~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Non Fiction. Show all posts
Showing posts with label Non Fiction. Show all posts

#642 On Children

 

Wu Xiaole adalah seorang guru les, yang memberikan pelajaran tambahan secara privat kepada siswa yang membutuhkan. Dalam buku ini, ada sembilan kisah siswa yang membutuhkan dirinya sebagai guru les. Well... sebenarnya yang membutuhkannya adalah orang tua siswa tersebut, terutama sang Ibu.


Sembilan kisah dalam buku ini memiliki benang merah yang sama. Orang tua di Taiwan begitu mempedulikan pendidikan anaknya, terutama nilai yang diperoleh anaknya, sekolah apa yang dimasuki, sampai pergaulan yang harus dilakoni si anak. Tidak jarang orang tua bertindak selaku helicopter parent (jenis orang tua yang terlalu fokus kepada anaknya dan terus ikut campur terhadap semua kelakuan anak) hingga akhirnya membentuk pola tiger parenting (pengasuhan sangat ketat dan bersikap otoriter kepada anak). Biasanya hal ini terjadi karena orang tua tidak ingin anak mereka mengikuti jejak mereka di masa lampau. Salah satu cerita dalam buku ini yang berjudul Menolong Siswa Berprestasi, digambarkan bahwa Ibunya sebelum menikah memiliki prestasi akademik yang baik. Namun karena dihadapkan pada tuntutan pernikahan, prestasi itu menjadi seperti tidak berguna.

Ibuku turun dari panggung kehidupannya, lalu mendorong kami naik ke panggung itu. (hlmn 287).

Cerita lain orang tuanya tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi, dan akhirnya tidak mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan tinggi. Mereka pun menyadari bahwa di Taiwan, pendidikan menjadi salah satu cara bertahan hidup.

Lantas apakah pendidikan itu? Wu Xiaole menuliskan pemikirannya seperti ini,
Pendidikan ada bukan supaya semua anak mendapat nilai yang tinggi. Pendidikan ada supaya bakat setiap anak dapat berkembang hingga batasnya, dan supaya hasil akhirnya memperoleh pengakuan. (hlmn. 110)

Namun, tidak semua Ibu dalam buku ini menempuh langkah seperti di atas. Dalam salah satu cerita yang berjudul Bagai Pinang Dibelah Dua mengisahkan tentang Muoli, seorang anak perempuan yang selalu dituntut ibunya untuk mendapatkan nilai lebih tinggi dibanding saudara lak-lakinya. Muoli mengikuti rancangan yang diberikan ibunya, bahkan dia bisa mendapatkan pendidikan magister. Ketika ditawari untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral oleh dosennya, Ibu Muoli menentangnya. Muoli harus segera menikah dengan seorang calon suami berprofesi sebagai dokter yang dipilihkan oleh orang tuanya. Lagi-lagi Muoli mengikuti rancangan ibunya. Sampai kemudian dia memiliki anak perempuan bernama Xiaoye. Long story short, Muoli memilih untuk membebaskan anak perempuannya, meski dia dicap sebagai ibu yang gagal mendidik anak. Bagi Muoli, ketegaran yang dialaminya seumur hidup telah cukup baginya untuk menerima cap itu.

Saya pernah membaca buku non fiksi tentang parenting yang sering diterapkan oleh orang tua Asia beberapa tahun yang lalu. Membaca buku On Children ini menunjukkan bahwa Tiger Parenting telah menjadi budaya dan ikon bagi orang tua Asia. Mungkin memang ada yang berhasil, terutama bagian kedisiplinan. Kisah-kisah dalam buku ini memang memberikan perspektif baru bagi orang tua, guru, bahkan juga bagi anak.


On Children
Wu Xiaole
330 halaman
Penerbit Haru
Januari, 2023




#609 Becoming



Saya mengagumi sosok Michelle Obama. Seorang perempuan dengan banyak pemikiran hebat dan tentunya kehidupan yang juga hebat. Tidak ada yang akan menyangkal kemewahan dan privillege yang dperoleh saat menjadi first lady negara adikuasa. Namun itu adalah tampilan luarnya. Bagaimana kehidupan Michelle yang sebenarnya? Michelle berbagi kisahnya lewat biografi yang ditulisnya sendiri, Becoming.

