~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label John Green. Show all posts
Showing posts with label John Green. Show all posts

#532 Turtles All The Way Down


Judul Buku : Turtles All The Way Down
Penulis : John Green
Halaman : 298  (Kindle Edition)
Penerbit : Dutton Books For Young Readers

"I is the hardest word to define.” 

Itulah yang dirasakan Aza Holmes. Dia tidak bisa dengan gamblang mendeskripsikan apa yang ada di pikirannya kepada orang lain. Yang dia tahu adalah bahwa dirinya bukanlah dirinya tetapi apa yang ada di dalamnya. Termasuk ribuan mikroba yang hidup di dalamnya. Human Microbiome. Setiap hari Aza berusaha menemukan cara untuk menghilangkan pikiran tentang ribuam mikroba itu, salah satunya dengan mengorek luka yang ada di tangannya.  

Suatu hari, Daisy - sahabat Aza- yang pemberani mendengarkan informasi tentang seorang miliuner yang menghilang, Russell Pickett. Ada reward sebesar seratus ribu dollar bagi yang bisa memberikan informasi tentang miliuner tersebut. Daisy, yang mengetahui bahwa Aza pernah berteman dengan Davis Picektt, anak si miluner, mengajak Aza untuk menyelidiki kasus tersebut. Dengan harapan tentunya mendapatkan reward-nya. Usaha mereka membuat Aza kembali dekat dengan Davis, teman dari masa lalunya.

Bertemunya Davis dengan Aza membawa babakan baru dalam hidup Aza. Seperti cinta lama yang bersemi kembali, Aza menjadi lebih dekat dengan Davis. Tetapi kedekatan mereka menjadi masalah bagi Aza yang memiliki anxiety disorder. Misalnya, saat berciuman dengan Davis, Aza merasa saat itu ribuan mikroba dari tubuh Davis menyerang dirinya.

Karakter Aza, secara tidak langsung tentunya mengingatkan pembaca pada Hazel di The Fault in Our Stars, gadis yang bermasalah dengan kesehatan. Namun kali ini Aza berkutat dengan kesehatan mentalnya. Dia merasa dirinya terjebak dalam pikiran spiral yang selalu berulang-ulang sampai dia harus menemukan sesuatu untuk mengalihkannya. Kehilangan ayah secara mendadak di masa lalu mungkin menjadi pemicunya, tetapi Aza sendiri tidak tahu dengan pasti. Namun kehilangan itu membuatnya bisa menempatkan diri dalam "sepatu" Davis yang kehilangan ibu dan kini ayahnya. 

Davis sendiri adalah sosok pemuda dengan hidup yang pahit. Ada bagian dari diri Davis yang tidak menginginkan ayahnya kembali, karena dia merasa ayahnya memang tidak benar-benar ada. Tetapi Noah adiknya sangat menginginkan ayahnya. Davis berada dalam dilema. Kehadiran Aza sempat menjadi satu jalan keluar bagi Davis. Tetapi ketika dia tahu Aza ingin mencari tentang ayahnya, Davis harus berbuat sesuatu.

TATWD merupakan novel yang mengangkat perpaduan kerumitan cinta remaja, misteri hilangnya seorang ayah dan problem kesehatan mental.  Membaca TATWD ini membawa suatu pemahaman baru bagi saya secara pribadi. Orang terdekat saya juga pernah mengalami anxiety disorder. Sungguh bagi orang luar akan sulit sekali memahami apa yang mereka rasakan. Ketika Aza menceritakan apa yang ada di pikirannya, saya jadi bisa selangkah lebih dekat lagi pada pemahaman itu. Mungkin karena itu saya merasa lebih klik dengan karakter Daisy. Sebagai sahabat, Daisy mencoba memahami Aza dengan segala kekurangannya. Tetapi ada suatu titik dimana Daisy merasa jenuh dengan Aza yang terasa self-oriented. Daisy kemudian menggambarkan Aza dalam pikirannya sebagai sebuah karakter dalam fan fiction  Star Wars yang ditulisnya. Tulisan Daisy cukup populer, dan ketika Aza mengetahui tentang hal itu, persahabatan mereka terancam.

Turtles all the way down sendiri merupakan suatu mitos yang mengatakan bahwa dunia ini merupakan bidang datar yang ada di atas punggung seekor kura-kura. Dan kura-kura ini berada di atas kura-kura lainnya, begitu seterusnya tanpa habis-habisnya. Apa hubungannya dengan Aza dan Davis? Silakan cari tahu sendiri.

