~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Okke Sepatumerah. Show all posts
Showing posts with label Okke Sepatumerah. Show all posts

#384 Perempuan-perempuan Tersayang


Judul Buku : Perempuan-perempuan Tersayang
Penulis : Okke Sepatumerah
Halaman : 274
Penerbit : Gagas Media


Okke Sepatumerah adalah salah satu dari sekian penulis yang masuk dalam daftar “autobuy” saya. Jadi begitu tahu karya terbarunya diterbitkan Gagas Media, saya sudah siap-siap beli. Sempat kehabisan di toko buku online langganan, akhirnya saya dapat juga via penulisnya. Ada bonus postcard kerennya pula. 

#268 Pre Wedding Rush


Judul Buku : Pre Wedding Rush
Penulis : Okke Sepatumerah
Halaman : 204
Penerbit : Stiletto Books

Beberapa waktu lalu saya sempat menyimak timeline twitter milik @sepatumerah dengan hashtag #PreWedRush. Di Facebook juga nggak kalah serunya. Beberapa orang mulai mengucapkan selamat kepada mbak Okke, sampai suami saya bertanya pada saya, "Okke Sepatumerah itu mau nikah ya, dek?". Waktu itu saya jawab, "Ya kali... ga tahu juga. Siapa tahu promo buku baru." Dan dugaan saya benar, Pre Wedding Rush adalah buku terbaru dari mbak Okke.

#188 Time Will Tell


Judul Buku : Time Will Tell
Penulis : Okke 'Sepatumerah' & Riri Sardjono
Halaman : 276
Penerbit : Gagas Media

Begitu membaca twit yang mengabarkan kalau Okke 'Sepatumerah' melahirkan sebuah novel lagi, saya langsung berniat membeli bukunya. Ketika tahu dia akan berduet dengan Riri Sardjono, sekedar niat tidak cukup. Saya langsung memesan bukunya via bukabuku.com.  Bukan promosi, tetapi hanya di toko buku online itu buku terbitan Gagas Media didiskon sampai 20% :)

Begitu lihat covernya, saya agak ragu kalau buku ini masuk dalam kategori Gagas Duet. Kebanting banget deh dengan cover Gagas Duet lainnya yang cantik itu. Saya kira hampir semua pembaca menyetujui kalau Gagas Media jagonya bikin cover yang cantik dan eye catching. Tapi untuk yang satu ini sangat minimalis. Maafkan saya kalau untuk cover saja sudah mengurangi satu poin dari buku ini.

Ada dua cerita di dalamnya, The Reunion oleh Okke dan 15 to Love oleh Riri Sardjono.  Jumlah halamannya tidak sebanding. The Reunion mengisi 91 halaman, dan sisanya untuk 15 to Love.  Soal layout isi bukunya, lebih menolong (dalam artian dibandingkan dengan covernya). Saya juga suka dengan pilihan kalender Januari dan Desember yang adalah bulan awal dan akhir dalam satu tahun. Pas banget menggambarkan tentang waktu yang akan mengungkapkan semuanya.

The Reunion berkisah tentang 3 orang wanita. Kanya - wanita karier, punya satu anak, bermasalah dengan mertua; Arlita - ibu rumah tangga, punya satu anak, ga pernah gaul lagi setelah menikah; Ade - penyanyi cafe, lajang, benci acara kumpul keluarga. Ketiganya memutuskan untuk berkumpul kembali mengadakan reuni setelah sekian lama terpisah karena kesibukan masing-masing. Ketiganya butuh perjuangan buat bisa reunian. Kanya harus "mengatasi" mertuanya, Arlita memohon izin dari suaminya, Ade yang menyiasati ibunya demi ga ngumpul di reuni keluarga tapi reunian dengan teman-temannya. Tetapi setelah berkumpul, ternyata rasanya berbeda dengan yang mereka harapkan. Ade merasa Arlita terlalu banyak bercerita soal anaknya, sementara Arlita sendiri ga ngerti dengan gaya hidup wanita karier seperti Kanya dan Ade. Meski demikian, ketiganya masing-masing menyimpan kecemburuan terhadap hidup sahabat-sahabat mereka.

Saya sendiri bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Arlita atau Ade. Terkadang kalau ada acara reuni dengan teman-teman SMP, SMA atau teman kuliah sepertinya ada yang ga pas aja. Ikatan yang tadinya terasa kuat antara sahabat, dengan janji tidak akan saling melupakan, jadi berasa "longgar" dan seperti tidak saling mengenal.  Bukan berarti mereka bukan sahabat lagi, tetapi mungkin lebih tepat bukan masanya lagi segala sesuatu harus tetap sama.
The only thing that never changes is that everything changes - Louis L'Amour
 Satu yang ga berubah adalah gaya bercerita Okke. Masih sama seperti pada novel sebelumnya. Hanya saja, dalam The Reunion karena ada tiga tokoh, saya yang tadinya mengira kisah ini berpusat di Kanya ternyata nggak begitu mendapatkan feel-nya novel ini.