Buku ini terdiri atas tiga bagian utama: Becoming Me, Becoming Us dan Becoming More. Dalam bagian Becoming Me, Michelle menuliskan tentang kehidupan masa kecilnya, tentang ayahnya yang difabel, ibunya, kakaknya Craig, dan gambaran kehidupan keluarga yang dijalaninya. Michelle terlahir sebagai seorang anak Amerika berkulit hitam. Kehidupan keluarganya tidak mudah, namun menyenangkan. Ayahnya, Fraser, mengajarkan bahwa hidup harus dijalani dengan bekerja keras dan banyak tertawa. Sementara Ibunya, Marian, menekankan pentingnya untuk berpikir sendiri dan menggunakan suara dalam menentukan pilihan. Dalam bagian ini juga dikisahkan tentang kehidupannya menjalani masa sekolah, dari SD hingga kuliah di Princeton. Hingga akhirnya dia bertemu dengan seorang pemuda bernama Barack Obama

Perjalanan hidupnya bersama Barack dikisahkan dalam bagian Becoming Us.  Kehilangan ayah menguatkan Michelle untuk tidak merenung terlalu lama dalam menentukan arah hidup dan bergerak dengan segara. Michelle dan Barack menjalin hubungan cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Dalam masa berpacaran, mereka seringkali bertukar pikiran, berdebat ala pengacara, dan saling berkompromi. Barack akhirnya melamar Michelle di sebuah restoran, dan menikah pada bulan Oktober 1992. Menjadi seorang istri juga merupakan tantangan bagi Michelle, terutama saat Barack terjun dalam dunia politik dan menjadi senator. Michelle tidak menyukai politik. Jadwal pada Barack membuatnya kesal, hingga akhirnya pertengkaran di dalam rumah tangga mereka tak terhindari. Namun keduanya saling mencintai, sehingga memutuskan menjalani konseling yang membuka babakan baru dalam rumah tangga mereka. Ketika Barack mendapatkan tawaran menjadi presiden, dia menyerahkan keputusan itu kepada Michelle.

Michelle menyadari menjadi seorang ibu negara bukan perkara mudah. Michelle mendampingi Barack untuk tinggal di White House menjalani tugas baru sebagai POTUS dan FLOTUS. Semuanya dikisahkan dalam bagian Becoming More. Bukan hanya soal perannya sebagai ibu negara, Michelle juga mengisahkan kegelisahannya, namun dia menyadari bahwa dia harus memberikan yang lebih hingga akhirnya saat meninggalkan Gedung Putih.

"Ingin menjadi apa saat kau dewasa nanti? Apakah aku cukup baik? Ingin menjadi orang seperti apa aku?"

Beberapa pertanyaan di atas menjadi pertanyaan yang mendasari Michelle menuliskan kisah hidupnya. Melalui buku ini Michelle ingin berbagi bahwa becoming (diterjemahkan menjelma) bukanlah suatu kejadian tiba-tiba. Ada proses, langkah-langkah kecil di jalan setapak, membutuhkan kesabaran dan kegigihan. Masih banyak yang harus dipelajari, masih banyak proses yang dilalui untuk berkembang. 

Membaca biografi ini, seakan-akan mendengarkan sendiri Michelle bercerita tentang kehidupan yang sudah dilalui. Tentang kegelisahannya sebagai manusia biasa, tentang mimpi-mimpinya ke depan, tentang perilaku dan berpikir positif meski di saat sulit. Tentang bagaimana didengarkan dan mendengarkan. Jadi, tidak berlebihan jika saya mengatakan buku ini wajib dibaca oleh setiap wanita. 

Becoming
Michelle Obama
576 halaman
Noura Books


#553 Jasmerah : Pidato-Pidato Spektakuler Bung Karno Sepanjang Masa


Awal tahun ini dibuka dengan peristiwa razia buku di sebuah toko buku di Padang oleh oknum TNI. Mereka mencari buku PKI. Salah satu dari tiga buku yang disita adalah kumpulan pidato Bung Karno yang berjudul Jasmerah. Katanya buku yang disita baru akan dipelajari isinya. Belum lama, Jaksa Agung malah mengusulkan razia besar-besaran buku yang mengandung paham komunis. Kalau perlu perampasan buku perlu dilakukan. 