Btw, sepertinya TATWD ini adalah bacaan berbahasa Inggris saya yang pertama di tahun ini. Banyak nemu kata-kata yang membuat saya harus buka google translate...hehe.. But it's really fun. Dan yang pasti akhirnya bisa selesai membaca novel ini setelah lebih dari 4 bulan nangkring di rak currently reading :)


#349 Let It Snow


Judul Buku : Let It Snow
Penulis : John Green, Maureen Johnson, Lauren Myracle
Halaman : 152 (ebook)
Penerbit : Speak

December is coming! Salah satu yang saya sukai ketika Desember tiba adalah ornamen salju pada blog ini. Pas banget deh dengan review pertama di bulan ini. Let it snow...let it snow..let snow... *singing*

#339 Paper Towns


Judul Buku : Paper Towns
Penulis : John Green
Halaman : 320 (ebook)
Penerbit : Speak

Setelah membaca tiga novel bestseller-nya John Green (The Fault In Our Star, An Abundance of Katherine dan Looking For Alaska), tidak ada alasan bagi saya untuk tidak membaca Paper Towns. Saya sengaja tidak membaca versi terjemahan (oleh GPU), karena saya ingin kembali merasakan "ajaib"nya pilihan kalimat John Green dalam novelnya.

#331 Mencari Alaska


Judul Buku : Looking For Alaska (Mencari Alaska)
Penulis : John Green
Halaman : 288
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Miles Halter, pemuda yang menyukai dan menghapalkan kata-kata terakhir orang terkenal. Di Florida, dia nyaris tanpa teman. Miles kemudian memutuskan untuk pindah sekolah ke Culver Creek, Alabama. Selain meneruskan tradisi keluarga (ayahnya pernah bersekolah di sana), Miles sebenarnya ingin mencari suasana baru. Terinspirasi dari kata terakhir Francois Rabelais :"Aku pergi mencari Kemungkinan Besar", demikian juga Miles mencari suatu kemungkinan di Alabama.

#283 Will Grayson, Will Grayson


Judul Buku : Will Grayson, Will Grayson
Penulis : John Green & David Levithan
Halaman : 336 (ebook)
Penerbit : Speak

Seperti judulnya, novel ini  berkisah tentang orang yang bernama Will Grayson. Bukan hanya seorang, tapi ada dua orang. Orang kedua sebut saja will grayson. Masing-masing mereka bergantian bercerita dari bab ke bab. Untuk membedakannya, dalam novel ini keduanya dituliskan dengan cara yang berbeda. Will Grayson pertama dengan cara konvensional, sedangkan will grayson kedua dengan huruf kecil, tanpa tanda baca kecuali koma dan titik.

#168 An Abundance of Katherines


Judul Buku : An Abundance of Katherines
Penulis : John Green
Halaman : 272 (ebook)
Penerbit : Speak


Punya mantan 19 orang, itu mungkin hal yang biasa. Tapi kalau 19 orang itu semuanya bernama Katherine? That's amazing.  Tapi itulah yang dialami oleh Colin, seorang anak berbakat. Pada usia dua tahun Colin membaca headline pada surat kabar yang sedang dipegang ayahnya. Sejak saat itu, orang tuanya menyadari bahwa Colin adalah anak berbakat. "You're very special person", adalah hal yang ditanamkan oleh ayahnya pada Colin. Colin juga sempat "diajar" oleh rekan ayahnya, Krazy Keith, yang mempunyai seorang anak perempuan bernama Katherine. Katherine inilah yang menjadi pacar pertama Colin, yang kemudian memutuskannya tiga menit kemudian.

Katherine II hadir dalam hidup Colins pada saat dia berumur 8 tahun, dan hanya bertahan 8 hari sampai Katherine memutuskan hubungan dengan Colin. Selanjutnya Katherine III sampai dengan Katherine XIX terus hadir sampai Colin diputuskan oleh Katherine XIX pada hari kelulusan dari SMA. Dalam kegalauan karena diputuskan oleh Katherine XIX, Colin dan sahabatnya Hassan melakukan perjalanan meninggalkan Chicago selama musim panas. Ketika mereka tiba di Gutshot, Tennessee, Colin menemukan ide untuk membuat suatu teorema matematika yang menjelaskan mengenai hubungannya dengan Katherine. Melalui theorema ini, Colin ingin memprediksi kapan dan berapa lama hubungannya dengan the next Katherine (atau gadis lain). Teorema ini disebut The Theorem of Underlying Katherine Predictability. Colin  bahkan membuat persamaannya sebagai berikut

untitled

Jangan tanya sama saya maksud dari persamaan di atas. Baca saja di bukunya. :D

Anyway... di Gutshot, Colin dan Hassan berjumpa dengan seorang gadis bernama Lindsey. Hollis, ibunya Lindsey, mengajak Colin dan Hassan tinggal di rumah mereka, dengan catatan mereka harus bekerja pada Hollis selama musim panas. Kerjanya ringan, mereka harus mewawancarai beberapa orang yang pernah bekerja di Gitshot Factory milik keluarga Lindsey. Ketika Lindsey mengetahui tentang teorema yang dikembangkan oleh Colin, dia menjadi tertarik untuk mencari tahu. Lindsey bahkan membantu Colin menemukan beberapa variabel untuk dimasukkan dalam persamaan di atas.