15 to Love juga sangat berasa Riri Sardjono. Percakapan yang ringan, sarkastik, tapi lucu antara dua tokoh utama (Giwang dan Nara) adalah kekuatan dari novel ini. Sejak awal mereka bertemu, Nara jatuh cinta pada Giwang. Tetapi Giwang butuh waktu 15 tahun untuk bisa menyadari kalau dia juga mencintai Nara. Awalnya Giwang hanya membutuhkan Nara sebagai sahabat. Tarik ulur antara Nara dan Giwang seperti karet kolor yang ga bisa putus. Sempat membosankan karena konfliknya berulang seputar Giwang yang jatuh cinta sama cowok, tapi cowok itu malah suka sama temannya Giwang, sementara Nara yang berusaha membuktikan dirinya yang pantas untuk Giwang ga juga diterima sebagai pacar. Bayangkanlah 150-an (lebih) halaman hanya seputar itu.
The only truth is love beyond reason - Alfred De Musset
 Konflik sederhana tetapi diramu dengan dialog yang menyenangkan membuat novel ini ga berasa cheesy. Dibandingkan The Reunion, memang lebih dapat feel-nya, karena penokohan Nara dan Giwang yang kuat.

Overall, buku ini mengobati kerinduan saya sama karyanya Okke dan Riri. Kata beberapa orang ada banyak typo, kali ini saya ga begitu memperhatikan karena begitu excited akan kehadiran buku ini. Untuk pengobat rindu ini saya berikan tiga bintang.

3 stars

#6 Heart Block : Biarkan Cinta Menemukanmu


Judul Buku : Heart Block : Biarkan Cinta Menemukanmu
Penulis : Okke Sepatumerah
Halaman : 316
Penerbit : Gagas Media

Begitu Okke Sepatumerah mengumumkan tentang penerbitan novel terbarunya, buku ini langsung masuk ke dalam daftar-buku-yang-harus-dibeli. Tentu saja, selain melengkapi koleksi novel karya Okke di rak buku-ku, tulisan Okke nyaris tidak pernah terlewatkan oleh saya. Kali ini, saya beli langsung dari Okke, lengkap dengan tandatangannya.

Rasa penasaran saya tertahan cukup lama. Satu bulan. Ini gara-gara jasa ekspedisi yang digunakan untuk mengirimkan buku ini dari Bandung tidak bisa menemukan alamat saya. Rasa penasaran itu juga yang membuat saya memberanikan diri terus “mengejar” Okke lewat segala media sampai buku itu sampai di tangan saya (maaf ya mbak..). Begitu bukunya datang, ternyata ada banyak kesibukan yang membuat novel itu harus menunggu untuk dibaca. Dan akhirnya, siang tadi saya betul-betul membulatkan niat “menenggelamkan” diri di Heartblock. Terbayar sudah rasa penasaran saya.

Heartblock bercerita tentang seorang penulis muda, Senja, yang mengalami masalah writer’s block saat dia harus melaksanakan pekerjaannya sebagai seorang full-writer. Permasalahannya adalah saat itu Senja digambarkan berada di puncak karier. Ketika dia mencoba menepi dari segala kesibukan, dia bertemu dengan sosok pria nyaris sempurna, Genta, pelukis yang juga memiliki masalah sama. Chemistry terjadi di antara keduanya, dan tiba-tiba mereka berdua menemukan kembali “muse” untuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Pekerjaan selesai, tapi tidak dengan hati mereka.

Btw, komentator anonymous di blog 40 days project-nya Senja kok ya berasa itu Genta ya?

Terlepas dari beberapa kesalahan pengetikan, novel ini bisa dijadikan referensi bagi penulis pemula atau yang ingin berkarir sebagai seorang penulis. Di dalam novel ini tentu saja tidak ada alamat penerbit atau editor ternama, tapi tips-tips tentang menulis cukup tersirat dengan jelas. Apalagi Senja menuliskan khusus mengenai writer’s block pada bagian epilog.

Saya suka dengan kalimat yang diucapkan oleh Genta di dalam novel ini,

“…ini kerjaanku, kalau udah begini, yang namanya mati ide atau nggak mood itu udah nggak ada-kalau nggak, ya nggak makan” (hal.217).

“ketika kamu menjadikan apa pun sebagai profesi, nggak ada waktu untuk mood nggak mendukung atau kehilangan inspirasi” (hal.211).

Bukan hanya menulis, semua hal, ketika sudah masuk daerah profesionalitas, mood tidak berlaku lagi. Sebagai manusia, tentu ada waktu kita merasa lelah, tetapi hal itu tidak menjadi alasan untuk berhenti dan berpaling. Sebagai makhluk yang dilimpahi akal dan hikmat, bisa saja kita menggunakan jalan memutar. Butuh waktu memang, tapi ada tujuan yang harus dicapai.

Heartblock secara keseluruhan masih terasa “Okke banget”. Seperti halnya tokoh Damai pada novel Istoria da Paz (Perempuan dalam Perjalanan) (2008), novel kelima Okke, visualisasi saya terhadap tokoh utama Heartblock, Senja, tidak bisa lepas dari sosok Okke sendiri. Senja yang penulis, Senja yang asisten dosen, Senja yang suka Golden Retriever, Senja yang juga menulis novel adaptasi skenario film. Mungkin Okke memang ingin menggambarkan dirinya, seperti halnya Senja menggambarkan dirinya pada tokoh Kirana di dalam novel yang dibuat oleh Senja.

Anyway, satu quote penutup di novel Heartblock, juga akan saya kutip untuk menutup postingan ini.

“There is no rule on how to write. Sometimes it comes easily and perfectly; sometimes it’s like drilling rock and then blasting it out with charges” (Ernest Hemingway)