~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Fantasy. Show all posts
Showing posts with label Fantasy. Show all posts

#645 The Girl Who Fell Beneath the Sea



Ketika Shim Cheong terpilih sebagai pengantin Dewa Laut, Mina berupaya menghalangi pengorbanan yang akan terjadi pada Cheong. Pasalnya, Cheong adalah wanita yang dicintai oleh kakaknya, Joon. Mina tahu Joon akan melakukan apapun untuknya, oleh karena itu kali ini Mina juga akan melakukan apapun untuk Joon. Mina memilih mengorbankan dirinya terjun ke laut menggantikan Cheong. 

Seorang wanita dipilih untuk menjadi pengantin Dewa Laut, yang bertujuan untuk meredam amarah Dewa Laut. Bertahun-tahun desa tempat tinggal Mina dilanda bencana. Masyarakat percaya, Dewa Laut sedang murka. Tidak terhitung lagi banyaknya wanita yang berkorban dan atau dikorbankan. Ketika Mina mengambil alih peran sebagai pengantin Dewa Laut, dia memiliki misi untuk membujuk Dewa Laut yang telah melupakan manusia yang memujanya. Mina menyadari dirinya tidak secantik para pengantin terdahulu, tetapi dia akan berjuang demi dirinya sendiri. 

Petualangan Mina di dasar laut, melewati dunia arwah, dan bertemu dengan para dewa dan makhluk mitos adalah cerita yang menarik untuk diikuti. Salah satu dewa yang ditemuinya adalah Shin, yang justru memutus Benang Merah Takdir antara Mina dan Dewa Laut. Hal itu semata-mata dilakukan Shin agar Dewa Laut tetap terlindungi. Shin percaya bahwa bencana yang dialami oleh masyarakat desa di daratan adalah akibat ulah mereka sendiri. Mereka yang merusak lingkungan, sehingga dewa-dewa pelindung alam berpaling karena tidak ada lagi yang bisa dilindungi. Yang tidak diduga selanjutnya adalah ketika Benang Merah Takdir justru menghubungkan Mina dengan Shin.

Dari segi fantasy, cerita ini memang menarik. Meski romansa antara Shin dan Mina nyaris terasa garing. Mina sendiri seringkali tergerak untuk melakukan banyak hal padahal dia punya misi utama dengan Dewa Laut. Akhir kisah antara Mina, Dewa Laut dan Shin itu sendiri terkesan dipaksakan menurut saya. Konon, kisah ini didasari oleh Legenda Shim Cheong. Untuk yang tertarik, bisa membacanya di sini. Novel ini sendiri terpilih sebagai  Best Young Adult Fantasy & Science Fiction (2022)  oleh Goodreads Choice Awards. Gambar covernya juga bagus banget, pas jadi bacaan di masa Imlek.  


The Girl Who Fell Beneath The Sea
Axie Oh
290 halaman
Elex Media Komputindo
Maret 2023



 

#643 Hitam 2045

 


Agni Manan, 19 tahun, adalah salah satu dari ribuan masyarakat yang termasuk dalam Pilar Muda dengan status golongan Perak. Golongan Perak memiliki genetik yang unggul, dan Pilar Muda merupakan binaan khusus dari pemerintah untuk menyiapkan Pilar Pancasila yang nantinya akan menjadi eksekutif di Indonesia. Dia kemudian menuliskan pengalaman kesehariannya dalam sebuah buku tulis yang dia beri nama Hitam. Buku ini didapatkannya dari penjual loak, dan sebenarnya termasuk dalam barang yang unik, langka sekaligus berbahaya. Pada tahun 2044, tidak ada lagi aktivitas komunikasi analog dengan menggunakan pulpen dan kertas. Semua sudah dalam bentuk digital dan diawasi oleh sebuah entitas yang bernama Dasamuka. Dasamuka adalah kecerdasan buatan pengawas saiber untuk menjamin keamanan dan stabilitas negara.

Republik Indonesia di tahun 2044 dipimpin oleh Presiden Ary0. Dia dibantu oleh Jenderal Pierre Lassut, pimpinan tertinggi Tentara Republik Indonesia, dan Menteri Pertama Wisesa. Ketiganya adalah Golongan Emas, golongan tertinggi dalam strata kependudukan Indonesia. Dengan menerapkan Demokrasi Kebijaksanaan, Presiden Aryo membawa Indonesia menjadi negara terkuat kedua di Asia secara ekonomi dan militer. Pada tahun 2044 tersebut, serangan teroris dari kekuatan lama kembali muncul memberikan ancaman akan keutuhan negara. Di saat yang sama, Agni menemukan berbagai kejanggalan yang membawanya menguak misteri kematian ayahnya dan juga misi menyelamatkan Indonesia.

