~ karena membaca adalah candu dan menuliskannya kembali adalah terapi ~

Showing posts with label Atria. Show all posts
Showing posts with label Atria. Show all posts

#231 Alvin Ho: Alergi Terhadap Berkemah, Hiking, Dan Aneka Bencana Alam


Judul Buku : Alvin Ho: Alergi Terhadap Berkemah, Hiking, Dan Aneka Bencana Alam (Alvin Ho #2)
Penulis : Lenora Look
Halaman : 204
Penerbit : Atria
Usia Kelayakan Baca : 10 tahun


Alvin masih saja anak yang penakut. Ketika ayahnya mengatakan bahwa dia akan mengajak Alvin berkemah di alam terbuka, Alvin sangat ketakutan. Bagaimana jika terjadi longsor, hujan meteor, dan kiamat? Tapi Alvin tidak bisa mengecewakan ayahnya. Itu bukan sikap pria gentleman. Alvin membutuhkan rencana yang besar, dan dia meminta bantuan Calvin. Calvin lalu membantu Alvin mencari perlengkapan yang akan menolongnya saat berkemah nanti. Generator portabel berbahan bakar diesel, GPS, masker pernapasan N95, tablet pemurni air, kacamata night vision, dan tablet pemurni air. Semuanya dibeli di internet dengan menggunakan kartu kredit ayahnya.

#229 Alvin Ho : Alergi Pada Anak Perempuan, Sekolah, Dan Hal-Hal SeramLainnya


Judul Buku : Alvin Ho : Alergi Pada Anak Perempuan, Sekolah, Dan Hal-Hal Seram Lainnya (Alvin Ho #1)
Penulis : Lenore Look
Halaman : 186
Penerbit : Atria
Usia Kelayakan Baca : 10 tahun


Ini adalah jurnal milik Alvin Ho. Alvin adalah seorang anak yang takut pada banyak hal (terowongan, elevator, guntur, kegelapan, dan masih banyak lagi). Tetapi yang paling ditakuti oleh Alvin adalah sekolah. Sebelum bersekolah, Alvin adalah seorang superhero. Dia adalah si Manusia Petasan (Firecracker Man). Tetapi sejak bersekolah, waktunya untuk menjadi superhero menjadi berkurang.

#175 Cruise on You


Judul Buku : Cruise on You
Penulis : Margareta Astaman
Halaman : 231
Penerbit : Atria

Impian Marella cuma satu : naik kapal pesiar! Berawal dari kekagumannya terhadap kapal kontainer yang besar dan keinginan merasakan berada di laut lepas. Berhubung kalau naik kapal kontainer bakal dihimpit barang-barang, maka Marella mengubah sedikit mimpinya. Dan bukan hanya sekedar naik saja, tapi tentunya berlayar ke tempat yang jauh yang ada saljunya. Ketika ada sayembara berhadiah Royal Caribeean Cruise Package, Marella pun melakukan berbagai macam cara untuk memenangkan hadiah utamanya, berlayar dengan kapal pesiar di Alaska. Toh syaratnya hanya mengirimkan foto romantis. Tidak punya pacar bukan masalah, Marella kan punya mantan pacar. Setelah melakukan seleksi terhadap foto-foto mantan pacarnya dipilihlah foto romantisnya dengan Jonas.

Tidak disangka, foto kiriman Marella memenagkan sayembara tersebut. Tetapi pengambilan hadiah harus diambil oleh kedua orang di dalam foto. Barulah muncul masalah. Jonas, mantannya itu, sudah tidak jelas dimana rimbanya. Lagipula dulu Marella yang memutuskannya dengan cara selingkuh dengan cowok lain. Marella melakukan itu karena tidak tahan dengan sikap Jonas yang selalu merendahkan apapun yang dilakukannya. Namun, demi kapal pesiar, Marella akan melakukan apa saja untuk menemukan Jonas. Meskipun dia harus mengetuk setiap pintu di Jakarta.

Setiap usaha pasti ada hasilnya. Marella menemukan Jonas. Hanya saja, Jonas sama sekali tidak berubah, apalagi sepertinya Jonas masih marah besar gara-gara dulu diselingkuhi. Apalagi Jonas sudah punya pacar baru yang jauuuhh banget jika dibandingkan dengan Marella. Marella, karyawan biasa yang pendek dan wajah biasa-biasa saja tidak mungkin bisa dibandingkan dengan Keira yang seorang model dengan fisik mengagumkan.

