~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Nora Roberts. Show all posts
Showing posts with label Nora Roberts. Show all posts

#237 The Perfect Hope


Judul Buku : The Perfect Hope (Inn Boonsboro #3)
Penulis : Nora Roberts
Halaman : 271 (ebook)
Penerbit : Penguin 

Beckett Montgomery sudah menemukan kekasih hatinya Clare dan juga menjadi ayah untuk ketiga putra Clare. Saat ini mereka sedang menantikan kelahiran bayi kembar yang dikandung oleh Clare. Owen Montgomery juga sedang menantikan pernikahannya dengan Avery. Hotel Inn Boonsboro yang mereka kerjakan juga sudah lama beroperasi, dan dapat dikelola dengan baik oleh Hope, the innkeeper. Tinggal beberapa proyek lagi yang menyita perhatian Ryder Montgomery, tapi semua itu bisa diatasinya.


#225 The Last Boyfriend


Judul Buku : The Last Boyfriend
Penulis : Nora Roberts
Halaman : 259 (ebook)
Penerbit : Penguin Grup

Setelah mengikuti kisah cinta antara Clare dan Beckett di The Next Always, kali ini ada Avery McTavish dan Owen Montgomery. Avery dan Owen sudah akrab sejak kecil, karena orang tua mereka pun sangat akrab. Avery bahkan menjadikan Owen sebagai tunangannya pada saat mereka kecil dulu dengan cincin hadiah permen. Beranjak dewasa hubungan keduanya tetap terjalin dengan baik, hingga Avery dan ayahnya ditinggal oleh ibunya untuk bersama laki-laki lain. Sejak saat itu Avery selalu berusaha mengurus segala sesuatunya seorang diri dan tumbuh menjadi gadis yang super mandiri.  Avery menyewa salah satu bangunan di Boonsboro milik keluarga Montgomery dan mengubahnya menjadi restoran pizza yang laris. Ketika kedua sahabatnya, Clare dan Hope berkumpul bersama di Boonsboro, Avery sangat bahagia.

#219 The Next Always


Judul Buku : The Next Always (Inn Boonsboro #1)
Penulis : Nora Roberts
Halaman : 258 (ebook)
Penerbit : Penguin Group

Beckett Montgomery, bersama saudaranya (Ryder dan Owen) sedang mengerjakan proyek besar di Boonsboro. Montgomery Family Contractors akan membangun kembali sebuah bangunan tua peninggalan perang menjadi sebuah penginapan. Beckett yang adalah arsitek bertugas untuk membuat rancangannya. Pembangunan penginapan ini menjadi buah bibir masyarakat setempat. Tidak ketinggalan Clare Brewster, pemilik toko buku Turn The Page, sangat antusias dengan proyek tesebut. Beckett bahkan meminta Clare secara khusus untuk membantunya merancang brosur untuk promosi penginapan tersebut.

Sebenarnya, Clare adalah cinta pertama Beckett sejak remaja. Sayangnya Clare memilih Clint Brewster untuk menjadi suaminya, pergi meninggalkan Boonsboro dan menikah dengannya selepas SMA. Malang bagi Clare, suaminya yang adalah seorang prajurit, meninggal dalam tugas di Irak, meninggalkan Clare dengan tiga orang putra (Harry, Liam dan Murphy). Clare memilih untuk kembali ke kampung halamannya dan membesarkan ketiga orang anaknya sendiri.  Karena terlibat dalam proyek keluarga Montgomery, interaksi antara Beckett dan Clare kembali intens. Sayangnya Beckett ragu untuk melangkah lebih jauh. Clare yang mendapati dirinya jatuh cinta pada Beckett mengambil inisiatif. Meski demikian, Clare tidak yakin Beckett bisa menerima dirinya sepaket dengan ketiga anaknya. Di luar dugaan Clare, Beckett justru bisa mengambil hati anak-anaknya. Tetapi untuk suatu komitmen, Beckett sendiri masih ragu.