WOW, CRAZY and CREEPY.
Kayaknya tiga kata ini yang menggambarkan perasaan dan pemikiran saya setelah membaca novel ini. Di awal membacanya, saya sempat berpikir...wah novel utopia nih... betapa bagusnya gambaran Indonesia di tahun 2044 dimana korupsi berhasil dihilangkan, rakyat hidup dengan makmur, beberapa negara tetangga (kembali) bersatu dengan Indonesia, dan kemajuan teknologi yang sangat pesat. Meskipun kelompok penduduk dibagi dalam tiga golongan (Emas, Perak dan Perunggu), dan kepemimpinan presiden yang mutlak (tidak ada pemilihan umum dan wakil presiden). Momen penting 100 tahun kemerdekaan Indonesia di tahun 2045, menjadi salah satu latar belakang yang sangat mendukung dalam alur novel ini. Persiapan yang dilakukan oleh pemerintah masa itu begitu terarah, demi menunjukkan eksistensi Indonesia di mata dunia. Tapi semakin ke belakang, malah berubah menjadi novel dystopia. Ketakutan dijadikan sebagai sumber kekuatan oleh pihak tertentu, dan mengorbankan banyak nyawa.

Ketika membaca sebuah novel thriller atau misteri, saya terbiasa menaruh curiga pada karakter yang digambarkan memiliki sifat yang baik. Saya sempat menaruh curiga pada karakter Enisa, seorang gadis Pilar Pancasila yang tangguh dan misterius, juga kepada Presiden Aryo, pemimpin dengan karisma luar biasa menjadi duo antagonis dalam novel ini. Namun tebakan saya tidak sepenuhnya benar, ada plot twist berlapis yang muncul satu demi satu, dan kemudian memberikan klimaks di halaman akhir novel ini.

Saya tahu novel ini hanyalah sebuah kisah fiksi fantasi. Tadinya saya malah berniat untuk menjual kembali novel ini setelah membacanya (saya biasa menjual kembali beberapa novel yang sudah saya baca daripada hanya tinggal berdebu di tumpukan buku). Tapi, akhir cerita ini membuat saya berpikir untuk menyimpan buku ini. Ada beberapa hal yang terdapat di buku ini yang bisa kita jumpai langsung di masa sekarang. Salah satunya adalah betapa mudahnya perpecahan dan kericuhan muncul karena perbedaan yang dibesar-besarkan. Ketakutan memang bisa menjadi pemantik pemersatu. Ketika kita diperhadapkan pada kondisi Pandemi Covid-19 yang menakutkan, masyarakat dan pemerintah bersama-sama bersatu mencari jalan keluarnya. Ketakutan pada virus sempat mengalihkan perhatian kita untuk bersatu melawan dampak dari virus tersebut. Yang kedua adalah mulai menjamurnya kecerdasan buatan. Meski tidak seekstrim gambaran Dasamuka di novel ini, tapi bisa jadi kecerdasan buatan akan menggantikan peran para eksekutif (sudah ada beritanya juga kan?). Dua puluh dua tahun lagi saya berharap bisa membandingkan secara langsung kondisi Indonesia saat itu dengan yang ada di buku ini. Dan untuk saat ini, saya rasa novel ini adalah salah satu novel yang wajib dibaca sebelum pemilihan presiden tahun depan. Kamu akan tahu mengapa, setelah membaca novel ini.


Hitam 2045
Henry Manampiring
564 halaman
Bukune, September 2022



#615 1984


Saya mungkin termasuk dalam sekian orang yang belum pernah membaca karya fenomenal dari George Orwell ini. Namun tidak ada kata terlambat untuk membaca sebuah buku, kan? Lewat agenda #Baca1984Bareng yang digagas oleh @hzboy, saya mulai membaca novel 1984. Saya membaca versi digital terbitan Bentang Pustaka, yang saya beli lewat Gramedia Digital. 