Mungkin beliau lupa, kalau seharusnya tidak ada lagi penyitaan buku tanpa melalui surat perintah pengadilan. Buku Jasmerah misalnya, diterbitkan oleh Penerbit Laksana (imprint dari DivaPress), memiliki ijin penjualan resmi. Saya dan beberapa teman memutuskan untuk membeli dan membaca buku ini. Hitung-hitung bantuin menelaah isi bukunya. Benarkah berbahaya?

Seperti yang tercantum di judulnya, buku ini berisi pidato-pidato Bung Karno. Total ada enam (6) pidato. Berikut saya bagikan intisari pidatonya dari hasil baca saya.

(1) Proklamasi Kemerdekaan
Pidato singkat Bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1945, yang berisi proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pidato ini istimewa karena menjadi awal tonggak sejarah Indonesia. 

"Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangannya sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya." 

(2)Tetaplah Bersemangat Elang Rajawali!
Pidato ini disampaikan sebagai amanat Presiden Soekarno pada Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1949 di Yogyakarta. Dalam pidatonya ini, Soekarno menyampaikan refleksi perjuangan selama empat tahun setelah Indonesia merdeka. Salah satu yang menjadi sorotan utamanya adalah proses Persetujuan Linggjati dan Persetujuan Renville yang dianggapnya gagal. Namun Soekarno tetap memberikan apresiasi dan semangat kepada seluruh pemuda, angkatan perang, polisi dan rakyat Indonesia yang dijulukinya sebagai Elang Rajawali.

"Kita belum hidup di dalam sinar bulan yang purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali!"

(3) Penemuan Kembali Revolusi Kita
Pidato ketiga dalam buku ini masih merupakan amanat Presiden Soekarno pada Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1959 di Jakarta. Soekarno menganggap tahun 1959 merupakan tahun istimewa dimana bangsa Indonesia menemukan kembali semangat revolusi (rediscovery of revolution). Tahun dimana Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang membubarkan Konstitante, memberlakukan kembali Undang-Undang Dasar 1945 dan pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara.

Dalam pidatonya ini, Soekarno menyinggung masalah kemanusiaan dan kemerdekaan. Dia mengambil contoh dari isi Declaration of Independence Amerika dan Manifes Komunis. Bahwa manusia yang bukan makhluk tanpa arah memiliki hak hidup, hak kebebasan dan hak mengejar kebahagiaan. Juga bahwa manusia tidak boleh ditindas. Soekarno juga menganjurkan Pax Humanica atas dasar kedua deklarasi tersebut di Washington dan Moskow. Soekarno juga menyerukan semangat gotong-royong (Ho-Lopis-Kuntul-Baris) yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

(4) Lahirnya Pancasila
Pidato keempat ini adalah pidato yang disampaikan oleh Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 di hadapan Badan Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau yang disebut juga Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai. Inti pidato ini adalah mengemukakan jawaban atas pertanyaan "apa yang menjadi dasar Indonesia merdeka?". Dalam pidatonya Soekarno menyampaikan lima prinsip dasar yang menjadi cikal bakal Pancasila sebagai dasar negara. Semuanya jika dirumuskan dalam satu prinsip menjadi gotong-royong untuk kepentingan bersama.

"Jikalau bangsa Indonesia tidak bersatu dan tidak menekad mati-matian untuk mencapai merdeka, tidaklah kemerdekaan Indonesia itu akan menjadi milik bangsa Indonesia buat selama-lamanya, sampai ke akhir zaman!"

(5) Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jasmerah)
Pidato ini adalah pidato terakhir Bung Karno sebagai Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS RI. Dibawakan pada Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1966 di Jakarta. Soekarno menganggap 21 tahun Indonesia merdeka merupakan tahun-tahun penggemblengan atas kemampuan dan kepribadian bangsa. Soekarno juga menyinggung tentang peristiwa di tahun 1965, secara khusus Supersemar, sebagai upaya mempreteli kekuasaannya dan penyerahan pemerintah. Sejarah panjang yang dilewati oleh bangsa Indonesia menuju kemerdekaan dan pasca merdeka dijabarkan secara rinci oleh Soekarno. Pesan Soekarno agar tidak meninggalkan sejarah sebagai acuan pelaksanaan pemerintahan.