Ide cerita dari kisah Colin, si pemuda berbakat ini, pada dasarnya sederhana. Tetapi John Green membuatnya menjadi sangat tidak sederhana. Siapa coba yang pernah membuat persamaan logaritma dari pengalaman diputuskan pacar?  Selain mampu membuat teorema algoritma di atas, Colin juga jago sekali ber-anagram. Hampir setiap kata yang didengarnya bisa dibuat menjadi anagram olehnya.  Dan ohya, dia juga menguasai beberapa bahasa. Tidak heran jika kita menjumpai Colin mampu bercakap-cakap dalam bahasa Arab dengan Hassan (yang keturunan Arab). Interaksi persahabatan antara Colin dan Hassan juga menarik, meskipun ada banyak perbedaan di antara mereka. Dan tentu saja, kalimat cerdas, lucu, dan quoteable khas John Green tetap ada di novel ini.


#117 The Fault In Our Star


Judul Buku : The Fault In Our Star
Penulis : John Green
Halaman : 198 (ebook)
Penerbit : Penguin Group USA

Saya belum pernah membaca karya John Green sebelumnya, walaupun di sampul buku ini ada tertulis bukunya yang berjudul Looking for Alaska adalah best selling di New York. Tetapi karena melihat rating buku biru berawan-awan ini di GR sangat tinggi, jadinya saya niatkan mencari e-booknya dan ketemu. Sempat tersimpan lama di dalam tablet, akhirnya sampulnya yang eyecatching nan sederhana ini menarik perhatianku untuk membacanya.

What should I say? Ini kisah yang membuat saya meneteskan air mata, gregetan dan tertawa. Lima bintang dan menjadi favorit saya.

Hazel Grace, seorang penderita kanker tyhroid yang meluas sampai ke paru-paru, membuat dia harus hidup sehari-hari dengan tabung oksigen. Tanpa tabung oksigen itu, dia tidak bisa mendapatkan suplai oksigen yang cukup untuk menjalankan fungsi tubuhnya. Meskipun demikian, dalam kisah ini sempat diceritakan beberapa kali Hazel mengalami kejadian dimana paru-parunya berisi air sehingga dia tidak bisa bernafas. Bagi Hazel semua hal yang dialaminya sebagai efek samping kematian.

Oleh ibunya, yang selalu setia mendampinginya, Hazel diminta mengikuti Support Group untuk penderita kanker. Di sana dia bertemu dengan Isaac, penderita kanker mata dan Augustus Waters, survivor kanker osteosarkoma. Augustus kehilangan satu kakinya karena kanker yang dialaminya, sementara Isaac (akan) kehilangan matanya.

Antara August dan Hazel kemudian terjalin suatu hubungan yang didasarkan dari kesamaan dan perbedaan mereka. Kesamaannya mereka berdua sama-sama berpikir out of box mengenai penderitaan kanker yang mereka alami. Perbedaannya, August cenderung berpikir postif sementara Hazel cenderung berpikir negatif. Berangkat dari situ, akhirnya mereka berdua sama-sama saling menyukai, walaupun awalnya Hazel sempat ragu karena mantan-nya August (penderita kanker otak yang sudah meninggal) mirip dengan dirinya.

Hazel menyukai satu buku berjudul An Imperial Affliction karangan Peter van Houten yang menceritakan tentang gadis penderita kanker. Buku ini sangat berpengaruh bagi Hazel sehingga dia membacanya berulang kali. Tapi dia tidak puas dengan endingnya yang "menggantung". Ada banyak hal yang tidak jelas bagi Hazel. Ketika August membaca buku itu, dia juga punya pendapat yang sama. Bersama-sama mereka berusaha menghubungi penulisnya, lewat asisten penulis itu, untuk mencari jawabannya. August bahkan merelakan "Wish"-nya untuk dipakai bersama-sama dengan Hazel pergi ke Amsterdam menemui Mr. van Houten tadi.Walaupun mereka berhasil menemui penulis itu, tapi mereka tidak mendapatkan jawaban apapun. Malahan sepulangnya dari sana, Hazel harus menerima kenyataan bahwa August "kembali" sekarat karena kanker-nya datang lagi.

Yang membuat saya menyukai buku ini adalah cara berpikir Hazel dan August yang berbeda, terlihat dari percakapan mereka yang witty. Kisah cinta keduanya pun tidak biasa, tapi romantis menurut saya. Ketika August mulai merasakan The Last Good Day-nya dia malah membuat prefuneral dengan mengundang Isaac dan Hazel membacakan eulogi untuknya. Dan tentu saja eulogi Hazel membuat saya menangis.

I can’t talk about our love story, so I will talk about math. I am not a mathematician, but I know this: There are infinite numbers between 0 and 1. There’s 0.1 and 0.12 and 0.112 and an infinite collection of others. Of course, there is a bigger infinite set of numbers between 0 and 2, or between 0 and a million. Some infinities are bigger than other infinities. A writer we used to like thaught us that. There are days, many of them, when I resent the size of my unbounded set. I want more numbers than I’m likely to get, and God, I want more numbers for Augustus Waters than he got. But, Gus, my love, I cannot tell you how thankful I am for our little infinity. I wouldn’t trade it for the world. You gave me a forever within the numbered days, and I’m grateful.
 Whoaa.. saya berharap banget ada penerbit di Indonesia yang mau menerjemahkan buku ini. Buku ini tidak hanya menjadi inspirasi bagi penderita kanker, tapi juga bagi semua orang dalam memahami arti kehidupan.