Winston Smith adalah seorang anggota partai Sosing yang bekerja di Kementrian Kebenaran. Salah satu tugas Winston adalah melakukan revisi terhadap dokumentasi yang pernah terbit di negara Oceania. Revisi dilakukan agar pikiran masyarakat tetap terkendali sesuai dengan visi partai. Winston bekerja dengan taat, namun lama kelamaan dia menyadari bahwa realitas di masyarakat menjadi kabur karena ketatnya pengawasan partai. Poster dari Bung Besar dengan tulisan "BUNG BESAR SEDANG MENGAWASI SAUDARA" seperti mata-mata yang mengontrol perilaku setiap anggota masyarakat. Kegelisahan Winston mulai dituangkannya lewat tulisan pada buku catatan yang diperolehnya secara ilegal.

Pertemuan Winston dengan Julia, salah seorang anggota partai yang bertugas di Departemen Fiksi, menjadi titik balik upaya pemberontakan Winston. Pertemuan pertama mereka adalah di Acara Dua Menit Benci yang diselenggarakan untuk menayangkan propaganda kebencian terhadap Emmanuel Goldstein, musuh rakyat dan pengkhianat negara. Saat pertama bertemu, Winston membenci Julia. Dia bahkan ingin melakukan hal yang kasar terhadap Julia di dalam benaknya. Tapi saat Julia memberikan selembar kertas yang bertuliskan "I Love You" kepada Winston, pemikiran Winston mulai berubah. Pertemuan rahasia bersama Julia membuat Winston merasa menjadi orang yang baru. Pemikirannya terbuka, apalagi seperti Winston, Julia juga membenci tindakan-tindakan otoriter yang dilakukan oleh partai. 

Novel ini ditulis pada tahun 1949, yang menggambarkan kondisi dystopia Inggris di tahun 1984. Ada istilah yang pernah saya baca mengenai timeline novel ini : sebuah kisah di masa depan yang sudah lewat. Menarik bahwa kondisi dystopia yang digambarkan di dalam novel ini banyak diasosiasikan dengan kondisi saat ini. Misalnya penggunaan "telescreen" untuk mengawasi rakyat di dalam novel 1984, diasosasikan dengan upaya pemerintah saat ini mengontrol pemakaian internet dan penyebaran berita. Saya sempat menelusuri beberapa jurnal ilmiah terkait novel 1984, dan menemukan ada begitu banyak aspek yang bisa ditelaah dari novel ini. 

Namun, sebagai pembaca romance garis keras (hehe...), saya ingin membahas tentang hubungan antara Winston dan Julia. Banyak yang tidak setuju jika novel 1984 ini disebut sebagai sebuah love story. Kayaknya isu ini menguak saat Kristen Stewart membintangi film Equals yang disebut sebagai remake dari 1984. Tapi kenyataannya, kisah hubungan antara Winston dan Julia mengambil 1 bagian sendiri (Bagian 2) di dalam novel ini.

Winston dan Julia melakukan hubungan terlarang. Mengapa? Winston sebenarnya sudah pernah menikah dengan seorang wanita bernama Katherine. Pernikahannya dengan Katherine hanya bertahan 15 bulan setelah mereka tidak mendapatkan keturunan. Mereka berpisah namun tidak bercerai, karena perceraian dilarang oleh partai. Berhubungan dengan wanita di luar pernikahan juga adalah hal terlarang. Julia tertarik pada Winston karena dia menganggap Winston seorang yang memiliki pemikiran melawan partai. Winston tertarik pada Julia karena keberanian Julia. Keduanya harus mengatur sedemikian rupa waktu dan tempat untuk bertemu dan berkencan. Aksi Winston dan Julia ini bisa dihitung sebagai pemberontakan. Pertemuan dan interaksi intens antara keduanya membuat Winston memberanikan diri bertemu dengan O'Brien, salah satu tokoh partai yang menurut Winston juga seorang pemberontak. Winston menyatakan kesanggupannya untuk melakukan pemberontakan.

Baik Winston dan Julia mengalami perkembangan karakter yang menarik untuk diikuti. Cinta yang tumbuh diantara Winston dan Julia bukan semata-mata karena nafsu, tapi juga dilandasi rasa senasib sepenanggungan. Kehadiran Julia menyuntikkan keberanian pada Winston, mengubahnya menjadi seorang yang taat pada Bung Besar menjadi pemberontak. Meski dalam proses penghakimannya, baik Winston dan Julia merasa bahwa mereka mengkhianati satu sama lain.