#204 Happy Ever After


Judul Buku : Happy Ever After (Bride Quartet #4)
Penulis : Nora Roberts
Halaman : 368 (book)
Penerbit : Jove Books

Sejak kecil Parker Brown selalu tahu apa yang akan dilakukannya. Dia akan memiliki sebuah usaha yang mengurus pernikahan. Dia punya modal untuk itu. Rumah besar yang ditinggalkan oleh orang tuanya, dan sahabat yang mendukungnya. Ketika usahanya semakin berkembang, Parker semakin yakin akan jalan hidupnya. Keteraturan, disiplin, dan perencanaan selalu menjadi pegangannya dalam menjalankan bisnis dan kehidupan pribadinya. Tetapi ketika Malcolm Kavanaugh hadir dengan semua kejutannya, Parker mulai mempertanyakan tentang dirinya sendiri. Mal bukanlah sosok pria yang diidamkannya untuk menjadi seorang suami. Tetapi mengapa kehadiran Mal selalu membuatnya menjadi bukan dirinya sendiri?

Malcolm mengenali Parker sebagai adik dari temannya, Del. Tetapi siapa di Greenwhich yang tidak mengenal dinasti Brown? Apalagi dengan usaha The Vows yang dikelola Parker. Ketika Parker datang menciumnya di perayaan 4 Juli hanya untuk membuat kakaknya marah, sejak itu Mal tahu tidak ada wanita lain seperti Parker. Dan dia menginginkan Parker, apapun caranya.

Akhirnya selesai juga membaca buku ke 4 dari serial Bride Quartet-nya Nora Roberts. Tadinya saya berharap banyak yang bisa diceritakan dari tokoh Parker yang menjadi otak "The Vows", usaha wedding organizer yang dilakoninya bersama ketiga sahabatnya, Mac, Emma dan Laurel. Mengingat karakter Parker yang kayak agenda berjalan dan sangat teratur, tentunya saya penasaran dengan kisah romantis ala Parker.

Sayangnya, yang saya dapatkan tidak sesuai harapan. Karena sudah membaca ketiga buku sebelumnya, saya sudah tahu karakter Parker. Di buku keempat ini, tidak ada yang baru dari Parker. Saya malah merasa bosan dengan detail persiapan pernikahan yang dilakukan Parker. Tokoh pria, Malcolm, juga ga istimewa banget. Konfliknya nyaris ga ada, sampai melewati pertengahan baru dimunculkan konflik kalau Malcolm pernah mengalami physical abuse dari pamannya, dan dia menganggap Parker yang selalu berkelimpahan dan hidup mewah tidak akan memahami masa lalunya.

Yang membuat saya akhirnya ngasih bintang dua karena di bagian akhir ada pernikahannya Mac dan Carter (they are so cute...). Somehow, saya berpikir bahwa sebenarnya serial ini adalah untuk mereka. Karena dari keempat buku, mereka selalu ada dan mengambil peran. Ada bagian dimana Carter selalu menjadi orang yang rasional dalam mengatasi semua persoalan yang pake hati. Selain itu saya masih kagum sama Nora Roberts dengan pilihan kalimat-kalimat lucu dan sarkastis tapi ga kehilangan sentuhan romantisnya. Hanya saja, Happy Ever After bukan karya terbaik beliau.

2 stars

#194 Savor The Moment


Judul Buku : Savor The Moment (Bride Quartet #3)
Penulis : Nora Roberts
Halaman : 258 (ebook)
Penerbit : Jove Books

Kalau sudah nemu serial romance yang menarik, susah untuk tidak menyelesaikannya dengan segera. Setelah mengetahui kisah Mac dan Emma, rasanya tidak pas kalau menunda untuk tahu kisahnya Laurel dan Parker. Apalagi kisah Laurel di buku ke 3 ini ada hubungannya dengan Delaney (Del), kakak laki-laki Parker, yang kaya, tampan dan perhatian.