Ide cerita sederhana tetapi memiliki makna yang dalam. Marella mengejar impiannya dengan semua usaha dan kemampuannya. Bahkan rela melakukan apapun. Semangat Marella ini menjadi pelajaran bagi saya sebagai pembaca. Menariknya, karena novel ini disajikan dengan humor yang segar dan jauh dari kesan serius. Ditambah dengan ilustrasi lucu di beberapa lembar halamannya, novel ini bisa dihabiskan dalam satu kali duduk.


#154 Wonder


Judul Buku : Wonder
Penulis : R.J.Palacio
Halaman : 430
Penerbit : Atria
Usia kelayakan baca : 10 tahun ke atas

Menurut beberapa orang yang sudah membaca buku ini kisah August akan membuat pembacanya menangis. Saya sudah mempersiapkan diri sejak awal, tetapi sampai pertengahan saya hanya terharu. Tetapi pada saat menutup buku ini, saya mendapati diri saya menangis, bukan saja karena kisahnya, tetapi juga karena harus berpisah dengan August.
"Namaku August. Aku tidak akan menggambarkan seperti apa tampangku. Apa pun yang kaubayangkan, mungkin keadaannya lebih buruk."
August menderita mandibulofacial dyostosis, mutasi genetik pada gen TCOF1, kromosom 5 dalam tubuhnya, yang membuat wajahnya terlihat tidak normal seperti pada umumnya. Sejak lahir August harus menjalani beberapa kali operasi untuk perbaikan fungsi dan penampakan di wajahnya. Bagi dokter dan keluarganya August adalah anak ajaib karena bisa bertahan hidup melewati semua proses yang dilakukan padanya.

Sejak kecil August selalu "dilindungi" oleh kedua orang tua dan kakaknya, dalam artian mereka selalu ada membangkitkan semangat August saat orang di sekitarnya terkejut melihat wajahnya. Seperti kata Via, kakaknya, August ibarat matahari, sementara keluarganya adalah planet dan bintang yang mengelilinginya. August selalu istimewa di mata mereka. Dukungan itulah yang bisa membuat August bertahan. Lalu, tiba masanya Mom berpikir August harus masuk ke sekolah umum. Dad dan Via yang awalnya menentang ide itu, kemudian berbalik mendukung ide Mom. Hanya August saja yang keberatan. Dia takut menerima pandangan tidak menyenangkan dari teman-temannya. Yah... kalau saja ada yang mau berteman dengannya.

Benar dugaan August. Tidak semua orang bisa menerima murid aneh di sekolah itu. Tidak ada yang mau duduk di dekatnya di dalam kelas, kecuali Jack Will. Jack kemudian menjadi sahabat pertama August. Jack bisa menerima dengan cepat keanehan pada diri August.
Lalu Jack berbisik, "Apa kau akan selamanya terlihat seperti ini, August? Maksudku, apa kau tidak bisa melakukan operasi plastik atau semacamnya?

Aku tersenyum dan menunjuk wajahku. "Halo? Ini adalah hasil operasi plastik!"

Jack menepuk dahinya dan mulai tertawa histeris.

"Dude, kau harus menuntut doktermu!", Jack menjawab di tengah gelak tawanya.
Kemudian ada Summer, gadis cantik yang awalnya kasihan pada August yang duduk sendirian di meja makan kantin. Jack dan Summer adalah sahabat August. Masa sekolah menjadi mulai menyenangkan, walaupun masih saja ada yang menganggapnya sebagai Wabah. Tetapi ketika Halloween tiba, August mendapati Jack mengatakan lebih baik dia bunuh diri saja daripada punya wajah seperti August. Masa sekolah menjadi sangat buruk bagi August.

Ternyata bukan hanya August yang merasakan rasa malu atas wajahnya. Via, kakaknya yang selalu ada bagi August tidak bisa menyangkal bahwa ada perasaan di dalam hatinya yang seperti mengkhianati August. Via senang ketika dia masuk ke sekolah baru dan mendapat teman-teman baru, tidak ada seorang pun yang tahu kalau dia mempunyai adik yang cacat.
Tetapi itu sudah membuka sebuah pintu untukku. Sebuah lubang intip kecil. Dan di sisi lain lubang intip itu ada dua August; satu yang kulihat dengan tatapan buta, dan satu yang dilihat orang-orang.
Kisah August di dalam buku ini bukan saja diceritakan dari sudut pandang August seorang. Tetapi juga dari sisi Via, Summer, Jack, Miranda (sahabat Via), dan Justin (pacar Via). Menurut saya penggunaan berbagai sudut pandang ini justru sangat adil. Sehingga saya tidak hanya menjadi kasihan pada August, tetapi juga memahami perasaan orang-orang di sekitarnya. Tidak ada yang mudah. Tapi itulah hidup yang normal.

