itu terjadi.  Dan perasaan itu makin menjadi-jadi ketika Garrett tunangannya meninggalkan dirinya, setelah semua kepercayaan Sophie berikan pada Garrett.

Sophie kemudian menuangkan kesedihan dan ketidak bahagiaannya dalam usaha yang dia miliki. Sophie mengelola sebuah toko cokelat. Selain coklat aneka rasa, dia juga menjual sebuah produk yang tanpa dia duga sangat laris. Namanya Kue kemalangan. Kue ini seperti kue keberuntungan dimana ada secarik kertas berupa ramalan keberuntungan tersimpan di dalamnya. Namun di dalam kue kemalangan Sophie, yang ada adalah ramalan ketidak beruntungan. Selain itu kue kemalangan ini terbungkus oleh coklat yang pahit, seakan menegaskan ketidak beruntungan itu sendiri.

Setahun berlalu, dan Sophie terus hidup dalam kesedihannya. Tanpa disangka, di hari ulang tahunnya yang ke-29 Garrett kembali datang memohon cintanya. Sophie yang sakit hati tidak bisa semudah itu menyerahkan kepercayaan dirinya pada Garrett. Tapi Garrett memohon satu kesempatan saja agar dia bisa menjelaskan mengapa dia meninggalkan Sophie setahun yang lalu. Sophie kemudian membuat persyaratan yang cukup sulit. Dia meminta Garrett memasang iklan di sebuah surat kabar lokal. Jika ada seratus surat yang berisi kebahagiaan yang diinginkan oleh Sophie, maka Garrett berhak mendapatkan satu kesempatan itu. Jadi beginilah iklan itu :
Dicari : Kebahagiaan
Tolong bantu aku mencari sesuatu yang hilang dari hidupku. Kirim saran ke PO Box 3297, Tacoma, WA 98402 (Kumohon hanya kebahagiaan yang bertahan lama. Bukan yang hanya bertahan sementara)

Iklan itu ternyata mendapatkan banyak tanggapan. Tapi bukan itu saja. Berawal dari sebuah iklan, Sophie dan Garrett mengetahui beberapa hal dari masa lalu mereka. Bagaimana mereka bisa saling terkoneksi satu sama lain, dan juga sekaligus menjawab apakah kebahagiaan sejati itu ada. Dan bukan hanya Sophie yang (ternyata) berkepentingan dengan iklan tersebut. Evelynn, saudara angkatnya, juga menemukan jawaban dari masa lalunya berkat iklan sederhana itu.

Awalnya saat membaca beberapa halaman pertama buku ini, saya menduga akan menemukan kebosanan pada tokoh yang tidak bisa melepaskan diri dari masa lalunya. Tapi ketika saya melanjutkan bacaannya saya menemukan diri saya berkali-kali menghapus air mata. Selain dialog segar dan kisah romantis yang tidak cengeng, saya menyukai kutipan-kutipan di setiap awal bab di buku ini.  Setelah saya perhatikan, ternyata kutipan itu adalah isi ramalan dalam kue kemalangan milik Sophie. Sebenarnya bukan ramalan ketidak beruntungan, tapi lebih ke kenyataan kehidupan yang bisa kita jumpai sehari-hari. Hanya saja kalimatnya terasa lucu oleh saya.

Kau akan segera jatuh cinta. Perhatian : saat seseorang jatuh, biasanya ada sesuatu yang patah.


Jangan terhanyut oleh seseorang yang romantis setengah mati. Romansanya akan berakhir dan yang tertinggal hanyalah setengah mati.

Di buku cetakan pertama yang saya baca ini, ada beberapa halaman (bahkan bab) yang terulang. Ada yang bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Seandainya halaman yang salah itu tidak ada, mungkin bukunya sedikit lebih tipis :) Saya juga lebih suka dengan cover aslinya yang memperlihatkan bentuk kue kemalangan milik Sophie.

Ohya, dalam buku ini ada ratusan orang yang mengirimkan surat balasan atas iklan itu. Kamu juga mau mengirimkan alasan kebahagiaan-mu? Penulisnya (Kevin A. Milne) melampirkan alamat emailnya (happiness@kevinamilne.com) jika kamu mau berbagi kebahagiaanmu :). Mungkin ada juga yang bertanya (sebenarnya saya yang bertanya-tanya sejak melihat nama penulisnya), apakah Kevin A. Milne ada hubungannya dengan A.A. Milne penulis Winnie The Pooh? Well... here the answer from his website "My mother, the genealogist, swears we are related to good old uncle A.A. Milne (pronounced Miln), but exactly how or where we connect on the family tree I can't say for sure." 

Lima bintang untuk Sweet Misfortune. Dan saya segera memasukkan buku-buku Kevin A. Milne lainnya dalam wishlist :)