"Dengan berpegang terus kepada sejarah itu, maka dengan kekuatan baru, dengan selalu bertambah semangat baru, dengan selalu bertambah mantap dan kokoh keyakinan, bertambah cerah harapan-harapan baru, mari kita menggembleng terus persatuan dan kesatuan untuk perjuangan kita selanjutnya."

(6) Nawaksara
Pidato keenam ini disampaikan pada Sidang Umum MPRS tanggal 22 Juni 1966, dan diberi judul Nawaksara oleh Soekarno. Di dalam pidatonya Soekarno menyampaikan sembilan hal terkait amanat yang diterimanya sebagai pemimpin. Salah satunya adalah penetapan Sidang Umum MPRS II tahun 1963 yang menetapkan Soekarno sebagai Presiden Seumur Hidup. Tetapi Soekarno memberikan jawaban alangkah baiknya jika MPR nantinya yang adalah MPR hasil pemilihan umum meninjau kembali hal tersebut.

Pada bagian penutup pidatonya ini Soekarno menyebutkan bahwa dalam world of the mind dia berjumpa dengan banyak pemimpin besar dari segala bangsa dan segala negara. World of the mind yang dimaksudnya adalah dunia pemikiran yang tercipta saat dia membaca buku-buku para pemimpin besar itu. Soekarno telah mendedikasikan hidupnya selama hampir empat puluh tahun untuk kemerdekaan bangsa

"Saya berjumpa dengan orang-orang besar ini, tegasnya, jelasnya dari membaca buku-buku."

Well... menurut saya sebagai orang awam, tidak ada yang perlu ditakutkan dari isi buku ini. Bahkan beberapa bagian masih relevan dengan kondisi Indonesia sekarang. Mbak Busyra membuat beberapa foto isi bukunya di sini

Aksi razia itu yang justru membuat masyarakat diingatkan kembali kepada ketakutan. Ketakutan akan kekuasaan absolut. Di samping itu, penyitaan buku adalah suatu bentuk penistaan terhadap akal sehat dan kecerdasan. Bukankah tujuan bangsa kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa? Soekarno saja menggunakan buku-buku untuk "bertemu" dengan pemimpin besar lainnya dan menuangkan pemikirannya untuk bangsa. Dan sekali lagi, jangan melupakan sejarah. Apa salahnya mengenal sejarah lewat membaca buku?

Jasmerah : Pidato-Pidato Spektakuler Bung Karno Sepanjang Masa
Wirianto Sumartono
262 halaman
Penerbit Laksana
2018

Review tentang buku ini juga bisa dibaca di Bacaan Bzee

#533 Aku dan Buku


Judul Buku : Aku dan Buku
Penulis :  Busyra,  Abduraafi Andrian, Maura Finessa, Truly Rudiono, Teddy W. Kusuma, Nurina Widiani, Pauline Destinugrainy Kasi, Alvina Ayuningtyas , Selviya Hanna.
Halaman : 100
Penerbit : bukuKatta

Pada pertengahan September 2016, saya mendapatkan email dari Steven Sitongan, seorang pembaca dan penggiat buku dari Ambon. Saya mengenal Steven lewat Blogger Buku Indonesia (BBI), dan ternyata kami berasal dari almamater yang sama, Biologi UGM. Steven mengajak saya untuk berkolaborasi menulis antologi narasi "Aku dan Buku". Niat awalnya bermula karena banyak kalangan yang seakan pesimis soal niat baca di Indonesia. "Bukankah masih ada banyak orang yang menyukai bacaan dan terlibat aktif di dalam menyebarkan virus membaca? Ada para pegiat taman bacaan masyarakat, penjual buku, hingga narablog dan pengguna Goodreads yang tidak pasif menyuarakan nikmatnya mencecap pengetahuan dan pengalaman dari sebuah buku. Pengalaman seru seseorang akan buku niscaya akan memberikan sebuah efek berantai yang tak terhitung". Begitu kalimat yang dituliskan Steven di emailnya yang membuat saya akhirnya tertarik dan tertantang untuk menulis. 