Penggambaran dystopia di dalam novel ini benar-benar membuat depresi. Tekanan partai, aturan-aturan yang keras, juga hukuman yang dijalani oleh pemberontak. Kalian bisa memantau pendapat pembaca lainnya yang ikut #Baca1984Bareng di sini

1984
George Orwell
390 halaman
Bentang Pustaka
2014

#588 Trio Kuantum


Pada abad ke-43, di alam semesta ini terdapat sebuah planet yang identik dengan bumi. Namanya Planet Ostkom, letaknya berdampingan dengan Planet Jupiter. Planet ini telah dihuni oleh sebagian besar penduduk Bumi ang sudah menetap di sana beberapa waktu lamanya. Tentunya kehidupan di sana didukung oleh berbagai peralatan canggih.

Adalah Prof. Imners yang berjasa menemukan sejumlah peralatan canggih untuk mendukung kehidupan di Ostkom. Bersama tiga asistennya, Legurs, Shepala dan Urgeno (yang disebut sebagai Trio Kuantum) mereka bertugas memonitor kondisi planet Ostkom. Ketika suatu waktu terjadi ledakan besar, semua orang terkejut. Pasalnya, yang mereka ketahui planet Ostkom adalah palnet yang aman. Bahkan dari guncangan apapun.

Novella science fiction ini mengangkat topik kemajuan teknologi puluhan abad ke depan. Teknologi yang memungkinkan manusia bisa tinggal di planet selain bumi. Novell ini adalah debut dari seorang penulis pendatang baru bernama Ikhsan Hee. Dengan latar belakang pendidikan MIPA di bangku universitas, tidak heran jika penulis piawai menceritakan detail teknologi canggih dalam novella ini. Hanya saja too much detail membuat saya jadi sempat bingung ini ceritanya mau dibawa ke mana. Konfliknya sebenarnya apa, dan apa peranan trio kuantum ini?

Selain empat tokoh utama "penjaga" planet Ostkom, ada dua tokoh lainnya Kurners dan Isburn yang sepertinya terlibat dalam nuansa romantis. Kedua orang ini juga menjadi saksi ledakan besar yang terjadi di Planet Ostkom. Yang agak mengherankan buat saya adalah potongan-potongan lagu yang dimasukkan oleh penulis yang kebanyakan adalah lagu tahu 90-an. Padahal ini settingan-nya abad 43 lho... Well, mungkin pada masa itu lagu-lagu yang ada dalam novella ini sudah menjadi lagu evergreen kali ya...

Sebagai debut, novella ini patut mendapat apresiasi. Saya berharap penulis tetap mengasah kemampuannya menciptakan karya-karya yang baru.

Trio Kuantum
Ikhsan Hee
128 halaman
Guepedia
Agustus, 2019


#578 Mata dan Manusia Laut



Di sebuah kampung bernama Sama, di kepulauan Sulawesi Tenggara, hiduplah seorang anak bernama Si Bambulo. Sebagaimana layaknya anak-anak di kampung itu, keseharian Bambulo sangat dekat dengan laut. Wajarlah, rumah penduduk kampung itu adalah rumah panggung di atas laut. Sejak lahir, Bambulo sudah akrab dengan air laut. Bambulo bisa menyelam sejauh seratus meter tanpa peralatan apapun. Kabar tentang penduduk kampung yang seperti manusia ikan ini terdengar hingga mancanegara, dibawa oleh sekelompok peneliti yang melakukan riset tentang struktur dan fungsi organ tubuh manusia di kampung Sama.

Kabar ini pula yang membawa Matara dan mamanya sampai ke Kaledupa. Mamanya ingin membuat tulisan tentang para manusia ikan ini. Bertepatan dengan kedatangan mereka, di Kaledupa sedang dilaksanakan pesta rakyat. Di lapangan Kaledupa, Matara bertemu dengan Bambulo. Matara tidak percaya dengan cerita Bambulo yang menyebut dirinya manusia laut. Bambulo mengajak Matara ke kampungnya, bahkan sampai ke atol tempat penduduk kampung Sama mencari ikan. Sayangnya Bambulo lupa kalau mereka tdak boleh mngunjungi atol saat bulan purnama. Laut marah, dan malapetaka mengancam keselamatan semua orang yang ada di daratan.