Tidak seperti Emma dan Parker, Laurel McBane  berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya terlibat skandal perselingkuhan dan bangkrut. Laurel harus menghidupi dirinya sendiri. Sepanjang hidupnya Laurel selalu membuktikan diri bahwa dia sanggup hidup mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Ketika dia kembali dari sekolah kuliner-nya dan bergabung bersama ketiga sahabatnya di Vows, Laurel kemudian menjadi seorang wedding baker terkenal. Dan menjalani bisnis impian bersama sahabat-sahabatnya adalah hal yang sangat berarti baginya.

Meskipun keempatnya sangat dekat, Laurel lebih dekat lagi dengan Parker. Mungkin karena sebagian masa remajanya dihabiskan bersama keluarga Brown (keluarganya Parker). Ketika Mac dan Carter bertunangan, dilanjutkan dengan Emma dan Jack, dua wanita single ini semakin dekat. Tetapi Laurel diam-diam menyimpan cintanya untuk Del sejak lama. Hanya saja Laurel tahu siapa dirinya dan darimana dia berasal. Dia tahu Del juga menyayanginya seperti dia menyayangi Parker, Emma dan Mac. Del juga adalah the Mr. Fix all thing yang selalu menjadi pembela mereka berempat. Sifat ini yang seringkali membuat Laurel merasa kesal dengan Del. Puncaknya ketika Del hendak membayarkan sejumlah uang kepada Laurel atas kue pesanannya, Laurel marah dan merasa diremehkan oleh Del. Di tengah kemarahannya, Laurel bertindak impulsif  dan mencium Del sebagai luapan amarahnya.

Sejak ciuman itu, Del melihat Laurel sebagai pribadi yang berbeda. Del mengajak Laurel untuk menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih selama 30 hari. Syaratnya tidak ada seks selama waktu itu. Keduanya mencoba untuk melihat arah hubungan mereka dan akan memutuskan selanjutnya setelah 30 hari. Lucunya, teman-temannya (termasuk Carter, Jack dan Mal - kawan dari Del) taruhan bahwa keduanya akan tidur bersama kurang dari 30 hari :)

Meski saya menyukai dialog-dialog antara Del dan Laurel, saya tetap memilih kisah Mac-Carter sebagai yang paling romantis. Saya agak terganggu dengan detail-detail kue yang dibuat oleh Laurel dan bagaimana Laurel sangat mencintai pekerjaannya sebagai wedding baker hampir di setiap bab. Somehow it just beautiful but not sounds delicious. Mungkin karena saya yang kurang familiar dengan bahan-bahan dan jenis kue, jadinya beberapa bagian saya skip. Tapi... saya tetap suka dengan persahabatan keempat wanita ini. Terutama Parker, yang bisa menempatkan diri sebagai sahabat dan sebagai adik dari Del. Well, jadi ingin segera mengetahui kisah Parker.

3 stars

#193 Bed of Roses


Judul Buku : Bed of Roses (Bride Quartet #2)
Penulis : Nora Roberts
Halaman : 368 (ebook)
Penerbit : Jove Books


Life wasn’t just good, Emma thought. It was a freaking bed of roses.

Melihat Mac dan Carter yang sudah bertunangan dan bahagia mempersiapkan pernikahan mereka, Emma ikut merasa berbahagia. Berbeda dengan Mac, Emma lahir dari pasangan orang tua yang saling mencintai, bahkan ketika mereka sudah memiliki 4 orang anak dan banyak cucu. Tidak heran jika Emma merasa dirinya juga terlahir romantis. Kecintaannya pada bunga menambah keromantisan dalam diri Emma. Dalam bisnis pernikahan, Vows, Emma adalah orang yang bertanggung jawab atas bunga-bunga, buket, dan dekorasi. Bersama-sama dengan Mac si fotografer, Laurel si pembuat kue, dan Parker the time keeper, mereka membangun bisnis impian mereka. Apa lagi yang bisa menambah kebahagiaan Emma?