Saat itu yang terpikir dalam benak saya adalah bahwa tinggal di sebuah kota yang minim dengan toko buku tidak menjadi alasan untuk menurunkan minat baca saya. Kesibukan kerja sekaligus menjadi ibu rumah tangga juga bukan batu sandungan untuk membaca buku. Saya menuliskan pengalaman saya melahap buku dalam versi digital, karena memudahkan saya membaca kapan saja dan di mana saja. "Buku di Ujung Jari" adalah satu cerita yang saya bagikan di dalam antologi ini.

Meskipun saya adalah salah satu kontributor dalam buku ini, review saya kali ini mengulas tulisan para kontributor lainnya. Sejujurnya saya sendiri lupa sama tulisan saya, sampai ketika tadi saya membacanya barulah saya ingat.

Buku ini berisi kumpulan kisah pribadi para kontributor terkait buku dan membaca buku. Ada yang membahas tentang perpustakaan, kesukaan membeli buku, buku pertama di masa kecil, asuransi buku, seorang intover dengan buku sampai terjemahan tulisan Nail Gaiman tentang membaca buku. Tapi satu tulisan yang membuat saya terharu sampai mau nangis karena membatin "gilaaa... ini aku banget, duh.. iya kok sama di pikiranku" adalah tulisan Nurina tentang buku romance. Bahwa dengan membaca roman, seseorang bisa jatuh cinta berkali-kali tanpa berselingkuh. Bahwa roman mengajarkan kedewasaan, dan bukan sekadar kisah cinta picisan.

Beberapa waktu lalu ada dokter selebtwit yang melarang followernya membaca buku romance atau nonton drama korea. Katanya bikin hidupmu ga nyata, terjebak dalam romantisme yang tidak ada di dunia nyata. Kurang lebih begitulah. Rasanya pengen ngirimin buku ini ke si bapak biar dia tahu apa yang terjadi pada pembaca romance. Tapi setelah saya mikir2, si bapak mah uangnya banyak. Beli sendiri aja buku ini. Toh keuntungan penjualan buku ini juga akan diberika pada lembaga yang bergerak di dunia literasi. :))

Trus kok ga kasih bintang 5, nggak sayang apa sama buku sendiri? Well... saya juga reviewer. Dan saya harus objektif. Cetakan pertama ini masih banyak typonya... (timbun bapak editor...huahaha). Doakanlah (dan belilah) buku ini supaya ada cetakan berikutnya sehingga typonya bisa diperbaiki. Dan juga kurang tebal sih.


#528 Ubur-ubur Lembur


Judul Buku : Ubur-ubur Lembur
Penulis : Raditya Dika
Halaman : 240
Penerbit : Gagas Media

Buku terakhir karya Raditya Dika yang berjudul Koala Kumal terbit pada awal Januari 2015. Dan akhirnya setelah 3 tahun lamanya, Raditya mengeluarkan kembali buku yang berisi buah pikirannya. Masih setia dengan judul binatang, kali ini Raditya menerbitkan buku Ubur-ubur Lembur.

Mengapa Ubur-ubur? Sebelum sampai ke sana, Raditya menulis tentang beberapa hal. Tentang perbedaan cara pandang antara cowok dan cewek dalam menghadapi patah hati, sampai kepada kisah patah hatinya Raditya di Kebun Binatang Ragunan. Ada juga pengalamannya ketika ke Jepang menghadiri sebuah event internasional, juga kisah mistis yang harus dialaminya saat sedang syuting film. 