Dibandingkan kedua buku sebelumnya, menurut saya Mata dan Manusia Laut adalah buku yang paling seru dalam serial ini. Saya suka dengan legenda tentang lumba-lumba yang bersahabat dengan penduduk kampung. Ada banyak sekali kearifan lokal penduduk kampung yang mereka lakukan demi menjaga keberlangsungan kehidupan di laut. Mereka sadar bahwa laut bukan hanya menjadi sumber pencaharian, tetapi laut menjadi bagian dari hidup mereka.

Ada juga mitos tentang Masalembo, segitiga bermuda ala Indonesia. Konon yang melewati tempat itu menghilang. Di dalam buku ini diceritakan bahwa di Masalembo, ada sebuah perkampungan tempat orang-orang yang dinyatakan hilang itu bermukim. Mereka hidup abadi di sana setelah dijemput oleh Dewa Laut. Saya paling suka bagian tentang Masalembo di dalam buku ini.

Kali ini, sepertinya porsi Matara sebagai tokoh utama pada serial ini tergeser oleh kehadiran Bambulo. Sejak awal cerita, Bambulo sudah mencuri pusat perhatian. Matara dan mamanya hanya terasa sebagai pelengkap saja dalam cerita ini. Tapi, kalau tidka ada Matara, kisah dalam buku ini juga tidak akan seru. 

Kisah Matara sepertinya akan terus berlanjut. Ada bocoran judul buku #4 yang ditulis dalam buku ini: Mata di Dunia Purba. Wuih...saya jadi penasaran, tempat mana lagi di Indonesia yang akan menjadi latar belakang kisahnya.

Mata dan Manusia Laut
Okky Madasari
232 halaman
Gramedia Pustaka Utama
Mei, 2019


#526 Mata di Tanah Melus


Judul Buku : Mata di Tanah Melus
Penulis : Okky Madasari
Halaman : 196
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Matara sangat menyukai kisah yang sering diceritakan oleh neneknya. Kisah itu adalah pengalaman pribadi sang nenek, ketika gerhana matahari datang dan dia berada di tengah-tengah para raksasa pemakan matahari hanya karena penasaran ingin melihat matahari yang dimakan oleh raksasa. Entah benar atau tidak, Matara merasa cerita penuh petualangan itu mengesankan. Dia ingin memiliki kisah sendiri yang mirip dengan itu.

Mama dan Papa Mata berprofesi sebagai penulis. Mamanya penulis buku cerita orang dewasa, sementara Papanya adalah jurnalis di sebuah media massa. Mamanya selalu hidup dalam dunianya sendiri, sibuk dengan kisah-kisah yang akan ditulisnya. Mata tumbuh dengan cerita anak-anak yang dijejalkan padanya. Suatu hari suasana di rumah lebih sering dipenuhi pertengkaran antara Mama dan Papa. Hingga akhirnya Mama mengajak Mata pergi ke suatu tempat yang sangat jauh.

Tempat itu bernama Belu, sebuah kabupaten di NTT dengan ibu kota bernama Atambua. Mereka dijemput di bandara oleh seorang penduduk lokal. Sayangnya, di tengah perjalanan mobil mereka menabrak seekor sapi sampai mati. Mama harus mengganti kerugian sebesar dua puluh juta pada pemilik sapi. Setiap Mata tertidur dia selalu bermimpi didatangi sapi-sapi yang mengejar-ngejarnya. Menurut penduduk di situ, itu karena Mama dan Mata belum minta izin untuk masuk ke Belu. Mereka harus melakukan upacara supaya terhindar dari bahaya.

Pertama kali mendengar bahwa Okky akan menulis cerita anak, saya sudah excited. Okky yang terkenal dengan novel-novel bernafaskan kondisi sosial kali ini menulis sebuah cerita yang bisa dibaca oleh anak-anak. Dengan Mata, seorang anak kecil yang baru tamat SD, Okky menyajikan petualangan di sebuah tempat di ujung timur Indonesia. Dan ciri khas Okky dengan kritik sosialnya masih tetap ada. Novel ini mengajarkan tentang kearifan lokal masyarakat Belu. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah meskipun Mata dan Mama-nya tidak percaya dengan segala mitos dan adat istiadat itu, mereka tidak bisa berkutik menghadapinya. Berkali-kali alam berbicara mengingatkan mereka, lewat hujan deras, angin kencang, bahkan perjalanan yang tiada habisnya.