Seorang pria, tentunya. Dalam angan-angan romantis Emma, dia akan menikah dengan pria yang mengajaknya berdansa di bawah cahaya bulan dan membisikkan "I love you" padanya. Meskipun di antara sahabatnya Emma yang paling sering kencan, Emma tetap menyimpan hatinya untuk pria idamannya itu. Namun siapa yang menyangka kalau dirinya jatuh cinta pada Jack, si arsitek sahabat mereka? Sejak ciuman di bawah tangga dan kencan tanpa syarat dan aturan dengan Jack, Emma menyimpan rapat perasaannya. Yang Emma tahu, Jack tidak punya perasaan yang sama dengannya. Friends with benefits adalah hal yang bisa diterima oleh keduanya saat ini.

Kalau di buku pertama pembaca diajak melihat Mac yang kuat-tapi-rapuh, di buku kedua kita bertemu dengan Emma si romantis yang praktis. Kalau dulu Emma yang paling sering memberi nasihat kepada Mac, kali ini Emma membutuhkan logika Parker untuk mengimbangi perasaannya. Persahabatan keempat gadis ini adalah poin kuat dalam serial Bride Quartet. Yang menarik, apapun masalah yang mereka hadapi, mereka tetap profesional jika dihadapkan pada bisnis mereka. Keempatnya sadar, tidak banyak orang yang bisa menghidupi diri melalui pekerjaan impian yang sekaligus passion mereka. Ketika Emma mendapat tawaran pekerjaan dengan penghasilan menggiurkan, dia tidak tergoda untuk meninggalkan temannya.

Kisah Emma memang romantis, meskipun saya lebih menyukai kisah Mac dan Carter. Sebagai bonus, di buku kedua ini saya bisa tahu kelanjutan kisah Mac dan Carter. Selain itu ada semacam intro untuk kisah Laurel dan Parker. Hm... rasanya harus menuntaskan serial ini dengan segera :)

3 stars

#190 Vision in White


Judul Buku : Vision in White (Bride Quartet #1)
Penulis : Nora Roberts
Halaman : 352 (ebook)
Penerbit : Jove Books

Mackensie, Parker, Emma, dan Laurel adalah empat orang sahabat yang sudah bersama-sama sejak mereka masih kecil. Keempatnya tergabung dalam sebuah usaha EO (event organizer) untuk pernikahan bernama Vows. Usaha ini berangkat dari kegemaran mereka melakukan  permainan "Wedding Days" sejak masih kecil. Masing-masing dari mereka memiliki keahlian yang membuat usaha ini bisa sukses. Mac sebagai fotografer, Emma dengan bunga dan dekorasi, Laurel dengan keahlian membuat wedding cake serta Parker, the boss, di bagian administrasi dan urusan lainnya. Kehidupan Mac bersama teman-temannya di rumah milik Parker begitu menyenangkan meskipun kesibukan mereka seperti tidak berhenti. Tapi setiap kehidupan punya sisi gelapnya, tidak terkecuali bagi Mac.

Orang tua Mac telah bercerai sejak Mac berusia 4 tahun. Sejak saat itu Mac hidup bersama ibunya yang selalu berganti-ganti pasangan. Bukan saja kehidupan yang tidak stabil yang dialaminya, ketika Mac bisa mendapatkan penghasilan sendiri, ibunya berkali-kali merongrong Mac untuk meminta sejumlah uang darinya. Uang itu akan dipakainya untuk bersenang-senang dengan berbagai alasan. Mac letih dengan sifat ibunya yang drama queen  itu, tapi dia tidak bisa lepas tangan terhadap ibunya. Mac tumbuh dengan ketidakpercayaannya akan sebuah hubungan pernikahan, hal yang sangat kontras jika mengingat dia hidup dari bisnis yang sama.

Masalahnya muncul ketika dia bertemu dengan kawan lamanya, Carter, yang juga kakak dari kliennya. Setelah sekian lama tidak bertemu dengan Carter, Carter kembali ke Greenwich untuk mengajar di SMA tempat mereka sekolah dulu. Menyadari dirinya jatuh cinta pada Carter yang memiliki hidup yang teratur dan (nyaris) membosankan (but hey.. he's a good kisser), yang berbeda dengan kehidupannya yang dinamis dan berwarna, membuat Mac berusaha membangun pertahanan diri terhadap Carter. Mac yang dibayang-bayangi kegagalan rumah tangga kedua orang tuanya dihadapkan pada dilema saat Carter menyatakan cintanya pada Mac.