Dari semua tokoh di dalam buku ini, tentunya saya paling kagum pada sosok Mom dan Dad. Walaupun Mom dan Dad tidak mendapatkan porsi bercerita dalam buku ini, tetapi dari sudut pandang anak-anak, kita bisa melihat bahwa tidak mudah bagi mereka mempunyai dua orang anak yang berbeda baik secara fisik maupun kebutuhannya. Apalagi saat mereka menyadari bahwa August mulai tumbuh dewasa, dan itu artinya mereka pun harus mempersiapkan diri terhadap perubahan August. Di sisi lain, masa transisi yang dialami Via juga tidak mudah.

RJ Palacio

 Tidak heran jika buku ini mendapatkan banyak perhatian. Salah satu penghargaan yang diperoleh adalah The New Atlantic Independent Booksellers Association (NAIBA), dan tentunya banyak pujian lainnya. Kita juga bisa mendapatkan informasi lebih banyak dari website penulisnya, R.J Palacio mengenai buku pertama-nya ini. Saya berharap bisa membaca karya-karya beliau yang selanjutnya.

fye-button

#145 A Golden Web


Judul Buku : A Golden Web
Penulis : Barbara Quick
Halaman : 274
Penerbit : Atria

Seorang Santa mengirimkan buku ini kepada saya di akhir tahun 2012. Buku ini sudah lama di dalam rak wishlist saya. Mungkin Santa tahu, kalau buku yang mengisahkan ahli anatomi perempuan pertama di dunia ini, sesuai dengan diriku yang menekuni ilmu Biologi. Terima kasih, Santa :)

A Golden Web adalah sebuah historical fiction  yang bercerita tentang Alessandra Gilliani. Alessandra kecil sudah terlihat jenius sejak bayi. Ketika beranjak dewasa, dia suka sekali membaca buku dan mencari tahu tentang alam sekitarnya. Beruntung baginya, ayahnya, Carlo Gilliani adalah pemilik percetakan yang menduplikasi buku-buku dari para penulis ternama. Di antara buku-buku itu adalah buku-buku tentang kedokteran.

Alessandra sangat tertarik dengan ilmu kedokteran. Salah satu hal yang mendorong dia tertarik dengan ilmu itu adalah karena dia harus menyaksikan ibunya meninggal akibat melahirkan adik bungsunya. Untuk mengeluarkan adiknya, tubuh ibunya harus dibelah demi menyelamatkan nyawa si anak. Tentu saja dengan mengorbankan nyawa ibunya. Sayangnya di masa itu, tidak ada perempuan yang bersekolah apalagi untuk masuk ke Universitas Kedokteran.

Ketika berusia 15 tahun, Alessandra harus menjalani masa pingitan sebelum menikah sebagaimana layaknya perempuan lain pada masa itu. Untuk menghindari pernikahan yang akan mengekang dirinya, Alessandra meminta untuk masuk ke dalam biara, dan tinggal di sana selama setahun. Tapi itu hanyalah sebuah bagian dari rencana besar Alessandra. Tidak lama setelah dia tinggal di biara, Alessandra melarikan diri ke Bologna. Tekadnya untuk belajar ilmu kedokteran membuat dia harus menyamar menjadi seorang laki-laki.

Alessandra atau Sandro, menjalani masa-masa penyamarannya dengan hati-hati. Berkat kecerdasannya, Sandro mampu menyelesaikan kuliahnya dengan cepat. Sandro pun menjadi murid kesayangan Mondino de' Liuzzi, professor ternama yang mengkhususkan dirinya mempelajari anatomi manusia. Banyak yang terpikat dengan kecerdasannya, termasuk seorang pemuda bernama Otto Angenius. Otto berusaha menjadi sahabat Sandro. Kedekatannya dengan Sandro membawa rasa aneh yang disukainya. Begitupun dengan Alessandra, Otto membuat getaran aneh di dalam dirinya apabila berdekatan dengannya.
 Perempuan diciptakan terakhir, setelah semua hewan dan Adam sendiri. Mengapa Tuhan melakukan itu jika Dia bermaksud menciptakan perempuan sebagai sesosok makhluk yang lebih rendah? Jika memang begitu, mengapa Dia tidak menciptakan perempuan tepat setelah hewan-hewan dan sebelum Adam?
 Kutipan di atas merupakan salah satu buah pikiran Alessandra, saat dia menyayangkan kondisi perempuan di mata masyarakat saat itu. Saya tidak  bisa membayangkan apabila saya berada di dalam kondisi itu. Saya pasti berharap punya keberanian seperti Alessandra yang menempuh segala resiko demi ilmu pengetahuan yang ingin diketahuinya.