Dalam novel ini, Mata membaca berkali-kali menamatkan buku Alice in Wonderland, dan bermimpi ingin berpetualang seperti Alice. Tidak disangka Mata mengalami sendiri menjadi seorang "Alice" dengan cita rasa lokal. Bertemu suku Melus, kerajaan kupu-kupu, dan raja buaya membuat pembaca ikut merasakan petualangan Mata. Saya lantas memasukkan novel ini dalam rak buku fantasy. Dunia anak-anak memang dunia fantasy, bukan?

Konon suku Melus adalah penduduk asli Belu. Keberadaan mereka terdesak oleh pendatang-pendatang. Dalam buku ini suku Melus tinggal di tempat rahasia. Barang siapa yang satang ke tempat itu tidak akan bisa keluar lagi. Bayangkanlah perasaaan Mata yang berpisah dari ibunya dan tersesat di tempat antah berantah yang tidak memperbolehkannya bertemu lagi dengan ibunya. Untungnya ada Atok, anak laki-laki suku Melus yang mau menolongnya, meski akan mendapat murka para leluhurnya.

Saya merasa cerita ini belum selesai. Akan ada petualangan Mata berikutnya. Entah itu masih di tempat yang sama, atau dia hanya mengikuti Mamanya yang haus akan topik baru untuk ditulisnya. Tidak sabar untuk mengikuti petualangan Mata berikutnya. Semoga tidak perlu menanti dalam hitungan tahun. 



#504 Touché: Rosetta


Judul Buku : Touché: Rosetta
Penulis : Windhy Puspitadewi
Halaman : 200
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 


Penggemar novel fantasy dalam negeri mungkin sudah menunggu terbitnya kelanjutan serial Touché ini. Buku kedua-nya terbit pada tahun 2014, dan sesuai siklus 3 tahunan (menurut penulisnya), maka buku ketiga diterbitkan pada tahun ini. Sebelum membacanya, saya mau ngasih peringatan: read on your own risk

Seperti kisah para kaum Touché sebelumnya, kali ini kita akan diajak berkenalan dengan Edward Kim, pemuda berpostur tinggi agak kurus dan bermata sipit yang memiliki kemampuan bisa menyerap informasi dari sebuah tulisan hanya dengan menyentuhnya. Keunikannya apapun bahasa dan tulisan yang tertera di situ, bisa dipahami langsung oleh Edward. Namun kemampuannya ini tidak bisa berlaku jika tulisannya merupakan produk digital. Profesor Fischer yang menyadari kemampuan Edward memanfaatkannya untuk keperluan menerjemahkan prasasti atau dokumen kuno. Hal ini tentunya menguntungkan Profesor Fischer, sementara bagi Edward tidak ada masalah selama dia mendapatkan banyak uang.

Masalah mulai muncul ketika salah satu Profesor Hamilton, rekan kerja Profesor Fischer, ditemukan tewas terbunuh. Ellen Hamilton, putri angkat Profesor Hamilton bersama dengan Yunus King, meminta bantuan Edward untuk membuka brankas rahasia yang diduga akan memberikan jawaban siapa pembunuh Profesor Hamilton. Pada kesempatan itu juga, Edward mendapatkan penjelasan dari Yunus mengenai siapa dirinya. Edward sangat terkejut mengetahui ada banyak orang terkenal yang termasuk dalam kaum Touché seperti dirinya. Termasuk Jean-Francois Champolitan, yang menerjemahkan Batu Rosetta.

 Petualangan Edward, Ellen dan Yunus untuk membuka misteri pembunuhan Profesor Hamilton dimulai. Ketika Edward (dibantu oleh Ellen yang memiliki ingatan eidetic) berhasil membuka brankas itu mereka menemukan buku tua yang berisi tulisan-tulisan kuno. Edward menerjemahkan seluruh isi buku itu, dan memindahkan terjemahannya di dalam laptop milik Ellen. Tanpa mereka sadari, nyawa mereka menjadi taruhannya. 

Novel ini sungguh adalah novel yang page-turner. Membaca novel ini mengingatkan saya saat membaca buku-buku Dan Brown, karena misteri yang ingin dipecahkan oleh Edward dan timnya terkait dengan para tokoh legendaris dari Italia seperti Michaelangelo dan Leonardo Da Vinci. Siapa yang menyangka kalau mereka juga termasuk dalam Touché ? Meski saya bisa menebak beberapa bagian dari misteri di dalam novel ini (seperti patung David dan lukisan di langit-langit kapel) dan juga siapa yang membunuh Profesor Hamilton, tapi saya ikut merasakan rasa penasaran dan ketegangan saat membaca novel ini.