Ada begitu banyak kontras yang dihadirkan oleh Nora Roberts dalam kisah ini. Hidup Mac yang rapuh terlihat solid ketika dia berada bersama-sama dengan ketiga sahabatnya. Carter dan Mac yang mempunyai sifat berbeda bisa saling mendambakan kehadiran satu sama lain. Kontras juga hadir dalam bisnis Mac dan rekannya ketika mereka harus mengatasi semua detail, kepanikan, keributan sebuah pernikahan, dibungkus rapi menjadi pernikahan yang indah. Semua itu semakin kuat dengan pemilihan karakter Mac yang adalah seorang fotografer. Ada satu kalimat yang diyakini Mac sebagai fotografer yang saya sukai.



Maybe happy ever after was bull, but she knew she wanted to take more pictures of moments that were happy. Because then they were ever after.


Well, suatu hubungan pada umumnya (atau pernikahan pada khususnya) bisa saja merupakan kumpulan kejadian-kejadian kontras. Orang luar yang melihat potret hidup kita seringkali hanya menangkap satu momen saja, tanpa perlu melihat keseluruhan kisahnya. Mungkin ini yang ingin disajikan oleh Nora Roberts. Terlepas dari itu, saya jadi tidak sabar ingin mengetahui kisah dari Emma, Laurel dan Parker dalam serial Bride Quarter ini.

4 stars

#176 Irish Rebel


Judul Buku : Irish Rebel (Irish Heart #3)
Penulis : Nora Roberts
Halaman : 243
Penerbit : Sillhoutte


Irish Rebel adalah buku ketiga dari serial Irish Heart karya Nora Roberts. Masih seputar imigran dari Irlandia yang datang mengadu nasib (dan cinta) di Amerika. Kalau di Irish Throughbred kita mengenal Adelia dan Travis, maka di Irish Rebel kita bertemu dengan putri tertuanya, Keeley Grant. Keeley tumbuh menjadi gadis yang mandiri dan mempunyai ambisi seperti ibunya. Dia mendirikan sekolah khusus bagi anak-anak yang ingin mengenal olahraga berkuda lebih dekat. Dengan kesibukannya, tidak ada waktu bagi Keeley untuk mempunyai kekasih.

Kemudian datanglah Brian Donelly, seorang pemuda Irlandia sebagai trainer di Royal Meadows. Brian bekerja pada Travis menggantikan Uncle Paddy yang sudah pensiun dan kembali ke Irlandia. Satu kelebihan Brian adalah kemampuannya memahami kuda, bukan hanya sebagai seekor binatang, tetapi sebagai pribadi utuh yang hidup. Beberapa kuda di Royal Meadows yang terkenal suka berulah dan liar berhasil ditundukkan oleh Brian. Kelebihannya ini yang membuatnya disukai oleh keluarga Grant. Ketika Brian bertemu dengan Keeley yang dikenal sebagai ice cold girlBrian langsung jatuh hati. Tetapi Brian sadar akan posisinya di Royal Meadows.

Ternyata cinta Brian bersambut. Keeley, si Irish Rebel, berusaha untuk meyakinkan Brian bahwa dia layak untuk mendapatkan cinta Keeley. Memang agak de javu dengan kisah ini, dimana dulunya Adelia, ibunya Keeley,  yang berada di posisi Brian. Di sisi lain, Keeley selalu memperlihatkan kemandiriannya di depan Brian, yang membuat Brian berpikir Keeley tidak membutuhkannya.

The story is okay, but I do not quite get the chemistry. Especially when Keeley is more dominant than Brian. Keeley the  determined woman can overcome the doubts of Brian, a stubborn man. In addition there are many terms about the horse that made me a bit confused when read it. I think two stars is enough for Irish Rebel.