Masih dengan template yang sama. Non fiksi, lucu, dan sangat khas Raditya Dika. Namun ada yang berbeda saya rasakan saat membaca buku ini. Ada aura "kedewasaan" di dalamnya. Buku ini lebih banyak berfokus pada seorang Raditya Dika sebagai penulis, profesi yang mengangkat namanya pertama kali. Saya menemukan kembali Raditya Dika yang saya kenal lewat buku Kambing Jantan, yang menginspirasi saya menulis di sebuah blog. Dan di bab terakhir, yang berjudul sama dengan judul buku ini, Raditya menceritakan proses kedewasaannya itu. Lantas, mengapa Ubur-ubur?
“Gue melihat orang yang bekerja kantoran tapi nggak sesuai dengan minat mereka itu seperti seekor ubur-ubur lembur. Lemah, lunglai, hanya hidup mengikuti arus.” 
Ada satu pelajaran yang saya ambil dari buku ini (masih dalam bab Ubur-Ubur Lembur), yaitu tentang cara pandang terhadap karir. Seperti yang dituliskan Raditya, umumnya kita melihat karir sebagai garis vertikal ke atas. Mengapa kita tidak mencoba melihatnya sebagai garis vertikal? Berangkat dari penulis blog, penulis buku, penulis skenario, pemain film, youtouber, dan seterusnya yang dilakukan Raditya hanya memindahkan karirnya sebagai pencerita ke "samping", pencerita dalam berbagai format. Well...ini membuat saya kembali berpikir bahwa mengejar karir itu tidak selalu ke atas. Bisa saja dengan memperluas lingkaran karir saat ini. Yang penting seperti kata Bapaknya Raditya, "Just do what you do best, and money will come by itself."



#493 Emakku Bukan Kartini


Judul Buku : Emakku Bukan Kartini
Penulis : Hasanudin Abdurakhman
Halaman : 316
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Di belakang seorang pria sukses, berdiri wanita yang hebat. Pepatah ini mungkin sudah sering kita dengarkan. Demikian pula yang terjadi dalam hidup Hasanudin Abdurakhman, seorang Doktor di bidang Fisika, lulusan Tohoku University, Jepang. 

Wanita hebat itu adalah Emak, seorang ibu dari delapan orang anak yang tinggal di pesisir selatan Kalimantan Barat. Emak dan  Ayah bukanlah orang berada, tetapi mereka pekerja keras. Sebagai petani, mereka mengolah kebun kelapa dan kopi. Setahun sekali mereka menanam padi. Hasil kebun dan sawah dimanfaatkan untuk hidup sehari-hari dan membiayai keperluan rumah tangga.
Aku melihat semangat hidup Emak dipicu oleh 2 hal tadi. Ia dilarang belajar, dan ia hidup miskin. Sepanjang hidupnya ia berjuang untuk 2 hal itu, membebaskan dirinya dan anak-anaknya dari kebodohan dan kemiskinan (Hal 24)
Yang mengagumkan dari sosok Emak adalah usahanya membebaskan anak-anaknya dari kebodohan dan kemiskinan. Selain membantu Ayah berkebun, Emak juga berdagang. Emak pun menjadi perias pengantin. Semua dimulai dari nol, dari hanya coba-coba hingga akhirnya mendapat untung. Emak juga manajer pendidikan yang ulung. Dia mengatur pendidikan setiap anaknya, hingga berhasil. Ketika anak-anaknya semakin banyak yang bersekolah di kota, Emak membangun rumah untuk mereka.
Emak adalah perintis mode, pembawa berbagai gaya busana kota ke kampong kami. (Hal. 143)
Bukan hanya anaknya, Emak juga "pahlawan" bagi kampong Teluk Nibung. Emak mendorong Ayah untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak di kampong. Emak menjual baju-baju dari kota supaya para wanita bisa berpakaian layak. 

Selain kisah Emak, buku ini juga menceritakan perjalanan pendidikan Hasan. Saya kagum dengan sosok Hasan yang punya mimpi besar. Dia memilih ilmu Fisika, ilmu yang jarang dilirik oleh orang. Jalannya meraih pendidikan tinggi tidak mulus, ada banyak sandungan. Tapi keteguhan hatinya dan tekadnya mengantarnya menjadi seorang doktor. 

Menyandingkan Emak dengan sosok Kartini bagaikan ironi. Emak bukan bangswan. Emak buta huruf. Emak tidak menulis surat untuk kawannya. Tapi Emak mengantar anak-anaknya menuju kesuksesan. Catatan hidup anaknya menjadi bukti nyata. Sosok Emak mewakili banyak sekali orangtua di Indonesia yang berjuang habis-habisan untuk pendidikan anak-anaknya. Tentu ada di antara kita yang punya "Emak-Emak" yang mungkin menempuh cara yang berbeda. Tanpa menafikan dan mengabaikan perjuangan Ibu Kartini, Emak adalah sosok Kartini yang sesungguhnya. 