Lantas resiko apa yang saya singgung di awal postingan ini? Karena novel ini ditutup dengan ending mengejutkan sekaligus menggantung. Belum lagi ada kehadiran Hiro Morrison yang membuat saya semakin penasaran. Membayangkan baru bisa membaca kelanjutannya 3 tahun lagi sempat membuat saya kesal. 


#492 Sang Putri dan Sang Pemintal


Judul Buku : Sang Putri dan Sang Pemintal
Penulis : Neil Gaiman
Halaman : 68
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Pernah membaca/mendengar kisah Putri Salju dan Putri Aurora? Atau mungkin menonton fimnya baik versi kartun Disney, maupun yang diangkat ke layar lebar? Ada baiknya menyiapkan hati dan diri sebelum membaca buku Sang Putri dan Sang Pemintal ini. Dijamin dongeng masa kecilmu tidak akan sama lagi.
Sebab ini versi cerita Neil Gaiman, dan kata Neil Gaiman, "Kalian tidak butuh pangeran untuk menyelamatkan kalian. Saya tidak begitu suka cerita-cerita yang wanita-wanitanya diselamatkan pria."
Sinopsis di sampul belakang buku ini saja sudah memancing rasa penasaran. Kisahnya dimulai dengan kehadiran 3 kurcaci yang hendak menghadiri pesta pernikahan seorang Ratu. Di perjalanan, mereka mendengar kabar ada wabah tidur di kerajaan yang paling dekat dengan kerajaan sang Ratu. Sepertinya wabah ini berhubungan dengan sihir. Seorang putri tertidur, dan rakyatnya ikut tertidur.

Sementara itu, sang Ratu sedang mempersiapkan pernikahannya dengan seorang pangeran. Ketika mendapat laporan tentang wabah itu dari ketiga kurcaci, rasa penasarannya bangkit. Dia mempersiapkan diri untuk perjalanan ke kerajaan di seberang gunung itu. Ketiga kurcaci yang menemaninya meyakinkan Sang Ratu tidak akan terkena dampak wabah itu. Toh Sang Ratu pernah tidur selama setahun, dan bisa bangun kembali.

Perjalanan pun dimulai. Ada banyak kejadian mistis yang ditemui. Suatu kali Sang Ratu hampir menyerah dengan kantuk, dan dia minta kepada seorang kurcaci untuk menusuk jarinya dengan duri mawar. Ketika tiba di istana yang dipenuhi dengan rumpun bunga mawar, yang dijumpainya di sana sangat berbeda dengan yang diharapkannya.
Ada piihan, selalu ada pilihan 
Buku ini adalah buku ber-ilustrasi kedua dari Neil Gaiman yang saya baca. Saya bukan fans beliau, saya memilih membaca buku ini juga karena melihat jumlah halamannya yang sedikit. Menurut beberapa teman, karya-karya Neil Gaiman sering diwarnai dengan twist yang mengejutkan. Dan begitupun di dalam buku ini. Alih-alih menjumpai seorang pangeran yang membangunkan si Putri Tidur, Sang Ratu lah yang mencium dan menghembuskan nafas ke mulut Putri Tidur (dan ohya FYI, ini bukan LGBT version dari Sleeping Beauty ya). Tetapi, ketika si Putri Tidur terbangun dia menjumpai tatapan mata Si Putri yang sama dengan sorot mata Ibu Tiri-nya. Di sini saya baru menyadari, Sang Ratu adalah Putri Salju.

Mungkin buku ini adalah retelling Sleeping Beauty dan Putri Aurora yang terbaik yang pernah saya baca. Tokoh-tokoh di dalam buku ini yang didominasi perempuan masing-masing punya kekuatan karakter. masing-masing melakukan pilihan yang akan menentukan jalan hidup mereka. Bahkan Perempuan Tua yang tinggal bersama Putri Tidur juga memiliki pilihan ketika benang pemintal ada di tangannya. Buku ini ingin mengatakan bahwa pilihan selalu ada untuk dipilih.  Pilihan untuk mengambil kehidupan atau pilihan untuk menjalani kehidupan. Pilihan untuk kembali atau pilihan untuk terus berjalan.