Saya sangat menyukai membaca sebuah literatur fiksi/biografi yang bercerita tentang perempuan-perempuan hebat yang memeberikan sumbangan untuk ilmu pengetahuan. Hanya saja, saya kurang puas membaca buku ini, apalagi bagian akhir yang menggantung. Ada banyak pertanyaan yang muncul setelah saya menutup halaman akhir buku ini, khususnya apa penyebab kematian Alessandra Gilliani. Menurut penulis buku ini, kisah Alessandra Gilliani sendiri tidak banyak dijumpai. Ada spekulasi bahwa apa yang ditemukan Alessandra saat itu, catatan-catatannya, dimusnahkan karena dianggap mencemarkan keluarganya. Tapi bagaimanapun juga, buku ini membuat saya "berkenalan" dengan seorang perempuan hebat yang berjasa dalam ilmu anatomi manusia.



Dan... siapa Santa yang berbaik hati itu?

riddle dari santa 

Yang pertama memecahkan misteri Santa ini adalah suami saya. Dia yang menemukan kertas putih ini, dan setelah membacanya beberapa saat, dia hanya mengucapkan satu kata "balon". Dan kalimat terakhir, warna pelangi yang mendekati laut, mengarah ke kata "biru".

Dan yang semakin menguatkan identitas si Santa, adalah tanggal pengiriman yang tercantum di resi. Tanggal 20/12-2012. Di grup facebook ada satu orang yang mengaku baru mengirimkan paketnya pada tanggal tersebut.

Sudah jelas, Santaku adalah mbak @balonbiru alias mbak Nophie :D Terima kasih, mbak Nophie.

Itu Santa-ku, Siapa Santa-mu?


#50 Daddy Long Legs


Judul Buku : Daddy Long Legs
Penulis : Jean Webster
Halaman : 235
Penerbit : Penerbit Atria


Dear, Mr. Daddy...

Hai.... Mungkin Anda tidak mengenal saya, tapi saya mengenal Anda. Well... setidaknya Judy yang mengenalkan saya pada Anda. Anda tahu kan, dia menulis surat kepada Anda hampir setiap bulan. Bahkan terkadang dalam sebulan dia bisa menulis surat berkali-kali. Saya tidak tahu kalau Judy senang bercerita (lewat tulisan tentunya dan sepertinya hanya pada Anda). Seringkali ketika saya mengajaknya untuk ngobrol bersama di malam hari, dia memilih untuk menyingkir, dan ketika saya mengintipnya, dia sudah larut dalam surat-suratnya.

Judy memang senang membaca (Anda sudah tahu itu), dia juga senang sekali ketika diajak pergi ke peternakan. Mungkin karena dia berasal dari panti asuhan (maafkan kata-kata saya), dimana dia harus bekerja sepanjang waktu. Dia benar-benar gadis beruntung karena Anda membiayai studinya.

Daddy... (boleh kan saya memanggilmu begitu?),

Anda sangat sombong tidak membalas satu pun surat Judy. Saya seperti membaca monolog saja. Hampir saja saya kobosanan membaca surat-surat Judy itu. Tapi Anda sangat manis mengirmkan bunga untuk Judy ketika dia sakit atau mengirimkan uang padanya ketika Natal tiba. Tapi saya sangat penasaran siapakah Anda sebenarnya?

Sudahlah, Daddy... Saya tidak tahu mau menuliskan apa lagi. Saya kan tidak seperti Judy yang bisa menulis surat berlemba-lembar. Sekarang Judy sudah benar-benar menjadi penulis. Dia bahkan mendapatkan uang dari tulisannya. Tulisannya kabarnya sangat menarik. Ah... Judy memang berbakat.

Sincerely,

Desty-yang-ikut-membaca-surat-Judy

PS. Saya dengar Anda mau menemui Judy. Bisakah saya ikut bertemu dengan Anda?