#491 Senirasa : Teman Resep Masakan Indonesia

Judul Buku : Senirasa -Teman Resep Masakan Indonesia
Penulis : Rima Sjoekri
Halaman : 386
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Saya sedang mencari literatur tentang bumbu dapur ketika saya menemukan buku ini di SCOOP. Tanpa berpikir panjang, saya mengunduhnya dan langsung membacanya. Dan saya tidak bisa berhenti membuka setiap halamannya, sampai di halaman terakhir.

Indonesia kaya sekali dengan rempah-rempah yang dimanfaatkan sebagai bumbu dapur. Bukan hanya untuk memberi cita rasa pada masakan, rempah-rempah itu juga dapat digunakan sebagai bahan obat-obatan alami. Di dalam buku ini ada 105 bumbu dan daun-daunan dari 17 golongan rumpun tanaman, yang dikumpulkan dari ribuan resep rumah di seluruh Indonesia.

Buku ini terdiri atas 5 kategori: Rasa, Sensasi, Aroma, Konsistensi dan Tektur. Dari masing-masing kategori itu dibagi lagi menjadi beberapa sub-kategori (misalnya pada kategori Rasa  terbagi lagi menjadi beberapa sub-kategori seperti: kecut, asam, manis, gurih beraroma, dan sebagainya). Selanjutnya ada penjelasan beberapa bumbu dapur yang masuk di dalam sub kategori terkait. Contohnya, jeruk nipis yang masuk dalam kategori "Rasa" dan sub kategori "kecut". Saya bahkan baru tahu ada istilah "sengir". 
Sengir - "selain bisa tercium pada kulitnya, aroma sengir dari sitrus dapat terlihat di bawah sinar matahari sebagai semburat titik-titik air yang dilepas saat mengupas kulit jeruk"
Yang menarik, setiap bumbu dapur dilengkapi penjelasan nama ilmiah, nama lainnya (nama daerah), masakan (digunakan dalam masakan apa saja), bahan utama (yang sering digunakan bersama bumbu tersebut), bumbu lain (bisa dipadankan dengan bumbu apa saja), sifat alami masing-masing bumbu (ada informasi tentang metabolit sekunder apa yang terdapat di bumbu itu, misalnya capsaicin pada cabe). , morfologi dan anatominya. Plus ada satu dua resep sederhana juga di dalamnya. Lengkap informasinya. Saya yang seorang biologist, girang bangetlah dapat buku populer semacam ini. Mahasiswa saya banyak yang malas baca textbook untuk mencari informasi. Adanya buku-buku semacam ini yang juga menjelaskan morfologi dan anatominya, bisa membantu dalam memberikan informasi pada mahasiswa.  

Kekurangan buku ini adalah pada gambarnya. Tidak semua informasi dilengkapi dengan gambar. Padahal gambar adalah salah satu bentuk informasi yang paling gampang menarik minat pembaca. Saya jadi penasaran buah Gandaria seperti apa, dan apa bedanya dengan Kwini. Meski ada penjelasannya, dengan adanya gambar informasi jadi lebih komplit. 

Di bagian akhir buku ada daftar kosakata yang memuat istilah-istilah dalam dunia kuliner dan perbumbuan. Selain itu juga dilengkapi dengan index yang memudahkan dalam pencarian informasi. Buku ini layak untuk dikoleksi, baik secara pribadi maupun untuk akademisi. 




#438 Battle Hymn of The Tiger Mother



Judul Buku : Battle Hymn of The Tiger Mother (Cara Mendidik Anak Agar Sukses ala China)
Penulis : Amy Chua
Halaman : 248
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Amy Chua adalah seorang wanita yang keluarganya berasal dari dataran China Selatan. Ayah mati-matian berusaha untuk migrasi ke Amerika. Berbekal kemampuan akademisnya, ayahnya diterima di Massachussetd Institute of Technology dan menjadi profesor di Indiana. Amy  dan saudaranya dibesarkan di Amerika dengan gaya didikan ala China.